
Bara terus menciumi leher Meera sedangkan Meera sudah menolak beberapa kali namun tak dihiraukan. Meera juga manusia biasa yang akan tergodo jika terus diperlakukan seperti itu.
Tangan Bara menyelinap masuk kedalam kemeja Meera. sekeras apapun meera menolak. sekeras itu pula Bara melakukannya. sesekali Meera menggigit bibir bawahnya karena merasa ngilu ketika Bara meremas gunung kembarnya dengan kasar.
"Sayang stop!" kata Meera.
"kenapa? aku harus menghukumu karena berani sekali kau manja pada orang lain di depanku" kata Bara masih tak mau melepaskan Meera.
"aku belum selesai" jawab Meera. menahan tangan Bara yang semakin nakal menyelinap diantara pahanya.
"oh ya.. kita lihat dulu" kata Bara. sambil melepaskan Pelukannya dan menyeret Meera memasuki kamar mandi. Meera sudah was was ia sebenarnya sudah selesai. ia hanya alasan saja agar Bara tak memakannya.
"oke aku lihat, kau disini daja" kata Meera
"tidak aku harus memastikannya sendiri. bagaimana nanti jika aku kau bohongi" jawab Bara
"Issshh.. aku malu"
"apa yang harus dimalukan. bagian mana yang belum aku lihat, ayo cepat aku sudah tidak sabar"
"kalau aku belum selesai. kau tidak akan memaksaku kan?"
"sepertinya kita bisa lakukan di bawah shower, tidak masalah bagiku" jawab Bara dengan suara aneh.
Meera melotot mendengar suaminya bergata demikian. "mana mungkin bisa begitu sih" batin Meera.
Meera sudah ditarik kekamar mandi oleh Bara.
sesampainya toilet mewah itu. Bara segera berjongkok didepan Meera dan meraih celana dalam Meera. sontak seketika Meera menahan tangan Bara
"sayang mau apa. lepaskan" kata Meera malu setengah mati jika diperlakukan seperti itu.
"memastikan"
"oke biar aku saja. jangan begini.. aku malu" kata Meera. Bara lalu mensejajarkan dirinya dengan Meera.
"cepat buka" titah Bara.
Meera dengan berat hati pun melihatnya sambil membelakangi Bara namun Bara tak mau tinggal diam ia menghampiri Meera dan melihat sendiri sudah tidak ada sama sekali bercak darah di sana bahkan Meera sudah tidak menggunakan pembalut lagi. dengan segera Bara yang merasa gemas itu pun menggigit telinga Istrinya dari belakang
"aaaaauuuuuuhh......" jarit Meera
"hmm.. kau terus menolak dan membohongi ku. sudahlah terserah mau mu. maaf aku memaksamu" kata Bara setengah marah lalu pergi meninggalkan toilet itu. Meera yang mendengarnya pun sedikit merasa kasihan.
"astaga ia marah" batin Meera.
Meera segera keluar dan menemui Bara. namun Bara tak ada di atas Rajang. dan ternyata Bara ada di balkon. sambil menyesap rokok dan ditemani alkohol.
suami mana yang tidak marah ketika istrinya selalu menolak menjalankan kewajibannya. Itulah yang di rasakan Bara.
Meera dengan setengah takut menghampiri suaminya.
__ADS_1
"Sayang.."
Bara tak menggubris. ia malah menenggak alkoholnya. benar-benar Meera tak bisa memaki suaminya kali ini ketika ia melihat Bara menenggak alkohol lagi.
"Sayang.. bukan begitu. bukan aku tidak mau melayanimu, tapi.. " kata Meera terputus.
"Ya Tuhan.. suamiku marah hikss" batin Meera.
"keluarlah. aku ingin sendiri" kata Bara
Meera yang baru kali ini diusir Bara pun seketika merasa kaget. ia berusaha membuat Bara tak lagi marah. dengan berani ia mengambil inisiatif untuk duduk dipangkuan Bara. biasanya Bara sangat senang ketika Meera melakukannya.
Bara tak menggubris Meera yang duduk di pangkuannya . tangannya masih sibuk memegang slokinya
Meera memeluk leher Bara dan menyandarkan wajahnya pada pundak Bara. "jangan Marah. maafkan aku" kata Meera manja. Bara lalu meletakan slokinya dan beralih pada Rokoknya.
"kau tahu. dengan sikapmu yang seperti ini seperti kau tak menginginkan aku, apa salahnya sih jika aku meminta hak ku" kata Bara
meera diamm..
"aku menginginkan keturunan dari mu Meera. mengertilah.. aku menantikan itu. kau tahu waktuku bersamamu sangat terbatas karena pekerjaan dan tanggung jawabku. tapi kenapa ketika ada kesempatan kau selalu menolaku" kata Bara. tak terasa Bara sudah menghabiskan 1 botol besar alkohol.
"bukan begitu.. aku hanya takut" kata Meera
Bara lalu meletakan rokoknya dan memegang wajah Meera dan dihadapkannya kewajahnya.
"takut apa?" tanya Bara
"aku takut setelah aku hamil kau meninggalkanku"
"mama akan berusaha menjauhkan ku darimu " kata Meera
"Mama... bisa apa dia jika aku sudah berkehendak." jawab Bara.
"pernikahan kita belum diketahui publik. jika aku hamil nanti apa kata orang" kata Meera
"aku akan mengumumkannya tidak dalam waktu yang lama lagi. percayalah"
"janji?" tanya Meera.
