Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Rasa Takut


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Erick ingin berteriak, tapi cekikan David sangat kuat. Hingga dia mulai kehabisan napas. Dia mencoba menendang tubuh David tapi tetap tidak bisa. Tubuhnya mulai melemas, saat akan menyerah tiba-tiba saja ada tendangan keras yang mengenai punggung David.


Bugh!


Akhirnya cekikan itu terlepas dari leher Erick. Komandan Bambang berada di belakang tubuh David, langsung mengangkat tubuh itu dan mencekik lehernya. Komandan Bambang menunjukkan taringnya. Dia sudah dikuasai oleh amarah.


"Junior tidak tahu balas budi, kau! Kami sudah menolong dan menampungmu! Itu balasanmu kepada kami? Ha?" tanya Komandan Bambang dengan emosi yang memuncak.


Erick segera bangun dan mencoba menjauhkan komandannya dari tubuh David. Jika tidak, maka akan bisa dipastikan bahwa David akan tewas.


"Ingat, Ndan! Dia adalah kunci gembok yang akan membantu kita!"


"Dia tidak akan membantu kita, Rick! Sekali pengkhianat tetap pengkhianat!" jawab Komandan Bambang sudah tidak peduli lagi.


Erick tetap berusaha menjauhkan tubuh besar komandannya, "Anda akan kehilangan kesempatan untuk mengungkap sebuah kejahatan besar, sebuah kasus yang selalu membuat Anda pening dengan semuanya, yang menelan banyak korban! Apa Anda akan membiarkan banyak korban yang berjatuhan lagi?"


Akhirnya Komandan Bambang mau melepaskan cekikannya di leher David. Membuat David langsung jatuh terduduk dan lemas. Erick mencari keberadaan Dilan dan Rio, ternyata mereka sudah tidak di basecamp. Pantas saja David bisa leluasa masuk ke dalam kamarnya.


Dia memberikan air minum untuk komandannya dan meminta agar mengontrol emosinya. Kenapa David sampai bisa melakukan hal itu? Apakah dia memang benar-benar ingin membunuh Ericko?


Komandan Bambang memilih menyalakan sebatang rokok di luar gedung. Dia meninggalkan Erick dan David. Kesempatan bagi Erick menanyakan alasan perbuatan David barusan.


"Kenapa tidak pakai pistol kalau mau bunuh aku?" tanya Erick.


David hanya menyeringai kejam, "Kenapa kamu melakukannya?" tanya Erick lagi.


Dia mencecari David dengan begitu banyak pertanyaan. Seperti siapa yang menyuruhnya, apa alasannya, kenapa dia yang diincar, dan masih banyak lagi. Namun, sebuah isakan tangis yang ditangkap oleh gendang telinga Ericko.


David sedang menangis, entah apa yang membuatnya menangis. Membuat Ericko diam dan memberinya waktu untuk meluapkan emosinya. Jarang sekali dia melihat ada pria menangis.


"Percuma aku hidup! Aku akan terus dibayangi oleh kematian! Aku harus membunuhmu dan semuanya agar setelahnya aku bisa hidup tenang tanpa ada rasa takut yang bisa membayangiku! Semuanya!"

__ADS_1


Ericko tertawa mendengar jawaban David, "Apakah setelah kamu membunuhku dan semuanya kamu bisa hidup tenang? Kamu akan terus menjadi incaran kematian! Maka persiapkanlah dirimu untuk menyambut hal itu," jelas Erick sangat tegas dan bermakna.


Ericko menuju meja di kamar itu. Mencari sesuatu di tumpukan buku-buku lainnya. Dia mendapatkan apa yang dicarinya. Buku Tuntunan Solat dan mengambil Al-quran yang dilengkapi pengucapan latin, terjemahan, dan tajwid. Lalu dia memberikannya pada David.


"Hanya itu yang bisa aku bantu. Coba dekatkan dirimu kepada Allah. Itu akan membuatmu lebih tenang. Gunakan kamar Rio untuk menenangkan dirimu. Jodoh, rezeki, dan umur adalah rahasia ketetapan Allah. Kita semua akan mengalami kematian, itu adalah hal yang pasti. Seharusnya yang kita khawatirkan adalah bekal apa yang sudah kita punya? Sejauh apapun kamu lari, jika sudah saatnya kamu bertemu dengan hal itu, maka kamu tidak akan bisa menghindarinya," jawab Erick.


Rasa takut akan tertangkap dan dibunuh telah meracuni pikiran David untuk membunuh semuanya agar dia bisa hidup tenang. Sangat kontras dengan pemikiran Komandan Bambang yang sepertinya berpikiran bahwa David dibayar oleh seseorang untuk menghabisi nyawa anak buahnya.


