Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Bawakan Calon Mantu Idaman


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Windusari.


Pukul tiga subuh, Fennita dan Isnaeni meninggalkan Windusari. Mereka turun menuju terminal Magelang. Dari terminal itu nantinya Isnaeni akan melanjutkan perjalanannya seorang diri menuju Jogja hingga ke Jakarta. Fennita berbekal maps yang ditunjukkan oleh mbah gugel untuk mencapai terminal Magelang.


Jika dulu dia menggunakan mobil untuk bepergian, maka kali ini adalah pengalaman berbeda. Dia menggunakan motor matic milik Qory memboncengkan sang mamah. Udara pegunungan yang masih segar dan dingin menghantam kulit wajahnya. Rasanya membeku saat terpaan angin mengenai wajah dan tangannya.


Fennita telah sampai di terminal Magelang. Isnaeni segera turun dari motor dan mencari bus yang siap berangkat ke Jogja. Dia berpesan pada Fennita agar pulang dengan hati-hati.


"Pulangnya hati-hati, Fen!" pesan Isnaeni.


"Iya, Mah! Mamah juga hati-hati. Kabari Fenni kalau sudah sampai Jakarta." Fennita menyalami mamahnya. Mereka berpisah saat Isnaeni telah naik bus sesuai jurusannya.


Isnaeni duduk termenung sendirian, memikirkan semua yang terlintas di dalam pikirannya. Salah satunya tentang nasib cinta Fennita dan Ericko. Jujur, dia tidak bisa melihat putrinya lebih menderita lagi nantinya. Tapi, melihat air mata yang mengalir dari netra putrinya tadi malam, membuatnya kembali menelan kenyataan pahit itu.


***


Jakarta.


Ericko baru saja selesai jogging keliling kawasan basecamp. Dia bosan olahraga di dalam ruangan. Dengan napas masih terengah-engah dia meneguk air dingin dari kulkas dua pintu itu. Dilan menarik bajunya dan menyuruhnya duduk.


Dia melupakan adab minum begitu saja. Dia menyeringai lebar ke arah Dilan. Dia yang mengajarkan Dilan untuk melakukan semua kegiatan sesuai adab islam yang berlaku. Sekarang malah dia sendiri yang melanggar ucapannya.


Erick mengeluarkan ponsel dari saku celana. Mencari nomor seseorang. Dilan penasaran siapa yang akan dihubunginya.


"Nelpon siapa?" tanya Dilan.


"Junior gue, dikasih tugas sampai sekarang kok belum ada laporan ke gue. Mana ..., lagi kontaknya!" Jemari Erick aktif mencari nomor kontak yang dimaksud.


"Emang lo kasih tugas apa?" tanya Dilan lagi.

__ADS_1


"Nyari Fennita!" sungut Ericko yang tak kunjung menemukan nomor kontak itu.


"Ah, gue lupa bilang ke lo, Rick! Kemarin malam gue dan Rio ketemu sama junior lo. Dia nyerah! Dia dapat tugas mengintai dari komandannya, makanya dia nyerah. Katanya jangan menghubungi dia, karena dia lagi menyamar. Sisa biayanya nggak usah dibayar." Dilan terpaksa berbohong pada sahabatnya itu.


Rio dan Dilan sudah memiliki rencana khusus untuk mempertemukan dua insan yang sedang memendam rindu itu. Erick mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Dilan. Seperti ada yang aneh. Dilan mencoba mengalihkan pembicaraan itu. Menarik tangan Ericko untuk membantunya mempersiapkan berkas nikah. Dia hanya diberikan waktu satu minggu oleh Komandan Bambang untuk mengurus berkas pindah nikah.


Rencananya, Dilan dan Intan akan melakukan akad terlebih dahulu. Lalu setelahnya menentukan tanggal resepsi. Orang tua Dilan sampai pingsan mendengar anaknya akan menikah. Bagaimana tidak? Kenal dengan calon mantu saja belum, tiba-tiba memberi kabar agar segera datang ke Jakarta untuk melamar gadis pujaannya itu. Dilan bercerita pada Erick tentang percakapannya di telepon bersama orang tuanya.


"Kau tidak menghamilinya kan, Lan? Tanya Mamah," ucap Dilan mulai bercerita.


"Eh, nggak lah Mah! Kami kenal memang baru beberapa bulan. Dia anak komandan, kok! Berani macam-macam bisa disikat aku, Mah! Dilan tunggu besok harus di Jakarta!" jawab Dilan jujur.


