Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Kisah Mamah dan Papah


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Erick menyalami Isnaeni dan pamit pulang. Fennita mengantarkannya hingga ke depan mobil. Mereka berjalan beriringan dan seperti biasa, diam. Sama-sama masih kaku untuk memulai sebuah obrolan.


Erick telah sampai di depan mobilnya. Dia menengadahkan tangan bermaksud meminta kuncinya pada Fennita. Tapi, yang ditangkap oleh Fennita adalah hal lain yang romantis. Dia memberikan tangannya untuk digenggam oleh Erick.


"Ck, kunci!"


"Oh, ku kira mau genggam tanganku. Ha-ha-ha!" jawab Fennita sambil berbalik masuk mengambil kunci mobil.


"Itu sih maunya kamu!" teriak Ericko. Tubuhnya merasa semakin membaik karena mendapatkan kerokan.


Fennita memberikan kunci mobil itu, Ericko berterima kasih padanya karena sudah merawatnya seharian ini. Dia juga masih meminta maaf karena ucapannya yang sedikit menjengkelkan terhadap Fennita.


"Makasih ya Fen sudah merawatku seharian ini. Maaf juga karena bikin kamu jengkel. Aku niatnya cuma bercanda, kok," tutur Ericko tulus.


"Sama-sama. Nggak papa, Mas. Kamu ..., pulangnya hati-hati."


"Iya, Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Ericko langsung masuk ke mobil dan menyalakannya. Langsung tancap gas pulang menuju basecamp. Fennita masuk ke dalam rumah dengan hati riang gembira. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia juga akan menaklukan hati Ericko melalui misi ini. Harus!


Isnaeni tersenyum senang melihat putrinya bisa seriang itu. Biasanya hanya wajah datar dan dingin Fennita yang selalu disuguhkan untuk keluarganya sendiri. Namun, karena kedatangan Ericko dia bisa melihat lagi senyuman manis nan menawan anak semata wayangnya itu.


"Sudah pulang Ericknya?" tanya Isnaeni saat melihat Fennita hendak naik ke lantai dua.


Fennita mengangguk, "Iya Mah, sudah. Makasih ya, Mah."


Isnaeni mengernyitkan dahinya, "Terima kasih untuk apa?"


"Sudah mengajari Fenni ngerok Mas Erick."


"Sama-sama. Belajar masak mulai sekarang, Fen." Isnaeni mencari majalah yang khusus berisi masakan nusantara.

__ADS_1


Fennita berjalan menghampiri mamahnya yang berada di ruang tamu. Ikut duduk di sebelah kanannya dan melihat majalah masakan nusantara itu. Isnaeni mengisyaratkan dengan matanya bahwa Fenni harus membaca dan mempelajari sebuah masakan.


"Tanya sama Erick makanan kesukaannya apa, kamu coba buat dan kasihkan hasilnya ke dia. Pupuk rasa cinta yang ada dari cita rasa masakan," ujar Isnaeni.


"Kamu mau dengar kisah Mamah dan papah, nggak?"


Fennita mengangguk semangat, lalu Isnaeni mulai menceritakan kisahnya.


"Dulu, Mamah dan Papah dijodohkan, Mamah menjadi jaminan hutang keluarga Mamah. Awalnya pernikahan kami juga dingin, lalu Mamah coba memberikan perhatian ke Papah lewat masakan. Awalnya Papah nggak mau sama sekali tuh, menyentuh dan mencicipi makanan Mamah. Tapi, berkat kegigihan Mamah dan bibimu yang selalu memaksa papah untuk makan meski hanya sesuap, membuat hubungan kami menghangat. Rasa cinta itu akhirnya tumbuh di hati kami. Lalu berlanjut hingga sekarang."


Fennita mendengarkan cerita percintaan mamahnya dengan seksama. Tidak ingin memotong apapun cerita mamahnya. Sedikit rasa kasihan pada mamahnya karena ternyata dulu dia juga dipaksa untuk menikah dengan papahnya. Sama halnya dengan dirinya yang dipaksa menikah dengan Dion Sanjaya, tapi itu belum sempat terlaksana.


"Semenjak kenal Alex, papahmu begitu lagi. Tidak sehangat dulu. Menjadi dingin dan kembali datar saat menghadapi Mamah. Ya ..., apapun itu, Mamah tetap bertahan untuk kamu. Mamah punya tabungan yang diam-diam Mamah siapkan untuk kamu kalau nanti terjadi apa-apa."


"Mah, kenapa ngomong gitu?" tanya Fennita sambil memeluk mamahnya.


Isnaeni membalasnya dengan senyuman, "Nggak papa, Mamah hanya takut kalau kamu tetap dipaksa nikah sama Dion. Kalau sampai itu terjadi, pergi sama Erick! Pergi yang jauh sampai papah nggak bisa nemuin keberadaan kamu. Mamah akan siapkan uangnya."


