
Rangga melihatnya kali pertama setahun yang lalu. Di masjid kampus saat ia baru saja lepas berwudhu. Tanpa sengaja mata mereka berpapasan. Gadis itu bertahan agak sejenak sebelum akhirnya menunduk dan perlahan berlalu.
Ada yang melekat di hati Rangga Gadis itu berilbab, Gamisnya rona ungu. la kelihatan begitu anggun Kerudung putih yang melingkupi rambut dan lehernya memperindah parasnya. Apalagi dengan bola mata yang bening bak gadis pesantren yang belum pernah tersentuh tangan lelaki. Postur tubuhnya tinggi, dengan hidung bangir, meng ingatkannya pada gadis-gadis Arab yang sering dilihatnya di televisi. Tetapi yang paling khas barangkali bibirnya. Merah nyata-dan demikian nyata-sehingga amat menawan. la tidak mengizin kan lipstick menyentuh sepasang bibirnya yang bagus itu.
Rangga teramat ingin menyapa. Namun, tenggo rokannya seperti tercekat. Tak sepatah kata pun yang mengalir di bibirnya. Hanya angan-angannya yang membubung tinggi.
Diam-diam, ia menyesali ketidakmampuannya menyapa gadis itu
"Namanya Latifa. Mahasiswi Tata Usaha Ternak Daging tingkat satu," Piping menjelaskan.
"Hei, tahu dari mana, kau?" tanya Rangga gembira.
"Aku tadi lihat di buku daftar pengunjung perpustakaan" sahut Piping santai.
"Cerdas juga, kau" Rangga tertawa. Piping juga. v
Tata Usaha Ternak Daging atau TUTD sebetulnya termasuk Fakultas Politeknik.
Karena mengkhususkan diri di bidang peternakan, maka kegiatan kuliah, praktikum, dan ujian berlangsung di Fakultas Peternakan. Hanya urusan administrasi yang ditangani oleh Politeknik.
Hal itu membuka peluang pertemuan antaral mahasiswa Politeknik dan Peternakan. Latifa dan Rangga sudah pasti termasuk di dalamnya. Dan me mang. Sudah kerap kali keduanya berpapasan. Di masjid kampus, perpustakaan, kandang ternak kebun rumput, laboratorium, koridor, kelas, maupur kafetaria. Namun, Rangga tak juga punya cukup keberaniaf untuk menyapa Latifa, la hanya berani menikmati wajah gadis itu dari kejauhan. Terkadang, begitu ingn ia mendekatinya, apalagi saat Latifa tengah sendirian. Namun, pesona wibawa gadis itu mengurungkan langkahnya.
Rangga hanya merasakan bahwa hari-hari kuliah sekarang ini indah dan menyenangkan. Sejak setahun yang lalu itu....
Memasuki semester kedelapan, Rangga sudah tidak ada kesibukan kuliah lagi. Beban SKS-nya sudah habis. Tinggal seminar, penelitian, KKN praktik lapang, menyusun skripsi, dan... ujian sarjana.
Meski demikian, Rangga masih rajin ke kampus. Selain untuk mengurus studinva, terutama menyangkut seminar dan penelitian, ia pun berharap dapat melihat Latifa dan menikmati wajahnya dari kejauhan.
"Kamu ini penakut amat, sih. Sudah hampir jadi sarjana, tapi ngomong sama perempuan saja enggak berani. Beraninya cuma dari jauuuuh terus. Kapan dekatnva?" komentar Piping pada suatu hari.
Rangga Cuma menarik napas panjang. "Entah lah," ujarnya perlahan.
"Kamu serius apa enggak, sih?" tanya Piping.
"Serius."
"Kalau serius, ayo, dong. Nanti keburu disamber orang lain, baru menyesal. Kamu kira, di kampus ini cuma kamu yang mengincar Latifa? Buaaanyak sekali, Ga. Belum lagi di pesantren tempat Latifa sering mengaji. Di sana, dia bahkan menjadi murid kesayangan pengasuh pondok. Wajar toh kalau banyak santri yang bercita-cita memperistrinya."