Erick sampai tertawa mendengar ceritanya. Dia membantu Dilan untuk mengumpulkan terlebih dahulu berkas yang ada. Lalu setelahnya dia mandi untuk membersihkan diri. Dilan berpamitan dengannya karena dia harus fitting baju bersama Intan. Dan Erick memilih untuk tidur.


Menikmati masa cutinya selama tiga bulan nanti. Ah, dia melupakan sesuatu, dia belum memberi kabar kepada ibunya. Dia ingin bercerita sedikit tentang masalah yang membayangi kisah cintanya bersama Fennita. Akhirnya dia beranjak menuju sofa dan menempelkan ponsel ke telinganya.


Panggilannya tersambung, yang terputus adalah komunikasinya dengan Fennita. Dia menunggu beberapa saat, dan terdengar suara wanita yang sangat dia hormati. Ibu Ericko mengucapkan salam untuk panggilan anaknya. Menanyakan kabar selayaknya seorang ibu, dan pasti tidak lupa ketinggalan omelan khas wanita.


"Ih, maklumin lah, Bu. Anakmu ini kejar tayang terus, ha-ha-ha. Bu, Erick minggu depan balik kampung. Cuti tiga bulan. Jadi pengangguran, tolong berilah anakmu ini sesuap nasi," pelas Erick.


Khotijah tertawa mendengar curhatan anaknya. Ada apa gerangan dia sampai cuti tiga bulan?


"Baiklah, Ibumu ini akan memberimu makan! Tapi bawakan calon mantu idaman!" balas Khotijah.


Erick memainkan kukunya sembari tersenyum. Dia mulai menceritakan sosok wanita agresif itu. Dia menggambarkan semua tentang Fennita. Mulai dari fisiknya, sifatnya, dan tentang keluarganya. Khotijah begitu tenang dan terhanyut dengan cerita Erick.


Erick menjelaskan keadaan percintaannya yang tidak berjalan mulus. Dia juga menceritakan penyebabnya. Erick menunggu ibunya menghentikan curahan hatinya, tapi itu tidak terjadi. Khotijah tetap mendengarkan tanpa ingin menyela apapun.


"Jadi, sekarang kamu tidak tahu dimana dia?" tanya Khotijah.


"Iya, Bu. Dan sekarang, Erick tersiksa rindu. Bu, Erick mau tanya sama Ibu, kalau ..., misal nih ya, Erick bawa Fennita ke Temanggung, apa yang bakal ibu lakukan?" tanya Erick hati-hati.

__ADS_1


"Ya bakalan Ibu sambut sebagai tamu, lah! Emang kamu mengharapnya bakal Ibu apakan dia? Bawain gebuk? Itu buat anak Ibu yang suka lupa ngabarin!"


Ericko tertawa puas mendengar omelan ibunya. Dia merindukan segala hal tentang Temanggung. Dan dia tidak sabar untuk segera pulang kesana.


"Bawa dulu dia ke depan Ibu. Biar Ibu kenal sama dia. Ibu bukan tipe orang yang menilai sesuatu hanya dari satu hal. Ibu lebih suka menilai sendiri dari apa yang Ibu lihat, ketimbang mendengar sisi negatifnya dia. Jadi, cepat temukan dia dan kenalkan pada Ibu. Ada lagi yang mau diomongin? Ibu harus ke kebun nih, panen strawberry lho ini. Kalau kamu nggak buru-buru pulang, nggak bakalan bisa nikmati buah dari kebun!" ucap Khotijah.


Ericko memanyunkan bibirnya, selalu saja dia melewatkan kesempatan untuk makan buah yang identik dengan warna merah berbentuk seperti love dan memiliki rasa asam manis itu. Dia meminta ibunya untuk menyimpankan sedikit dari hasil panen kebunnya.


"Bu, makasih ya?" ucap Ericko tenang.


"Makasih untuk apa?" tanya Khotijah.


"Makasih karena Ibu mau memberikan kesempatan bagi Fennita."


"Sama-sama, Rick. Sudah, Ibu mau ke kebun dulu, assalamu'alaikum," ucap Khotijah mengakhiri panggilan itu.


Ericko sedikit lega setelah menanyakan sudut pandang ibunya. Ya, Ericko sangat tahu ibunya seperti apa. Beliau bukan tipe orang yang langsung menjatuhkan vonis hanya dari satu permasalahan. Apalagi bukan pribadi itu yang melakukannya, hanya ada sangkut pautnya, pasti beliau akan menilai sendiri orang itu seperti apa. Dia bangga dan bersyukur memiliki orang tua yang pandangannya selalu terbuka.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


__ADS_2