Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Dia Intel!


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Alex Sanjaya adalah orang yang sangat ambisius. Semua yang diinginkannya, semua hal yang diperintahkannya harus bisa terlaksana dengan sempurna. Tidak mau mengenal kata penolakan. Alex juga mewariskan sifat itu pada anaknya, Dion Sanjaya.


Orang kepercayaan Alex datang membawa berita tentang Ericko. Dia memberitahukan Alex tentang semuanya yang berhasil dia dapatkan. Bukan mudah mendapatkan informasi itu, hampir memakan waktu tiga minggu untuk mendapatkannya.


"Lambat sekali kerjamu!" bentak Alex yang sudah tidak sabar menerima hasil kerja tangan kanannya.


Orang itu hanya menunduk dan tidak menjelaskan apapun pada Alex. Percuma juga jika dijelaskan, Alex pasti tidak akan menerima alasan itu. Jadi, daripada buang-buang tenaga untuk menjelaskannya dia memilih diam.


Alex membuka berkas tentang Ericko dan membacanya. Kerutan di dahinya langsung muncul karena terlihat serius membaca dokumen itu. Dia membacanya sampai selesai lalu melemparkan gelas berisi kopi itu.


"Kurang ajar! Ternyata dia anggota BIN?" tanya Alex marah.


Orang kepercayaannya mengangguk mantap. "Mau apa dia masuk lingkaran kehidupanku dan Zamroni?"


"Mantan pacarnya adalah Kalena, mantan sekretaris Zamroni yang sengaja kalian bunuh," terang orang itu dengan nada bicara datar dan dingin.


"Jadi, maksudnya dia ingin balas dendam?"


"Ya, Tuan. Dan pasti ada hal lain yang diinginkannya selain membalas dendam," terang orang itu.


Otak licik Alex selalu bisa bekerja lebih cepat saat mengetahui keadaan genting seperti ini. Dia mengaitkan hal ini dengan pertemuan yang akan Red Fox laksanakan tiga hari lagi.


"Siapkan mobil!" perintah Alex.


Orang itu mengangguk, lalu bergegas keluar untuk mempersiapkan apa yang tuannya perintahkan.


"Zamroni harus segera mengetahui ini!" kata Alex meremas kertas dokumen itu.


Alex berlalu dari ruangannya dengan masih mencengkeram kertas dokumen itu. Dia langsung menuju mobilnya melewati semua karyawan yang menunduk hormat padanya. Dion yang baru saja kembali ke perusahaan, merasa bingung dengan apa yang terjadi.


Dion langsung mengikuti kemana perginya mobil Alex. Dia ingin tahu apa yang telah terjadi, sehingga membuat papahnya murka seperti itu.


Alex mencari keberadaan Zamroni di kantornya, tapi nihil. Zamroni tidak masuk karena ada urusan dengan kampanye partainya. Akhirnya dia bergegas pergi menuju kediaman Zamroni.

__ADS_1


Sedangkan di rumah, Zamroni sedang mengadakan meeting bersama tim pemasaran untuk meningkatkan hasil produksi mereka melalui virtual zoom. Dia fokus mendengarkan paparan presentasi dari karyawannya. Dia juga merevisi sedikit planning yang akan dilakukan nantinya.


Meeting berjalan satu setengah jam. Dan kini rapat tersebut hampir selesai. Terdengar keributan dari luar ruangan kerjanya. Dia mengernyitkan dahi, seakan tahu suara siapa yang sedang membuat kegaduhan di rumahnya.


"Kamu tidak bisa bertemu dengan Zamroni, Lex. Beliau sedang meeting!" tegas istri Zamroni, Isnaeni.


"Berani kamu bentak saya?" Alex sudah mengangkat tangannya hendak memukul istri Zamroni. Namun, suara Dion dan Zamroni berhasil menghentikan Alex.


"Papah!" teriak Dion.


"Lex! Cukup!" teriak Zamroni.


Alex menoleh dan berjalan cepat menuju Zamroni. Dia memberikan kertas yang sedari tadi diremas-remasnya. Zamroni yang tidak paham, hanya menerima kertas itu dan mulai membacanya.


Dada Zamroni seketika sakit. Tapi dia mencoba menahannya. Alex mulai kembali meracuni pikiran Zamroni.


"Dia intel! Kamu harus segera menjauhkannya dari kita!" kata Alex sangat keras.


Dion langsung merebut kertas itu dan membacanya sekilas, "Pah, Om, kita harus masuk ke ruangan."


