
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
David dipanggil oleh penyidik untuk memberikan jawabannya tentang kasus pembunuhan Kalena dan perdagangan senjata ilegal itu. Bukan hanya satu penyidik yang menanyakan hal yang sama. Setiap hari dia berhadapan dengan para penyidik yang berbeda. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah jawaban dari tersangka itu konsisten atau berbeda. Dan jawaban David selalu sama, tidak ada yang berbeda.
Zamroni juga mulai dipanggil oleh penyidik untuk mengulik lebih lanjut tentang perdagangan senjata ilegal itu dan tentang perintahnya untuk membunuh Kalena. Hingga alasan dia membunuh Kalena terkuak dengan sendirinya. Ya, Kalena tahu rencana busuknya bersama Alex. Penyidik sampai geleng-geleng kepala mengetahuinya. Ada mantan calon pemimpin negeri yang begitu serakah, hingga memiliki rencana melegalkan penjualan organ dan lelang jabatan. Berbagai pertanyaan diarahkan untuk Zamroni, termasuk keterkaitan Alex Sanjaya.
Dan Alex, akan diperiksa sebagai saksi. Karena namanya terus menerus disebut oleh David dan Zamroni. Alex memenuhi panggilan dari kepolisian. Sikap santai dan selalu menebarkan senyuman selalu Alex tampilkan di depan umum. Hingga banyak suara yang menyebutkan bahwa Alex adalah orang baik. Pintar dan licik!
Sudah satu minggu sejak penangkapan itu terjadi, Ericko dan kawan-kawannya masih menyusun rencana untuk menjebak Alex agar mau mengakui kebusukannya. Perihal Alex sebagai saksi sudah selesai, dan dia lolos dari jerat hukum yang ada. Pandai sekali dia berkelit, dan mengatakan bahwa yang dikatakan oleh David dan Zamroni semuanya adalah bohong.
Zamroni dibawa menemui Alex yang datang membesuknya, membuat Zamroni ingin memukul wajahnya. Namun, itu tidak dapat terjadi karena tangannya sedang diborgol.
"Pria tua brengsek! Mau apa kamu kesini?" tanya Zamroni dengan amarah memuncak.
Sedangkan Alex malah tertawa mendapati sikap mantan sahabatnya itu. "Aku sudah mengingatkanmu sejak awal, Ericko adalah seorang intel yang akan menjebakmu! Itu salahmu sendiri karena tidak percaya padaku! Bagaimana rasanya tidur di lantai? Pasti dingin, kan? Besok akan aku bawakan kasur empuk beserta bantal gulingnya ke dalam buimu."
Alex meninggalkan Zamroni dengan tertawa senang. Kini langkahnya semakin mudah. Satu lawan sudah tersingkirkan, berikutnya adalah mempersiapkan dirinya menjadi the only one, hanya satu dirinya.
Isnaeni dan Fennita juga mendapatkan panggilan sebagai saksi untuk kasus itu. Mereka menjawab setiap pertanyaan dengan jujur. Mereka sudah bisa menerima kenyataan bahwa Zamroni memang bersalah dalam hal ini. Isnaeni menyuruh Fenni membeli sebuah kue ulang tahun dan membawanya untuk bertemu dengan papahnya. Keinginan menemui Zamroni kemarin harus tertunda karena cibiran masyarakat. Membuat mereka harus menguatkan mental dan hati saat akan keluar rumah. Selain itu, padatnya jadwal pemanggilan sebagai saksi juga membuat ketertundaan tersebut.
Fenni menuruti keinginan mamahnya. Banyaknya toko kue yang menjamur di Jakarta membuat Fenni dengan mudah mendapatkan keinginannya. Dia segera kembali setelah mendapatkan kue itu.
Isnaeni tersenyum melihat suaminya datang menemuinya. "Assalamualaikum, Pah. Maaf baru bisa sekarang jenguknya." Isnaeni mencium tangan suaminya yang diborgol itu.
Dada Zamroni semakin sesak mendapatkan perlakuan yang masih sama dari Isnaeni. Seorang istri yang tetap hormat dan tunduk kepada suami.
"Papah apa kabar?" tanya Isnaeni.
Zamroni tidak menjawabnya, dia menatap dan mengamati istrinya. Terlihat kantung mata yang lelah dan menghitam. "Kamu nangis terus?"
"Bagaimana aku tidak menangis melihat suamiku sedang dirundung masalah? Kalau Papah tanya aku baik-baik saja atau tidak, jujur Mamah katakan, Tidak!"
__ADS_1
Zamroni menghela napasnya. Sepertinya langkahnya benar. Dia memberikan amplop coklat yang sedari tadi dipegangnya. Ada kop surat dari pengadilan agama. Isnaeni segera membuka dan membaca isi surat itu.
