
Sayang. Kata itu sangat Nina benci sejak dulu. Entah. Mungkin karena dia tak pernah kenal itu. Hidupnya selama ini hanya berisi lembaranlembaran pribadi dan egoismenya sendiri. Mungkin juga karena kata itu terlalu murahan untuk seorang wanita eksekutif macam dirinya. Membuang-buang waktu. Tak berharga.
Tapi sudahlah. Liriklah Nina hari ini. Dia sudah berdandan rapi siap pergi ke kantor. Rutinitasnya dimulai lagi pagi ini. Mandi, sarapan, memeriksa isi tas kerjanya sebelum berangkat ke kantor.. tampak asyik sekali. Seolah dia hanya hidup sendiri di dunia ini. Tak peduli dengan dunia di luar bernama menikah, bersosialisasi, atau saling mengasihi. Nina hanya hidup untuk dirinya sendiri. Masa bodoh dengan orang lain! Bagi Nina, hidup mandiri lebih baik daripada lemah bergantung pada takdir. Takdir yang telah merenggut sayang darinya
"Aku tak butuh kata sayang!" tekad Nina pada suatu waktu. Sampai hari ini, dia tetap pada pendiriannya yang lama. Matanya berkilat sempurna bila dia meneriakkan slogan hidup itu di hatinya. Geram menyelimuti. Seperti Api. Berkobar-kobar.
Dan, hari ini adalah hari kesekian kali Nina hidup tanpa sayang. Pandanglah dia. Nina begitu bangga bisa menggoreskan sejarah ketegaran pada tiap episode hidupnya. Prestasi demi prestasi diraihnya tanpa bantuan orang lain. Nina tak butuh dua orang tua yang membiayai hidupnya sebab Nina adalah seorang yang punya banyak uang. Banyak sekali. Nina juga tak butuh seorang kakak yang membantu kesulitan-kesulitannya dalam menjalani pekerjaannya. Semua itu karena Nina punya otak yang pintar. Cerdas. Dia juga tak butuh seorang adik untuk disayangi karena... Nina tak butuh kata sayang. Dari siapa pun. Sekecil apa pun.
"Kamu anak yang diletakkan di depan pintu panti asuhan, Nin..." Bayangan Bu Halimah Nina hanya tahu nama itu sebagai ibu panti asuhannyamembias. Mendadak. Menyamarkan fokus Nina pada presentasi yang sedang dijalaninya. Gawat Padahal, presentasinya sangat diharapkan berhasil oleh perusahaan.
Nina memijit kedua pelipisnya sejenak. Sedikit pusing dirasa. Lalu, sejurus kemudian meminta izin pada forum yang berkumpul. Langkab kakinya segera diburu ke arah toilet. Semua mata peserta yang hadir mengikuti sampai ke pintu.
Nina tepekur diam di sana. Di depan cermin toilet. Lama Hanya termangu, termangu. Tak berbuat apa-apa. Tak pula ia membetulkan mikapnya yang mulai luntur didera waktu. Sekali waktu, dia menghela napas Mencoba melepas kegundahan yang ada Entah apa wujudnya. Nina mencoba sedikit rileksasi, Dihirupnya udara dalam-dalam. Dihempaskan pelan-pelan. Sedikit demi sedikit Persis orang stress. Dibasuhnya wajah dengan air dari wastafel. Tak peduli polesan palsu warna-warni di wajahnya luruh bersama air.
"Ibu tak tahu kamu berasal dari mana, Nin. Orang tuamu tak meninggakan banyak informasisewaktu mereka memberikan kamu pada Ibu. Maaf. Ibu tak sempat bertanya panjang lebar. Sepertinya, mereka terburu-buru... "
Berkunang mata Nina Perutnva sedikit berguncang. Nina merasa mual Dia seperti ingin mun tah.
Terhempas Nina mencaci ironi kehidupan Sinetron sekali Tapi, kejadian semacam ini bukan barang baru lagi di zaman seedan ini. Zaman yangi penuh dengan penyelewengan norma agama, sosial, dan kemanusiaan seperti sekarang, kenyataan hidup setragis apa pun bisa teriadi.
"Aku tak butuh cinta. Aku tak butuh sayaaang dari siapa pun!"
Mata wanita muda itu berubah garang Bercahaya seperti cahaya mata seekor puma yang terluka Puma yang ingin mengembarai hutan seorang diri Walau kakinya terseok-seok terkena peluru. Dan berdarah Berdarah. Mengalir terus Ayah, ibu, kakak, adik, teman.
"Bu Nina, saya diminta forum untuk memanggil Anda. Waktu terus berjalan dan mereka tak ingin membuangnya lebih banyak lagi" Wine, staf Nina, menyusul ke toilet. Nina memandang Wine. Dahinya berkerut. Pandangannya mengabur. Perutnya semakin menjadi-jadi mualnya. Muntah seakan jadi masa depan.
"Aku sakit, Win. Katakan pada forum, aku minta maaf tak bisa melanjutkan. Harap kau saja yang mewakil."
