
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Khotijah senang sekali melihat rumahnya ramai. Dia memeluk Naomi yang sudah pernah ia kenal dulu. Dilan mengenalkan istrinya. Sungguh, dia adalah seorang sosok ibu yang sangat hangat. Bisa langsung akrab meski hanya baru sekali bertemu.
Zul datang membawa sayuran segar dan ayam potong. Ia paham apa yang harus dilakukan sebelum budhenya mengamuk. Ya, Khotijah bukan tipe orang yang senang memerintah. Khotijah berpikir bahwa seseorang harus peka terhadap keadaan.
"Ora ono menthok to, Zul?" tanya Khotijah. (Tidak ada menthok kah, Zul?)
"Mboten enten, Mak. Menthoke nembe liburan," jawab Zul. (Tidak ada, Mak. Menthokny lagi liburan,)
"Gowono ning pawon. Tak masakne ayam karo terong bakar." Khotijah langsung masuk bersama Zul ke dapur. (Bawa ke dapur. Biar aku masak jadi ayam dan terong bakar.)
Fennita, Intan, dan Naomi juga membantu memasak di dapur. Sedangkan para lelaki menyiapkan sesuatu. Dilan dan Rio membantu Erick untuk menyiapkan berkas pindah nikah. Waktu mereka sangat singkat, jadi mereka harus mengurusnya dengan cepat. Rio dan Dilan lebih tahu dokumen apa saja yang dibutuhkan. Menyuruh Ericko melengkapinya.
Setelah lengkap, Rio menyuruh Erick untuk mendatangi RT dan kepala desanya. Berkas sudah selesai diurus dan tinggal mendaftarkannya ke KUA agar mendapatkan surat pindah nikah. Pihak KUA akan memberikan balasan suratnya sekitar tiga hari lagi.
Proses memasak telah selesai, urusan surat menyurat dan dokumen juga sama. Akhirnya mereka berkumpul di meja makan untuk menyantap makanan itu. Khotijah senang sekali dengan kehadiran mereka. Membuat rumahnya tidak sepi lagi.
Naomi ingin sekali mengunjungi Posong. Ya, Posong adalah salah satu tempat wisata yang ada di Temanggung. Erick membiarkan mereka pergi, sedangkan dia membawa Fennita ke tempat saudara-saudaranya dan mengenalkannya sebagai calon istrinya. Fennita merasa tersanjung sekali dengan sambutan dari keluarga besar Ericko. Semuanya sangat hangat kepada dirinya.
"Yang," panggil Ericko.
"Dalem, Mas," sahut Fennita dengan lembut.
"Alah ..., merinding aku dengernya! Pengen buru-buru nubruk kamu! Gemes!" Ericko sangat gemas sekali mendengar jawaban Fennita.
Fennita hanya tertawa. "Telpon mamah, bilang sama mamah, Mas dan ibu datang seminggu lagi. Besok Mas dan ibu antar kamu ke Windusari. Sekalian rembug tua. Sekalian besok ngurus administrasi dari desa. Mungkin Mas akan bolak-balik kesana untuk mengurus pernikahan kita." Ericko menjelaskan hal yang harus mereka lakukan dalam seminggu ini.
"Kamu nggak capek?" tanya Fenni.
__ADS_1
"Nggak, asal kamu selalu support Mas tuh rasanya ringan tanpa beban."
"Pinter gombal ya sekarang?" tanya Fenni menahan senyumannya.
Ericko tertawa dibilang seperti itu. "Kita nikahnya di rumah tahanan, nggak papa kan?"
"Iya, aku juga pengennya dinikahkan langsung oleh papah, Mas."
"Resepsinya mau di Jakarta juga?" tanya Erick. Fennita menggeleng.
"Disini atau di Windusari saja," jawab Fenni mengungkapkan keinginannya.
***
Sesuai dengan jadwal yang sudah mereka bicarakan, Fennita diantar pulang ke Windusari. Pertemuan itu juga merupakan perkenalan dua keluarga. Ericko menguruskan administrasi pindah nikah Fennita. Ya, mereka sama-sama harus mendapatkan surat pindah nikah agar bisa menikah di Jakarta.
