Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Latar Belakang Kita Sama


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Fennita tersenyum melihat keindahan kebun itu. Asri, segar, dan menyejukkan mata. Warna hamparan hijau itu sangat membuatnya tenang. Merah menyala dari buahnya membuat dia ingin terus mencicipinya.


Khotijah mulai ingin mengenalnya. Seperti layaknya ibu-ibu lainnya, Khotijah juga menanyakan asal usul Fennita. Membuat wanita muda itu sedikit takut saat akan menceritakan tentang papahnya. Bagaimana jika dia langsung diusir ketika menceritakan yang sebenarnya?


"Fenni ..., anak seorang pembunuh, Bu. Dan ..., yang menjadi korban adalah pacar mas Erick, mbak Kalena." Fennita berterus terang pada Khotijah.


Suasana menjadi hening saat ia selesai bercerita. Tangan Fennita tiba-tiba menjadi dingin. Bukan hanya itu saja, kini keringat dingin keluar di dahinya. Khotijah tidak berkomentar apapun tentang ceritanya, membuat dia bingung harus mengambil kesimpulan apa.


"Bu," panggil Fennita lembut.


"Iya, Ibu sudah tahu dari Erick. Kamu anaknya baik Fen, perhatian sama orang, tegas, dan penyayang. Itu yang ibu lihat saat kamu berjalan mendekat ke arah ibu."


Fennita tidak menyangka akan mendapatkan penilaian yang luar biasa dari ibu Erick. "Jadi ..., apa Ibu setuju dengan hubungan kami? Ibu tidak takut nanti ada omongan miring dari tetangga? Fenni dan Mamah nggak pengen nama keluarga mas dan Ibu tercoreng hanya karena masalah papah." Fennita mengungkapkan kegundahan hatinya selama ini.


Dia sudah pasrah dengan jawaban yang akan dilontarkan oleh Khotijah. Dia sudah siap menerima resiko ketika memutuskan membuka hati kembali untuk Ericko. Tapi dia belum menyiapkan hati jika harus terluka kembali. Akankah dia sekuat sekarang? Atau lebih rapuh dari ini?


Entahlah! Fennita masih belum bisa membayangkan harinya tanpa Erick lagi. Dia menunggu jawaban dari Khotijah. Berharap ada restu yang terlontar.


"Fen, Erick pernah cerita ke kamu tentang Ibu?"


Fennita menggeleng. Ericko sama sekali tidak pernah menceritakan apapun tentang keluarganya. Mereka terlalu singkat untuk mengenal satu sama lain. Bahkan saat pengenalan itu belum usai, masalah kembali datang mendera.


"Latar belakang kita sama. Ibu ini sebenarnya anak dari seorang ..., pela cur. Ibu tumbuh di lingkungan yang ..., semua bebas diperjual belikan disana. Ibu bahkan dulu pernah berniat untuk ..., seperti bundanya Ibu. Waktu itu umur Ibu masih sembilan belas tahun. Bertemu dengan ayahnya Erick di sebuah pelabuhan. Dulu, ayahnya Erick dari keluarga konglomerat. Dan posisi Ibu juga sama seperti dirimu, pemikiran kita tidak jauh berbeda. Takut akan adanya penolakan. Tapi kekhawatiran itu sirna ketika Ibu bertemu dengan keluarga besar ayah Erick. Dengan senang hati mereka menerima Ibu dan sama sekali tidak membahas tentang keluarga Ibu. Dari kejadian yang Ibu alami sendiri, membuka pemikiran Ibu bahwa semua orang berhak mendapatkan kesempatan. Entah itu kesempatan pertama atau kedua. Tidak usah terlalu memikirkan ucapan orang lain, tapi bungkam mulut mereka dengan kemampuan yang kita miliki."


Bu Khotijah tersenyum dan menggenggam tangan Fennita. "Ibu merestui siapapun yang dibawa Erick ke hadapan Ibu. Itu artinya bahwa anak Ibu benar-benar sudah serius denganmu, Fen. Kamu anak baik, Nak. Hanya garis takdirmu mengharuskanmu sedikit menderita dan berjuang lebih keras. Percayalah, akan ada pelangi setelah hujan. Lara akan selalu disembuhkan oleh cinta."


Fennita terharu dengan ucapan Khotijah. Dia sangat beruntung bisa mengenal sosok wanita kuat yang ada di sampingnya. Membuka satu lagi pemikirannya bahwa tidak semua yang kita khawatirkan itu terjadi. Fennita memeluk Khotijah begitu saja dan menangis dalam pelukan itu.

