
...โCerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembacaโ...
Ericko menghilang untuk beberapa hari. Alasannya adalah dia sedang diutus oleh kantornya tugas luar. Kantor sementara itu juga beroperasi sebagaimana mestinya. Mereka berjaga-jaga bila nanti Alex, Dion, ataupun Zamroni mencari tahu tentang Ericko adalah benar keberadaannya. Tidak fiktif belaka.
Ericko hanya memantau Zamroni dari cctv mini yang masih tersambung di ponselnya. Semenjak kejadian itu, kejadian dimana Alex berhasil mengetahui identitasnya, dia lebih waspada dalam bertindak. Ada yang mengganggu pikirannya, hatinya merasa sepi karena ketidakhadiran seseorang di dalam hari-harinya.
Dia sedang memendam rindu untuk seseorang. Wanita yang selalu ingin dia lihat setiap detiknya. Fennita Malik, wanita yang berhasil menaklukan hati pria sedingin es balok. Ya, mereka memang memutuskan untuk tidak pacaran. Tapi, Ericko berjanji kepada Fennita akan segera datang melamarnya di waktu yang tepat.
Ericko mencoba mengganggu Fennita, dia sedang lenggang karena dia yakin Zamroni sedang berada di kantornya. Dia mengirim chat pada Fennita.
Me : Assalamualaikum, yang.
Fennita : Waalaikum salam, masih hidup ternyata.
Me : Eh, kok gitu? ๐ Maaf deh nggak ngasih kabar beberapa hari ini. Lagi apa?
Fennita : Lagi tiduran, kenapa? Mau ikutan? Sini, ranjang aku masih muat buat satu orang, nih.
Me : ๐ Mode kalem sama mode ngambeknya udah nonaktif, nih. Sekarang yang on mode bringas!
Fennita : ๐ค Bringas apaan, Mas?
Me : Genit! Lenje! Tahu?
Fennita : ๐
Me : Nanti malam mau ketemuan, nggak?
Fennita : Cie yang udah nggak bisa nahan kangen.
Me : Ih! Siapa yang kangen? Kamu kali!
Fennita : ๐ Dasar pria sok jual mahal!
Me : Jawab sih, mau apa nggak? Mau ya?
Fennita : ๐ Maksa, ih! Ya udah iya. Mau ketemuan dimana, Mas?
Me : Di kafe x aja ya? Jam 8 malam. Besok Mas ke Balikpapan, lho. Nanti Mas jemput.
Fennita : Oke.
Ericko tersenyum senang mengakhiri chat itu. Sedikit terobati rasa hampa di hatinya karena candaannya dengan Fennita. Entah kapan rasa itu mulai tumbuh, entah kapan dia memupuknya, sehingga sekarang menjadi sebesar itu. Ketakutan terkadang datang membayangi langkahnya.
__ADS_1
Ya, rasa ketakutannya adalah jika Fennita tahu bahwa dia adalah seorang intel yang memang mengincar papahnya. Dia harus segera mengatakannya. Dan malam ini, dia akan berterus terang pada Fennita. Bagaimana nanti reaksi Fennita, dia sudah siap menerimanya. Dia lebih takut jika Fennita mendengarnya dari orang lain, karena Alex dan juga Dion sangat yakin bahwa dirinya adalah seorang intel.
Dia beranjak dari kamarnya menuju ruangan lain yang dipenuhi oleh komputer dan kabel-kabelnya. Dia duduk dan mengerjakan sesuatu. Dia ingin memberikan kado spesial di hari ulang tahun Fennita. Ya, hari ini adalah hari kelahiran wanita yang super aktif itu. Ericko mengambil foto-foto Fennita yang ada di instagram. Dia ingin membuat video kolase foto Fennita dari kecil sampai dewasa.
Ericko meminta bantuan Isnaeni untuk mendapatkan foto masa kecil Fennita. Dia menarik sudut bibirnya, menikmati kecantikan wajah Fennita yang sudah mendarah daging sejak kecil.
"Cantik, memang dari dulu cantik! Fen ..., malam ini Mas mau jujur sama kamu. Mas pengen kamu tahu yang sebenarnya. Sebelum nantinya Mas yang menangkap papahmu. Mas pasrah jika kamu marah dan pergi dari kehidupan Mas." Ericko melamun sambil mengatakan hal itu.
Lamunannya buyar karena ponselnya memperlihatkan cctv mini yang ada di ruangan Zamroni menunjukkan sesuatu. Zamroni sedang bersama seorang kepercayaannya, mereka sedang membicarakan sebuah rencana untuk esok hari.
"Hilang kemana si Erick? Waktu tinggal besok untuk pergi ke Balikpapan, malah hilang tanpa kabar!"
"Tuan, bagaimana kalau Erick hanya mengelabui, Tuan? Bagaimana jika memang dia adalah intel? Bagaimana jika memang ini adalah taktiknya?" Orang kepercayaan Zamroni mencoba menghasut Zamroni.
