
pagi hari menunjukan pukul 06.00 Meera mengerjapkan matanya. badanya terasa aneh ada beban di perutnya. ia pun bingung dimana ia sekarang. saat ia menoleh tampak wajah Bara yang tampan di sampingnya sedang tidur. ia membelalakan matanya seakan tak percaya ia tidur bersama Bara semalaman.
ia mendorong tangan Bara dengan kasar seketika membuat Bara terbangun .
"apa sih Merra. pagi-pagi sudah bikin kaget" gumam Bara sambil mengerjapkan matanya
"aku lebih kaget bagaimana bisa aku ada di sini. ini rumah siapa hah!!" Meera berkata dengan nada kesalnya sambil menududukan badaknya
"rumahku lah" jawab Bara singkat .
"lalu kenapa kau tidur disini" tanya Meera kesal memandang Bara yang masih santai memejamkan matanya
"ini kamarku, lalu aku mau tidur dimana kalau tidak disini" jawab Bara ketus.
Meera meraba tubuhnya sendiri dan merasa pakaiannya sudah diganti ia pun merasa kaget siapa yang menggantikannya. ia lalu berlari ke depan cermin dan melihat dirinya dibukanya leher kiri kanannya yang tertutup rambut. ia bersyulur karena memang hanya ada 1 tanda kissmark yang sama karena kejadian kemarin di kantor.
Bara melihatnya dan ia tertawa melihat tingkah Meera. "lihatlah begitu menggemaskannya dia"
Meera berjalan menuju samping Bara tidur dan duduk di sana. ia memberanikan diri memulai bicara
"Bara, aku mau pulang, Rangga akan bingung mencariku"
"tidak akan. Rangga sudah tau posisimu" jawab Bara masih dengan posisi semula malah kini memejamkan matanya
"kau bertemu denganya? ia berbicara apa denganmu? aku hanya mengkhawatirkanya" ucap Meera kepo sambil memegang lengan Baea yang tidur miring membelakanginya.
"kau harus membiarkan dia pergi kepertandingan itu, kau harus percaya pada adikmu sendiri" ucap Bara Santai
"Bara kau tidak tahu. apa saja yang akan terjadi di dalam dan luar arena, aku pernah mengetahui dulu saat rangga lolos seleksi tingkat kota, temannya yang tidak lolos berusaha mencelakainya dengan berusaha menabarak Rangga dari belakang dengan mobil. bahkan saat rangga disekolah Rem motor Rangga di rusak oleh temannya itu. untung saja saat itu motor Rangga banya kempes. jadi ia harus menuntunnya sampai di bengkel ia baru tahu kalau remnya rusak. Rangga tidak pernah bercerita tentang itu, aku yang mengetahui sendiri dari teman temannya. dan didalam pertandingan waktu rangga cidera. wasit yang memimpin pun juga berat sebelah. saat rangga sudah tersungkur ia tak menghentikan waktunya. dan membiarkan musuh rangga menyerang lagi sampai waktu habis. bagaimana aku tidak melarangnya jika seperti itu" Meera mencoba menjelaskan
Bara lalu bangun dan duduk bersandar pada ujung kasurnya. dan berkata "itu tidak akan terjadi lagi, orangku sendiri yang akan menjaganya, apa kau tak mempercayai kemampuanku? sekarang biarkan adikmu mengikuti apa yang ia mau. dan tepati janjimu"
meera hanya diam dan tertunduk. ia memikirkan apa yang dikatakan Bara. disisi lain ia sangat mengkhawatirkan rangga. namun di sisi lain ia tak ingin adiknya kecewa.
__ADS_1
Bara menghampiri Meera dan memeluknya. Meera merasa tenang dipelukan Bara. "Mandilah aku sudah menyiapkan bajumu, segera turun kita sarapan" kata Bara melepas pelukannya. Meera pun pergi menuju toilet. dan disana ia terpukau dengan kemewahannya. ia pun segera membersihkan diri dan segera keluar.
sebelumnya Bara menyiapkan sebuah Dres dengan lebel perancang terkenal di negeri ini. jelas harga dres itu sangat mahal. meski terlihat sangat sederhana namu tak bisa menutupi harganya yang begitu mahal. Meera tampak cantik menggunakannya. Meera menyisir rambutnya terurai begitu saja dan memakai make up tipis yang membuat dirinya makin cantik. lalu ia turun menemui Bara. di lantai bawah Meera di kejutkan dengan banyaknya pelayan disana ada sekitar 10 orang yang sedang melakukan pekerjaannya masing-masing. semua pelayan menyapanya "Selamat Pagi Nona" Meera yang tak pernah diperlakukan seperti itupun merasa canggung. ia pun membalas sapaan mereka dengan tak kalah ramah. pelayan disana rata-rata masih muda dan cantik.
setelah sampai dimeja makan. Meera hendak duduk agak jauh dari Bara. namun ketika Meera baru akan menarik kursinya Bara berkata dengan ketus "tidak sekalian saja kau duduk di luar sana"
"ciihhh.. pagi-pagi memang udara dingin. tapi kata-katamu lebih dingin" batin meera mengerucutkan bibirnya. lalu menjawab "baik Bara aku akan makan di luar saja"
Bara tentu tidak suka dengan jawaban Meera. ia pun meletakan koran di tangannya lalu tajam memandang Meera dengan mengeryitkan matanya dan berkata dengan Tegas "Ameera!!!"
