Cinta Yang Sesungguhnya

Cinta Yang Sesungguhnya
Mengetuk cinta episode 3


__ADS_3

Delapan minggu, ia tak mendapatkan kabar apa pun dari Anggita. Renal sempat merasa tubuhnya tak menapak. Limbung. Tapi hari ini, ia mendapat e-mail.


Syukurlah, gadis itu sudah di Jakarta lagi


"Bagus, ! Langsung lamar sebelum dia pergi lagi!" nasihat Riza yang membuat laki-laki itu kontan grogi.


"Apa bisa?"


"Bisa saja! Biar penasaranmu cepat tuntas. Biar penasaranku juga tuntas!"


Renal tak langsung mengiyakan. Sebaliknyal lelaki itu tepekur beberapa lama. Kejadian-kejadiar ini, belum-belum sudah membuat tubuhnya tal bertenaga. Akankah menyisakah keletihan yang lain


"Pernikahan, nal! Pernikahan!"


"Kenapa dengan pernikahan?"


Riza tampak gemas.


"Pernikahan itu bisa menjadi bahan bakar yang melejitkan kemampuan dan potensi seseorang! Trust me!"


Ia hanya tersenyum tipis dan menjawab kalimat Riza dalam hati,


" Dan gagal menikah, akan jadi duri yang hidup di jantungmu dan diam-diam mencuri umurmu!"


Lelaki itu tidak tahu, apakah senyum Riza dan perkataan trust me-nya yang membuat ia menuruti permintaan sahabatnya itu untuk berkemas. Atau setitik harapan, yang biarpun setitik, tetaplah sebuah harapan dan lebih dari layak untuk diperjuangkan.


"Pakai bajumu yang terbaik," ujar Riza setengah memberi perintah. Meski enggan, renal mengambil juga kemeja biru tua berlengan panjang dengan motif kotak-kotak. Sebelum berangkat, Riza masih menyempatkan diri mengamati penampilan Teguh dengan kruk di ketiaknya


"Gimana?"

__ADS_1


"God Ini baru sahabatku. Penuh semangat, penuh antusiasme, penuh..."


"Za, cukup!" Riza tertawa, kontan menghentikan ocehannya. Sejam berikutnya, mereka sudah duduk berhadapan dengan Anggita. Gadis itu kelihatan jauh lebih kurus. Wajahnya yang oval lebih tirus dan biasanya. Menyadari rekaman yang detil dari memorinya, renal terkejut sendiri. Gadis ini terpatri dalam ingatannya lebih dari sosok mana pun yang dikenalnya!


Maka, dengan mengucap bismillah, laki-laki yang beberapa menit tadi merasa darahnya beku, seolah tubuhnya digantung terbalik, mulai bicara. Ia tak berani menatap paras anggun Anggita, sebab takut perubahan wajah gadis itu akan melemahkan semangatnya. Entah kekuatan dari mana yang membuat ia terus bicara. renal seolah lupa akan pintu-pintu yang tertutup. Lupa soal kakinya yang cacat. Lupa kalau ia berhadapan dengan Anggita, perempuan pengusaha muda yang memiliki beribu pesona. Perempuan yang dalam hitungan beberapa detik kemudian, pasti merontokkan pertahanan yang belakangan ini dibangunnya, begitu ia bilang


"tidak!".


Tapi ajaib, Anggita bukan seperti perempuan lain yang dengan tak sabar mengatakan tidak. Sebaliknya, gadis itu malah menangis, terisak, dan sulit dihentikan. "Terima kasih," jawabnya sedikit terbata.


"Untuk?"


"Kesediaan melamarku, nal."


renal terpana. Kali pertama dalam sejarahnya calon istri yang dilamarnya mengucapkan terima kasilh.


Namun di depannya, Anggita menatap tak mengerti.


"Tapi?" kejar renal lagi, membuat gadis itu tertawa. Bibirnya membentuk lengkung pelangi terbalik. Begitu indah di mata renal yang sederhana.


"Tidak ada tapi," jawab Anggita tegas, "Ya, jika niatmu melamarku bukan karena fisik!"


Teguh melonjak di tempat duduknya.


"Ini bukan soal fisik, Anggi."


"Terima kasih."


"Untuk apa?" ucap renal tak mengerti.

__ADS_1


Anggita menyeka matanya yang basah dengan tisu.


"Dulu sekali, nal, mereka menganggap aku terlalu tinggi untuk dilamar. Dan sekarang, seandainya mereka tahu pun, entah kaum lelaki itu akan berbondong atau berlari menghindar.


"Kenapa?"


Anggita mengangkat dagunya.


"Tatap mataku, nal. Tak apa."


Dua bola mata yang hitam, dengan lentik bulu mata, menatap kedua lelaki itu tanpa kedip. Tuhan bintik di mata Anggita kehilangan pendar. renal baru menyadari tatapan gadis itu yang sepenuhnya kosong. Mau tak mau ia terhenyak. Anggita tak bisa melihat? Sejak kapan?


"Aku kecelakaan, nal."


Di kursinya, renal memejamkan matanya rapat. Dunia baru Anggita menjadi dunianya. Siapkah dia? Seumur hidup, renal mencari orang yang bisa mengerti dan menerima dengan lapang dada akan kekurangan fisiknya. Bisakah ia melakukan hal yang sama? Tak menuntut? Namun, sudah watak manusia, tak pernah mudah menundukkan ego!


Ruangan seperti kosong. Dunia berhenti berputar.


Riza menunggu. Anggita menunggu. Sementarai renal berperang dengan egonya.


"Maafkah aku, nal," bisik Riza, melihat kegalauan di hati sahabatnya. Bukan niatannya mencarikan istri yang buta untuk renal. la sama sekali tak tahu.


Di sampingnya, renal mengangguk. Rahang lelaki itu mengeras, ketika menatap Anggita yang menitik air mata.


"Anggi," suaranya kemudian serak, "aku akan menjadi matamu!"


Senyap. Riza terkejut di tempat duduknya. Anggita sebaliknya, tampak mengusap air mata yang tadi mampir di pipinya, tersenyum.


"Terima kasih, nal." Lalu lanjutnya, dengan bola mata yang tiba-tiba gemintang, "Dan, maafkan aku. Tapi....kemeja kotak-kotak birumu, saya suka sekali"

__ADS_1


__ADS_2