
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Fennita hanya tersenyum mendengarnya. Fennita melihat halte busway semakin dekat. Dia berhenti sejenak melihat anak yang menjajakan dagangannya. Fennita mendekatinya, lalu bertanya pada anak kecil laki-laki yang usianya sekitar tujuh tahun itu.
"Kamu namanya siapa?" tanya Fennita. Ericko bersidekap dan memperhatikan sikap Fennita pada anak itu. Sangat lembut dan mengandung rasa iba.
"Ericko, Kak. Kakak mau beli donat?"
Fennita menoleh ke arah Ericko Juanda karena nama mereka sama lalu mengangguk. Dia lantas melihat isi keranjang yang dibawa anak laki-laki itu. Dagangan anak itu masih penuh, terdapat beberapa rasa yang ditawarkan. Ada rasa coklat, keju, meses warna-warni, coklat putih, dan meses coklat.
"Masih banyak, Rick. Jualan dari jam berapa?" tanya Fennita lagi.
"Jam tujuh pagi, Kak. He-he-he, iya lagi sepi. Kakak mau beli berapa?"
"Semuanya Kakak beli, boleh? Keluarga Kakak suka sekali dengan donat," terang Fennita entah hal itu benar ataupun tidak.
Ericko kecil mengangguk, lalu dengan cepat mengambil kantong plastik berukuran besar dan memindahkan isi dagangannya ke kantong plastik itu. Fennita mengeluarkan tiga lembar uanh seratus ribuan dan memberikannya pada anak kecil itu.
"Kebanyakan, Kak." Ericko mengembalikan uang Fennita. Tapi ditolak oleh Fennita.
"Buat Kamu saja, Dik. Kamu tahu laki-laki yang di belakang, Kakak?" tanya Fennita. Anak kecil itu mengangguk. "Namanya Ericko, sama seperti Kamu. Tapi, dia orangnya kayak kulkas!"
Ericko kecil tertawa mendengarnya. Berkebalikan dengan Ericko dewasa, wajahnya nampak tak senang dikatakan seperti kulkas oleh Fennita. Fennita memiliki alasan mengatakan dirinya begitu, itu karena sikapnya sendiri yang sangat cuek dan dingin terhadap Fennita.
"Ini Erick kasih minum untuk Kakak dan Abang Kulkas. Do'akan dagangan Erick setiap hari ada yang beli ya, Kak?"
Fennita tersenyum dan mengangguk. "Amiin, Kakak do'akan semoga setiap hari dagangan kamu habis."
Anak kecil itu pamit kepada Fennita dan Ericko. Lalu mereka melanjutkan perjalanan kembali menuju halte busway. Tak lama mereka telah berada di halte tersebut. Penumpang sepi sekali pada weekend seperti ini. Hanya ada dia dan Ericko yang menunggu disana.
"Nih, minum dan makanan. Kalau mau ambil saja," kata Fennita. Ericko menoleh dan melihat bungkusan plastik hitam itu lalu mengambil satu buah donat dengan meses coklat.
Fennita tersenyum melihat sikao Ericko yang masih menghargai tawarannya. Fennita menyodorkan air minum yang diberikan oleh anak penjual donat tadi. Ericko menerimanya, dan mengucapkan terima kasih padanya.
"Terima kasih," ucap Ericko.
"Sama-sama," balas Fennita.
__ADS_1
Dan mereka menikmati donat yang berhasil mereka gigit. Rasanya enak, tidak hambar tapi juga tak terlalu manis, dan empuk.
"Kenapa manggil Aku manusia kulkas?" tanya Ericko terbodoh.
Fennita tersedak donut yang dikunyahnya karena pertanyaan konyol dari Ericko. Segera ia meminum air untuk mendorong makanan masuk ke kerongkongannya.
"Ini orang otaknya mampet apa gimana, sih? Heran, Gue," batin Fennita dalam hati.
"Nanti kalau sampai rumah, cari kaca yang besar, Mas. Biar bisa melihat diri Mas Erick sendiri, kenapa sampai Aku panggil Mas Freezer."
Busway yang mereka tunggu datang. Mereka berdua langsung masuk ke dalam angkutan yang disediakan oleh pemerintah kota Jakarta itu. Cukup lenggang suasana di dalam sana, beberapa tempat duduk kosong sehingga Fennita dan Ericko kebagian tempat duduk.