David bangkit dan menuju kamar Rio. Erick memberikan kamar itu karena hanya itulah kamar yang tidak menyimpan barang berharga. Kamar yang jarang dipakai oleh Rio. Erick mencari keberadaan Komandan Bambang tapi tidak bisa menemukannya. Akhirnya dia memutuskan untuk membersihkan dirinya dan sholat terlebih dahulu.


Selesai sholat, dia langsung menuju dapur. Sekarang perutnya terasa lapar, cacing di perutnya minta diberikan asupan nutrisi. Dia melihat isi kulkas yang ternyata tidak ada apa-apa disana. Membuatnya menggaruk tengkuknya, bingung apa yang mau dimakannya. Dia malas untuk keluar dan mencari makanan.


Komandan Bambang kembali dan duduk di sofa. Erick menghampirinya dan menceritakan alasan David melakukan hal itu.


"Dasar junior bodoh!" ucap Komandan Bambang dengan senyuman kecut.


"Ndan, lapar nih!" kata Ericko terdengar lemah.


Komandan Bambang langsung menempelkan ponselnya di telinganya.


Komandan Bambang mencari nomor telepon seseorang. Lalu kembali menempelkan ponsel itu ke telinganya. Sayangnya panggilan itu diabaikan. Ericko mengernyitkan dahinya dan bertanya menggunakan dagunya, seperti sedang bertanya siapa yang komandan telepon?


"Anak ku, dia lagi kerja. Mungkin belum pulang ke rumah. Karena tadi kau bilang lapar, aku jadi teringat padanya. Kan kasihan kalau sampai belum makan," tutur Komandan Bambang.


Erick menepuk jidatnya sendiri. Bodohnya dia! Mengira bahwa Komandan Bambang menghubungi anaknya untuk membawakan makanan ke basecamp, atau menyuruhnya mengorderkan sesuatu dari restoran. Ternyata, ternyata dia salah ..., salah ..., sangka kepadanya!


Erick menjadi teringat soal anak Komandan Bambang. Mumpung sedang membahas anaknya, maka Erick hendak menanyakan siapa keluarga Komandan Bambang. Belum sempat pertanyaan itu terlontar dari mulut Erick, Komandan Bambang sudah berpamitan pulang padanya.


"Dah lah! Aku balik dulu. Lain kali kunci kamar saat tidur! Untung aja aku tadi punya firasat buruk tentangmu. Hampir saja aku kehilangan batu akik berhargaku," kata Komandan Bambang berjalan menuju pintu.


"Ndan ..., siapa nama anak, Komandan?"


"Kenapa? Kamu mau sama dia? Nggak usah, aku nggak sanggup punya mantu yang gantengnya melebihi aku. Kalah saing nanti!"

__ADS_1


"Berarti anak Komandan cewek, dong? Namanya siapa?"


"Ih! Kepo ..., nggak usah ngincer anak ku. Dia udah punya gebetan, kau sama Fennita saja. Aku lihat kau makin getol menggodanya. Kenapa? Sudah kecantol kau?"


Ericko berdecak sebal, "Batu akik siapa lagi?"


"Kau lah! Siapa lagi! Kalau aku kan remahan berlian, kalau kau batu akik lah!"


Ericko menyesal menanyakan perkara batu akik pada komandannya. Banyak sekali julukan yang diberikan Komandan Bambang padanya.


"Ndan! Siapa nama anaknya Komandan? Siapa tahu di jalan ketemu kan bisa saling nyapa?" teriak Ericko.


Komandan Bambang sudah menghilang di balik pintu. Membuat bibirnya manyun karena kesal. Teka-teki tentang Komandan Bambang sangat sulit dipecahkan. Banyak pertanyaan muncul kembali di otaknya. Membuat cacing yang ada di perutnya semakin menggeliat membutuhkan asupan energi lagi.


"Jadi makin laper deh, ah! Sebel gue! Mana ... lagi para kunyuk itu? Kalau gue keluar, David siapa yang jagain, dong?" tanya Ericko pada dirinya sendiri.


Pintu terbuka kembali membuatnya terlonjak kaget. Komandan meringis dengan sangat lebar. "Dia nggak bakalan berani kabur! Sana makan malam sama Fennita! Biar makin lengket kayak lem tikus!"


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip


Tenang sodara, Mas Erick diamankan oleh Komandan Bambang kesayangan kita. Othor mau tidur dulu, tadi malam ada lahiran jm 1 malam.

__ADS_1


😪😪😪


Eh, lupa! Kan othor harus kerja! Tangi tangi tangi! Rak sido turu! 😝


__ADS_2