"Ya Allah Mamah mikirnya terlalu jauh. Nggak akan terjadi apa-apa sama Fenni, ada Mas Erick yang jagain Fenni, Mamah percaya sama Mas Erick, kan?"


Fennita hanya tersenyum malu mendengarnya. Amanah iya, terbukti dari sikap Erick yang selalu menjalankan pesan Rio dan Zumarnis untuk mengantarkannya pulang. Tegas juga iya, karena dia tidak mau melihat aurat Fennita, yang menandakan bahwa Erick sangat tegas dalam mengambil sikap.


Agak dingin dan cuek, bukan agak tapi terlalu! Lihat saja sikapnya saat bertemu pertama kali dengan Fennita. Selalu tidak merespon. Bikin kesel iya, ucapannya yang tajam kadang membuat Fennita kesal.


Tapi di balik itu semua, ada satu sikap yang masih malu-malu muncul ke permukaan. Sikap perhatian dari seorang Ericko Juanda, kapan sikap itu akan muncul ke permukaan?


Hei, Fen! Dia sudah perhatian terhadapmu, dia mengoreksi caramu berpakaian. Menyuruhmu untuk lebih bisa menutup aurat. Bukankah, itu salah satu perhatian yang besar?


***


Erick langsung mendapatkan sorak hore dan olok-olokan dari kawannya. Dia hanya tertawa lepas mendapatkan itu semua. Entah apa yang membuatnya sesenang itu, tapi dia merasa hari ini ada berkah dari sakitnya.


Dia kembali mendapatkan perhatian dari sosok yang diidentikkan dengan kelembutan, penuh kasih sayang, dan kaya akan perhatian. Sosok itu biasa dipanggil dengan sebutan wanita atau perempuan. Ericko merindukan perhatian dari seorang perempuan, makanya dia begitu bahagia meskipun sedang tidak sehat.


Tidak bisa dipungkiri, karena dia jauh dari sang ibu. Sudah tidak memiliki lagi tambatan hati.

__ADS_1


"Wih! Merah-merah semua ini leher! Sadis! Baru ketemuan aja udah merah, apalagi sampai pelaminan?" celetuk Rio yang tahu bekas kerokan di leher Ericko.


"Wasyem! Lo kira gue sama Fenni begituan? Edan! Ini gue dikerok sama dia, Yo!" balas Ericko.


Dilan tak mau kalah, "Ngeriiii ..., udah main kerok mengerok dia, Yo! Pantesan ngotot nganterin Fennita balik! Ada maunya ternyata!"


Ericko tertawa keras mendengar ocehan ngawur dari sahabatnya itu. David hanya membisu mendengarkan percakapan mereka. Tidak ada niatan untuk ikut bergabung dalam obrolan itu.


"Dah ah! Gue mau tidur! Disuruh dokter untuk istirahat!" kata Ericko langsung masuk kamar.


"Dokter yang mana? Dokter cinta Fennita maksudnya? Haseeeek! Komandan emang multi talenta! Jadi intel bisa, jadi tukang sapu oke, jadi pemulung ulung banget, nah ini profesi baru, jadi tukang jodohin orang!" ucap Rio lagi.


Ericko tidak menyahut lagi. Dia hanya tersenyum dan merebahkan diri di ranjangnya. Mulai memejamkan mata mengikuti anjuran dokter dan juga Fennita.


Mengistirahatkan badan dan juga pikirannya. Agar segera pulih dan bisa kembali melakukan aktivitas seperti biasa. Gemuruh tawa tidak lagi terdengar di telinganya. Dia benar-benar masuk pada gelombang delta. Bermimpi bertemu dengan Kalena, yang mana gadis yang pernah menjadi pujaan hatinya itu tersenyum sambil melepas genggaman tangannya dan berjalan menjauh darinya.


Dia hanya bisa melepas genggaman itu dan membiarkan Kalena menjauh. Tiba-tiba saja tangannya sudah menggenggam tangan lain. Tangan yang sangat lembut itu mengeratkan genggaman itu. Dia menoleh dan tersenyum.


Erick merasakan tenggorokannya sakit, dia langsung mengambil pisau lipat yang ada di bawah bantalnya. Matanya langsung terbuka seketika saat mengetahui ada tangan yang mencoba mencekik lehernya.


David sedang mencekik leher Erick, sehingga membuat wajah Erick memerah. Dia langsung menggores leher David tapi sayang meleset. Erick berusaha sekuat tenaga untuk bisa lepas dari cekikan David.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


Othor lagi radang, tenggorokan nggak enak banget rasanya.


__ADS_2