
Bara sedang dalam perjalanan Bisnisnya. Disana ia tengah menjamu para tamu untuk makan di hotel setelah acara peresmian berlangsung. tiba-tiba Bara mendapat pesan dari mamanya.
nak, Aurel 2 hari lagi aurel akan datang, kamu sempatkanlah kerumah mama kita makan malam bersama. isi pesan Mama Bara. namun Bara hanya melihatnya tanpa membalasnya. sampai saat ini ia belum memberitahu mamanya tentang pernikahannya. Bara khawatir jika nanti Meera bertemu dengan Aurel akan salah faham. 2 hari lagi tentu ia belum pulang dari perjalanan bisnisnya. ia khawatir jika Aurel yang seenaknya sendiri datang ke kantor Bara membuat masalah.
dirumah Bara malam hari meera sedang berada di kamarnya ia sebenarnya menunggu kabar Bara, sudah 2 hari sejak kepergian Bara tidak menghubunginya sama sekali. Bara memang sibuk. ia mengebut semua kerjaannya agar bisa pulang lebih cepat. meera memberanikan diri untuk menghubunginya duluan
"bara..jangan lupa makan"
Bara tidak menyadari jika Meera mengirimkan pesan. Meera pun menunggunya "dia sedang apa ya, aahh.. sudahlah.. mungkin lagi sama wanita seperti dulu. ngapain aku mikirin. mending tidur" kata Meera kesal. karena menganggap Bara benar-benar tak menganggapnya ada. lalu ia berusaha memejamkan matanya.
tengah malam Bara selesai mengecek File yang harus ia rapatkan besok hari di 2 tempat ia menuju ranjangnya, ia lalu membuka ponselnya dan disana ada pesan Meera.
astagaa aku lupa mengabarinya 2 hari ini, pasti dia sedang berfikir macam-macam.. kata Bara sambil mencoba menelfon Meera namun tidak diangkat namun tidak ada jawaban. karena memang Meera sudah tidur
pagi hari Meera bagun dan bersiap berangkat ke kantor. ia melihat Ponselnya lalu ia melihat Bara menghubunginya tadi malam. Ciihh... menghubungi ku juga dia, coba saja aku tidak mengirimnya pesan mana mungkin ia mengubuiku balik... Meera kesal karena memang merasa tak dianggap.
setelah ia didalam mobil hendak berangkat Meera mendengar ponselnya berdering. ia mengangkatnya karena ia tahu itu Bara.
"apa?" ketus Meera
"begitukah caramu menyambut telfon dari suamimu?" kata-kata Bara sedikit kesal karena ia menganggap kata-kata Meera ketus
"memang kau menganggapku apa?" Meera tak mau kalah
"kau istriku Meera, kenapa tanya begitu" Kata-kata bara menahan sabarnya
"hah?? suami macam apa yang pergi tidak mengabari istrinya sama sekali, oohh mungkin takut ya kalau istrinya jadi pengganggu ketika dia lagi bermesraan dengan wanita lain" Meera marah karena ia juga kesal ini hari ke 3 Bara baru berbicara dengannya.
"Meera!! apa yang kamu katakan, aku disinia kerja tidak seperti yang kau fikirkan!" Bara juga tersulut emosinya.
Meera hanya diam sambil menahan sedihnya ia merasa Bara seenaknya. ia tidak memberi kabar malah sekarang ia marah-marah.
"sudahlah. kau tidak usah pergi ke kantor besok sampai aku pulang." Bara memang ingin menahan Meera untuk tidak datang ke kantor besok. takut akan bertemu dengan Aurel. karena memang ia tahu istrinya cemburuan takut akan ada salah faham.
"tidak mau!!" jawab Meera dengan keras kepalanya
"Meera, kau aku hanya tak ingin kau di kantor tanpa aku. aku bisa gila kalau setiap hari mendapat laporan jika karyawan laki-laki di kantor membicarakanmu dan mencoba mendekatimu, untuk masalah kerjaan dan izin biar aku yang mengaturnya" Bara mencari alasan
dalam hati Meera terselip rasa senang "hihihi ia sepertinya cemburu"
__ADS_1
"aku ketoko ya?" tanya Meera
"yasudah. tapi tetap dalam pengawasanku, jangan macam-macam" jawab Bara
"yeeeyyyy... terimakasih Bara. maaf aku salah faham padamu" jawab Meera bahagia akirnya ia bisa sempat mengunjungi tokonya. ia mulai merasa bersalah karena sepertinya Bara tidak membohonginya. ia merasa bersalah juga pagi-pagi sudah ngajak ribut.
