Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Kucing dan Tikus


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Naomi terjerembab ke belakang karena tertabrak tubuh dua orang pria bertubuh gempal tersebut. Tak butuh waktu lama, dua orang tadi telah membawa paksa Fennita bersama mereka. Intan tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa pasrah menyaksikan kejadian itu.


Fennita meronta-ronta meminta pertolongan, tapi sayang, tak ada yang bisa menolongnya. Rio? Jangan tanya dia kemana. Dia sedang berada di alam bawah sadarnya alias sedang tidur. Andai disana ada Ericko, pasti Fennita akan ditolongnya. Eh, tapi bentar, yakin Ericko bakalan nolong?


Naomi kembali menutup pintu rumahnya dan melihat keadaan Intan. Naomi bertanya pada Intan tentang keadaannya.


"Insyaallah aku nggak papa, Kak. Duh, Fennita bakalan gimana, ya?" Intan mengkhawatirkan keadaan Fennita yang langsung diboyong oleh orang suruhan Zamroni.


"Kita berdo'a saja, semoga Fennita dilindungi Allah ... amiin," ucap Naomi dan diamini oleh Intan.


*****


Fennita seperti tawanan yang dibawa paksa oleh Tuan besar yang menginginkannya. Percuma dia meronta-ronta, hanya akan menghabiskan tenaganya. Akhirnya, dia memilih diam seribu bahasa dalam mobil itu. Dia sangat yakin ini adalah ulah Zamroni.


Fennita bersidekap diam di kursi belakang, malas bertanya akan dibawa kemana dirinya. Sejauh apapun dirinya pergi, pasti akan berhasil juga Zamroni membawanya pulang. Tak lama mobil yang membawa Fennita masuk ke halaman sebuah rumah mewah.


Bangunan yang didominasi warna putih itu memiliki 2 lantai dengan fasilitas super lengkap. Mulai dari gerbang saja sudah dilengkapi sensor yang dapat mendeteksi kehadiran seseorang. Pada lantai pertama terdapat teras dengan dua kursi rotan dan meja bundar di tengahnya.


Fennita dipaksa turun oleh dua orang tadi. Melangkahkan kaki untuk kembali memasuki rumah yang seharusnya menjadi tempat ternyaman untuknya. Tapi, rumah ini bagi Fennita adalah sangkar, jauh dari kata nyaman jika dia berada di dalam sana.


Seorang wanita dengan usia sekitar 49 tahun membukakan pintu untuknya. Menyambutnya dengan senyum bahagia dan pelukan hangat dari seorang ibu. Dia adalah Isnaeni, biasa dipanggil Nyonya Zam, ibu kandung dari Fennita sekaligus istri Zamroni.


"Apa kabar anak kesayangan, Mamah? Kusut sekali wajah kamu, Nak. Kamu sudah makan?" tanya Isnaeni sambil membelai rambut putri semata wayangnya itu. Fennita hanya menggeleng datar untuk menjawab pertanyaan Isnaeni.


Fennita masih beranggapan bahwa Isnaeni lebih membela Zamroni dibandingkan dengan dirinya. Dia merasa kecewa karena Isnaeni tidak berada di pihaknya.


"Ayo makan dulu! Mamah sudah menyiapkan makanan kesukaan Kamu, capcay goreng tanpa kekian." Isnaeni menggandeng anaknya masuk ke dalam rumah. Melewati ruang tamu dan ruang keluarga yang saling berhadapan.


Mereka menuju ruang makan, yang mana ruangan itu langsung berhadapan dengan taman buatan di dalam ruangan. Menambah kesan asri dan menyejukkan jika bisa menikmatinya. Tapi sayang, taman itu tak memiliki arti apapun untuk keluarga itu. Hanya dekorasi mati semata.


Zamroni tengah menyantap makanannya tanpa mempedulikan kedatangan anak semata wayangnya itu. Begitu pula dengan Fennita, wajahnya datar dan bibirnya malas untuk menyapa Papahnya. Fennita duduk di samping Isnaeni.

__ADS_1


Isnaeni mengambilkan makanan untuk anaknya. Menawarkan ingin seberapa banyak porsi makanan itu.


"Biarkan dia ambil sendiri, Mah! Anak nggak tahu diri! Sudah dibesarkan dengan susah payah, bukannya membanggakan keluarga malah membuat masalah terus menerus!" hardik Zamroni menyindir Fennita.


Fennita mendengus kesal. "Sudah, Mah. Fenni gak lapar! Kenyang sama omongan Papah yang seakan-akan menyesal telah membesarkan Fenni. Kalau Fenni bisa milih, Fenni nggak mau punya orang tua seperti Papah!"


"Apa maksud ucapan Kamu barusan, hah?" Zamroni mengudarakan suara serak nan lantang tersebut. Membuat Fennita dan Isnaeni tersentak kaget.


