
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Ericko memejamkan matanya, tapi tak jua dirinya tertidur. Hanya matanya saja yang terpejam, dan masih dalam keadaan sadar. Dia duduk dan membuka selimutnya. Turun dari ranjang berukuran king size miliknya, dan menuju dapur.
Matanya menyipit melihat seseorang dalam kegelapan ruangan dapur. Seseorang tersebut menoleh dan tersenyum pada Ericko. Rio, baru saja tiba di basecamp dan bergabung bersama Ericko dan Dilan.
"Kapan datang, Yo?" Tanya Ericko berjalan menuju ke arah Rio.
Rio melemparkan buah apel pada Ericko, "Tadi pas kamu baru saja tidur. Gimana dengan orang tua Kalena?"
Ericko menarik kursi di samping Rio. Menghela nafas berat dan mengusap wajahnya kasar. Rio menantikan sebuah cerita yang akan keluar dari mulut Ericko.
"Aku dan Mas Jon berpikir ini adalah suatu kasus pembunuhan. Kalena tidak mungkin melakukan hal itu, Yo." Ericko mulai bercerita. Rio mencoba menenangkan Ericko dengan mengelus bahunya.
"Dia bukan gadis yang dengan pemikiran pendek, dia gadis cerdas yang bisa menentukan langkah saat menghadapi suatu permasalahan. Mas Jon mencoba mengulik informasi dari teman sekantornya. Namun, keterangan yang di dapat tak bisa menjerat orang yang kami curigai," terang Ericko.
"Kalian mencurigai seseorang?" tanya Rio. Ericko mengangguk ragu. Keraguannya beralasan, itu karena dia tidak mempunyai bukti untuk mengungkap kasus kematian yang dialami Kalena.
"Tidak ada sidik jari ataupun barang bukti yang menunjukkan bahwa Kalena dibunuh seseorang. Itulah yang membuatku frustasi," imbuh Ericko.
"Siapa yang kalian curigai?" tanya Rio antusias.
"Pemilik perusahaan Malik Grup. Menurut keterangan yang didapat Mas Jon, Kalena pada hari itu mengundurkan diri dari pekerjaannya. Dan setelah itu, ada peristiwa tersebut," ucap Ericko menatap lurus ke depan.
Rio nampak berpikir. Dia tahu siapa pemilik Malik Grup, cukup dekat hubungannya dengan pemilik perusahaan itu. Karena pemilik Malik Grup adalah adik kandung dari ibu mertua Rio, tapi, Ericko tak mengetahuinya.
"Jadi selama ini Kalena kerja jadi sekretarisnya, Om Zam? Masa iya Om Zam yang membunuh Kalena? Kalau memang benar kecurigaan Erick dan Mas Jon terbukti, pasti semua keluarga akan sangat terpukul," batin Rio yang hanya ia sendiri yang tahu.
"Kita cari tahu pelan-pelan. Tidak usah kamu menjadikan hal ini sebagai beban pikiranmu. Aku tahu kamu sangat mencintai Kalena, tapi, cobalah mengikhlaskannya. Banyak cinta diciptakan untuk bersama hingga hari tua. Tapi banyak juga cinta yang hanya mengisi lalu pergi." Rio memberikan nasihat untuk Ericko.
Ericko menoleh cepat saat mendengar kata bijak dari sahabatnya satu ini. Bak pujangga cinta yang telah memakan asam garam tentang percintaan sehingga bisa berkata seperti itu.
"Apa?" tanya Rio tak senang mendapatkan tatapan menyelidik dari Ericko.
"Habis dapat berapa ronde tadi malam? Bisa ngasih kata-kata mutiara sebagus tadi?" canda Ericko.
__ADS_1
"Menang banyak lah gue! Ha-ha-ha. Naomi keok!"
Mereka sama-sana tertawa. Mereka melanjutkan perbincangan mengenai misi mereka selanjutnya. Menunggu perintah dari atasan mereka untuk menyelesaikan teka-teki yang ada.
"Dimana jomblo abadi kita?" tanya Rio. Erick memberi petunjuk melalui jari telunjuknya.