Bara lalu berdiri dan menuju tempat Meera. Meera yang melihatnya pun memundurkan kakinya seperti hendak Kabur. jarak semakin dekat Meera pun mengangkat tangannya menyilangkan di depan dadanya "Tunggu kau mau apa!!, jangan macam-macam" teriak Meera masih berjalan mundur. Bara melihatnya semakin ingin menggoda Meera. "Terus saja berjalan mundur, kalau perlu lari saja. aku juga pengen lihat tenagamu di pagi hari" kata Bara dengan Tatapan dinginya menatap wajah Meera.
muka Meera memerah seperti kepiting Rebus "apa yang sigila ini lakukan. apa dia mau menciumku lagi.. aaahh apa dia sudah buta tak melihat banyak orang disini" Meera berbicara dalam hati
Bara semakin dekat dan ia menarik pinggang Meera hingga menempel pada tubuhnya. Meera yang merasakan hal itu pun membelalakan matanya. saat wajah Bara semakin dekat Meera menutup bibirnya dengan tangan kirinya. sedangkan tangan kananya mendorong dada Bara. terlihat jelas Meera sedang gugup saat itu. Bara yang melihatnya pun semakin senang dan mendekatkan bibirnya namun ketika Meera mengejamkan matanya Bara malah tertawa keras.. "Kau kira aku mau apa? hahaha" seraya melepaskan pelukannya dan menggandeng tangan Meera menuju meja makan kembali dan mendudukan Meera tepat disampingnya.
Meera merasa malu sudah berpikir yang tidak-tidak.
Mereka menyantap makanan yang tersedia dengan tenang. padahal Bara selalu mencuri pandang terhadap Meera. Bukannya Meera tidak tahu. namun meera memilih diam dari pada ke pedean. hari itu adalah hari minggu. tentu Meera dan bara tidak pergi bekerja.
setelah sarapan Meera dan Bara sudah ada di taman Belakang Rumah utama. disana juga ada kolam renang. Meera memang menyukai semua jenis bunga jelas ketika melihatnya ia begitu senang. mereka duduk di kursi panjang putih di dekat taman. Bara memulai obrolanya
"Meera 3 hari lagi aku akan mendaftarkan pernikahan kita"
"kau serius?" Meera memandang Bara dengan tatapan kagetnya dan bola matanya yang terlihat lebih lebar
"serius, aku sudah mengurus semuanya" jawab Bara datar masih memandang kedepan
"Bara pernikahan bukan permainan" Meera sedikit menaikan suaranya
"aku tidak sedang bermain" jawab Bara santai
bara lalu menggenggam tangan Meera dan memandang matanya
__ADS_1
Meera pun sama. ia melihat tidak ada kebohongan di mata Bara. entah mengapa ia sekarang yakin pada Bara. meskipun ia juga sangat siap dengan kemungkinan masa depan.
"emmm... Tapi aku ingin kau memenuhi permintaanku" kata Meera ragu dan di balas anggukan kepala oleh Bara seoerti memberi isyarat untuk mengatakanya
"aku tak ingin ada pesta pernikahan, aku ingin pernikahan ini tidak menjadi konsumsi publik, terutama di Kantor, jangan sampai orang-orang tahu kita sudah menikah, karena aku tak ingin urusan pekerjaan dan pribadi tercampur" lata Meera meragu
"Kenapa Meera?, apa aku memalukan bagimu?" kata Bara sedikit Kecewa. padahal ia sudah merancang pesta pernikahan yang mewah. dan mengundang kolega bisnisnya dari dalam dan luar negeri.
haduuhh gimana ini sepertinya ia tersinggung dengan ucapanku ..... batin meera
"Buuu buukan Bara bukan itu maksudku, aku bangga jika memang harus menikahimu. tetapi aku tak ingin orang diluar sana menganggapku yang tidak tidak. bagaimana bisa karyawan biasa menikah dengan presdirnya. dan bukankah lawan bisnismu juga banyak. apa kau tak khawatir denganku jika mereka melakukan sesuatu kepadaku ketika mereka kesal padamu, entah karena kalah bersaing atau apa!!!" Meera menjelaskan panjang lebar dengan gugup dan mencari-cari alasan.
"baik lah jika itu permintaanmu. tapi kau tetaplah Nyonya Muda di keluarga ini, jadi jagan lupakan setatusmu kedepannya. dan suatu saat aku akan tetap memperkenalkan istriku pada semuanya. tapi untuk saat ini aku akan menurutimu, bagaimana? apa kau setuju?" kata-kata bara sungguh sangat terjaga. ia tak melihatkan kekecewaannya bahkan ia terlihat tenang. agar Meera pun tak merasa takut padanya.
meera mengangguk pelan. sebenarnya ia masih ragu menerima Bara. namun hatinya mulai merasakan kenyamanan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. ia juga memikirkan Tuan Dion yang begitu baik padanya saat pertama Bertemu.
"Bara aku akan pulang. Aku punya janji sama ana dan shinta untuk pergi jalan-jalan" kata Meera sambil berdiri didepan Bara.
"baiklah, boleh aku mengajak Rangga pergi?" tanya Bara memandang Meera
"Mau kemana?" tanya Meera
"urusan laki-laki mana boleh dicampuri olehmu" jawab Bara sedikit menggoda
ciiihhh awas saja jika berani mengajak adiku macam-macam
Meraka pun kini berada di kamar Meera mengambil Tasnya dan Bara berganti baju. ketika Meera hendak keluar Bara memegang tangannya dan memberikan sebuah kartu kredit pada Meera
"kau bisa menggunakanya sesukamu, kartu itu tidak ada batasan" kata Bara
"tiidak perlu. aku tidak mau" jawab Meera tegas. dna memalingkan muka.
Bara melihat respon Meera pun lebih senang. ternyata Meera tidak memanfaatkan keadaanya. lalu mereka bergegas pergi ke rumah meera menggunakan mobil sport milik Bara.
__ADS_1