Rangga tersentak. Perkataan sahabatnya mengguncangkan batinnya.
"Oke. Bagaimana kalau kubantu mempertemukan kamu dengan Latifa?" usul Piping.
"Hei, mengapa bukan dari dulu-dulu kaukatakan ini?" sambut Rangga antusias.
Keduanya duduk di lantai satu masjid kampus. Berhadapan, jarak keduanya agak satu meter. Latifa mengenakan setelan iilbab warna ungu dengan kerudung putih yang pernah dikenakannya pada perpapasan mereka yang pertama dulu. Rangga baru menyadari, Latifa lebih cantik dari yang diperkirakannya selama ini. Wajah itu begitu lembut dan suci. Tentu karena tiap hari dibasuh air sembahyang. Dan bibir itu.. alangkah merahnya. Baru sekali ini ia menyaksikan bibir seindah itu.
Selama tiga puluh detik pertama, keduanya sama sama diam.
"Aku mengenalmu sejak kamu masih tingkat satu," akhirnya mampu juga Rangga membuka percakapan.
"Tapi, barangkali kamu belum mengenalku. Namaku Rangga. Umur, dua puluh dua tahun. Aku urang aak, tepatnya dari Maninjau, Padang. Desa tempat kehaliran almarhum Buya Hamka, sastrawan dan sekaligus ulama yang termasyhur itu."
"Saya Latifa. Saya berdarah campuran Bogor dan Arab," kata Latifa sambil menunduk.
Hanya bulu matanya yang lentik menyembul
Kembali sepi mendera. Rangga berat sekali mengucapkan kalimat berikutnya.
"Latifa, maafkan saya. Saya tak pernah mengalami hal seperti ini. Berbincang dengan seorang gadis dan menyampaikan suatu maksud pribadi."
__ADS_1
Gadis itu bertambah menunduk.
"Latifa, kamu sudah punya kekasih?" keluar juga pertanyaan itu dari mulut Rangga.
Latifa menggeleng.
"Atau, calon kekasih?"
Kembali Latifa menggeleng.
"Seandainya kukatakan bahwa aku mencintaimu dan bercita-cita membina rumah tangga bersamamu, i bagaimana? Aku telah shalat istikharah." tanya Rangga hati-hati.
"Kok, langsung begini?" gadis itu tampak terkejut.
"Aku tidak memintamu untuk menjawabnya sekarang. Shalat istikharahlah dulu, mohon petunjuk Allah."
"Bagaimana?" tanya Rangga tidak sabar.
Latifa tidak langsung menyahut. Matanya yang bening berkedip-kedip, Ia menarik napas panjang beberapa kali.
"Tifa belum memikirkan soal cinta, Kak. Maafkan.." suaranya lirih.
Rangga sama sekali tidak siap dengan jawaban tersebut. Demi Tuhan, ia sangat yakin, cintanya diterima oleh Latifa. Makanya, ia sempat terperangah. Kemudian terhenyak. Suasana di masjid kampus itu menjadi kaku.
Perlahan Rangga menatap gadis itu lurus-lurus. Seakan mencari kejujuran di bola matanya. Latifa jadi salah tingkah. la menundukkan wajah.
"Boleh kutahu alasanmu?" tanya Rangga hati-hati.
"Tifa baru saja kematian mama, sebulan yang lalu Tifa juga sangat disibukkan oleh tugas-tugas akademis, karena semester empat ini merupakan semester terakhir."
"Maafkan aku. Aku turut bersimpati atas musibah yang menimpamu. Tapi... ika kematian mamamu menyebabkan kamu seperti merasakan kepincangan, tidakkah cinta akan melengkapinya Aku tahu, kamu mungkin menyangka cinta menjadi beban dalam studi. Tidakkah malah sebaliknya, cinta akan menambah semangat belajarmu?"