"Pulanglah ke orang tuamu. Bawa Fenni bahagia bersamamu. Maaf selama kita hidup bersama aku hanya melukai kamu, Is."
Isnaeni menitikkan air mata bening itu. Tidak menyangka suaminya akan memberinya surat gugatan cerai. "Siapa yang membantu Papah menguruskan hal ini?"
"Teteh,"
Isnaeni dengan mudah merobek kertas itu. "Is?"
"Aku sudah bertekad untuk selalu ada di samping kamu. Sudah lama kita hidup bersama, aku tidak ingin membuat semuanya tambah runyam. Aku ..., terlanjur cinta sama kamu sedari dulu, Pah."
Zamroni tercengang mendapati jawaban istrinya. "Tapi nanti aku hanya memberimu luka."
"Biar kusembuhkan lukaku, karena penawarnya kamu."
Fennita datang dan menyalami papahnya. Dia mencoba menahan air matanya agar tidak tumpah di depan papahnya. Tapi, percuma, buliran bening yang berasal dari netra itu tetap saja lolos tanpa permisi. Fennita memeluk papahnya, pertengkaran yang selalu dilakukannya bersama papahnya, sikap pembangkangnya, dan semua hal buruk yang telah dia lakukan terlintas begitu saja. Membuat suasana semakin mengharu biru.
"Kemarin Papah minta ulang tahun kamu dirayakan, tapi karena ada musibah ini, jadi batal. Sekarang kita rayakan bersama. Kita baca do'a, yuk!"
Fennita dan Zamroni mengangguk. Mereka berdo'a di dalam hati masing-masing. Selanjutnya Fennita meniup lilin itu. Menyalami kedua orang tuanya agar keberkahan tercurah untuknya. Fennita memotong kue itu lalu menyuapi kedua orang tuanya. Masih ada seberkas kebahagiaan dalam suasana prihatin.
Sayang yang dulu menghilang kini hadir dengan sendirinya. Sikap acuh satu sama lain memudar pergi. Mereka menikmati momen kebersamaan itu dengan hati yang bahagia. Hingga waktu menjenguk telah usai.
"Mah, terima kasih telah mau menemani Papah dalam keadaan yang seperti ini. Papah bersyukur menemukan dan memiliki kamu sebagai separuh jiwaku."
"Cie ..., ternyata Papah bisa romantis juga? Ah, Fenni jadi baper, nih!" goda Fenni membuat semburat merah jingga hinggap di pipi Isnaeni.
"Kamu tadi minta do'a apa?" tanya Zamroni pada Fennita.
Fennita tersenyum sembari memeluk lengan papahnya, "Minta supaya Papah bisa kembali menjadi orang baik."
__ADS_1
Zamroni mengecup kening anak semata wayangnya itu. "Terima kasih, besok lagi berdo'a minta jodoh yang baik, yang bisa menjaga kamu, yang bisa melindungi kamu, yang bisa menjaga kehormatanmu. Jangan yang seperti Papah, Fen."
"Iya, Pah. Papah sehat-sehat. Nanti waktu sidang kami akan datang mendampingi Papah."
"Terima kasih, masih mau menganggap Papah sebagai bagian dari keluarga," ucap Zamroni tersenyum tulus.
***
Ericko datang ke rumah tahanan bersama orang tua Kalena. Mereka ingin bertemu dengan Zamroni. Orang yang telah membunuh anak mereka. Membuatnya bertemu dengan Fennita dan Isnaeni di pintu gerbang.
Ericko tetap menunjukkan sikap takdzimnya kepada Isnaeni, yang memintanya menjauhi Fennita. Dia juga memperkenalkan siapa yang bersamanya. Membuat Isnaeni langsung berlutut sambil menangis. Dia meminta maaf atas perbuatan suaminya.
Orang tua Kalena membantunya bangun. Bukan sebuah tamparan atau perlakuan kasar yang diterima oleh Isnaeni, melainkan sebuah pelukan hangat dari perempuan paruh baya seumurannya.
"Kami sudah memaafkan suami Ibu. Kami juga sudah mengikhlaskan kejadian ini. Kami kemari ingin menyampaikan bahwa kami tidak ingin menuntut apapun. Biarlah Kalena tenang. Dan jangan mengungkitnya kembali."
Isnaeni dan Fennita mengucap syukur atas apa yang mereka dengarnya. Pihak keluarga Kalena memilih untuk berdamai dan biarlah pengadilan yang menentukan hukuman. Mereka memilih jalan itu karena tidak ingin mengungkit kematian anak mereka yang sungguh menyayat hati.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1
Sudah gabung di grup chat beloooom? 😁