Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Mas Erick ..., Masih Bingung sama Perasaannya


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Erick pasrah dengan sikap Fennita. Dia sadar, dia yang bersalah dalam hal ini. Dia yang salah telah melukai hati wanita itu. Jika biasanya dia disambut dengan tatapan mendamba dari mata Fennita, sekarang bukan hal itu yang terpancar. Sebuah rasa sakit akibat kalimat, kecewa, sedih, dan bingung.


Erick memejamkan matanya sebentar dan mengusap wajahnya. Oke, dia akan memikirkan lagi cara minta maaf ke Fennita. Sekarang yang harus dilakukannya adalah memasang kamera super mini yang dirancang oleh Dilan. Dia harus mencari tempat yang tidak mudah diketahui oleh orang, tapi memiliki sudut rekam yang jelas.


Dia melihat kamera cctv yang terpasang di atas pintu ruangan itu. Dia bisa terekam jika gegabah. Dia melihat ada meja sudut si dekat pintu. Di atasnya ada bunga plastik di dalam vas berwarna putih itu. Dia mencoba berjalan mendekati meja itu, lalu menggeser sedikit vas itu ke belakang sehingga tidak terekam oleh cctv. Dia memasangkan cctv super mininya itu diantara batang bunga-bunga plastik itu.


Setelah berhasil meletakkan cctv itu, dia memastikan bahwa kamera super mini itu berfungsi sebagaimana mestinya melalui ponselnya. Erick segera keluar dari ruang kerja Zamroni. Isnaeni datang dengan membawa nampan berisi minuman dan cemilan untuk Erick.


"Malah merepotkan, Tan," kata Erick merasa sungkan untuk berpamitan pulang.


"Kok sendirian, Fenni mana?" tanya Isnaeni.


"Di kamar, Tan. Sebenarnya, Erick dan Fenni sedang ada sedikit masalah. Erick datang kesini untuk minta maaf ke Fenni, mungkin Fenni masih butuh waktu, Tan."


Isnaeni hanya mengangguk sembari tersenyum. Dia tidak ingin ikut campur urusan anak muda. Mereka sudah sama-sama dewasa, jadi pasti bisa menyelesaikannya secara dewasa juga.


"Ya sudah, minum dulu tehnya. Atau mau ngobrol sama Tante?"


"Lain kali saja, Tan. Erick ada sedikit kerjaan. Erick langsung pamit pulang ya, Tan. Assalamualaikum." Ericko mencium tangan Isnaeni seperti biasanya.


Dia berjalan mendekati kamar Fennita, mengetuknya, dan berpamitan pada Fennita.


"Sayang, Mas kerja dulu ya?" pamitnya pada Fennita persis seperti seorang suami yang berpamitan pada istrinya. Begitu lembut. Hingga membuat Isnaeni benar-benar percaya bahwa Erick memang sayang dan tulus mencintai Fennita.


Rick, kamu berhak mendapatkan penghargaan dalam kategori pemeran pria yang paling menjiwai drama palsu.


Fennita duduk di tepi ranjangnya hanya diam tidak ingin menjawab ucapan Ericko, dia menghela napasnya panjang. Akhirnya air mata itu tumpah lagi. Dia sampai bertanya, apakah garis hidupnya memang tidak pernah menakdirkan dia untuk bahagia?


Meski hanya sebentar saja?


Dia segera menghapusnya dan mulai melepas pakaiannya. Berganti dengan rok plisket panjang berwarna mocca dipadukan dengan blouse hijau lumut kerah tertutup berlengan panjang, dengan motif bunga. Dia mulai berdandan seperti biasanya.


Dia sudah tidak lagi bersemangat mengejar-ngejar cinta Ericko. Yang sekarang menjadi fokusnya adalah, menggagalkan rencana pertunangannya dengan Dion, hingga papahnya benar-benar percaya, dan setelahnya dia akan pergi menjauh dari semuanya.


Pukul sepuluh lewat tiga puluh menit, Fennita berpamitan pada Isnaeni pergi untuk bertemu dengan Ericko dan papahnya. Dia memberikan sebuah toples kaca berisi kacang mete goreng dengan taburan bawang.

__ADS_1


"Mamah nggak tahu apa kesukaan Erick, jadi tolong berikan ini sama dia. Bilang, itu tanda terima kasih Mamah karena nemenin Mamah belanja pagi tadi," tutur Isnaeni.


"Ha? Mas Erick nemenin Mamah belanja? Ke tukang sayur langganan Mamah depan kompleks itu?"


Isnaeni mengangguk, "Jangan marahan terus sama Erick, kasihan dia kamu cuekin begitu."


"Ih, Mamah kok malah belain Mas Erick! Disini aku yang terluka, Mah!" batin Fennita dalam hatinya.


