Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Baju Dinas


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Fennita turun dari ranjang dengan langkah santai. Tapi jujur hatinya sedang berdegup kencang karena pakaiannya. Dia terlalu berani memakainya saat ini. Pengalaman pertama baginya menggoda Erick dengan kemolekan tubuhnya. Ia menuangkan air di gelas itu dengan tenang.


Ericko tidak berkedip barang sedetikpun. Dia sangat terpana melihat keindahan tubuh istrinya. Tinggi Fennita yang semampai membuat potongan kain berbahan tile itu jatuh pas di tubuhnya. Aksen pita di bagian depan membuat baju dinas itu semakin menarik. Warna merah menyala yang dipilih, membuat Fennita terlihat segar dan siap disantap.


Menu malam ini sunggu menggiurkan. Air liur Erick bisa saja menetes jika dia tidak segera sadar. Fennita berjalan kembali menuju ranjang dan memberikan gelas itu kepada suaminya. Erick mengucapkan terima kasih dan meneguk habis tanpa sisa. Gelas kaca itu kosong hanya dalan beberapa detik.


"Haus banget?" tanya Fennita.


Ericko mengangguk, "Iya, haus belaian juga!"


Fennita tertawa mendengarnya. Suaminya sekarang sangat berbeda dengan yang pertama kali dia temui. Jika dulu Ericko sedingin es balok, kini pria itu menjadi lebih hangat dan lucu. Fennita kembali beranjak dari ranjang untuk menaruh gelas kaca itu pada tempatnya.


Dia terkejut karena tiba-tiba tubuhnya dipeluk Ericko dari pelakang. Bisikan lembut mendapat di telinganya. Suara Ericko tiba-tiba menjadi sangat mendamba dan berhasrat.


"Kemampuanku adalah bergerak tanpa suara. Tanpa jejak dan tenang. Jadi, belajarlah untuk mengetahui kehadiranku." Ericko mengangkat tubuh Fennita.


Istrinya itu sampai kaget, "E-eh ..., Mas ...," ucap Fennita manja.


Ericko hanya tersenyum mendengar suara istrinya. Fennita mengalungkan tangannya ke leher Erick. Mendekatkan bibirnya menemui pemilik barunya. Mempertemukan keduanya dalam rasa manis dan legit tak tertahankan.


******* lembut mereka lakukan hingga sampai di atas ranjang. Erick menidurkan istrinya dengan sangat lembut. Memperlakukan istrinya bagai bagai yang bisa saja pecah, jadi harus sangat perlahan-lahan. Mereka sama-sama tersenyum dan berpandangan. Keempat netra itu bertemu dan saling bicara dalam bahasa kalbu.


Tangan Ericko merapikan rambut panjang Fennita yang berantakan. Mencium keningnya sebentar dan membaca do'a. Ericko mulai menghujaninya ciuman lembut di selurub area wajah. Mulai dari kening, mata, hidung, pipi, dagu, dan kembali ke bibir.


Ericko meneguk rasa manis yang sangat berbeda dari gula. Yang ini benar-benar alami tanpa pemanis buatan. Sedikit menjadi kasar dengan menggigit pelan. Tangan Ericko mulai bergerilya mengeksplorasi bagian yang membuatnya semakin berhasrat.


Fennita mencengkeram sprei dengan kuat karena menikmati setiap sentuhan itu. Suasana kamar yang awalnya dingin karena AC, kini memanas karena api gelora telah dinyalakan. Lenguhan kecil selalu lolos tidak tertahankan dari bibir ranum Fennita. Membuat Ericko semakin semangat membabat habis jalan menuju puncak.


"Mas ...," panggil Fennita lembut.


"Apa?" tanya Ericko tetap melakukan aktivitasnya.


"Baju ..., ahh ..., baju dinasku ..., oke, nggak? Embh ...," tanya Fennita.


Ericko tidak menjawabnya. Dia mulai melepaskan baju dinas istrinya satu per satu. "Oke, tapi Mas lebih senang kalau polosan!"


Ericko kembali menghujamnya dengan ciuman dan sentuhan melenakkan. Yang berhasil membuatnya mabuk kepayang. Hingga terbang ke kayangan dan menikmati setiap suguhan. Bermandikan air terjun kebahagiaan yang ada di puncak kenikmatan.


Belaian selembut sutra selalu bisa membuat mereka semakin haus akan pelepasan. Pusaka sang pria sudah menegang. Memberitahukan pasangannya bahwa akan ada yang mengetuk pintu rumah pusaka itu. Menggambarkan rasa yang akan diterimanya.

__ADS_1


Pusaka itu menelusuri jalanan untuk menemukan sebuah pintu. Ternyata pintu itu masih tergembok sempurnya. Dan pusakan itu harus bisa membukanya meskipun tanpa kunci. Dengan usaha yang sedikit memaksa, pusaka itu berhasil mendobrak pintu bersegel suci itu.


Fennita sampai mengeluarkan air mata, menggigit bibirnya sendiri, dan mencengkeram lengan Erick dengan kuatnya. Rasa perih seperti teriris benda tajam kini menguasai tubuhnya. Suaminya berkata, "Tahan sebentar ya, Sayang. Setelah ini kita akan menuju nirwana."


