Cinta Yang Sesungguhnya

Cinta Yang Sesungguhnya
markas Black Eagle


__ADS_3

setelah masuk meera, Bara dan Adit duduk di ruang tamu. Rumah itu tampak sepihanya beberpa pelayan saja yang terlihat. sampai datanglah seorang berperawakan tinggi tegap menggunakan kaos ketat warna hitam dan juga celanahitam menghampiri Meera.


"Nona, Tuan Sam ada di belakang. ia memintamu datang kesana" kata Pengawal itu


"dimana prince?" tanya Meera.


"dibelakang bersama Tuan Sam" jawab Pria itu.


"aku akan ke belakang sebentar. kalian disinilah dulu" kata Meera memandang Bara.


tanpa menjawab Bara tajam menatap Meera seakan tahu maksud Bara. Meera pun berkata.


"yaa yaa.. kau ikutlah denganku" kata Meera menepuk tangan suaminya.


"tapi kau tunggu lah disini" kata Meera kepada Adit. Adit pun terpaksa setuju. Adit tak mau kehilangan wibawanya di sana. ia memasang wajah gaharnya sama seperti saat bekerja. tegas dan dingin itulah pembawaaanya.


Meera, Bara dan pria tadi pun berjalan menuju ke halaman belakang dan Dilihatnya Rangga sedang berlatih menembak. dengan telinga yang tertutup dan kaca mata bertengger di hidungnya tamoak gagah sekali anak itu.


"kak....!!" Sapa Meera seraya berlari kecil menghampiri Samudra meninggalkan Bara dan berhambur kepelukannya. Samudra pun membalas pelukan wanita yang terus dianggapnya sebagai gadis kecilnya sampai kapanpun ini.


"aaaa.. phoenixku sudah datang" kata Samudra mengacak poni Meera. sedangkan Bara sudah meremas tangannya. kesal sekali ia dibuat Meera.


"wanita ini benar-benar pandai menaikan emosiku" batin Bara.


"ohh ya kak. aku datang bersama suamiku. Kenalkan Kak" kata Meera melepaskan pelukan Samudra dan berjalan mundur 2 langkah.


samudra pun mengulurkan tangannya kepada Bara dan dijabat oleh Bara. Bara harus menahan emosinya jika ingin segera pergi dari tempat itu.


"Bara Suryatama"


"Samudra Xu"


Samudra masih merasakan kemarahan di mata Bara. namun ia tak mempermasalahkan itu. sedangkan Rangga masih berlatih menembak dipandu oleh instrukturnya. yang tentu telah di siapkan oleh Samudra.


"kau ajari dia menembak lagi kak?" tanya Meera. sambil memandang Adiknya yang nampak serius disana


"yaa.. ia harus menjadi lelaki tangguh" kata Samudra sambil menganggukan kepalanya


"duduklah dulu" kata Sambudra mempersilahkan Bara dan Meera duduk. dengan segera Bara menarik tangan Meera agar duduk di sampingnya. Meera pun tahu betul sikap itu.


"lexa kemana kak?" tanya Meera.


"sedang mengerjakan tugas, apa kau ingin membantunya?" tanya Samudra. Meera langusng faham maksud Mengerjakan Tugas yang dikatakan Samudra. ia pun melirik Bara di sampingnya yang sedari tadi memasang wajah dinginnya Khas seorang CEO perusahaan besar yang ditakuti kalangan pebisnis.


"aaaa.. tidak. aku disini saja" kata Meera. Dari pada ia harus bertengkar lagi dengan Suaminya itu mending tidak ikut campur itu lebih baik.


"Maaf untuk kejadian kemarin, dan Kami kesini ingin menjemput Rangga" kata Bara langsung tanpa basa basi. ia sudah tak ingin berlama-lama ditempat itu.


"santailah dulu, biarkan pangeranku disini, aku masih ingin mengajaknya bermain" kata Sam. ia menambahkan nilai plus kepada Bara karena dengan gentle meminta maaf atas kesalahfahaman kemarin


"lihatlah My Prince menikmati setiap ledakan mainannya" kata Sam kepada Meera.