"Dia sedang menjadi gila," tutur Ericko. Rio mengernyitkan dahi tak paham dengan maksud Ericko.
Ericko menceritakan hal yang Dilan bagi kepadanya. Membuat Rio terpingkal-pingkal mendengarnya. Rio berpikir bahwa Dilan masih polos untuk urusan cinta. Hanya karena perempuan yang ia jumpai di Bank X membantunya dan mengatakan menyukainya, lantas dia menjadi tergila-gila seperti ini? Sungguh terlalu!
Rio berniat mengganggu Dilan dengan cara mengirim pesan untuk Dilan yang mengatasnamakan perempuan itu. Ericko hanya bersidekap menyaksikan tingkah konyol dari kedua sahabatnya.
Entah apa yang Rio kirim pada Dilan, hingga membuat Dilan kegirangan dan menunjukkan sesuatu pada Ericko. Rio semakin terpingkal-pingkal dengan ulah Dilan.
"Lo dikerjain sama Rio, Lan," terang Ericko sambil mengangkat dagunya ke arah Rio.
"Sialan, emang! Gue kira beneran chat dari Intan!" Dilan melempar bantal sofa ke arah Rio.
"Ooo ..., jadi namanya Intan? Bentar-bentar, Intan yang ini, bukan?" Rio mencari foto di galeri ponselnya.
"Iya, benar itu Intan. Kok foto sama Nom-Nom?" tanya Dilan.
"Iya lah, secara Intan itu temen Fennita, perempuan di sisi kiri itu sepupu istri Gue, Lan," tutur Rio.
Ericko sedikit tertegun dengan pernyataan yang diberikan Rio. Ternyata memang Fennita, wajah perempuan yang dilihatnya di foto itu.
"Jadi Fennita sepupunya, Naomi? Busyet! Dunia sempit banget sih! Ha-ha-ha." Rio tersenyum melihat foto itu.
"Minta nomornya dong Abang Rio yang, ganteng?" Dilan merayu Rio agar bisa mendapatkan nomor Intan. Rio menolaknya, membuat Dilan menjadi termehek-mehek.
"Nanti gue pinjemin PS5 gue deh, Yo!"
"Intan cuma lo tukar sama PS5? Wah, parah! Gue bilangin Intan, lo!"
"Ya bukan maksud gue nukar dia juga, man!"
__ADS_1
Dilan memohon kepada Rio dengan sangat, segala bujuk rayu dia keluarkan. Ericko cukup terhibur dengan kejadian itu. Dia tersenyum, ah bukan lagi tersenyum saat ini dia sedang tertawa melihat Dilan yang sedang unjuk diri menjadi si Nopal (Kalau gak tahu search di yutub).
Dilan dan Rio yang bisa melihat tawa itu tersenyum senang melihat sabahat mereka. Itu artinya, hati Ericko sudah baik-baik saja.
"Tengok kawan kita yang baru saja patah hati ini. Dia sudah tertawa. Eh, gimana kalo lo gue kenalin ke, Fennita?" kata Rio.
Ericko menggeleng cepat menolak tawaran itu. Sekaranh Rio berpagak sebagai mak comblang untuk kedua sahabatnya itu.
"Yah! Payah lo, Rick! Yang sudah nggak ada jangan diingat-ingat terus, dong!" seru Dilan langsung lolos tanpa filter.
Membuat Ericko langsung memasang wajah masam menahan amarah. Rio menengahi pertikaian yang mungkin terjadi.
"Oke Gue kasih nomor Intan, tapi ada syaratnya!" ucap Rio.
"Apaan? Buruan kasih, ah! Gue bisa mati penasaran, gue DM insta sama FB nya gak ada balasan, Yo." Dilan mengerdipkan sebelah matanya.
Rio merangkul bahu Dilan, "Misi selanjutnya, Lo yang buat laporan!"
"Oke, siap."
Mereka berjabat tangan tanda sepakat. Begitulah persahabatan ketiga pria itu, tak pernah ada yang merasa dimanfaatkan ataupun memanfaatkan. Karena sejatinya, persahabatan mereka memang tumbuh dari hati sehingga membuahkan rasa ketulusan.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1