Fennita hanya mengangguk dan percaya ucapan suaminya. Hentakan yang lembut dan goyangan yang pelan mampu membuat Fennita lupa akan rasa perih itu. Benar kata suaminya, dia mulai menikmati rasa yang ada. Tangan Ericko tidak mau diam saja. Dia kembali mengeksplor semua yang ada.


Hentakan keras mampu membuat lenguhan kecil tapi merdu. Api gelora semakin berkobar disana. Hanya bisa padam jika sudah mencapai puncak kenikmatan. Tarian semakin menjadi-jadi. Hentakan semakin gencar diluncurkan. Suara yang awalnya hanya mendesah kecil, kini sudah berubah menjadi teriakan halus.


Mereka mendaki menuju puncak kenikmatan. Ada yang ingin membuncah di dalam sana.


"M-Mas ...," ucap Fennita lembut.


"Ayo keluar bersama, Dek!" jawab Ericko seakan tahu maksud istrinya.


Fennita memejamkan mata menikmati gerakan Erick. Tubuh mereka sama-sama memanas karena gelora api asmara. Ericko membawa istrinya naik dengan cepat menuju puncak.


"Aahh ...," lenguh keduanya.


Ericko membawa kembali istrinya terjun bebas menuju lembah surgawi. Menyisakan kenangan manis yang akan selalu terukir di otak dan hati. Keduanya saling melempar senyum setelah melakukan naik ke puncak gunung. Ericko mengecup kening istrinya dengan begitu lembut.


"Makasih, Sayang." Ericko menggulingkan dirinya ke sisi kanan istrinya. Menarik selimut untuk menutupi tubuh polos itu.


Fennita mengubah posisinya menghadap suaminya. Memeluk tubuh hangat dan sedikit berkeringat itu dengan erat. Menghirup aroma parfum maskulin yang dipakai suaminya dalam-dalam dan menghapalkannya. Mereka masih teringat akan aktivitas yang baru saja mereka jalani. Membuat mereka tersenyum sendiri.


Fennita mengangguk.


"Nikmat?"


"Iya," jawab Fennita singkat.


"Puas?" tanya Ericko lagi.


"Sangat! Kamu pintar banget sih mainin temponya? Durasi pas! Ukuran, uuh ..., mantap! Tempo hasek!" jawab Fennita.


Mereka berdua tertawa bersama. Bahagia karena bisa sama-sama menyalurkan hasrat mereka dengan bijak. "Mau lagi?" tanya Ericko lagi.


"Oh sudah pasti dong, Sayang! Tanduk!" jawab Fennita tanpa malu.


Ericko tertawa. Dia harus ingat bahwa pasangannya agresif, tidak malu-malu jika menginginkan sesuatu. Ah, dia sudah terlanjur jatuh cinta pada istrinya. Mereka diam menikmati kesunyian malam. Tangan Fennita meraba perut Ericko yang sudah mengotak menjadi enam.


Ericko membiarkan tangan istrinya menjelajahi tubuhnya. Tiba-tiba saja pusaka kesayangannya dipegang oleh istrinya. Ericko sampai menepis tangan itu karena kaget. Fennita tidak marah, malah dia tertawa berhasil menggoda suaminya.

__ADS_1


"Bentar to, Sayang. Mamas menghela napas dulu. Kumpulin tenaga dulu." Ericko mengeratkan pelukannya.


"Mau berapa ronde?" tanya Fennita menantang.


"Weh ..., nantang kamu? Ketagihan ya? Bukannya tadi perih?" tanya Ericko.


"Perihnya nggak usah dirasa, dong! Ha-ha-ha." Fennita tertawa mendengar ucapannya sendiri.


"Alhamdulillah kalau kamu puas. Malam ini dua ronde saja. Karena besok kita harus kembali ke Windusari untuk acara resepsi. Mas nggak mau kamu terlihat lelah nantinya." Ericko mengecup kening istrinya lagi.


Fennita mengangguk. Tiba-tiba saja tubuh Erick menggagahinya lagi. "Are you ready, Baby?"


"Yes, I'm ready."


Mereka kembali menelusuri jalan menuju kepuasan batin. Melakukannya dengan penuh keikhlasan. Bersama-sama mengarungi bahagia.


***


Ericko dan Fennita POV


Assalamu'alaikum Mak onlenku sayang! Makasih ya yang kemarin udah ikut lamaran. Eh, kenalin dulu dong istri Mamas. Dedek, sini!


Hai semua ..., sudah kenal saya ya Mak? Status saya baru lhoh. Istrinya si pria freezer! Ha-ha-ha.


Ih, freezer begini juga bikin kamu mabuk kepayang! Mak, Mamas dan Dedek mau ngundang semuanya datang ke acara resepsi kami, nih! Kata dedek Fenni bawain kami kopi dan mawar aja. Biar makin hot! Ha-ha-ha. Dah gitu aja layang ulemnya.


Dua hari lagi, jam bebas asal jangan tengah malam. Di Windusari lagi yes! Ketemu lagi di Windusari. Mak othor, kasih tau Mamas kalau mau end. Kami berdua mau pamitan!


Makasih juga buat yang udah kasih bintang untuk melindungi dedek Fenni dan Mamas. Lope-lope dah!


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2