Rangga bukan orang yang gampang putus asa. Sejak SD, ia telah berjuang keras, sehingga selalu menjadi juara umum. Dan di SMA, ia belajar lebih ketat lagi untuk merebut tiket masuk Institut Pertanian Bogor tanpa tes. Meski ia anak orang tak berpunya. Meski ayahnya hanyalah kuli memetik kelapa di desanya.
Demikian pula dalam pengejaran cinta Latifa. la tidak lantas menyerah begitu saja. Berkali-kali ia mendatangi Latifa dan mendesakkan soal cinta kepadanya. Namun, hasilnya tetap nihil.
Beberapa kali pula ia mencoba datang ke rumah orang tua Latifa di kawasan pemukiman orang orang keturunan Arab di Bogor, namun ia tidak berhasil menjumpai Latifa. Ia hanya bertemu dengan ayah Latifa. Seorang tua yang saleh. Haji Abubakar namanya.
Lelaki tersebut mempunyai pengetahuan agama yang luas. Bicaranya penuh semangat, apalagi kalau bicara soal agama. Ghirah-nya tinggi sekali. Tapi, ia tidak fanatik buta. Diam-diam, Rangga sangat mengagumunya.
"Kehidupan ini seperti roda yang berputar. Sebentar berada di atas, sebentar kemudian di bawah. Begitu pula halnya dengan umat Islam. Dulu, mereka pernah jaya. Kemudian, terlindas dan ketinggalan dalam berbagai bidang, Bapak selalu yakin, sebentar lagi kita akan jaya kembali. Syaratnya, ya kita harus rajin memperdalam agama dan melaksanakannya dengan baik. Sebab, inti ajaran agama kita adalah kemaiuan. Sedangkan Bapak yang sudah lima puluh tahun begini masih suka belajar mengaji," nasihat beliau,
Namun, kesabaran itu ada batasnya. Akhirnya. Rangga pun demikian.
Hari itu, pagi-pagi sekali Rangga sudah berada di kampus. la ingin bicara kepada Latifa. "Aku hanya ingin mengatakan bahwa jika kamu tetap menolak cintaku, aku akan mencari istri orang Barat. Biarin ia bukan muslimah," kata Rangga dingin.
Latifa terhenyak, "Kenapa harus begitu? Apakah gadis yang beragama Islam sudah tidak ada lagi?" tanyanya cemas. Sinar matanya membiaskan kekhawatiran.
"Untuk apa aku mencari gadis Indonesia dan beragama Islam kalau ternyata gadis yang kucintai dan aku yakin bahwa dia juga mencintaiku, ternyata menolak cintaku dan lebih suka membohongi dirinya sendiri?" tegas Rangga. Suaranya meninggi. Dan tetap dingin.
"Tadinya aku berharap, jika punya kekasilh seperti kamu, akan ada orang yang rajin mengingatkanku dari kelalaian-kelalaian dalam mengerjakan perintah Allah; dan akan ada orang yang selalu mendorong semangatku dalam menempuh perjuangan hidup. Namun, rupanya mimpiku itu terlalu indah, sehingga tidak sesuai dengan kenyataan yang ada."
Kalimat-kalimat Rangga terucap perlahan, namun terasa sangat tajam.
Beberapa hari belakangan ini, Rangga tampak akrab dengan Andrea. Gadis Amerika itu tengah mengikuti program pertukaran pemuda pelajar Indonesia-Amerika. Sudah tiga bulan ia berada di sini. Rencananya satu tahun.
Postur tubuhnya tinggi ramping. Matanya coklat, dengan hidung yang amat mancung, dan rambut pirang. Gadis itu ramah sekali, seperti layaknya orang Indonesia, Pakaiannya sederhana dan sikapnya sopan. Sama sekali tak ada kesan glamour seperti yang terlihat dalam film-film Hollywood.
Andrea mengaku anak seorang pendeta yang terkenal di Amerika. Boleh jadi kalau ia tampak sangat taat kepada agamanya. Setiap hari Minggu ia tidak pernah absen mengikuti kebaktian di gereja yang terletak di sisi Kebun Raya Bogor.
