
senyum merekah menghiasi wajah Meera. benar benar merasa bahagia dirinya saat ini. Meera tak henti hentinya bersyukur atas titipan yang ada di rahimnya ini. Meera bergerak pun sangat hati-hati mengingat kata-kata dokter, Meera pun juga makan dengan baik. meskipun sebenarnya ia sama sekali tak nafsu makan. tapi demi janin yang dikandungnya ia harus tetap makan dan tak lupa minum obat yang telah di berikan tadu. Ia bertekad tidak akan memberi tahukan siapapun sebelum suaminya sendiri yang tahu.
jam sudah menunjukan pukul 21.00 namun Bara masih belum pulang sedangkan Meera menungguinya di kamar sambil rebahan.
"Dek.. daddy mu belum pulang.. kita tunggu yaa" kata Meera sambil mengusap perutnya.
Jari-jari Meera berselancar pada ponselnya mencari cari tahu tentang kehamilan. apa yang boleh dilakukan wanita hamil apa yang tidak boleh dilakukan seketika Meera tersenyum ketika melihat bentuk janin dari waktu kewaktu yang tumbuh dalam rahim.
"ya Tuhan.. begitu imutnya..." cekik Meera.
tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 22.00 Bara masih belum pulang. Meera sudah merasa ngantuk. tapi tiba-tiba ia menangis lagi.
"hiks.. Mommy pengen di peluk Daddy mu Dek..tapi Daddy belum pulang" kata Meera.
hormon kehamilan lah yang membuatnya seperti itu. benar-benar bukan Meera yang dulu kini ia jadi lebih gampang menangis.
lelah menangis Meera merasakan perutnya sedikit kram.. "aasshh... Jangan nakal ya Dek.. oke kita tidur.. nanti Daddy pulang pasti meluk kita kok" kata Meera bersiap tidur sambil mengelus perutnya agar sedikit rileks
sedangkan disisi lain Bara tengah berada di rumah papa Dion. Papa Dion meminta Bara untuk datang dan melihat persiapan ulang tahunnya besok malam. Bara bertekad akan mengumumkan pernikahannya besok. dan keinginannya itu juga ia sampaikan kepada papanya dan tentu di dukung oleh papanya. namun Ketika mamanya mendengarkan rencana itu tentu saja sangat tidak suka. bahkan mamanya langsung menyusun rencananya.
"Bersabarlah Meera sayang.. ini pengakuanku. dengan begini tidak akan ada yang berani mendekatimu lagi" batin Bara seraya memandang persiapan megah itu dari lantai 2.
Bara mengundang banyak reporter. bahkan sebenarnya jikapun Bara tak mengundang. Reporter itu akan datang sendiri mengingat kedudukan Bara dan pasti yang menyangkut tentang kekuarga nomer 1 di negara ini pun akan sangat mengundang banyak berita yang pastinya menarik untuk di perbincangkan.
Adit juga sedari tadi menunggui Bara. dengan sabar dan telaten Adit selalu menemani Bara kemanapun. "Tuan apakah kau tak ingin pulang?" tanya Adit
"ya. ayo pulang. Meera pasti menunggu ku" Jawabnya.
ditengah jalan Adit memberanikan diri berbicara pada Bara.
"Tuan apa tuan muda sudah menimang kemungkinan besar jika khalayak mengetahui identitas nona?"
__ADS_1
"ya.. aku sudah tau. resikonya"
"apa anda tidak takut jika Nona nanti akan menjadi incaran pesaing bisnis kita, anda tahu kan bagaimana gilanya mereka"
"aaah aku lebih takut jika Meera diincar pria pira diluar sana yang terus berfikir Meera belum punya suami. dan itu membuatku gila" kata Bara sambil menyenderkan badannya pada mobil.
seketika tampak senyuman pada bibir Adit.
"hahaha.. bagaimana bisa kau takut saingan dengan priapira itu tuan muda."
"bagaimana dengan kedudukan nona sebagai Phoenix?"
"Ah itu.. biarkan saja selama tidak mengganggunya aku akan diam saja dan mengawasinya. tapi jika Meera membuat pergerakan apa lagi terjun lagi ke bisnis bedebah itu lihat saja. apa yang akan ku lakukan nanti" kata Bara enteng sambil memejamkan matanya.
tak lama mobil Bara memasuki area mansionnya. Adit mengantarkan tuan mudanya dengan selamat.
Bara bergegas menuju kamarnya dilihatnya tampak Istrinya yang sudah terlelap pulas. Meera begitu menggemaskan dimata Bara. setelah membersihkan diri. Bara lalu tidur memeluk Meera. Ia juga tak bisa berlama-lama untuk tak menyentuh istri cantiknya itu.
Ketika Bara sudah pulas tertidur Meera malah terbangun karena merasakan ada yang berbaring di sampingnya. Tampak senyum yang begitu merekah di wajah Meera.
