
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Sehari setelah pinangan, Erick memboyong Fenni kembali ke Jakarta. Mereka harus mengikuti kelas seminar calon pengantin, tes kesehatan di puskesmas atau rumah sakit, dan menunggu akad tiba. Mereka sibuk memikirkan urusan administrasi KUA, hingga kadang membuat mereka marah. Untung saja ada para sahabat yang mengingatkan mereka.
Dua hari sebelum akad, mamah Fennita dan Ibu Erick yang ada di desa sudah tiba di Jakarta. Karena akad akan dilakukan di rumah tahanan, maka yang akan ikut masuk hanya beberapa orang. Fitting baju terakhir sudah dilakukan oleh calon pengantin. Zumarnis menghadiahkan mereka sebuah rumah di kawasan Bintaro. Isnaeni dan Fennita sudah mencoba menolaknya, tapi percuma saja.
Isnaeni menyerahkan semua keputusan pada Fennita. Ingin tinggal di Jakarta atau di desa. Ia sadar bahwa kini anaknya akan menjadi milik orang lain. Anaknya harus berbakti dan mengabdikan diri sebagai seorang istri. Matanya menganakan air mata.
"Mamah cuma bisa memberikan ini, Fen." Isnaeni menyerahkan kotak perhiasan pada Fenni.
Fennita membukanya, dia menangis karena mamahnya memberikan kalung emas miliknya waktu kecil. Liontin yang sangat ia suka terpampang jelas di kotak itu. "Berikan nanti untuk cucu Mamah, karena kalau kamu yang pakai sepertinya tidak akan muat di lehermu."
Mereka berdua sama-sama tertawa. "Makasih, Mah. Kenapa Mamah tidak ikut kembali disini? Di Jakarta."
Isnaeni tersenyum. "Mamah lebih nyaman di desa. Jangan terlalu mengkhawatirkan keadaan Mamah. Banyak orang yang sayang sama Mamah, kok!"
Fennita menggelayut manja di lengan mamahnya. Persis seperti waktu ia kecil. Dia yang baru saja dekat dengan mamahnya harus berpisah lagi. Karena memang kodratnya seorang wanita yang telah menikah dan menjadi istri harus mengikuti suaminya.
Erick tidak bisa jika harus meninggalkan Fennita di desa, mengingat pekerjaannya di Jakarta. Erick juga tidak bisa memaksa Isnaeni untuk mau tinggal kembali di Jakarta. Rasa trauma pasti ada. Jadi dia menghormati apapun keputusan calon mertuanya.
"Fen, dengarkan mamah. Nanti kalau kamu sudah menikah, dalam empat puluh hari pertama pernikahan Mamah minta kamu dan Erick nggak boleh berantem. Kalau kamu jengkel nangis aja nggak papa, tapi jangan berantem sama Erick." Isnaeni menggenggam tangan Fennita dengan begitu hangatnya.
Fennita tidak paham dengan maksud mamahnya. Kenapa harus menahan amarah selama empat puluh hari?
"Memang kenapa, Mah?" tanya Fenni.
"Itu karena dalam empat puluh hari pertama, kalian akan sama-sama mengenal satu sama lain. Semua sisi lain dari pasangan kita akan terlihat. Jadi jika nanti Erick membuatmu marah tolong tahan, Nduk. Jika kita tidak bisa menerima dalam waktu sesingkat itu, bagaimana ke depannya?" jelas Isnaeni.
Fennita tersenyum dan paham dengan maksud mamahnya. Saling mengalah adalah inti dari pembicaraan ini. Dia hanya bisa berharap amarah itu akan sirna dengan kelembutan dan kedewasaan.
__ADS_1
***
Hari yang ditunggu-tunggu datang. Hari dimana dua insan akan disatukan oleh kata SAH. Memiliki sebutan baru yang disematkan dalam diri mereka, yaitu suami dan istri. Siap memikul semuanya sendiri. Berjalan beriringan menuju bahtera indah yang disebut rumah tangga.
Mereka tidak pernah belajar tentang ilmu rumah tangga. Proses belajarnya adalah nanti, saat mereka sudah satu atap dan ranjang. Bersiap melepas yang namanya ego, dan memilih bersahabat dengan mengalah. Karena mereka sadar, biduk rumah tangga tidak melulu hal yang indah saja.