Fennita membagikan donat yang dibelinya kepada para penumpang disana. Sehingga dalam sekejap, donatnya sudah habis ia bagikan. Mereka hanya diam dalam kebisuan, membuat Fennita malas berada disituasi seperti itu.
Ericko mengantarkan Fennita sampai ke depan rumah Naomi. Dimana mereka semua telah sampai terlebih dulu.
"Ecie-cie-cie ... jalan bareng, nih!" goda Dilan begitu semangat, membuat Ericko menajamkan tatapan matanya.
"Hiii ... dingin! Kalian buruan masuk, Kami pulang dulu, ya?" pamit Dilan.
Ericko mengambil sepedanya lalu berpamitan pada Naomi dan Rio. Dia pulang bersama Dilan mengendarai sepeda masing-masing.
*****
"Kalian kabur, lagi?" tanya Naomi pada Intan dan Fennita.
"Kalian! Enak aja ngomongnya, Kak! Dia, nih!" Intan menunjuk Fennita yang tengah fokus pada layar televisi.
"Iya, Ayah mulai lagi, Kak. Maksa-maksa Aku lagi buat nikah sama Dion, aku ogah ah sama pria macam Dion. Maunya yang kayak Mas Ericko, uuu ... dingin!"
Fennita dan Intan tertawa terbahak-bahak, membuat Naomi geleng kepala dan menjambak kedua perempuan itu karena gemas. Fennita meminta Naomi untuk menceritakan tentang Ericko.
"Namanya Ericko, lengkapnya Ericko Juanda. Usianya hampir sama seperti Bang Rio, dia itu blasteran Inggris dan Temanggung. Ayahnya sudah lama meninggal karena sakit keras, dan ibunya ada di Temanggung, asli orang sana. Dua minggu lalu, dia baru saja kehilangan pacarnya, meninggal maksudku." Naomi mengambil cangkir berisi teh, lalu menyesapnya perlahan.
"Ooo ... jadi dia pernah kehilangan? Makanya kok dingin banget!" tanya Fennita. Naomi mengangguk.
"Hmm ... semoga hatinya lekas sembuh. Dan semoga penawarnya adalah, Aku. Sebelum menemukan atau ditemukan tulang rusuk, Kita pasti akan mengalami patah hati terhebat. Untuk itu, dia perlu menjadi kuat, hingga menemukan orang yang tepat!" sahut Fennita.
__ADS_1
Intan yang mendengar sahabatnya menjadi sok puitis menjadi tertawa senang. Dia melempari Fennita dengan bantal sofa yang sejak tadi dipeluknya.
Fennita menanyakan pekerjaan Ericko kepada Naomi, yang mana Naomi tahu akan hal yang bersifat rahasia itu. Dia harus bisa mengelak demi rahasia negara.
"Sama seperti Bang Rio, karyawan IT biasa. Tan, Lo beneran jatuh hati sama, Dilan?" tanya Naomi mencoba mencari topik pembahasan lain.
Intan mengangguk mantap, "Dia tuh lucu tahu, Kak Nom. Kayaknya tipe-tipe bucin kayak aku deh, nih lihat dia neror IG dan FB ku."
Naomi meraih ponsel Intan dan membaca setiap pesan masuk dari Dilan. "Eee ... busyet! Ngebet amat ini anak! Ha-ha-ha."
Fennita tenggelam dalam lamunannya, masih teringat wajah dingin Ericko. Dan masih jelas terngiang di telinganya, pertanyaan bodoh yang terlontar dari Ericko. Dia menjadi geli dan akhirnya tertawa lepas. Naomi dan Intan sampai bingung dibuatnya.
"Kenapa sih?" tanya Intan.
"Nggak apa-apa, cuma lucu aja ingat pertanyaan Mas Erick," jawab Fennita sambil senyam-senyum penuh arti.
"Dih, dia mulai gila kali," sahut Naomi.
"Ah, benar-benar pesona itu orang ya. Dia gak mau lenyap dari ingatanku coba. Sekarang nih, malah tersenyum sambil mengedipkan matanya. Duh, senangnya Aku!"
Naomi dan Intan mengacak-acak rambut Fennita karena khayalannya kelewat lebay. Seseorang datang mengetuk pintu rumah Naomi. Dengan cepat Naomi menghampiri pintu dan melihat siapa yang datang.
Dua orang pria dengan tubuh gempal mendatangi rumah Naomi. Dia membuka pintu rumahnya, lalu dua orang tersebut menerobos masuk.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1