__ADS_1
Umurnya baru tujuh belas tahun. Ia sudah agak fasih juga berbahasa Indonesia. Andrea rajin belajar bahasa Sunda dan seni jaipongan.
Di Indonesia, Andrea tinggal di rumah Profesor Dedi yang terletak di kompleks Fakultas Peternakan. Sering Rangga mengobrol dengannya di kandang i Beberapa kali ia memotret gadis berleher jenjang itu.
Semua itu tidak lepas dari perhatian Latifa.
Malam yang cerah. Suara "Aaaaaamiiiin" bergema di masjid Rumah Sakit PMI dan terdengar sampai ke kamar perawatan Latifa. Bulan Ramadhan baru saja tiba. Orang-orang ramai mengerjakan shalat tarwih.
Latifa terjaga dari tidurnya. Perlahan, ia menoleh ke samping. Haji Abubakar dan salah seorang anaknya, Hamidah, tampak setia menunggui.
Wajah gadis itu pucat. Gerakan tangannya lemah. Matanya yang bening kini tampak sayu. Sementara bibir merahnya terlihat kering. la terserang penyakit typhus.
Latifa berusaha duduk berjuntai kaki. Haji Abubakar dan Hamidah membantunya.
Tiba-tiba mata gadis itu tertumbuk pada secarik kertas di atas meja. Hamidah mengambilkannya. Latifa menerimanya dengan tangan gemetar. Nanar ia membaca tulisan tangan itu :
Latifa, semoga lekas sembuh, ya.
Rangga
"Dari mana ia tahu Tifa dirawat di sini? Kapan ia kemari?" tanyanya cemas.
"Tentu saja ia akan selalu mencari berita tentangmu, anakku. la datang kemari tadi, ketika kamu masih tidur," kata Haji Abubakar.
"Ooooh," Latifa terisak. la menutup wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya.
Hamidah duduk di samping Latifa. Ia memegang bahu adiknya. "Mengapa mesti berdusta jika ternyata cinta itu sudah hadir di hatimu?" bisiknya perlahan.
Namun, hal tersebut malah membuat Latifa makin terisak. Ia sesenggukan sambil memeluk Hamidah.
"Tidak mungkin, Kak... Tidak mungkin lagi" ucapnya terbata-bata, Air matanya kian menderas.
"Mengapa?" tanya Hamidah lembut.
"Karena.. karena.. Kak Rangga sudah punya kekasih.. gadis dari Amerika itu."
"Andrea, maksudmu?" tanya Hamidah lagi, tenang
Latifa tidak menyahut. Hanya matanya menatap kuyu. Bulir-bulir air mata masih bergayut di sana.
Haji Abubakar duduk di sisi anaknya. "Anakku, bagaimana mungkin ia akan memilih Andrea jika gadis yang dicintainya adalah kamu?"
"Ayah..." Latifa memeluk ayahnya. Lelaki itu membelai lembut anak gadisnya.
"Rangga sudah menceritakan semuanya, Ia hanya menjalankan tugasnya sebagai wartawan freelance."
"Ooooh" Latifa seakan tak percaya mendengar berita itu.
"Malam ini, Rangga harus banyak belajar. Besok, ia mesti ke Jakarta, final lomba karya tulis. Dan jika ia kembali, yang pertama kali ditujunya adalah kamu. la telah bertekad untuk menjadi juara dan menghadiahkan prestasi tersebut untukmu."
"Oh ya, ada salam dari Rangga," sela Hamidah.
"Katanya, rambutmu sangat indah."
Latifa tersenyum manis. Beberapa kali ia menarik napas panjang, berusaha mengimbangi debaran hatinya.
Malam-malam Ramadhan tahun ini terpaksa dilalui sebagiannya di kamar serba putih. Namun, ia tidak khawatir lagi karena ia tidak sendiri Rangga akan selalu setia menemani.
Bersama Kak Rangga, malam-malam Ramadhan akan terasa indah.
__ADS_1