
semua orang masih ada di ruang keluarga kecuali Meera. Bara bergegas turun dengan langkah besarnyanya. Ia sangat tak tega melihat keadaan Meera yang masih mendiam menahan sakitnya sendiri. bahkan ia melihat Meera yang berusaha tegar agar dirinya pun sedikit tenang. namun itu semakin membuat batin Bara sakit melihat istrinya.
Bara segera duduk disebrang sofa yang diduduki oleh orangtuanya. tatapan mata Bara bertemu dengan mata kedua orang tuanya. Tatapan yang melihat siapapun akan bergidik ngeri olehnya. Dingin, Tajam, Menekan dan terlihat api amarah di retinanya. Tuan Dion tentu tahu apa yang sedang dirasakan Putranya. ia juga tahu bagaimana perasaan Meera. ia mengerti bahwa putranya hanya ingin melindungi Meera.
"sekarang Meera adalah istriku, Ny. Bara Suryatama, jangan ada lagi yang mencoba menyakiti nya, aku tidak akan mengampuni siapapun orangnya" kata-kata Bara yang mengandung ancaman. tajam dan terjaga. membuat siapapun yang mendengarnya Bergidik ngeri..
"Mama tidak akan mengakuinya sebagai menantu, mama tidak akan menerimanya, ingat itu Bara!!" kata Ny. Martha meninggikan suaranya.
Bara memejamkan matanya sejenak, mengeraskan kepalan tanganya menahan emosi. ia mengontrol emosinya. ia tahu yang dihadapinya ini bukan orang lain. dia adalah orang tuanya sendiri.
"Ma. Selama ini Bara selalu menuruti apa yang mama pinta. mama menjodohkan ku dengan banyak wanita dan meminta ku Berkencan dengan mereka Bara selalu menuruti. apa mama fikir Bara senang dengan semua rencana konyol yang Mama rancang itu? Tidak Ma, Bara sama sekali tidak senang, Bara melakukannya hanya untuk menjaga perasaan mama dan menghargai usaha Mama untuk Bara. walau akirnya mama tahu sendiri bagaimana sifat semua orang itu. Mereka hanya menginginkan apa yang Bara punya dan memanfaatkannya. Mama ingat kapan terakir kali Bara meminta kepada Mama? sudah sangat lama Ma. bahkan Mama sendiri tidak akan ingat kapan terakir kali Bara merengek meminta sesuatu kepada Mama. anggap saja ini permintaan terakirku Ma. Cobalah mulai menerima Meera sebagai istriku" kata-kata yang keluar dari mulut Bara sangat Terjaga intonasinya. nadanya seakan menusuk hati dan rasanya seakan menyayat perasaan orang yang mendengarnya. dengan tatapan yang masih sama tajamnya menusuk memandang wajah Ny. Martha
"Bara, Mama ingin kau bahagia nak, Ceraikan Meera dan hiduplah bahagia dengan Aurel. mama yakin Aurel bisa membuatmu bahagia" Nyonya martha tetap dengan pendiriannya menjodohkan Bara dengan Aurel. karena sepertinya Ny. martha telah jatuh kedalam mulut manis Aurel yang pandai merayu dan meyakinkan Ny. Martha.
Bara kecewa dengan kata-kata mamanya. ia menatap manik mata mamanya dalam dalam. banyak sekali yang ingin ia katakan saat itu. Namun ia juga ingin sekali memendam emosinya
ia lalu memejamkan matanya sejenak mengatur emosinya dan membukanya kembali lalu berkata.
"Baik, jika memang menginginkan Aurel menjadi istriku, itu hak mama, namun untuk menjdikan Meera istriku, itu hak ku,. Terserah usaha apa yang akan aurel lakukan untuk menggodaku atau menghancurkan pernikahanku lakukanlah, aku tahu betul siapa orang disamping mama yang mama inginkan menikah denganku, dan aku tahu betul siapa istriku, Bara yakin Bara tidak akan pernah menyesal dan tidak salah pilih, jika mama bilang meera tak pantas bersaing dengan Aurel. Benar.. Mama sangat Benar. karena Meera jauh lebih diatas Aurel!" kata-kata yang sangat terjaga emosinya. kata-kata itu menusuk hati aurel dan mamanya. setelah berkata seperti itu ia beranjak dari tempat duduknya lalu pergi kekamarnya. Didalam hatinya sangat menyimpan kecewa kepada mamanya. namun ia masih menjaga ucapanya. karena ia sadar siapa yang dihadapinya.