disana Bara memanggil Adit
"Dit, siapkan Kalung berlianuntuk Meera. aku ingin memberinya sedikit hadiah. sepertinya ia salah faham padaku, untuk Model kau bisa memilihnya aku percaya padamu"
"baik tuan" jawab adit
"kau sudah tau kan tentang aurel?" tanya Bara
"sudah tuan, saya sudah menempatkan beberapa orang untuk berjaga di sekitar nona, karena seperti tuan tau. Nona aurel akan menyingkirkan orang yang tidak disukai. dan saya takut jika tahu nona Meera sudah menjadi istri tuan muda ia akan bertindak konyol, maaf jika saya lancang tuan" jawab Adit
"Bagus!" kata Bara senang ternyata Adit peka
"Tuan, ruko di sekitar toko nona Meera akan dijual. apa tuan berminat?" kata Adit
"Bagus. dengan begitu kita lebih mudah mengawasi Meera. segera urus dan atas namakan nama Meera, aku ingin menghadiahkan pertokoan itu untuk Meera, ada berapa unit disana?" tanya Bara
"sekitar 50 ruko tuan, semua ruko ada 3 lantai" jawab Adit Lugas.
sedangkan Meera pergi ke kantor. dan disana ia tak sibuk dengan pekerjaannya. hingga jam makan siang tiba. ia menuju kantin dengan Shinta. Shinta tiba-tiba berbicara "Eh meer, aku beberapa hari ini tidak melihat presdir ganteng, apa dia sakit ya"
" lagi males kekantor kali" jawab Meera menahan tertawa karena memang ia tahu sebenarnya kemana Bara pergi
"ihh kamu kok gitu sih, andaikan dia jodohku meer aku bakal jadi wanita paling beruntung didunia ini" jawab Shinta karena ia memang menaruh kagum pada Bara sejak awal. karena memang Ganteng baaangeeett menurutnya
uhukk uhuukkk.. meera tersedak mendengar kata-kata Shinta. ia kaget juga ingin ketawa melihat temannya tergila-gila sama suaminya yang dianggap singa gila itu
"Sudah-sudah jangan bahas dia lagi, ntar kedengeran orang habis kita" Meera mencoba menghentika Shinta yang terus membahas Bara didepanya.
setelah jam pulang kantor Meera menyempatkan pergi ke supermarket, ia membeli es krim, diborongnya banyak es krim setelah itu ia pulang.
jam menunjukan pukul 8 malam. saat itu ia sedang menonton TV lalu salah 1 pelayan yang masih muda lewat. ia pun memanggilnya..
"mbakk mbakk..."
__ADS_1
"ehh iya non, ada yang bisa saya bantu" kata pelayan itu
"mbak namanya siapa?" tanya Meera
"saya siti mbak, mbak Meera butuh apa biar saya bantu"siti menjawab sopan
"emm minta tolong ambilkan 2 es krim cone di kulkas ya" pinta Meera
pelayan itu pun segera menuruti kata majikannya
setelah menerima Es krimnya Meera berkata
"eh mbak siti mau kemana, disini aja nemenin aku nonton hehe, ini yang 1 buat mbak siti" sambil menyodorkan 1 es krim.
Siti pun bingung menerima atau tidak, kalau tidak diterima nanti meera tersinggung, kalau diterima nanti ketahuan pelayan senior dia bisa di marahin karena dianggap lancang, ia pun clingak clinguk melihat sekitar, akirnya menerima eskrimnya dan duduk di lantai samping Meera.
"eh ngapain duduk disitu si, sini duduk disamping aku aja..aku gak gigit kok hehe" kata Meera
"jangan non. nanti saya dianggap tidak sopan" kata Situ takut
"ih siapa yang bakal marahin kamu mbak, kalau kamu dimarahin bilang aku, nanti aku aduik ke Bara" Meera masih membujuk Siti
tak lama kemudian ia mendengar ponselnya berdering dan itu Bara
"halo Meera, lagi apa" kata Bara.
"lagi liat tivi, kamu sudah makan?" tanya Meera
"sudah, kamu jangan tidur malam-malam" kata Bara
"iya iya aku masih makan es krim aku tadi beli banyak" kata Meera
"jangan makan es krim malam-malam" kata Bara
"iiih kenapa sih, enak kok,.. baraa ini nih mbak siti masak aku minta nemenin liat tivi dan duduk disampingku dia gak mau, katanya takut dimarahin malah duduk di bawah" Meera mengadu pada Bara.. Bara mendengarnya pun tertawa karena memang pelayan di rumahnya menjaga jarak dengan majikanya. dan selaku bertingkah sangat hormat kepada majikanya.
mbak siti : aduuhhh non.. kok malah di aduin ke tuan muda sih
" haha mungkin wajahmu serem jadi pelayan di situ takut semua" ledek Bara.
__ADS_1
"ihh kok gitu, udah kamu istirhat aja dulu, udah malem. selamat malam" Meera mengakhiri terlfonnya
Bara segera menghubungi pelayan senior di rumahnya, namanya Bi Mirah. sudah bertahun-tahun mengabdi pada Bara dan keluarganya. Bara menganggap Bi Mirah seperti keluarganya sendiri. Bi Mirah yang sedang menyetlika baju mendengar ponselnya berdering dengan nama Den Bara pun segera mengangkatnya. Bara pun mengatakan untuk semua pelayan agar lebih ramah dengan Meera. apapun yang diminta Meera untuk dituruti. jika Meera meminta ia makan bersama. maka harus dituruti jangan sampai Meera tersinggung karena ia merasa tertolak. bagaimana pun Meera adalah orang Baru di rumah itu. tentu jika ia tak punya teman maka akan kesepian.