
pagi hari pukul 08.00 dokter keluarga Surya datang ke Mansion Bara. jelas untuk memeriksa kondisi Meera. Di temani Bara dokter itu melakukan pemeriksaan.
"Tuan, nona Meera telah membaik, selang invus akan dilepas. namun jangan biarkan dia terlalu lelah dan hindari stres." kata Dokter sambil tertunduk menghadap Bara.
"Baik" jawab Bara singkat.
"Nona, jangan telat makan, vitamin harus tetap di habiskan" Dokter tersebut menjelaskan pada Meera.
"Terimakasih dokter" kata Meera.
kedua perawat tersebut lalu mulai melepas jarum ditangan Meera. Tiba-tiba bara bersuara "hati-hati, kalau sampai ada darah keluar habis kalian". sontak membuat Perawat itu takut, Bara sangat menyayangi Meera tak ingin Meera terluka sedikitpun meskipun saat Bara sedang Kalap ia tak bisa mengontrol dirinya jika menyangkut Meera.
Meera menatap Bara dengan wajah cemberut, cihh bisa bisanya dia mengancam perawat begitu, dia kira aku seperti ini juga karena siapa!! dasar!!
Setelah petugas kesehatan pergi Bara pergi keruang kerjanya. hari ini ia tak kekantor. ia ingin bersama Meera. namun Dia di rumah saja masih harus bekerja. ia masih harus memeriksa laporan dan ada jadwal Meeting via video yang harus ia lakukan. Sedangkan Adit mengurus pekerjaan yang dikantor.
Meera selesai membersihkan Diri. kini ia menguncir rambutnya menjadi 1 di belakang, memakai Daster sesuai kesukaannya. daster bermotif bunga kecil-kecil berwarna pink sangat cocok untuk dirinya. ditambah sweeter yang tidak terlalu tebal berwarna salem menambah pancaran aura kecantikannya. Meera keluar Kamar. ia bertemu seorang pelayan hendak masuk ke ruang kerja Bara. membawa secangkir teh dan biskuit, Meera menghentikan pelayan tersebut lalu mengambil alih nampannya "Biar aku saja" kata Meera. Pelayan tersebut lalu menunduk dan mempersilahkan Meera berjalan duluan.
Meera mengetuk pintu ruangan Bara. "Masuk" kata orang di dalam sana.
Meera lalu membuka pintu dengan hati-hati, dilihatnya Bara yang sibuk dengan Laptopnya. Meera berjalan mendekati meja Bara. Bara tak menyadari kedatangan istrinya. "letakan dimeja. kau boleh keluar" kata Bara. Meera yang mendengarnya pun sedikit sedih. ia mengira Bara tahu yang datang adalah dia. tapi malah disuruh pergi.
"Baik" kata Meera. sambil meletakan Nampan di meja.
Bara yang mendengar suara istrinya pun kaget, ia melepaskan pandangan dari Laptopnya lalu memandang wajah cantik Meera.
"kenapa kau yang mengantar? apa pelayan dirumah ini sudah mati semua?" kata Bara.
"Aku yang meminta sendiri mengantarkannya" kata Meera menunduk ditempatnya.
"kemari" kata Bara datar
"tadi katanya suruh pergi" jawab Meera , namun ia tetap melangkah menuju ke tempat Bara.
sesampainya di samping Bara. Bara menarik tangan Meera duduk di pangkuannya. Meera teringat kejadian lalu. Bara pernah melakukan ini. dan berujung pada hukuman untuk Meera. Meera segera bangkit dari duduknya. Bara menatap Meera. "Kenapa?" tanya Bara
"em kau tidak akan menghukumku seperti ini lagi kan? tanya Meera polos berdiri di depan Bara
Bara teringat kejadian lalu juga. ia tersenyum melihat ekspresi Meera. "kenapa? kau mau lagi?" tanya Bara menggoda sambil menahan tawanya.
"Tidak bara. aku baru sembuh" Meera gelagapan menjawabnya. ia benar-benar tidak ingin kejadian itu lagi.
"yasudah temani aku disini sebentar. nanti kita makan bersama" kata Bara sambil mendudukan Meera di pahanya lagi dan di bawah kungkungan Bara, Meera melihat kelihaian Bara yang sedang memeriksa file file yang dikirim sekretarisnya.
"Bara aku turun ya, apa tidak Berat seperti ini" kata Meera
__ADS_1
"tidak"jawab Bara masih memandang laporannya.
"Bara. aku siapkan makanannya ya"meera mencoba kabur.
tanpa di jawab tangan Bara memeluk perut Meera. Meera semakin tak bisa apa-apa.
tiba-tiba ponsel berdering. Bara mengangkatnya. ternyata telfon dari Adit.
tangan yang 1 masih memeluk Meera di pangkuannya tangan yang 1 mengangkat telefon. sehingga apapun yang dikatakan Adit di telfonnya Meera bisa mendengarnya karena jarak yang begitu dekat.
"maaf tuan, nona Aurel siang ini memaksa akan datang ke kantor, katanya di minta Nyonya besar." adit
"biarkan datang, toh aku juga tidak disana" jawab Bara.
meera menatap ekspresi Bara
"aturlah biar dia tidak bisa menggangguku" kata Bara. langsung menutup telfonnya.
Bara memandang Meera yang sedari tadi memperhatikannya. Bara mengecup bibir meera. Meera yang mendapat serangan dadakan pun memalingkan wajahnya.
"Kau dengar semua kan?"kata Bara. Meera hanya mengangguk.
"kau percaya aku tidak akan menghianatimu kan?" tanya Bara, Meera hanya mengangguk.