__ADS_1


"Ma-makasih ya Bu, makasih sudah mau menerima Fennita. Terima kasih telah merestui kami. Insya Allah, Fenni akan selalu mendampingi mas Erick."


"Sama-sama, Sayang. Tolong jadi istri yang diridhoi Allah. Tolong sama-sama belajar untuk saling menghargai perbedaan." Khotijah menenangkan Fennita.


Ericko datang dengan senyuman bahagia. Dia seakan tahu apa yang telah terjadi disana. "Ibu, ini kenapa calon mantunya nangis?" tanya Erick.


"Fenni nangis gara-gara nggak dilamar dari kemarin-kemarin!" ucap Khotijah asal.


Fennita menghapus air matanya dan tertawa. Erick mengacak-acak rambutnya dan mencium puncak kepala Fennita. Membuat Khotijah memukul pantatnya. Berani sekali dia mencuri-curi kesempatan itu.


"Cuma ini kok, Bu!" seru Ericko.


"Cuma gundulmu! Belum halal juga!" bantah Khotijah.


"Iya deh iya, maaf. Ayo pulang, Erick lapar, Bu! Oh ya, Fennita bawain oleh-oleh buat Ibu tuh di rumah."


Erick dan Khotijah bingung. Kenapa tidak jadi diberikan?


"Memang apa yang kamu bawa?" tanya Khotijah.


"Bukan apa-apa, Bu!" jawab Fennita cepat.


"Bukannya tadi kamu bilang bawa manisan sama buah, Yang?" kata Ericko mengingat ucapan Fenni.


"Ih, kamu sih Mas nggak bilang ke aku kalau punya kebun strawberry. Tahu gitu kan aku nggak beli strawberry!" Fennita memanyunkan bibirnya karena malu dengan buah tangan yang dia bawa.


Khotijah dan Ericko tertawa mendengarnya. Jadi alasan Fenni tidak mau memberikan buah tangan itu karena sama dengan yang Khotijah tanam?


"Berikan ke Ibu, siapa tahu lebih enak, kan?" kata Khotijah mencoba membesarkan hati Fennita.

__ADS_1


"Bahagianya aku sekarang punya dua bidadari. Satu dari Windusari, satu lagi dari Banyuurip. Makin sempurna dah ah gelar aku sebagai pangeran." Ericko tersenyum dan mendongakkan kepalanya.


Khotijah memukulnya dengan sandal. Tingkat kepercayaan diri anaknya sudah melampaui batas wajar. Mereka memutuskan untuk pulang, dan mampir sebentar ke makam ayah Erick. Khotijah membeli bunga mawar dari tetangga dekat kebun miliknya. Fennita menggandeng tangan Khotijah dan meninggalkan Ericko di belakang.


Tidak begitu jauh dari kebun, ada pemakaman umum disana. Khotijah langsung menuju sebuah makam yang sama dengan makam lainnya. Hanya batu nisan yang berbeda, milik suaminya dari awal sudah menggunakan keramik. Tertulis disana nama ayah Ericko, Allard Elbert Edric.


Ericko dan Khotijah langsung tersenyum melihat makam itu. Mereka membersihkan bunga kering yang ada disitu. Khotijah memberikan bunga mawar itu kepada Fennita, menyuruh dia untuk menyiramkannya di atas makam itu. Mereka menaburkan bunga mawar dan putih itu di atas makam. Erick memimpin do'a sebentar lalu mengenalkan Fennita.


"Assalamu'alaikum, yah. Maaf anak ayah baru sempat kesini. He-he-he. Erick datang sama dua bidadari nih yah! Satu milik kita, satu lagi calon Erick. Namanya Fennita yah, cantik tidak? Erick minta restu ayah, seminggu lagi mau melamar dia. Tolong sampaikan sama Allah ya yah, berikan kelancaran atas semuanya. Ayah tenang aja, nanti Erick berikan ibu cucu yang banyak! Biar bisa bantu menghabiskan buah strawberrynya." Erick menyeringai kecil sambil cekikikan.


Khotijah tertawa dan memukul bahu Erick. "Anaknya baik yah, status keluarganya sama seperti Ibu. Ayah tenang saja, Ibu nggak julid kok! Ha-ha-ha. Do'akan mereka yah. We love you, yah!" ucap Khotijah dengan mata berkaca-kaca. Sampai detik ini cintanya tidak hilang sedikitpun untuk almarhum.


Fennita hanya tersenyum melihat dua orang itu bercengkrama begitu dekatnya dengan sebuah makam. Seakan-akan masih ada orangnya disana. Setelah puas bercengkrama, mereka pulang ke rumah.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip


Tenang, up dobel. siapin kebaya! siapa tahu diundang mas Erick

__ADS_1


__ADS_2