Pagi hari ketika Meera terlebih dahulu bangun Meera segera membersihkan dirinya lalu beranjak kedapur karena sudah beberapa hari ini ia tak memasak lagi untuk suaminya. apa lagi hari ini adalah hari ulang tahun Bara. Meera membuatkan begitu banyak makanan dan di saat terakir menyajikannya Perut Meera terasa mual.
"hemmmmbbbb....." Meera menutup mulutnya dengan tangan lalu bergegas ketoilet.
benar saja Meera mengalami morning sickness. namun tak separah perempuan lainnya.
"aahh... ayo lah.. hari ini Daddy ulang tahunn. tak inginkah kau memberikan hadiah spesial untuknya" kata Meera mengelus perutnya
"ohh.. Mommy lupa. kau adalah hadiah spesial untuk Daddy.. jadi jangan nakal ok!" sambung Meera dengan senyuman cantiknya. tak henti-hentinya Meera mengajak bicara janin dalam kandungannya itu.
setelah semua selesai Meera segera menuju kekamar nya. dan dilihatnya Bara yang masih tertidur pulas..
__ADS_1
"aaihhh.. lihat Daddymu.. masih tidur.. ayo panggil Daddy suruh bangun. tidak kah kau lihat tadi Mommy bersusah payah memasak untuk Daddy" batin Meera. Meera laku duduk di sisi Bara dan mengusap wajah tampan Bara. alis yang tebal yang tegas dan bulu mata yang lentik tak luput dari usapannya. Hal itu sukses membuat Bara menggeliat. Dengan reflek Bara melingkarkan tangannya pada perut Meera yang duduk disampingnya.
"haaiishh.... bisa bisanya dia ini" batin Meera merasakan perutnya di peluk erat oleh Bara. sudah berhari-hari ia tak merasakannya
"apa kau senang di peluk Daddy hemm??" batin Meera berkata pada janinnya.
"sayang bangunnn.." kata Meera menggoyang pelan bahu Bara.
Meera sampai kesal dibuat Bara karena tak kunjung bangun. hingga ia berfirkir meninggalkan Bara dan melepaskan tangan Bara. yang masih melingkar pada perutnya. dan malah itu yang berhasil membuat Bara terbangun.
"mau kemana? disini saja temani aku sebentar" kata Bara memelas sambil mengucek matanya
"issh.. kau ini. ini sudah siang aku sudah masak banyak." kata Meera yang tertahan tangannya oleh Bara. mendengar itu Bara bersemangat karena juga merindukan masakan istrinya. Hari ini Mereka tidak akan pergi kekantor dan tentu saja siapa lagi jika bukan Bara CEO nya yang memberikan ijin. Setelah sarapan selesai Bara mengajak Meera untuk bersantai di ruang tengah. Bara masih disibukan dengan pekerjaannya meskipun ia tak kekantor hari ini.
sedangkan Meera bersibuk di dalam kamarnya memilah milah baju yang hendak dipakainya nanti malam. Tapi Meera juga menyempatkan membungkus foto usg nya didalam kotak kecil. yang nantinya akan di berikan kepada Bara. benar-benar Meera mengira hal itu akan menjadi hadiah besar bagi suaminya. setelah selesai dibungkus kotak itu disimpannya di dalam tasnya.
ketika masih sibuk memilah baju tiba-tiba Bara datang dan membawakan set dres yang begitu anggun. beserta jas yang akan ia kenakan nanti malam.
""sayang apa itu?" tanya Meera menghampiri bara
"pakai ini ya nanti malam" kata Bara sambil menggantungkan jas dan dress mahal itu.
"eemm. tentu, ah sudah tidak marah lagi kan? aku sangat takut akan kemarahanmu" kata Meera sambil memeluk suaminya dari belakang.
Bara menarik nafas panjang.. lalu berbalik menatap istrinya yang dirasanya semakin hari semakin cantik itu
"dengarkan ini, kau miliku, selamanya akan jadi miliku. dan kau harus tau jika miliku tak bisa disentuh atau menyentuh orang lain, faham?"
"emm. tentu saja. aku faham" kata Meera lalu memeluk suaminya itu. hormon kehamilan membuatnya semakin manja dan cengeng. sedikit-sedikit menangis.
"pintar... setelah ini aku akan pergi dulu. nanti malam kau akan di antarkan supir menuju rumah papa ya.. aku tunggu disana" kata Bara mengecup puncak rambut istrinya.
__ADS_1
"aaih kenapa bisa begitu kenapa tidak bareng saja, kau malu datang bersamaku" protes Meera melepaskan pelukan Bara
"heii. dengarkan aku, bukan aku tidak mau datang bersamamu. tapi aku masih ada urusan pekerjaan. lagian juga waktunya masih nanti malam. sekarang sekarang baru jam berapa" Kata Bara sambil melihat wajah cemberut istrinya.