
...โCerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembacaโ...
"Will you marry me?" lanjut Erick.
Fennita terkejut mendengar permintaan Erick. Dia belum siap mendengar kalimat itu. Hatinya masih terlalu gugup menerima kehadiran Erick. Dan sekarang, kebahagiaannya berlipat ganda. Erick melamarnya.
Air matanya kembali mengalir. Kali ini cukup deras, bukan karena sedih, tapi karena bahagia. Lelaki yang ia anggap takkan pernah mungkin dia miliki, kini melamarnya. Meminta hati dan segenap raganya untuk menjadi separuh jiwanya, melengkapi tulang rusuknya.
Fennita merasa dirinya bagaikan dibawa oleh Erick ke nirwana. Berhiaskan pelangi indah dan taman surga. Malam ini, malam paling bahagia untuknya. Gunung Sumbing menjadi saksi bisu permintaan lamaran Erick.
Ia menatap mata Erick, tangisnya semakin pecah saat Erick tersenyum manis melihatnya. Erick masih menunggu jawaban darinya. Bagaimana ini? Bagaimana dengan keluarga Erick?
Waktu terus berputar. Setiap detik Erick menginginkannya. Dia menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan, mencoba untuk tenang. Tapi tidak bisa, matanya terus saja mengeluarkan air mata.
"Hei ..., kenapa malah nangis? Cup-cup, Sayang ...." Ericko menenggelamkan kepala Fennita di dada bidangnya. Setelah sedikit tenang, Fennita menjawab permintaan Ericko.
"Mas kecepetan melamar kamu? Hmm?" tanya Erick sembari menenangkan Fenni.
Fennita mengangguk. Dia masih terlalu terkejut menerima kejadian ini. Kejadian yang sangat membuatnya gembira, hingga tidak bisa mengatakan apa-apa lagi kecuali menangis.
"Ha-ha-ha. Ya udah, sekarang jawab permintaan Mas, dong! Jangan gantungin Mas lagi. Gak enak!"
Fennita melepaskan kepalanya dari dada bidang Ericko. Menghapus air matanya dan mengatur kembali napasnya. Mereka sama-sama tertawa singkat. Erick merapikan rambut Fennita yang berantakan.
"Y-yes ..., kulo tampi lamaran panjenengan Mas!" jawab Fenni. (Y-ya ..., aku terima lamaran kamu, Mas!)
Erick senang bukan main mendengar jawaban itu. Refleks dia memeluk Fennita dan mengucapkan terima kasih atas jawaban itu. Aura kebahagiaan menyebar di sekitar mereka. Erick bernapas lega setelah mengungkapkan keinginannya, bukan sembarang keinginan karena akan mereka jalani sepanjang hidup mereka.
Erick meminta Fennita untuk melepaskan jaketnya. Fennita menuruti keinginannya. Erick merogoh sesuatu dalam jaketnya itu. Kotak kecil warna hitam dengan aksen pita emas, ia sodorkan ke depan Fennita.
"Tolong buka, Yang," pinta Erick pada Fenni.
Fennita mengambil benda itu dari tangan Erick. Benda yang tadi saat mendaki tidak sengaja ia pegang dari saku jaket Ericko. Jadi kotak itu memang untuknya? Apakah isinya? Fennita membukanya.
__ADS_1
Matanya kembali melelehkan air mata. Memang dia patut disebut sebagai 'mata yuyu' alias Cengeng.
Sebuah cincin emas dengan mutiara laut berwarna gold yang ada di tengahnya, sedang bertengger sempurna di tengah kotak itu. Erick mengambil cincin itu, lalu meminta tangan kiri Fennita. Berharap bahwa ukuran yang dia pilih pas di jemari Fennita.
Erick memasangkan cincin itu di jari manis Fennita. Gemuruh hati sudah saling bertemu. Rindu sudah berpulang menemui pemiliknya. Hanya ada bahagia malam ini.
"Seminggu lagi Mas dan keluarga datang ke Windusari untuk memintamu di hadapan keluargamu." Erick mengecup punggung tangan Fennita.
Suasana yang sungguh romantis. Lamaran Erick disaksikan oleh seluruh alam. Romantisasi itu berlanjut ketika Erick menatap dalam mata Fennita. Ia menepis jarak yang ada antara wajah mereka. Mendekatkan bibirnya ke arah bibir Fennita.
Jantung Fennita sudah bisa dipastikan detaknya melebihi orang normal. Membuat dia menjadi sesak napas. Ia memilih memejamkan matanya, tidak berani menatap wajah Erick yang tinggal beberapa senti di depannya. Tangannya meremas kain celana yang dipakainya.