Zamroni, Alex, dan Dion langsung masuk ke ruang kerja Zamroni. Meninggalkan Isnaeni dalam kebingungan tanpa ada yang berniat memberitahunya ada apa sebenarnya? Dia memilih tidak ambil pusing dengan mereka bertiga. Dia hendak pergi meninggalkan ruangan dan bertemu dengan Fennita.


"Nggak tahu tuh, si Alex sama Dion. Mamah aja hampir ditampar! Tapi tadi sempat bilang intel-intel gitu. Tapi Mamah nggak paham siapa yang dimaksud mereka," terang Isnaeni.


Fennita hanya mengangguk, "Mending kita masak yuk Mah, Fenni pengen buatin sesuatu untuk Mas Erick,"


Mereka berdua mengangguk senang. Lalu meninggalkan ketiga pria itu.


***


Komputer Dilan yang terhubung dengan alat penyadap yang ada di rumah Fennita sedari kemarin-kemarin sudah menyadap semua pembicaraan Zamroni. Tapi, tidak ada informasi yang mengarah ke misi mereka.


Ericko tetap setia mendengarkan setiap percakapan yang di dengarnya. Hingga hari ini dia tahu bahwa, penyamarannya telah berhasil diketahui oleh Alex. Dia mendengarkan dengan seksama percakapan itu. Begitu juga dengan Rio dan Dilan.


"Ericko Juanda, pria yang kamu percayai itu adalah seorang intel! Bahkan kamu lebih memihak kepadanya daripada kepadaku! Kamu tahu sekarang? Kamu itu dikhianati!" ucap Alex membeberkan fakta temuannya.

__ADS_1


Zamroni tidak ingin langsung percaya dengan ucapan Alex. Dia menggelengkan kepalanya dan merobek kertas yang berisi informasi tentang Ericko.


"Dia bukan intel! Dia hanya anak IT biasa! Apa katamu? Dikhianati? Siapa disini yang coba mengkhianatiku? Bukankah kamu orangnya? Bukankah kamu yang ingin mengkhianati persahabatan kita? Kamu ingin pergi sendiri ke forum Red Fox itu, bukan?" cecar Zamroni.


Dion hanya diam menjadi penonton untuk keduanya. Masih bingung dengan situasinya.


"Dari mana kamu tahu undangan Red Fox, Zam?"


"Kenapa? Kaget? Jadi siapa yang berkhianat? Kamu atau Ericko?"


Alex tidak terima disebut pengkhianat seperti itu oleh Zamroni. Darahnya kembali mendidih, ya memang salahnya tidak jujur terhadap Zamroni. Hingga sahabatnya itu beranggapan bahwa dia menjadi pengkhianat. Tapi, dia juga tidak ingin egonya hancur. Akhirnya dia pergi dengan kemarahan.


"Terserah apa katamu! Aku sudah memperingatkanmu! Ericko yang kamu percayai itu adalah seorang intel! Cari tahu sendiri jika kamu tidak percaya padaku, sebelum itu menghancurkanmu sendiri! Kematian Kalena adalah motifnya untuk membalas dendam. Kamu yang membunuh Kalena! Dan dia datang untuk membalas dendam! Dan aku yakin, pertemuan Red Fox adalah target berikutnya!"


Alex pergi meninggalkan ruangan Zamroni dengan kemarahan menumpuk di dadanya. Dion mengikuti langkah papahnya dan bertemu dengan Fennita. Dia memperingatkan Fennita untuk berhati-hati terhadap Ericko. Tapi Fennita hanya menganggapnya angin lalu, masuk telinga kanan keluar telinga kiri.


Ericko langsung pergi bergegas menemui Komandan Bambang. Dia meminta agar identitasnya dihapus dari keanggotaan BIN. Komandan Bambang mengangguk paham.


"Siapa yang mencoba menjadi tikus di kandang singa ini? Oke, aku akan menghapus datamu. Panggilkan Dilan dan Rio kemari. Sementara waktu berdiamlah di basecamp."


Ericko memberi hormat dan bergegas kembali ke basecamp sebelum keberadaannya diketahui oleh Alex.


Rio dan Dilan mendapatkan tugas untuk mengubah sebuah kantor kosong menjadi sebuah kantor yang bergerak di bidang IT. Zamroni juga bukan orang bodoh, dia pasti akan melacak tentang kantor itu.


Memang benar dugaan Komandan Bambang, Zamroni melacak identitas Ericko. Tapi, berkat bantuan Zumarnis, Zamroni berhasil dikelabui.


.


.


.


Like


Vote

__ADS_1


Komen


Tip


__ADS_2