"Tapi, Bu Seperti Tbu tahu forum sangat menghendaki Tbu yang tampil Lagi pula ada banyak pertanyaan yang krusial lagi strategis vang sekiranya akan ditanyakan oleh forum Saya rasa, ibu lebih layak menjawabnya."
Nina menelan ludah. Sakit, Pahit, Wine benar Nina mengendap. Dia tengah teringat sumpah palapanya bahwa dia akan hidup tanpa rasa sayang bahwa dia akan hidup hanya untuk bekerja, bekerja bekerja!
"Ayolah, Nina Jangan jadi manusia cengeng Buktikan kau tak butuh rasa belas kasihan orang lain. Ini hanya penyakit biasa Kau tak perlu merengek minta izin pulang Buktikan kau tak butuh kata sayang! Buktikan kau seorang wanital yang kuat!"
Dengan kepala yang terhuyung, Nina me nyanggupi untuk melanjutkan presentasi yang mengambang Wine bernapas lega.
"Dasar anak haram! Pasti kamu lahir dari hasil perbuatan amoral, Nina!"
__ADS_1
Bruk!
Nina roboh.
Nina mengecewakan orang banyak Tapi apa mau dikata penyakitnya menurut dokter ternyata memang cukup kronis. Kondisi maagnya yang akut, pun tekanan darahnya rendah sekali. Para eksekutif yang menghadiri presentasi pun berusaha untuk maklum. Namun, itu belum cukup melegakan bagi perusahaan. Bagaimanapun, proyek besar yang sudah di depan mata bisa tertunda bahkan mungkin direbut oleh perusahaan lain.
Nina membua mata Gelap Matanya menerawang ke langit-langit sepi Kulit, hidung, dan matanya merasa ini rumah sakit. Ya, rasakan saja Cium saja Dingin, bau sakit ada di mana-mana, dan putih. Bukankah dinding rumah berkafan itu sering didominasi warna suci? Tubuhnya yang terbaring di atas kasur dan tangannya yang berinfus memantapkan analisisnya.
Nina tak suka dengan keadaan ini. Tergolek lemah tak berdaya. Ibarat orang penyakitan saja!
Sepanjang hidupnya, dia tak pernah mau diperbudak oleh penyakit. Mungkin itu sebabnya selama ini Nina bukanlah tipe perempuan yang suka minum obat bila datang penyakit. Bila flu menyerangnya dia lebih baik jogging dan berolahraga untuk membunuhnya. Bila ditanya mengapa tak minum obat Nina hanya berdalih tak ada obat yang mampu menyembuhkan flu. Yang ada hanya obat peredanya. Flu itu akan sembuh seiring berjalannya waktu.
Hah, Nina jengah terus-terusan di dalam kamar Dia ingin keluar Menemui jangkrik-jangkrik yang berderik sepanjang malam Dengan bandel dia bangkit dari tempat tidurnya Nina melepaskan semua kungkungan. Kabel infus dan selimut berbau obat-obatan... Nina sangat benci! Semua hal yang berbau kemanjaan sangat dia benci! Pun sebencinya dia pada kesunyian malam ini Senyap bagi Nina adalah pembunuh nikmat kehidupan Kehidupan yang semestinya dia jalani, harusnya penuh kebebasan. Bebas berkarya dan bekerja.
Tubuh yang sekiranya amblas tanpa tenaga dipaksanya menapak lantai-lantai dingin rumah sakit. Namun, itu bukan hal yang berarti bagi seorang Nina. Dia bagai bola api malam ini.
Berkobar-kobar. Api bernama kekuatan hidup. "Saya kuat!" begitu gaungnya dalam hati. Nina ingin membuktikan bahwa tekanan darah rendah, maag yang kronis, semua sama seperti flu. Tak ada yang mampu menghalangi langkahnya! Bahwa pada malam ini, dia telah menunjukkan kekuatannya pada dunia.
Gagang pintu diputar. Daun pintu berderit. Terbuka. Segera hawa dingin menyambut, mendera tubuh Nina yang panas. Menggigilkan persendian.
Tak ada siapa-siapa, Tak ada serang pun yang menginap malam ini menemani Nina. Tak seperti di tayangan-tayangan televisi dalam sebuah opera sabun. Gadis cantik yang sakit selalu ditemani oleh ayah, ibu, keluarga, temannya. Mereka sampai menginap dan tertidur di bangku tunggu di depan ruangan atau yang lebih romantis lagi tertidur di samping tempat tidur pasien.
"Jangan seperti bocah kecil, Nina. Hidup itu keras. i Kau tak akan mendapat apa-apa dengan rasa manjamu. Kasih sayang hanya milik orang-orang yang lemah. Mereka terlena dalam senyum, tawa, rindu.. buat apa?! Sia-sia, Nina! Sia-sia!"
Nina kenal banyak orang. Tapi, tak ada kenalan yang mengakrabkan diri dengannya. Semuanya hanya mengambil untung dari perkenalan bisnis, bukan? Sebagian besar eksekutif muda seperti dirinya itu memang tak ambil peduli siapa Nina. Hal yang sama juga berlaku bagi Nina terhadap mereka. Siapa mereka, siapa peduli!?