Fennita langsung berlari ke kamarnya yang berada di lantai dua. Dia memilih menaiki anak tangga ketimbang naik lift. Menurutnya, hal itu akan mempercepat langkahnya untuk segera sampai di kamar miliknya.


Zamroni menghentikan makannya. Isnaeni duduk dan menuangkan air putih untuk suaminya itu. Zamroni meneguk air putih itu tak bersisa.


"Papah apa tidak bisa lebih mengalah kepada Fenni? Kasihan dia Pah, setiap keinginannya selalu Papah tentang. Dulu, dia ingin les melukis Papah larang. Dia ingin masuk sekolah hukum tapi Papah kekeuh tak mengizinkannya, dan sekarang Papah paksa anak Kita untuk menikah dengan pria yang tidak ia cintai, Pah," terang Isnaeni yang merasa iba akan putrinya.


"Sudah berani menceramahi ku, kamu?" jawabnya.


"Bukan menceramahi, Pah ..."


Zamroni mengangkat telapak tangannya mengisyaratkan Isnaeni untuk berhenti dan diam. Zamroni meninggalkan meja makan menuju mobil sport kesukaannya. Pergi dengan cepat meninggalkan kediamannya tanpa pamit pada istrinya.


tok-tok-tok


Fennita menoleh ke arah pintu kamarnya, "Siapa?"


"Mamah, Fen,"


Fennita beranjak dari duduknya dan segera meraih gagang pintu itu.


ceklek


Isnaeni langsung menerobos masuk ke dalam kamar putrinya. Meletakkan nampan berisi makanan di atas tempat tidur Fennita. Isnaeni menarik tangan anaknya untuk segera memakan hidangan itu.


"Makanan itu pengen dihabiskan oleh Tuan putri katanya," canda Isnaeni.

__ADS_1


Fennita tersenyum tipis. Lalu naik ke ranjang dan menyantap hidangan itu. Tiba-tiba saja air mata Fennita menetes di pipi mulusnya.


Mengapa dia menangis? Apa karena makanan itu begitu lezat di lidahnya sehingga nikmat syukur tak mampu ia ucapkan kecuali dengan air mata? Atau Fenni masih terhujam sembilu tajam yang menohok relung hatinya karena ucapan Zamroni?


Entahlah. Hanya Fennita yang tahu isi hatinya saat ini. Dan ia enggan membaginya dengan sang Mamah. Percuma, pikirnya.


"Omongan Papah nggak usah dimasukin ke hati, Fen. Papah sedang banyak urusan dan pikiran, urusan kantor yang katanya keteteran karena sekretarisnya mengundurkan diri, urusan pencalonannya nanti di PilPres, dan Papah juga memikirkan Kamu, Fen.


Fennita tersenyum kecut dan menghapus air matanya. Seakan tak percaya dengan ucapan Mamahnya. Jika memang Zamroni peduli dengannya tak mungkin ia akan berkata semenyakitkan itu.


"Mamah minta kamu lebih sabar menghadapi Papah, Nak. Kalian tahu nggak sih? Kalian tuh setiap ketemu seperti kucing dan tikus. Selalu bertengkar, saling memancing untuk menimbulkan permasalahan baru. Kalian nggak capek begitu terus?"


Fennita tak menjawab pertanyaan apapun dari Mamahnya. Isnaeni tahu jika putrinya tengah kecewa padanya. Ia tak bisa berbuat banyak tentang keputusan suaminya. Karena Isnaeni sangat tahu watak suaminya yang tak suka dibantah dan tak suka penolakan.


"Sabar ya, Nak. Mamah selalu berdo'a supaya kamu bisa menemukan kebahagiaanmu suatu hari nanti. Pasti. Bukan sekarang, tapi nanti ada waktunya." Isnaeni mencium kening putri kesayangannya itu.


Fennita telah melahap habis makanan dalam piring putih ceper yang terbuat dari keramik itu. Isnaeni tetsenyum melihatnya. "Mau nambah lagi, Fen?"


Fennita menggeleng lalu meneguk airnya. "Fenni ngantuk, Mah. Bisa tolong beri waktu Fenni untuk istirahat sejenak sebelum Fenni menjadi tawanan Papah lagi?" pintanya dengan tenang dan datar.


Isnaeni hanya menghela nafas berat mendengar ucapan Fennita. Jika dipikir-pikir, memang Fennita lebih pantas menjadi tawanan Zamroni ketimbang disebut sebagai seorang anak.


Isnaeni membawa kembali nampan berisi piring kotor itu. Dalam hatinya ingin menangis melihat nasib putrinya.


.


.


.


**Like


Vote

__ADS_1


Komen


Tip**


__ADS_2