Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Kabur lagi


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Derr!!


Fennita menutup pintu kamarnya dengan begitu keras. Dia merasa sangat kesal. Berada di puncak kekesalan yang sangat teramat sangat. Kesal pada siapa? Tentu pada kedua orang tuanya. Tak ada yang menanyakan tentang pendapatnya.


Dia merenung di dalam kamar, memikirkan cara untuk menolak perjodohan ini. Buntu! Otaknya benar-benar tak bisa berpikir bagaimana caranya menolak perjodohan ini. Kabur lagi? Hanya itu ide yang terlintas di otaknya untuk saat ini.


"Sebegitu mengenaskannya nasib cinta ku. Mas Erick kamu nggak pengen gitu memperjuangkan, aku? Kamu nggak pengen gitu ngajak kaein lari aku, mas? Aku sama sekali gak ada rasa sama itu cowok lho, mas. Cuma sama kamu. Cuma kamu Mas, cuma kamu satu-satunya pria yang bisa membuat tubuhku bergejolak saat dekat denganmu. Ah, Mas Erick ...." Dia membayangkan wajah tampan nan berkarismatik dari seorang bernama Ericko.


Cukup lama dia di dalam kamar, hingga ada ketukan lagi di pintu kamarnya. Dengan malas dia membuka pintu yang terbuat dari kayu jati itu.


"Kok belum siap-siap, Sayang?" tanya Isnaeni heran melihat putrinya dengan penampilan yang masih sama.


Fennita hanya diam dengan ekspresi datar, "Ayo Mamah bantu dandan biar cepat selesai!"


Isnaeni langsung masuk ke dalam kamarnya. Membuka lemari pakaian miliknya dan memilih satu gaun nan memesona. Gaun dengan model lengan terbuka, panjang sebatas lutut. Dihiasi aksen manik yang dironce sempurna di bagian dada. Warna peach akan terlihat sempurna di kulit Fennita yang putih mulus.


"Aduh, Mamah ... emang siapa sih tamunya? Dion sama Papahnya?"


"Iya, makanya buruan si ..."


"Mah! Mamah pengen aku nikah sama Dion? Serius, Mah? Mamah ingin aku hidup menderita sama pria itu? Come on, Mah! Aku bukan boneka kalian, aku bukan robot kalian! Aku ini anak kalian, yang memiliki hak untuk menolak permintaan kalian yang Fenni anggap itu salah. Dan ..."


Tiba-tiba saja suara serak nan berat dari seorang pria baruh baya memotong ucapannya, "Dan kewajiban seorang anak adalah menuruti perintah orang tuanya! Paham kamu?"


Fennita kembali mendapatkan bentakan dari Papahnya. Kembali relung hatinya dihujam oleh tombak runcing yang sebentar lagi akan mencabik-cabik hatinya.


"Papah egois!"


Fennita mulai berderai air mata, pergi meninggalkan kamarnya dengan cepat. Langkahnya menuruni anak tangga dengan cepat. Melewati Dion dan Alex saat melintas ruang tamu.


"Fen!" panggil Dion. Fennita tetap melangkah mantap menghiraukan panggilan itu.


Zamroni dan Isnaeni ikut menuruni anak tangga itu. Wajah kedua orang tua itu sulit digambarkan. Wajah Zamroni sudah dipenuhi amarah sehingga berwarna merah menahan marah. Sedangkan Isnaeni pucat pasi takut terjadi apa-apa dengan anaknya.


"Om, Tante! Biar Dion yang mencari Fennita. Dia tidak membawa apapun, jadi tak mungkin jauh dari sini," terang Dion ingin menjadi sok pahlawan.

__ADS_1


Fennita menghapus air matanya, dia menjadi linglung hendak kemana melangkahkan kakinya. Ponsel dan dompet pun tak ia bawa. Persis seperti gelandangan saat ini kondisi dirinya.


Dia berjalan menyusuri trotoar sambil sesekali sesenggukan. Ada sebuah mobil yang mengklaksonnya. Dia tak mengindahkankan suara klakson yang cukup memekakkan telinganya.


Fennita pasti mengira yang mengikutinya itu adalah Dion. Dia berjalan semakin cepat, hampir berlari. Membuat perasaannya takut dan kalut sekali. Sementara mobil itu masih membuntutinya.


Jalanan trotoar itu akan segera habis di penghujung jalan. Tinggal lima langkah lagi jika dengan berlari. Tepat saat dirinya hendak menyeberang, mobil dibelakangnya berhasil menahan langkahnya.