Tuan Dion hanya diam mendengar semua kata-kata yang terucap dari bibir putra nya. baru sekali ini ia mendengar Bara seperti itu, ia Bangga kepada putranya. ia bangga bagaimana melihat Bara membela wanita yang di cintainya. namun berbicara kepada Bara saat ini bukanlah pilihan yang tepat. ia pun juga merasa sangat kecewa dengan istrinya. ia tak menyangka se batu itu hati istrinya. Tuan Dion pun pergi meninggalkan Ruang itu. hanya tersisa Ny. Martha dan Aurel disana.
__ADS_1
"sepertinya sudah tidak ada harapan lagi untuku tante" aurel ber ekting lagi memelas didepan Ny.Martha
"tidak sayang, jangan patah semangat, kau harus terus mengejar Bara, aku yakin Mereka akan segera bercerai jika kau berhasil merebut hati Bara. kau harus bisa mendapatkanya, aku mendukungmu sayang" kata-kata Ny. Martha kepada Aurel. lalu memeluknya
"tapi Bara menyukai Wanita itu tante" kata Aurel
"apa bagusnya wanita itu, kau lebih dari segalanya sayang" kata Ny martha mengusap mata Aurel yang hendak mengekuarkan air mata buayanya.
Aurel tentu sangat senang mendengar itu semua. itu artinya ia masih bisa mendekati Bara apapun caranya. karena Ny. Martha sangat mempercayainya.
Didalam kamar Bara
Bara berbaring di samping Meera. ia mengelus lembut pipi Meera. ia melihat kelopak mata Meera yang merah disana. seakan menunjukan seberapa banyak air mata yang di tahannya sejauh ini. Bara kasihan kepada Meera. namun ia tak mau memaksa Meera berkata apapun kepadanya. Bara mengecup kening Meera. Meera yang merasakan kehangatan pelukan Bara pun mulai tersadar dari tidurnya. ia mulai mengerjapkan matanya. ia melihat suaminya di depan mukanya. ia lalu duduk di ranjang itu di susul Bara juga. Setelah matanya melihat jelas raut muka suaminya. ia tahu suaminya sedang marah. tanpa berucap apapun ia langsung memeluk tubuh suaminya. ia memeluk erat tubuh suaminya. ia merasakan kehangatan dan kedamaian disana. Bara membalas pelukan Meera. ia mengusap punggung Meera. beberapa saat berlalu meera melepaskan pelukannya lalu menatap mata Bara ban berkata "kau marah?" Bara hanya diam tak menjawab. ia masih memendam kemarahan dalam hatinya kepada mamanya. meera tahu itu. lalu meera mecoba menenangkan Bara lagi. "aku tidak apa-apa, jangan marah kepada mama lagi" kata-kata lirih Meera sangat menyentuh hati Bara.
Bara senang mendengar jawaban istrinya. ia semakin mencintai Meera. dan semakin bertekad melindunginya.
meera mencoba mencairkan suasana ia tak ingin larut dalam suasana. ia sudah memilih menikahi Bara. tidak ada lagi alasan untuk tidak percaya pada suaminya
"kau mengganti bajuku?" tanya Meera sambil melepaskan pelukannya
"tidak, tadi pelayan yang membantu" jawab Bara.
__ADS_1
"emmm.. kukira suamiku mencari kesempatan" jawab Meera berusaha agar suaminya lebih dingin dari emosinya yang masih panas.
"hmm.. kau menggodaku?" tanya Bara sedikit senyum ada di bibirnya
"tidakk.. aku lapar" kata Meera. memegangi perutnya
"ayo kita cari makan, kau ingin kembali ke sini atau pulang" tanya Bara sambil merapikan rambut Meera kesamping telinganya.
"pulang" jawab Meera sambil menundukan kepalanya. ia ingin pulang karena disitu ia terus mengingat kejadian tadi. ia menjadi sangat sedih di buatnya.
tanpa menunggu lama. Dan tanpa berganti pakaian, Bara membuka lemarinya dan mengambil jaket lalu memakaikannya pada Meera. laku mereka pergi dari kamar.
dilantai Bawah mereka bertemu dengan Tuan Dion. Bara dan Meera menghampirinya. lalu berpamitan.
"Nak, maafkan mama mertuamu" kata tuan Dion kepada Meera
"Tidak apa Tuan, Aku tidak apa-apa" kata Meera tenang sambil memperlihatkan sedikit senyum di sudut bibirnya.
"Pa, aku pulang dulu" kata Bara,
"Hati-hati Bara, jaga menantuku" kata Tuan dion.
__ADS_1
mereka lalu menuju mobilnya dan mengendarai menuju Rumah Makan yang masih buka di jam 24.00 dikota itu