__ADS_1


sebelum menjawab Meera melirik Bara terlebih dahulu. akirnya ia memilih hanya tersenyum tipis saja.


"mainan kepalamu!! itu senjata api bukan mainan bodoh" batin Bara.


tiba tiba Rangga datang dan langsung salim kepada Kakak kakaknya. keringat yang menetes di pelipis Rangga seakan semenarik apa permainan yang disebutkan Sam tadi.


"wah wah.. kak Bara datang juga" kata Rangga duduk di samping Bara


"emm" kata Bara dingin


"kak kak.. tadi aku melihat paman-paman membawa boks boks hitam kearah bawah. Mereka bilang itu mainanku selanjutnya, apa itu kak?" tanya Rangga Penasaran menatap kearah Sam. sambil meminum segelas jus jambu kesukaannya seketika Sam menampakan senyum tipisnya..


"itu adalah bola-bola kasti, jika kau mengenalnya kaubakan sangat menyukainya" kata Sam. Mendengarkan bola kasti Meera pun melotot. tahu akan sebutan itu.


"bola kasti? itu granat, astaga sudah dikenalkan seberapa jauh adiku terhadap barang-barang seperti itu." batin Meera. Bara yang tak mengerti pun memaksakan dirinya untuk tetap bersikap dingin.


"benarkah?" tanya Rangga


"tanyakan pada kakakmu kalau tidak percaya" kata Sam memicingkan alisnya menatap Meera.


"ahh... kau tak perlu bermain bola kasti itu. kau sudah besar" kata Meera mencari alasan.


"tapi aku ingin melihatnya" celetuk Rangga


"tidak usah..!!" kata Meera keras. hingga membuat Samudra Xu membelakakan matanya.


"kenapa? bukankah esok ia harus mengenalnya lebih dalam? bukankah ia harus mahir menggunakannya?" tanya Sam menekan


"pasti ada yang tidak beres" batin Bara.


tak lama kemudian Instruktur Menembak Rangga memanggilnya.


"Prince, Come here!!" panggilnya.


"Yes Sir!!" teriak Rangga


"Kak Bara bisa menembak?" tanya Rangga


"tidak" jawab Bara.


"aaaiiihh... kata kak sam pria itu harus jago menembak dan bela diri bagaimana kau bisa melindungi kakaku jika tidak bisa, ayo ikut bersama ku latihan" ajak Rangga sambil menarik tangan Bara. Bara pun menggelengkan kepalanya. tapi ia menuruti Rangga dan beranjak dari tempat duduknya. lalu tak lama kemudian Lexa turun dan menghampiri Meera.


"datang juga kau rupanya. apa kau bersama pria keparat itu?" kata Lexa yang masih sangat benci pada Bara.


"siapa yang kau sebut keparat hah?? dia suamiku, dasarr!!" kata Meera


"yaa yaa.. pria itu suamimu, pria yang telah membuatmu menangis dan memukul kakakku. coba kurang keparat apa lagi pria seperti itu" kata Lexa. Meera pun menggelengkan kepalanya. tak habis pikir bisa bisanya Lexa masih sebegitu kesalnya dengan suaminya. Mereka pun menuju tempat latihan Rangga. dan Bara juga nampak memakai penutup telinga dan kaca mata. dalam pikirannya hanya ingin mengambil.hati Rangga agar Rangga mau menurutinya untuk segera pergi dari sana. sedangkan Samudra memperhatikannya. ia tak yakin jika Pria segagah Bara tak bisa menembak. dari caranya pertama kali memegang pistol saja sudah ketebak jika ia bisa menggunakannya.


namun Bara sengaja tak melesatkan ke tepat sadarannya agar tak terlihat kemahirannya dalam menembak. namun itu semua tak bisa mengelabuhi Samudra. Samudra pun mendekati Bara dan berkata.