Bagaikan meneguk secangkir kopi su su, kita akan disuguhi rasa yang begitu enak. Manis dari gula akan membuat kita menyimpan kenangan mengesankan. Pahit dari kopi menyuguhkan bagi kita belajar menerima susahnya menyatukan dua kepala. Dan gurih dari su su adalah sebagai penyeimbang keduanya.
Zamroni bersiap memakai jas warna hitam yang dibawakan oleh Isnaeni. Hari ini, ia diizinkan untuk memakai pakaian formal dan menggunakan ruang jenguk sebagai tempat berlangsungnya akad. Sungguh miris, menikah di tempat yang notabene dicap masyarakat sebagai rumahnya orang-orang jahat.
Ia akan menikahkan putri semata wayangnya dengan pria baik hati dari Banyuurip, Temanggung. Itu adalah permintaan pengantin. Dia sudah rapi dengan tangan masih diborgol. Duduk di samping penghulu dan berhadapan dengan pria muda yang akan menjadi menantunya.
Penghulu membuka acara, membacakan do'a, dan bersiap melakukan prosesi akad nikah. Ia menyuruh Ericko berjabat tangan dengan Zamroni. Suasana menjadi tegang. Yang bertindak sebagai saksi adalah Komandan Bambang dan paman Fennita.
"Bismillahirrahmanirrahim ..., Ericko Juanda, saya nikahkan dan saya kawinkan kamu, dengan putri saya, Fennita Malik binti Zamroni Malik dengan mas kawin logam mulia seberat lima puluh gram dibayar tunai!" ucap Zamroni sambil menghentakkan tangannya.
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya penghulu pada kedua saksi itu.
"SAH!" jawab kedua saksi secara kompak. Rio, Dilan, dan David ikut menyumbangkan suara mereka dengan keras membantu kedua saksi itu mengucapkan kata sah.
Erick langsung berdiri dan berteriak. "Wohoo ..., SAH!"
Membuat semua orang yang berada disana tertawa mendengarnya. Sebahagia itu ya, Rick! Penghulu membacakan do'a pengantin baru.
"Baarakallahu laka wa baarakaa 'alaika wa jama'a bainakuma fii khoir." Penghulu menyuruh salah satu orang memanggil mempelai wanita keluar dan bergabung dalam majelis akad nikah itu.
Fennita dibawa menemui papah dan suaminya. Isnaeni dan Khotijah memapahnya berjalan perlahan menuju ruang jenguk itu. Penghulu memintanya berterima kasih kepada Zamroni yang sudah menjadi wali nikahnya. Fennita menangis menyalami papahnya.
"Terima kasih, Pah ..., hiks ...," ucap Fennita dengan sesenggukan.
__ADS_1
"Jangan berterima kasih sama Papah, Nak. Ini tugas Papah, semoga kelak rumah tangga kalian selalu dikelilingi kebahagiaan. Jangan menangis, ini hari bahagiamu. Salami suamimu dan minta ridho darinya." Zamroni mengecup kening putrinya.
Fennita membersihkan air mata yang terlanjur menetes dengan spons bedak yang diberikan Intan. Dia beralih menatap Erick. Lalu sama-sama tersenyum. Fennita menyalami Erick penuh takdzim.
Erick memegang puncak kepalanya, dan membacakan do'a setelah akad nikah.
"Bismillahirrahmanirrahim ..., Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltaha 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltahaa 'alaih." Ericko meniup puncak kepala Fenni tiga kali.
Penghulu mempersilahkan Erick mengecup kening istrinya. Karena saking semangatnya, bukan kening yang hendak dia cium, melainkan bibir Fennita. Sontak semuanya tertawa.
"Si pria freezer berubah menjadi pro aktif!" seru Dilan.
Acara akad nikahpun selesai dengan lancar. Semuanya mengucapkan selamat pada Erick dan Fennita. Mendo'akan yang terbaik untuk rumah tangga mereka. Isnaeni dan Khotijah harus segera pulang untuk mengurus segala sesuatu di kampung. Mereka masih ada tradisi 'munjung' alias memberi makanan pada sanak saudara. Mereka berdua pulang diantarkan oleh Naomi dan Rio.
Sedangkan Fennita dan Erick akan kembali besok pagi. Para orang tua memahami apa yang diinginkan oleh pengantin baru itu. Jadi mereka memberikan waktu untuk pengantin itu untuk berduaan.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1