"aku bersumpah demi apapun. aku akan bertanggung jawab kepada istri dan anaku. jangan menolaku ok?" kata Bara. Meera sedikit lega dibuatnya. meera pun kembali memeluk Bara. dan kini dibalas dengan tepukan pelan Bara pada punggung istrinya itu.
"jadi bisakah aku meminta hak ku sekarang?" tanya Bara. Meera pun dengan malu-malu menganggukan kepalanya. Bara senang bukan main ia lalu menggendong istrinya keranjang.
setelah menurunkan Meera diatas ranjang king size mewahnya. Bara lalu ketoilet untuk menghilangkan bau rokok dibadannya. sedangkan Meera di ranjang berkelana entah kemana pikirannya
"aku akan memberimu keturunan Bara. semoga kau menepati janjimu untuk melindungi kami" batin Meera ia sudah mantap dengan pilihannya. sedangkan Bara di toilet. masih menggosok giginnya karena ia tahu jika Meera tak suka bau alkohol dan Rokok. sedangkan Adik kecilnya sedari tadi sangat nakal tak bisa dikondisikan. ditambah pengaruh alkohol semakin membuatnya terangsang.
Bara keluar dan mendapati Meera menatapnya. Bara berjalan sambil melepaskan atasanya. dan tampaklah bodi aduhai idaman semua wanita itu. roti sobeknya membuat Meera menelan ludahnya
"inikah yang ku tolak setiap malam?" batin Meera
__ADS_1
"lihat apa" tanya Bara melihat Pandangan istrinya.
"ku kira tak jadi" kata Meera dengan suara lembutnya. Bara langsung naik keranjang dan mengungkung Meera dibawahnya.
"apa kau menungguku nyonya Bara?" tanya Bara menggoda. Benar saja Meera menganggukan kepalanya.
"baiklah kau yang memintanya, aku bersumpah tidak akan berhenti meskipun kau menangis" kata Bara.
"aku tidak takut" jawab Meera menantang sambil meraba Dada Bara. Bara pun semakin menegang dibuatnya. Tanpa ABCD Langsung membuang pakaian Meera dan tampaklah seluruh keindahan istrinya didiepan mata. tanpa aba-aba Bara langsung memakan habis bibir istrinya dengan nafsu yang sudah memuncak. diabsennya seluaruh badan Meera mukut leher pundak dada tangan pun tak luput dari gigitan dan isapan kecil dari Bara. dan Meera tak menolaknya sama sekali bahkan berusaha mengimbangi suaminya itu dengan melakukan hal yang sama. tentu sikap seperti itu semakin membuat Bara bergairah
desahan-desahan dan jeritan kecil mewarnai kegiatan malam itu, Bara benar-benar buas dan menggila. Meera sangat kualahan meladeni suaminya yang terkadang melakukan hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
"pelan pelan sayang....." pekik Meera ketika Bara menghentakan badanya terlalu keras.
"nikmati sayang. jangan menolak" kata Bara lirih. melihat wajah istrinya yang memerah dan tertutupi rambut sebagian pun dirasanya semakin seksi.
2 jam berlalu. Meera sudah pegal setengah mati rasanya namun Bara tak menunjukan tanda-tanda kelelahan ataupun segera menyudahi hukuman itu. Meera entah sudah berapa kali telah sampai.
ketika Bara meminta untuk berganti posisi Meera sedikit menahan dadanya.
"apa masih lama. aku lelah sayang" kata Meera lirih.
"masih lama. baru 2 jam" kata Bara yang langsung memaksa menyatukan tubuh mereka lagi.
langsung Meera menjerit kesakitan merasakannya.
"aaaahhh.. sakitt" kata Meera tak digubris oleh Bara.merasa rintihan Meera adalah candu baginya.
"sayang sudah.. mau berapa lama lagi"
"sebentar lagi"
Meera pasrah.. sejam berlalu. Meera benar-benar dibuat tak berdaya dengan kerakusan suaminya. ia benar-benar menangis merasakan ngilu dan perih di badannya.
"Sayang aku lelah. sudah ya" rengek Meera setengah menangis. dan bersamaan dengan puncak Meera dan Bara juga bersamaan. lahar kenikmatan yang begitu banyak saling beradu didalam sana. Meera mencengkeram kuat lengan Bara hingga meninggalkan jejak disana sambil memejamkam matanya. sedangkan Bara melihat ekspresi wanitanya hanya menyunggingkan senyumnya.
Meera tergeletak tak berdaya. bahkan sekedar menggeser badannya saja ia tak sanggup. Sedangkan Bara masih kuat membersihkan badannya. setelah keluar dari toilet. Bara melihat istrinya dalam balutan selimut tebal disana.
Ia membantu membersihkan sisa-sisa kegilaannya tadi. ia membersihkan bagian bawah Meera dengan tisu basah. dan setelah itu ia mengecup lembut perut Meera yang tampak rata sambil berkata.
"Deddy menunggumu sayang" kata Bara sambil tersenyum.
Bara membantu Meera memakaikan jubah tidurnya. Setelah itu ia mengeluarkan sekotak cincin berlian dan memakaikannya pada Meera sebagai hadiah.
dan tak lama kemudian sambil mendekap tubuh lemas istrinya itu Bara ikut memejamkan matanya..
sungguh malam ini di lalui mereka dengan sangat indah..
pagi hari. Bara terbangun karena ponsel Meera bunyi sedari tadi..
10 panggilan tak terjawab. dengan malas Bara melihat nya. dan benar saja teman-teman Meera mencarinya. karena pagi ini akan ada kegiatan.
__ADS_1
ketika Bara hendak memejamkan matanya lagi. tiba tiba terdengar suara ketukan pintu..
tok.. tokk.. tokk..