
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Intan menemui Fennita dan Isnaeni bersama Dilan di rumah sakit X. Disana mereka bertemu dengan Zumarnis dan Rio. Tapi mereka tidak melihat keberadaan Erick. Dimana dia? Entahlah, nanti kalau dipanggil juga muncul sendiri.
Intan mengatakan dirinya ikut prihatin atas kejadian yang menimpa keluarga Fennita. Dia juga mengaku bahwa dia adalah anak dari Komandan Bambang. Komandan dari Erick, Rio, dan Dilan. Teman dari Zumarnis.
Oke, Fennita sudah cukup pusing. Ternyata dia berada di tengah-tengah intel. Tidak bibinya, tidak orang yang dia cinta, ternyata sahabatnya juga anak dari seorang intel. Fennita sudah lebih bisa menerima keadaan karena ucapan mamahnya. Dia harusnya berterima kasih kepada mereka karena membantu papahnya agar tidak semakin terjerumus ke dalam lembah hitam duniawi.
"Lo nggak marah kan, Fen?" tanya Intan takut.
Fennita menggeleng, "Masalah gue udah banyak, Tan. Gue nggak mau nambah musuh. Kata mamah, harusnya gue berterima kasih sama kalian semua yang udah bantuin bokap gue. Dan ..., setelah gue pikir memang iya sih, eh tolong panggilkan mas Erick, dong! Gue mau minta maaf sama dia."
Intan tersenyum dan memeluk sahabatnya itu. Kekhawatirannya sirna sudah, sahabatnya kini sudah bisa lebih menerima keadaan yang ada. Dilan yang ada di belakang Intan ingin juga dipeluk.
"Aaa ..., pengen peluk juga ...," ucapnya manja.
Fennita melotot ke arahnya, "Bukan muhrim!"
Dilan tertunduk lesu mendengarnya. Rio yang baru datang entah dari mana langsung dipeluk Dilan. Membuat Fennita dan Intan tertawa melihatnya.
"Nah, gitu dong! Ketawa, jangan nangis mulu!" ujar Rio.
"Bang, tolong panggilkan Mas Erick. Fenni mau ngomong sesuatu sama dia."
Rio mengangguk, Intan dan Dilan pamit karena harus mengawal tawanan. Rio akan menyusul bersama Ericko setelah masalah mereka selesai. Rio mencari-cari keberadaan Ericko yang entah dimana. Rumah sakit yang luas membuatnya lelah mencari kesana kemari. Dia mencoba menghubungi ponselnya tetapi nomornya tidak aktif.
"Giliran Fenni nyariin, dia malah ngilang. Hadeh ..., apa takdir kalian memang tidak untuk bersatu?"
Saat hampir putus asa, Rio melihat Ericko berjalan santai satu meter di depannya. "Ya Allah, ya Kariim ..., kemana aja sih?"
Ericko tersenyum sembari memasang jam tangannya. "Kenapa? Kangen, lo?"
"Ck, bukan gue! Fenni nyariin lo, tuh!"
Ericko langsung mendongak melihat wajah Rio. Tidak menangkap secercah kebohongan disana. Dia langsung berlari meninggalkan Rio menuju kamar Fennita. Senang sekali hatinya mengetahui kabar dia dicari oleh Fennita.
Erick sudah berdiri di depan pintu kamar Fennita. Mengatur napasnya yang masih terengah-engah karena baru saja berlari. Dia mengetuk pintu itu tiga kali, dan menunggu jawaban dari pemilik kamar.
"Masuk ...," ucap Fennita.
Erick membuka pintu dan melangkahkan kaki masuk. "Assalamualaikum,"
__ADS_1
"Waalaikum salam, Mas. Silahkan duduk," balas Fennita mempersilahkan Erick duduk dengan sopan.
Erick merasa ada sesuatu yang berbeda. Fennita memang sudah lebih ramah kepadanya. Fennita sudah menyunggingkan senyuman untuknya. Tapi, dia merasa ada yang bersembunyi di balik senyum itu. Samar terlihat, dia tidak berani mengatakannya. Takut jika Fennita marah lagi.
"Kamu sudah makan, Yank?" tanya Ericko.
"Tolong jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi, Mas. Kebohongan kita sudah selesai. Panggil nama saja," balas Fennita datar.
Ericko menghela napasnya. Dia sudah terbiasa dengan panggilan itu. Sudah lupa dengan rencana bohongan itu. Dan sekarang memang dia benar-benar tulus menyayangi dan mencintai Fennita.
"Kamu sudah makan?"
"Belum," jawab Fennita singkat.