"Ya sudah, Fenni berangkat dulu, Mah. Assalamualaikum." Fennita mendaratkan ciuman di pipi kanan Isnaeni dan menyalami tangannya.


Dia langsung menuju garasi rumah, mengemudikan mobilnya menuju restoran yang sudah ditentukan oleh bibinya. Ada panggilan masuk dari Zumarnis. Dia segera menepi sebentar dan mengangkatnya.


"Assalamualaikum, suruh naik taksi saja sih, Bi. Ya sudah iya, Fenni jemput. Waalaikum salam."


Fennita kembali melajukan mobilnya dengan wajah cemberut. Dia harus menjemput Ericko di kawasan Slipi. Dia mengira itu pasti akal-akalan Ericko agar bisa bertemu dengannya lagi. Dia tidak bisa membantah perintah bibinya. Dengan terpaksa dia menuruti perintah itu.


Setelah berkutat dengan kemacetan, Fennita mencari-cari keberadaan Erick. Dia melihat seorang pria dengan kemeja warna biru sedang mencoba memperbaiki mesin mobilnya. Dia segera menepikan mobil dan turun menghampiri pria itu.


"Mas," sapanya.


Ericko sedang sibuk memperbaiki mesin mobilnya. Dia segera menoleh dan sekali lagi, dia terpesona dengan penampilan Fennita.


Fennita mengangguk dan kembali ke mobilnya tanpa membantah, Ericko menutup kap mobilnya. Pasrah dengan mesin mobil itu. Sudah coba dia otak-atik tetapi tetap tidak mau menyala. Seorang montir datang, Ericko mengambil barang-barangnya dan masuk ke mobil Fennita.


"Maaf lama," kata Erick sambil memakai seatbeltnya.


Fennita hanya mengangguk, membuat Ericko harus menyelesaikan masalahnya.


"Fen, aku minta maaf sama kamu kalau menyakiti hati kamu."


"Udahlah, Mas. Nggak usah dibahas." Fennita langsung melajukan mobilnya menuju restoran x.


"Aku nggak mau kamu begini,"


"Terus kamu maunya aku gimana, Mas?"


Ericko menoleh dan memperhatikan wajah ayu Fennita. Datar dan menahan amarah, sedang tergambar jelas di rahangnya. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Fennita. Dia juga tidak tahu maunya seperti apa. Yang jelas dia tidak suka Fennita yang tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Aku ..., aku pengennya kamu tetap ceria. Ada satu alasan yang tidak bisa aku sebutkan sekarang, Fen."


"Oke, aku sudah ceria seperti biasanya."


Ericko tertawa kecil mendengarnya, "Kamu sedang membohongi dirimu sendiri, Fen. Kamu masih marah sama aku."


"Kamu juga sedang membohongi dirimu sendiri, Mas. Pernah nggak terlintas di pikiranmu tentang aku? Kalau pernah berarti hatimu menerima kehadiranku. Raganya saja yang selalu menolak."


Ericko terdiam dan berpikir, tanpa dia sadari, dia memang selalu teringat bayang Fennita. Bahkan saat tidur bermimpi melepaskan Kalena, seorang wanita yang menggenggam tangannya adalah Fennita.


"Oh ya, itu ada titipan dari mamah. Katanya, makasih sudah nemenin mamah belanja tadi pagi." Fennita menunjuk toples yang ada di dalam dashbor mobil.


Erick mengambilnya dan membukanya, "Alhamdulillah, rezeki anak sholeh. Sampaikan ke mamah, terima kasih."


Ericko membuka toples itu, lalu mengambil kacang mete itu. Dia tersenyum sambil mengunyahnya.


"Mamah tahu aja kalau aku suka sama kacang mete, mau nggak? Sini aku suapin." Erick mengarahkan kacang mete itu ke mulut Fennita.


Fennita tetap tidak mau membuka mulutnya. Dia tetap diam seribu bahasa dengan wajah datar. Membuat Erick ingin segera meluapkan emosinya. Tapi dia menahannya, karena dia tidak mau misinya gagal.


"Bilangin ke mamah makasih, ya? Bilangin juga ke hatimu, Mas Erick minta maaf dengan sungguh-sungguh. Mas Erick pengen lihat Fenni yang ceria lagi. Mas Erick ..., masih bingung sama perasaannya," kata Erick sambil menatap wajah Fennita.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip


Pagi eperibadeh! 😂😂 Kalian nyadar nggak sih covernya Mas Erick sekarang pake masker? Tp kenapa warnanya merah cetar membara begonoooohhh. 😭😭.

__ADS_1


Mimin NT yang tersayang, tolong sampaikan pada editornya dooong. itu warna masker diganti hitam atau warna gelap lainnya. Jatuhnya malah bukan tegang gimana kalau lihat dari maskernya. wkwkwkw


__ADS_2