"kau ingin membawa my Prince pulang hari ini kan. kau harus mengalahkanku dulu" kata Sam di samoing telinga Bara. Bara pun menurunkan tangannya yang hendak menembak sasaran lagi. dan berkata.

__ADS_1


"segera ambil pistolmu" kata Bara dingin.


Sam pun beranjak dan bersiap-siap. ia menggunakan kaca mata dan penutup telinga juga. dan berdiri di samping Bara.


"ada 5 peluru, point terbanyak yang menang" kata Sam. ia sebenarnya ingin memancing Bara agar menunjukan kemampuannya. karena ia tahu sedari tadi ia hanya perpura-pura.


"wooooaaahhh... " kata Rangga.


Meera yang tak pernah melihat suaminya memegang senjata tajam pun sedikit meragukannya. karena mengingat Samudra lah yang paling mahir menggunakannya. mereka tengah bersiap.


Bara membidik 1 titik tengah suara tarikan pelatuk pistol itu terdengar sangat nyaring. 5 peluru bara menembus 1 titik yang sama. sedangkan Sam juga menembak kearah sasaran namun pelurunya tak menembus tempat yang sama.


tak beberapa lama kemudian ada yang membawa papan sasaran itu menghampiri Bara dan Sam. Sam menyengerai tipis melihat papan sasaran Bara yang hanya ada 1 lobang.


"sesuai dugaanku orang ini memang handal, tapi kenapa ia menyembunyikannya" batin Sam.


"laahh... kak Bara cuma 1 aja yang tepat sasaran. padahal tadi aku lihat pelurunya mengawah tepat ke papan ini. tapi bagaimana bisa hanya ada 1 lobang." kata Rangga


"aku memang tidak pandai" kata Bara sambil mengusap kepala Rangga


Sam menyengerai tipis "cihh masih pura-pura" batin sam.


tiba-tiba ada panggilan ke ponsel Sam.


"sialann.. berani nya mereka. baiklah aku kan segera terbang kesana. tunggu aku. jangan melakukan pergerakan apapun sebelum aku datang" kata Sam marah di telefonnya.


semua orang yang ada di sana pun melihatnya.


"Apa ada masalah kak?" tanya Lexa.


"Prince. kau pergilah dulu mandi. setelah ini kakakmu akan membawamu pulang" kata Sam apda Rangga. Rangga pun mematuhinya dan segera pergi.


"kak ada apa?" tanya Lexa lagi.


"ada sedikit masalah di Thailand. aku harus kesana. kau tetaplah disini" kata Sam pada Lexa


"Thailand? apa berkaitan dengan Tn Peter?" tanya Meera penuh selidik.


"ya.. mereka mengacau lagi, aku tidak punya waktu lagi. aku harus segera pergi" kata Sam menepuk pundak Meera


"bisa kita bicara sebentar?" kata Sam pada Bara. Bara dan Sam pun meninggalkan kedua wanita itu disana dan mendahuluinya masuk kedalam mansion. dan Sam pun berpesan pda Bara.


"mungkin kau bisa membohongi mereka tentang kemampuanmu, tapi tidak denganku. bagus.. itu yang ku harapkan. kau harus bisa melindungi Phoenix krena diluar sana banyak sekali yang mencari tahu keberadaannya. tapi aku minta kepadamu. tolong jaga dia sebaik mungkin atau kau berurusan dengan ku, tentu kau sudha tau siapa aku kan." kata Sam.


"ini kartu ku, kau bisa menggunakannya jika kau terdesak dan butuh bantuan. dimanapun dirimu Black Eagle akan membantu kesusahanmu" kata Sam memberikan sebuah tanda anggota pada Bara. dan Bara menerimanya


"aku akan membawa Istriku keluar dari duniamu" kata Bara.


"sudah tidak bisa, yang harus kau lakukan adalah melindunginya" kata Sam.


Sam pun segera berlari kekamarnya sedangkan Bara menuju keruang tengah menemui Adit. yang tak lama kemudian Rangga dan Meera pun menghampirinya. Mereka pun memilih untuk segera pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2