
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
"Tante, dia udah tahu kan kalau ini cuma pura-pura?" tanya Ericko.
Zumarnis mengangguk, "Tante sudah bicarakan semuanya sama dia, kecuali misi terselubung kita. Pastikan untuk yang satu itu dia tidak tahu, Tante tidak bisa membayangkan bagaimana responnya ketika tahu bahwa ada misi lagi dalam kepura-puraan ini."
Ericko hanya mengangguk, dia juga bingung harus komentar apa. Dia juga tidak bisa membayangkan bagaimana respon Fennita nanti ketika tahu bahwa dirinya yang akan membongkar kebusukan papahnya dan juga Alex Sanjaya.
Siapkah Fennita menerima kenyataan yang ada?
Ericko membuang napasnya kasar. Mereka telah sampai di depan ruang VIP itu, Zumarnis membuka pintu lalu masuk disusul Ericko di belakangnya.
"Maaf ya nunggu Bibi lama, tadi nunggu Erick sekalian. He-he-he. Duduk Rick, ngapain bengong!" Zumarnis yang sudah langsung duduk bingung dengan diri Erick yang masih berdiri.
Ericko nampak kaku, dia menyapa Fennita dengan senyuman termanisnya. Meskipun hanya sekilas, tapi sungguh membekas. Membekas dimana? Pastilah di hati Fennita. Siapa lagi? Readers semua lah!
"Hai," sapa Ericko dan duduk di sebelah Zumarnis.
Bagai berada di negeri sakura, Fennita sedang ditaburi bunga-bunga cinta. Karena dia sudah diberikan wejangan dari bibinya, sekarang Fennita membalas sapaannya dengan sangat anggun. Dia hanya tersenyum dan mengangguk. Membuat Ericko mengernyitkan dahinya.
Tidak biasanya Fennita menjadi super duper kalem seperti itu kalau bertemu dengan dirinya. Fennita pasti akan langsung memancarkan aura ketertarikannnya dengan sangat jelas pada dirinya. Kali ini Ericko benar-benar dibuat kagum oleh Fennita. Lembut, kalem, dan ... harus Ericko akui, dia cantik!
"Tumben kalem, biasanya aja kayak cacing disiram air garam, langsung menggeliat kalau lihat aku. Kok sekarang beda ya? Lebih anggun gitu. Mana dandannya natural banget lagi! Makin cantik, kan!" batin Ericko.
"Eh, apa yang kupikirkan barusan? Cantik? Duh, Rick! Kamu beneran sakit deh kayaknya!" batinnya lagi. Ericko memegang dahinya yang sudah menghangat.
Zumarnis dan Fennita saling pandang seakan bertanya, Ericko kenapa? Keduanya saling mengangkat bahu tanda tidak tahu yang terjadi dengan Ericko. Jujur, Ericko lebih suka Fennita yang kalem, halus, lembut seperti ini ketimbang Fennita yang selalu mencari perhatiannya.
"Pesen makan dulu, ya?" tanya Zumarnis. Mereka berdua kompak mengangguk. Membuat Zumarnis mengembangkan senyumnya.
Pelayan datang untuk mencatat pesanan mereka. Satu per satu dari mereka menyebutkan pesanan mereka. Sukiyaki, curry rice, dan shabu-shabu akan menemani makan siang mereka kali ini.
"Kalian kan udah tahu tujuan kita kesini, yaitu untuk membahas tentang suatu misi. Yaitu menggagalkan rencana pertunangan Fennita dan Dion. Kalian sudah paham aturan mainnya, kan?" tanya Zumarnis ketika pelayan itu pergi.
Mereka mengangguk kembali. "Jadi aturannya adalah bermain peran. Harus benar-benar totalitas, agar yang melihat kalian itu percaya bahwa kalian memang sedang menjalin hubungan," kata Zumarnis penuh penekanan di setiap katanya.
__ADS_1
"Tante minta tolong sama kamu ya, Rick? Ya habisnya tante nggak tahu mau minta tolong siapa lagi. Kalau minta tolong Dilan pasti tante diamuk sama Intan, ha-ha-ha. Jadi tante nggak berani. Kan kamu doang yang jomblo. He-he-he."
"Iya Tan, Ericko ikhlas kok!" jawab Ericko.
Membuat Fennita tersanjung dengan jawaban yang keluar dari mulut Ericko. Apa yang membuat Ericko mau menolongnya? Entahlah, Fennita tidak mau tahu soal itu untuk saat ini. Fokusnya adalah tetap menjaga keanggunannya agar Ericko tertarik padanya. Tertarik dalam artian yang sesungguhnya.