Fennita tak asing melihat mobil itu. Dan saat sang pengemudi menurunkan kaca mobil, saat itulah Fennita bagai mendapat mukjizat. Rio, entah darimana pria itu tapi kehadirannya sangat membantu Fennita.


Fennita langsung membuka pintu kiri mobil tanpa menunggu persetujuan dari sang pemilik. Rio mengernyitkan dahi melihat tingkah Fennita yang ketakutan. Seperti menghindari seseorang.


"Kenapa sih, Fen?" tanya Rio.


Fennita menghela nafasnya. Masih melirik ke arah spion kiri. Melihat seorang pria yang sedang dihindarinya celingukan seperti mencari seseorang yang diyakininya, bahwa pria itu pasti sedang mencari dirinya.


"Bang bisa jalan dulu, gak?" mohon Fennita dengan memelas.


Rio mengangguk lalu melajukan mobilnya menjauh dari kawasan itu. Jika tebakan Rio benar, maka kemampuan intuisinya patut diacungi jempol. Lebih hebat daripada Mbah dukun.


Rio tampak tergagap menanggapi pertanyaan Fennita. Seperti orang yang tak siap mendapati pertanyaan karena belum menemukan, ralat! Tidak memiliki jawaban yang tepat atas pertanyaan Fennita.


"Oh ... anu ... ini ... kesasar lewat sini," terangnya berbohong.


Berharap Fennita percaya dan menyudahi pertanyaannya. Fennita mengangguk pertanda percaya dengan jawaban yanh diberikannya. Namun sayang Fennita menipunya. Ia malah memberikan pertanyaan yang lebih menyudutkan dirinya.


"Wait! Sejak kapan Bang Rio bisa kesasar di kawasan Jakarta? Yang notabene ini adalah kawasan yang Abang kenal karena sering main ke rumah, Papah."


Fennita kembali melontarkan pertanyaan yang membungkam mulutnya. Salahnya dia sendiri beralasan dangkal seperti itu. Sebagai seorang agen rahasia seharusnya dia memiliki seribu alasan untuk menghindari pertanyaan dari musuhnya. Rio sedang mendapatkan tugas pengawasan yang diberikan oleh Komandan Bambang. Yaitu mengawasi Zamroni dan Alex, karena Komandan Bambang mencurigai mereka berdua terlibat sebuah kasus. Rio mencoba mengalihkan pertanyaan Fennita dengan menanyakan keadaan dirinya.


"Cowok tadi, siapa?"


Fennita mendengus mendapati pertanyaan itu dari Rio, "Dion, anaknya Om Alex."


"Oh ... yang mau dijodohkan sama, kamu?"


Fennita hanya diam tak menjawab pertanyaan Rio yang selanjutnya.

__ADS_1


"Ini mau ke rumah Abang atau apartemen, Intan?"


"Rumah Abang sekarang tak bisa menjadi tempat aman bagi Fenni. Begitu juga dengan apartemen Intan. Gimana kalau Abang bawa Fenni ke, Mas Erick?" tanyanya menyeringai sambil memainkan alisnya naik turun.


"Gila ini bocah minta diantar ke basecamp. Bisa ada perang kecil di basecamp. Diamuk sama Ericko, gue!"


Seketika kepala Rio menjadi cenat cenut tak karuan akibat permintaan Fennita yang di luar perkiraannya. Membawanya ke basecamp? Ericko bisa ngamuk dan mencekik lehernya. Hal itu sudah bisa dipastikannya. Satu-satunya perempuan yang mengetahui basecamp mereka adalah Naomi.


"Erick lagi gak pengen diganggu, Fen." Rio berkilah agar Fennita percaya padanya.


"Aku nggak bakalan ganggu, cuma ngelihatin dia aja. Memang dia lagi sibuk? Sibuk apa?"


"Kerja, lah! Apalagi?"


"Mas Erick sudah punya pacar lagi belum, Bang?"


"Memang kenapa? Minat?"


"Oh, jelas! Aku sangat berminat sekali untuk menjadi teman hidupnya, menua bersamanya!"


Rio tertawa mendengar ucapan Fennita. Mengingat bagaimana sikap Ericko kepada Fennita jika mereka bertemu.


Akhirnya Rio membawa Fennita menuju rumahnya. Naomi memang menceritakan kejadian tadi siang kepada Rio. Sehingga tanpa Fenni bercerita pun, dia sudah bisa menebak situasi yang terjadi tadi siang.


.


.


.


**Like


Vote


Komen


Tip**

__ADS_1


__ADS_2