Gugup menghadapi situasi seperti itu. Otaknya masih sempat melontarkan pertanyaan, kira-kira apa yang akan terjadi lima detik ke depan? Dia semakin gugup, bisa merasakan hembusan napas Erick di pipinya. Satu, dua, tiga, empat, lima!
"Hayo ..., lagi ngapain tuh?"
Suara beberapa orang mengejutkan keduanya, hingga Erick terjungkal ke samping. Mereka menoleh ke belakang, ternyata disana Dilan, Intan, Naomi, dan Rio sedang menyaksikan mereka berdua. Habislah mereka setelah ini akan dicecar berbagai pertanyaan.
"Lo mau ngapain tadi, Rick?" tanya Rio memulai proses interogasi.
Fennita menutup wajahnya sambil tertawa karena malu. Mereka semua keluar lagi dari tenda masing-masing. Rio dan Dilan mencebik ucapan Ericko. Mereka dengan jelas melihat bahwa bibirnya mendekat menuju bibir Fennita. Bukan menuju hidung! Bisa-bisanya beralasan yang salah!
"Ternyata pria alim kita bisa lepas kendali ya, Yo?" Dilan ikut meledeknya.
"Iya, mulai pegang tangan, terus berani meluk, eh, yang terakhir ..., mau ngapain tuh?" Intan nimbrung dalam obrolan itu.
Wajah Erick dan Fennita sama-sama memerah dalam suasana dingin itu. Naomi memeluk Fennita dan mengucapkan selamat padanya. Intan juga melakukan hal yang demikian.
"Ternyata dia memang gentleman, Lan. Beneran diajak nikah lho!" seru Rio lagi.
"Ganggu aja sih kalian! Bukannya tadi udah pada tidur? Sana balik ke tenda! Merusak momen indah gue aja deh ah!" ucap Ericko sewot sambil memanyunkan bibirnya.
"Mas, nggak boleh gitu ah!" Fennita memperingatkan Ericko.
__ADS_1
Laki-laki kalau sudah ketemu dengan pawangnya akan bagaimana? Menuruti semua perintah sang pawang. Dan itulah yang sekarang terjadi dengan Ericko. Hingga membuat Dilan dan Rio tertawa.
"Nih udah gue rekamin semua, simpen baik-baik. Jadikan itu sebagai pengingat kalian saat sedang bertengkar. Ingat perjuangan kalian sampai bisa di titik ini. Bukan perjuangan yang ringan untuk bisa mendapatkan maaf dan restu dari orang tua kalian. So, gue berharap semoga kalian bisa berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Dan langgeng hingga nanti ketemu lagi di surga Allah," ucap Naomi sambil memberikan ponselnya pada Fennita.
Fennita sangat terharu. Dia kembali menangis dan memeluk Naomi. "Makasih kakakku sayang!"
"Sama-sama." Naomi menghapus air matanya yang sudah berada di pelupuk matanya. Ia juga terharu mendengar dan menyaksikan sendiri Erick meminta sepupunya untuk menikah dengannya.
"Lan, kalau kayak begini ketahuan siapa yang agresif ya, kan? Ternyata bukan Fennita yang agresif!" seru Rio ingin membuli Erick.
"Iya! Ternyata pria naif ini yang agresif! Fen, hati-hati sama dia! Kalau pas keluar taringnya bahaya!" jawab Dilan mendukung usaha Rio untuk membuli Erick.
"Lo kira gue vampir? Gue mah cool! Yang agresif tuh dia!" Ericko menuduh Fennita.
"Ih, kok aku? Dari tadi pas di Windusari, siapa yang minta nomor lebih dulu? Terus waktu naik dari pos pemantauan tadi, siapa yang mencoba menggenggam tanganku? Terus tadi siapa yang meluk aku duluan? Yang ngecup punggung tanganku tadi juga siapa? Satu lagi, yang manggil sayang juga siapa?"
Semua tertawa mendengar ocehan Fennita. Erick hanya menggaruk tengkuknya kikuk karena semua pertanyaan Fennita memang mengarah ke dirinya. Fennita merasa dirinya lapar, dengan sigap Ericko langsung memasakkan mie untuknya.
"Siap-siap punya satpam pribadi 24 jam, Fen." Naomi dan Intan mengerlingkan matanya, membuat Fennita ambigu dengan makna satpam yang sebenarnya.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1
lunas yes? Oh ya, minta tolong lindungi mas erick di carnaval toon dong. Tukar poin kalian dengan bintang lalu sumbangin buat mas Erick. makasiiiih ๐๐๐๐