"Kenapa belum? Mau dipesenin makanan apa?"
Fennita menggelengkan kepalanya. Dia masih tidak ingin makan. Dia hanya ingin mengurai benang kusut yang membelit hidupnya satu per satu. Agar semuanya cepat selesai. Supaya dia dan mamahnya bisa hidup normal seperti sedia kala.
"Aku nggak lapar kok, Mas. Nanti aku bisa makan sendiri. Kamu sendiri, sudah makan?"
"Belum."
"Jangan lupa makan, jaga kesehatanmu. Kamu tadi dari mana? Bilang pamit emang mau kemana?"
"Kamu ..., tadi ngobrol sama mamah apa aja?"
Ericko terdiam menatap netra Fennita. Kantung mata yang menghitam terlihat jelas dibawah pelupuknya. Kesan lelah tergambar jelas saat mengamatinya. Dia tahu arah pembicaraan ini.
"Kenapa? Kamu mau ngomong kalau aku harus menjauhi kamu juga? Melepaskan kamu? Ha?"
Ericko menahan emosinya agar tidak meledak saat itu juga.
"Aku mau minta maaf sama kamu, Mas. Maaf sudah marah sama kamu. Maaf lisanku sudah menyakiti hatimu. Maaf sikapku sudah melukaimu. Harusnya aku berterima kasih sama kamu dan timmu, karena berkat kalian kejahatan papah bisa terungkap."
Fennita menjeda ucapannya. Menghela napas lega dan tersenyum. Akhirnya dia bisa mengurai satu masalah yang mengganjal di hatinya. Permintaan maaf kepada Ericko sesuai saran mamahnya telah terungkapkan. Membuat hatinya terasa lebih ringan.
"Kalau masalah maaf memaafkan, Mas sudah memaafkan kamu. Dan tolong kamu maafkan kesalahan Mas juga," balas Ericko. Fennita mengangguk yang artinya dia sudah memaafkan Ericko dan tidak marah laginpada pria itu.
"Yang kedua dan yang terakhir ..., tolong kita tidak usah bertemu lagi. Jika nantinya ...,"
"Nggak!" potong Ericko tidak setuju dengan permintaan Fennita.
__ADS_1
"Mas ..., nggak sopan lho memotong pembicaraan orang. Tolong dengarkan dulu."
"Apa? Kamu mau ngomong apa? Bisa nggak sih kita skip permintaan kamu yang kedua? Ha?"
"Mas Erick, tolong dengarkan dulu. Tolong kita tidak usah saling bertemu lagi. Jika nantinya kita bertemu secara tidak sengaja, jika kamu melihatku lebih dulu maka menghindarlah. Hal yang sama akan aku lakukan jika aku yang terlebih dulu melihatmu, Mas."
Ericko menggelengkan kepalanya, dia tidak mau menuruti permintaan itu.
"Jangan semakin menyulitkan keadaanku, Mas."
"Apa sih, Fen? Permintaan kamu itu konyol tahu, nggak? Siapa yang menyulitkan? Kamu sendiri! Sekarang aku tanya sama kamu, apa permintaan itu terlontar sendiri dari hatimu?"
"Ya!" jawab Fennita tegas.
"Bohong!"
"Terserah mau percaya apa nggak, aku tidak memaksamu untuk percaya sama aku. Tapi itulah kenyataannya. Aku memang sudah tidak ingin bertemu denganmu lagi."
Rio masuk saat mereka masih bersitegang. Belum menemukan kesepakatan atas permintaan Fennita itu. Erick memberi kode pada Rio untuk keluar. Sedangkan Fenni menyuruhnya untuk mengutarakan niatnya.
Membuat Rio bingung harus menuruti yang mana. Dia dikejar oleh waktu, sangat mendesak! Hingga akhirnya dia memilih memberitahukan niatannya datang ke kamar Fennita.
"Komandan menyuruh kita untuk balik ke Jakarta. Misi kita belum selesai, Rick," ucap Rio.
Ericko mengangguk, dia tidak ingin berdebat lagi dengan Fennita. Pokoknya dia tetap pada pendiriannya, tidak akan menjauhi Fennita. Malah nantinya dia akan mengunjungi Fennita setiap malamnya. Berbeda dengan Fennita, yang menganggap ini adalah sebuah jawaban dari Ericko.
"Kita bicarakan ini nanti lagi, di Jakarta! Jangan ambil keputusan sepihak!"
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1
Lunas ya guys ..., pada bisa tidur nyenyak nggak nih nanti malam? Kan Mamas Erick sama Mbak Fenni udah baikan. 😁