Mamah Fennita sangat bahagia mendengar putrinya sudah dilamar oleh Erick. Tinggal selangkah lagi mereka akan sah menjadi suami istri. Akad akan dilaksanakan di Jakarta seminggu setelah lamaran. Dan resepsi akan digelar tiga hari setelah akad nikah yang bertempat di Windusari.
"Profesi baru nih, ye!" cela Intan pada suaminya.
"Ha-ha-ha. Demi mereka, kalau bukan mereka Abang ogah!" bantah Dilan.
"Akhirnya, hmm ..., lega gue melihat mereka di tahap ini." Rio tersenyum melihat kebahagiaan memancar di wajah Fennita dan Erick. Naomi hanya diam dan tersenyum memerhatikan kedua calon pasutri itu.
Pemotretan selesai. Mereka membereskan segala sesuatunya. Tiba-tiba saja fotografer datang dan hendak memulai pemotretan. Membuat mereka bingung, jadi ada dua fotografer? Ini ada yang tidak beres! Ketiga intel itu sudah memiliki firasat buruk akan hal ini. Dilan menjaga ketiga perempuan itu. Sedangkan Erick dan Rio melakukan pengejaran fotografer gadungan.
Siapa lagi ini? Padahal mereka sedang cuti setelah selesai tugas. Apakah ada hubungannya dengan Dion ataupun Alex? Tidak mungkin! Mereka sedang menjalani hukuman mereka masing-masing. Uangpun mungkin mereka tidak punya karena perusahan Sanjaya benar-benar sudah bangkrut.
"Woi!" teriak Rio sambil mengejar.
__ADS_1
Orang tersebut tetap berjalan santai. Dia tersenyum dalam balutan masker hitam itu. Erick mengejar dari sisi lain, tapi saat akan menangkap fotografer itu kakinya dijegal oleh seorang wanita paruh baya. Fotografer itu mulai lari dan membiarkan dua pria itu mengejarnya. Rio berhasil mengejar ketertinggalannya, ia langsung menarik jaket fotografer palsu itu.
Erick membantunya dengan menarik masker dengan kasar. Betapa terkejutnya mereka mengetahui lawannya. Komandan Bambang dan Zumarnis tertawa melihat aksi dua pria itu. Kapanlah mereka bisa sadar bahwa itu bukan lawannya?
"Udahlah capek ngejar! Tahunya Mamah sama Komandan! Hish!" ucap Rio kesal.
"Ya kalian juga aneh! Kapan kalian itu akan sadar mana lawan dan kawan? Tapi aku salut! Alarm genting kalian selalu on! Ha-ha-ha. Lumayan buat melatih fisik!" jawab Komandan Bambang dengan entengnya.
Erick tidak habis pikir dengan dua intel senior itu. Suka sekali mengerjai junior. Dalam masa cuti pula! Mereka kembali ke studio dan disana mereka melihat Dilan sedang asyik mengobrol. Jangan-jangan dia tahu kalau yang menyamar tadi adalah mertuanya!
Dia tertawa melihat Rio dan Erick berwajah masam. Fennita menunjukkan hasil jepretan Komandan Bambang. Sungguh di luar dugaan! Komandan satu ini memang serba bisa. Nyatanya, semua hasil jepretannya bagus semua.
Setelah pemotretan itu selesai mereka kembali ke rumah. Zumarnis senang sekali bisa bertemu dengan adik iparnya. Dia juga merasa betah tinggal di desa. Suasananya sejuk, bebas macet, dan penduduknya ramah.
Hari pertunangan pun tiba. Erick dan keluarga sudah menyiapkan segala sesuatunya dengan matang. Beberapa seserahan mereka bawa. Gemblong, wajik, ladu, jajanan pasar, pisang, tas, sepatu, dan masih banyak lagi. Mereka akan berangkat dari Banyuurip selepas ashar.
Pemandangan serupa tidak berbeda pula di Windusari. Rumah yang biasanya ramai akan pembeli, kini digantikan dengan banyaknya warga yang rewang atau membantu menyiapkan acara pertunangan itu. Membuat Fennita semakin gugup saja menyambut nanti sore. Akankah acaranya bisa berjalan lancar?
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip
Makin dikit nih yang komen. Jadi males mau up! Ayo dong komen!