Jadi saat nanti pertunangannya dengan Dion batal, dia bisa menjalin hubungan yang sesungguhnya bersama Ericko. Semuanya bermain peran yang sangat apik dalam drama kali ini. Makanan datang diantarkan oleh dua orang pelayan. Zumarnis mendapatkan telepon dari suaminya. Dengan terpaksa dia harus meninggalkan restoran.
"Rick, tolong nanti antarkan Fenni pulang," pesannya pada Ericko.
"Gunakan waktu yang ada untuk kalian melakukan pendekatan. Biar papahmu makin yakin. Oke?" imbuhnya.
Mereka berdua kembali mengangguk. Zumarnis segera pergi. Tinggal Ericko dan Fennita dalam satu ruangan itu.
"Selamat makan, Mas," ucap Fennita. Ericko hanya mengangguk.
Sebenarnya dia tidak berselera makan. Dia hanya merasa tidak enak karena yang menawarkan makanan adalah Zumarnis. Mau tidak mau, dia memesan menu kesukaannya, yaitu curry rice.
Mereka hanya saling diam tidak berbicara. Selain sedang menyantap makanan, itu juga karena mereka tidak tahu harus membicarakan hal apa. Padahal, banyak yang harus mereka bahas. Tentang diri mereka sendiri adalah hal yang paling mendasar.
"Astaghfirullah," ucapnya. Membuat Fennita bingung.
"Ada apa, Mas?"
"Tutupi itu lehermu," perintah Ericko.
"Memang, kenapa?"
Ericko malah diam tidak menjawab. Masa iya dia mau mengaku bahwa leher Fennita bisa saja menggoda keimanannya? Dia akan ditertawakan oleh Fennita karena dianggap sok alim.
"Kasihan nanti ada nyamuk minum darah gadis genit!"
"Ha? Kamu apaan, sih? Ooo .... Atau kamu yang mau jadi nyamuknya? Hmm?"
Ericko langsung tersedak hingga ada nasi yang masuk ke hidungnya. Membuat hidungnya mengalami rasa ketidaknyamanan. Dia berbalik memunggungi Fennita dan mencoba untuk mengeluarkan nasi dari hidungnya.
__ADS_1
Fennita kembali ke mode kalem. Dia harus ingat pesan Bibinya. Jika ingin Ericko benar-benar jatuh cinta padanya, maka dia harus menjadi gadis yang kalem dan sedikit jual mahal.
Ericko mengambil makanannya dan duduk bersebelahan dengan Fennita. Menurutnya itu lebih aman ketimbang berhadapan dan dengan jelas melihat leher itu. Entah apa yang membuatnya takut. Apakah Ericko mulai tergoda? Pertahanannya sudah mulai goyah? Hanya hati Ericko dan Tuhan yang tahu.
"Ngapain pindah kesini?" tanya Fennita bingung dengan sikap Ericko.
Ericko memejamkan matanya seraya menghela napas, "Hmm ..., besok pakai baju yang ada kerahnya, biar bisa nutupi leher. Aurat itu jangan diumbar-umbar. Kasihan lelaki di dalam keluargamu nantinya, mereka akan kena hukum cambuk karena sehelai rambut kamu yang terlihat. Itu hanya sehelai lho. Apalagi ini semuanya?"
Fennita tertegun mendengarkan nasihat Ericko. Tidak menyangka, bahwa pria yang sedang bersamanya, sedang di sampingnya itu kaya akan ilmu agama. Tidak seperti dirinya yang terkadang lupa untuk bersyukur. Lebih banyak mengeluhnya daripada bersyukur.
Padahal orang dengan beban hidup yang lebih berat dibandingkan dirinya sangatlah banyak. Dia merasa beruntung mengenal Ericko. Pantas saja Ericko tidak mau mendekat dengannya ketika dia berulah sangat agresif. Berbeda dengan saat dia lebih banyak diam, seperti magnet, Ericko akan tertarik mendekat sendiri kepadanya.
"Makasih nasihatnya, iya besok aku bakalan lebih selektif lagi milih baju," jawabnya dengan tersenyum.
Ericko ikut tersenyum mendengar jawaban gadis itu.
"Ceritakan tentang dirimu dan keluargamu, saya akan mendengarkannya," perintah Ericko.
"Bisakah pakai panggilan yang lebih luwes lagi, Mas? Misal pakai aku dan kamu. Saya itu terlalu formal. Nanti bisa menimbulkan kecurigaan."
Ericko mengangguk setuju. Mulailah Fennita bercerita tentang keluarga dan dirinya. Ericko mendengarkan dengan sesekali merespon dan mengangguk.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1