Di kantor, Nina juga punya kenalan. Sebagian banyak orang dikenalnya karena untuk diperintah. Setidaknya ada puluhan orang di bawah kekuasaan nya. Disuruh-suruh, dibentak-bentak, dimarahi. Bu Nina begitu biasa mereka memanggil selalu menjadi sosok yang ditakuti. Penuh dengan agresi, obsesi. Nina yang tak peduli betapa kadang mulut ketusnya melukai banvak hati. Hati-hati yang direndahkan hanya karena jabatan bernamai
"bawahan"
"Rasanya kau tak punya keluarga lagi, Nin. Orang tuamu sepertinya orang tua vang hanya berani berbuat, tapi tak bertanggung jawab"
Menjijikkan! Cinta buta menyengsarakan banyak orang. Perut wanita-wanita yang melendung sebelum menikah, bayi-bayi ringkih teronggok di sungai-sungi dekil dan di karung-karung goni, penyakit kelamin menggerogoti tubuh dari harike hari. Huh, matilah saja sebagai manusia pemuia berahi.
"Orang tua sialan!"
Salahkah makian tadi? Nina masa bodoh. Peduli apa? Nina tak butuh mereka. Go to hell!
__ADS_1
Hari ini, Nina boleh pulang. Dokter yang me rawatnya menyatakan bahwa kondisi Nina sudah membaik. Yang perlu Nina perhatikan adalah banyak istirahat dan minum obat yang teratur. Uh, basi!
Nina merutuk kesal. Dia bak bayi saja harus dirawat sedemikian hati-hatinya. Ibarat barang pecah belah, tahu!
"Saya ini wanita kuat! Kuat!"
Nina menapaki koridor-koridor panjang rumah sakit. Sendirian. Tak ada yang menjemput. Tak ada yang menemaninya menuju rumah, Nina seorang diri. Hanya bertemu orang-orang yang tak dikenal. Orang-orang asing. Nina merasa asing.
Haruskah dia kalah kali ini?
"Nina.., syukurlah kamu sudah sehat, Nak. Bapak senang"
"Ibu bahagia, sakit maagmu sudah sembuh. Kali lain, sesibuk apa pun pekerjaanmu, jangan telat makan, ya."
"Kak Nina.., kak Nina, jangan sakit lagi, ya. Sarah kan kesepian. Eh, kak Nina, besok kita jalan-jalan ke Ancol, yuk. Mumpung liburan, nihh!"
"Hus. sudah.. sudah, Sarah. Kakak Ninanya kan baru sembuh. Entar sakit lagi, lho!"
"Horee, sohib kita udah balik lagi, nih. Lengkap deh geng kita! Nina, we miss u so much!"
Bayangan-bayangan mulai hadir. Khayalan indah milik seorang Nina yang selama ini hanva ber-i sembunyi di balik wajah angkuh. Walau itu harus membohongi hatinya sendiri. Jangan salahkan. Nina sudah mencoba membunuhnya berkali-kali. Tapi, selalu gagal. Yang hanya bisa Nina lakukan adalah menyekapnya di sebuah kamar gelap. Harga diri.
Nina menarik napas. Sesak. Matanya mengabur. i Ingin disusutnya kesedihan yang mulai membuncah. Rasanya.. rasanya sudah tak bisa dibendung lagi. Pertahanan Nina mau jebol. Nina hanya ingin air mata itu mengalir. Demi sebuah kelegaan dan kepasrahan.
"Celaka kau, Nina! Kau telah melanggar janjimu sendiri!"
"Di mana Nina yang mengumandangkan diri sebagai si pembenci cinta? Ke mana Nina yang tangguh? Di mana Nina yang berjanji akan selalu mencampakkan setiap kasih sayang yang hendak mampir di hatinya?"
"Mereka semua benci kamu, Nina. Kamu tak punya ayah, ibu, adik, saudara, apalagi teman. Mereka semua tak mau dan tak butuh kamu. Lalu, buat apa kau melemahkan diri dengan berkata, 'Aku butuh mereka?"
"Nina, katakan slogan hidupmu sekali lagi. Teriakkan keras-keras. Aku tak butuh sayang! Aku tak butuh cinta!"
Wajah itu kembali berubah tegar. Angkuh. Wajah itu kembali berubah garang. Nina, sang wanita karier dengan prestasi cemerlang, telah bangkit lagi. Bangkit dari kubur kesedihan dan khayalan semata. Nina bangkit dengan segenap kekuatan. Mencoba menepis kemanjaan dan kelemahan. Nina seorang yang kuat. Wanita yang kuat. Baja.
Nina mendongakkan wajahnya ke atas. Langit terkembang seperti biasa. Biru. Luas. Bumi tampil seperti biasa. Biru, awan, burung-burung. Angin. Semilir bertiup menggoyang-goyangkan anak rambut Nina.
"Aku tak butuh cinta.. "
__ADS_1
Lalu, Nina menangis. Jujur.