Zamroni menatap pria itu tajam, dia takut akan kebenaran itu nantinya. Bagaimana jika memang itu benar? Apakah Ericko akan membalas dendam? Atau Ericko akan membiarkan dia lolos begitu saja karena Ericko mencintai Fennita?
"Lalu apa saranmu?"
"Bagaimana jika Tuan sendiri yang pergi ke Balikpapan menghadiri forum itu?" ucap pria itu.
Zamroni berdecak, dia tahu itu tidak akan berhasil. Syarat masuk ke forum itu adalah memiliki kartu anggota. Bagaimana dia bisa masuk jika kartu anggota saja tidak punya?
"Tenang, Tuan. Saya sudah mengambil ini dari Tuan Alex! Dan juga surat kuasa yang menerangkan bahwa Tuan Alex tidak akan bisa hadir."
"Oke, siapkan tiket untukku besok! Aku sudah tidak peduli lagi dengan Ericko!"
Sementara itu, Ericko sedang berpikir. Apakah ini taktik dari Alex agar tidak tertangkap? Hal ini membuatnya sedikit pusing. Dia memejamkan matanya sebentar dan memutar kursinya. Kembali memandangi kolase foto Fennita yang sudah dia susun dan akhirnya jadi juga.
Malam datang menyambut dengan hembusan angin lembut. Ericko menunggu Fennita di luar gerbang rumahnya. Karena dia masih memilih menghindari Zamroni. Tak perlu menunggu waktu lama, Fenni turun dengan memakai long dress warna hitam. Ditambah aksesoris gelang besar bercorak seperti marmer dan anting yang panjang. Rambutnya dibiarkan tergerai menambah kesan feminin dalam dirinya.
Ericko menikmati aura yang memancar dari Fennita. Membiarkan sedikit terbuai oleh rupa ayu Fenni.
"Ayo jalan, malah bengong!"
Ericko mengulum senyumnya dan meluncur menuju kafe x. Sesekali dia tertawa kecil membuat Fennita heran dengan sikap Ericko. Benar-benar sudah gila si Erick.
Mereka sudah tiba di kafe x. Ericko langsung menuju meja yang dipesan olehnya. Dia menyuruh Fenni memesan makanan. Lalu dia pamit sebentar ke belakang. Saat sedang menuju ruang kontrol, dia bertemu dengan Alex yang memancing emosinya.
"Penipu! Ternyata kamu intel! Lihat saja! Aku akan memberitahu Fennita akan hal ini!" ancam Dion.
Ericko hanya tertawa kecut mendengar ancaman itu. Punya bukti apa dia hendak memberitahukan Fennita.
"Memang dia bakalan percaya?" tantang Erick.
__ADS_1
"Lihat saja nanti!"
Ericko hanya tertawa melihat kepergian Dion. Dia meminta operator untuk memutarkan foto kolase Fennita di layar yang telah disiapkannya.
Foto kolase terputar, membuat Fennita terkejut juga terkagum. Ericko datang membawa birthday cake dengan lilin yang sudah menyala. Membuat Fennita semakin terharu. Dia sampai menangis bahagia mendapatkan surprise dari Ericko.
"Selamat ulang tahun cantik, semoga ...," ucapan Ericko terhenti saat foto kolase itu berubah menjadi foto dirinya.
Foto tentang identitas dirinya. Foto dimana dia saat masih bergabung menjadi tentara khusus sebelumnya. Foto dimana dia dikukuhkan sebagai anggota intel. Dengan suara menggelegar, seseorang mengatakan bahwa dia adalah intel.
"Dia intel! Awas! Kalian sedang diintai!"
Sontak membuat semua pengunjung lari ketakutan. Fennita yang tadi sedang terharu karena bahagia, kini dia diberikan kejutan lagi yang tidak terduga.
Dion datang bergabung dengan keduanya. "Dia itu intel, Fen! Dia itu mengincar papah kamu! Kamu cuma dijadikan alat agar dia bisa membalaskan kematian Kalena!" seru Dion.
Bibir Fennita menjadi kelu. Dia mengatur napasnya yang mendadak sesak karena terkejut. "Apa benar, Mas?" tanya Fennita bingung.
"Fen, Mas bisa jelaskan ini. Mas tadinya ...,"
"Tadinya? Berarti benar bahwa kamu intel? Kamu mau balas dendam atas kematian Kalena? Kalena mantan sekretaris papah? Iya?"
"Fen ..., dengarkan dulu!"
"Memangnya apa salah papah sampai kamu mau balas dendam? Ha? Memang papah yang udah buat Mbak Lena mati?"
Ericko diam bingung untuk menjelaskannya. "Fen ...,"
"Cukup! Terima kasih atas double surprisenya! Kado terindah di hari yang berkesan. Terima kasih sudah menjadikanku umpan! Ternyata kamu tidak lebih baik! Kamu juga busuk!"
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1