Bara senang karena ia mendapatkan kepercayaan dari istrinya. Mereka pun keluar dari ruang kerja bara untuk melakukan sarapan yang tertunda. karena kini waktu sudah menunjukan pukul 10.00
"aku akan melakukan meeting via Video dengan beberapa pimpinan di anak perusahaanku. akan sedikit lama. kau bisa istirahat siang dulu" Kata Bara.
"baiklah" Meera lalu menghampiri Bara. Meera memeluk Bara. entah mengapa ia ingin sekali memeluk Bara kali ini, Bara yang menyadari pelukan istrinya pun membalas sambil menepuk punggung istrinya dan sesekali mencium ujung kepala Meera. hingga beberapa saat.
"sudah dulu, aku ditunggu" kata Bara melepas pelukan istrinyaa. Meera pun melepas pelukan dengan senyumannya. lalu Bara pergi menuju ke ruang kerjanya.
Meera yang habis minum obat pun turun ke ruang tengah. disana ia melihat beberapa pelayan sibuk dengan urusan masing-masing. Meera membawa ponselnya. ia memilih vc terhadap karyawan ditokonya. ia menanyakan sitiasi disana. sampai 1 jam lamanya meraka saling VC.
waktu menunjukan pukul 12.00 Meera memilih untuk kekamarnya. ia ingin menunggu Bara di dalam kamarnya. namun kantuk menghampirinya. hingga tak butuh waktu lama ia terlelap. Sedangkan Bara masih di ruang kerja nya. sampai dengan jam 14.00 ia baru selesai melakukan meeting via video nya. ia keluar ruang kerjanya. disana ia bertemu dengan siti akan menuju kamar Meera. bara bertanya "mau apa?"
"maaf tuan nyonya belum minum obat untuk siang ini, saya harus membangunkannya" Jawab siti
Bara memandang jam tangannya dan mengambil nafas panjang "astagaa... telat minum obat" batin Bara
Bara lalu masuk kekamarnya. sedangkan siti yang tahu Bara sudah masuk ia pun segera pergi
didalam kamar ia melihat Meera tidur dengan nyenyak. wajahnya sudah normal kembali. tidak ada pucat nampak lagi. Bara membangunkan Meera perlahan. ia menepuk pipi Meera lembut. Meera menggeliat merasakan pipinya disentuh. Sejenak ia mengerjapkan matanya ia melihat wajah Bara dihadapannya.
"ayo bangun makan dulu, kau belum makan kan?" tanya Bara
__ADS_1
Setelah mencuci muka Bara makan bersama Meera di dalam kamar. Bara makan sepiring dengan Meera. Meera luluh dengan perlakuan Bara. ia seakan tidak lagi memikirkan hal-hal kemarin yang membuatnya hampir gila. setelah selesai makan Bara meminta Meera untuk minum vitaminnya lagi. ketika Bara hendak keluar Meera menghentikan Bara dengan pertanyaannya
"mau kemana?" tanya Meera
"olahraga" jawab Bara singkat
"ikut" kata Meera karena ia bosan seharian tidak melakukan kegiatan apapun.
"tidak, baru enakan mau olahraga. nanti kecapean" jawab Bara melarang Meera
Meera cemberut mendengar Bara. Bara yang melihat istrinya cemberut pun menarik nafas panjang teringat ucapan dokter yang bilang jangan membuat Meera Stres.
"ayo, tapi lihat saja" ajak Bara sambil berlalu meninggalkan Meera.
wajah Meera berubah senang ia lalu berjalan mengikuti Bara
sesampainya di ruang fitnes Bara sibuk dengan aktivitasnya. kini bara hanya menggunakan celana Bokser dengan kaus ketat warna putih. tubuhnya yang seperti roti sobek tampak menawan. Meera memperhatikan Bara dan mengaguminya. dari treadmil Bara berjalan di depan samsak. ia melatih tendangannya. Bara adalah pemegang sabum hitam taekwondo. kemampuan bela dirinya tak bisa di ragukan. Meera hanya melihat dengan senyuman sambil pikiranya melayang-layang diudara
"hmm.. sudah sangat lama aku tidak melakukannya"
"sudah sejak saat itu aku tidak pernah lagi menggunakan kemampuanku"
"ingin rasanya aku melakukannya lagi"
kata Meera sambil menujukan sedikit senyum di bibirnya dengan mata memandang Bara.
Bara yang melihatnya pun kepedean dia berfikir Meera sangat kagum kepadanya.
"heii kenapa senyum-senyum. kau kagum padaku, " Kata Bara sambil memandang Meera yang masih senyum senyum
"enak aja. aku hanya mengingat sesuatu, lagi pula tendanganmu bagus" kata Meera sambil berjalan mendekati Bara.
"apa? ingat siapa? mantanmu?, bagus lah. aku pemegang sabuk hitam taekwondo" kata Bara menyombongkan dirinya. jarang-jarang Bara melakukannya.
"ih apaan sih bara," Meera menyangkal. karena memang ia tidak memikirkan mantan. namun ia senang mendengar Bara pemegang sabuk hitam taekwondo
"lalu apa?" tanya Bara lagi.
kini meera berada di depan Bara. tangannya mengelus samsak di depannya. ia mengingat semua kejadian dimasa lalunya.
"kalau aku katakan apa kau percaya?" tanya Meera
"apa?" tanya Bara penasaran.
"aku pemegang sabuk hitam karate" bisik Meera ditelinga Bara.
__ADS_1
"haha mana mungkin" kata Bara ia tak percaya kata-kata Meera. ia menganggap Meera bercanda.
karena selama ini Meera tak menunjukan bahwa ia bisa beladiri, bahkan ketika dirinya di ganggu orang bersama Bara pun ia menarik Bara dan mengajak kabur. Bara tak memikirkan omongan Meera. sedangkan Meera hanya tersenyum sendiri sambil terus memandang Bara yang sedang berolahraga.