
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Komandan Bambang kembali menghilang di balik pintu. Ericko melangkahkan kaki menuju kamarnya sambil mengomel. Bagaimana bisa Komandan juga tahu ucapannya barusan?
Dia mulai melihat sudut ruangan basecamp itu. Jangan-jangan basecamp mereka memang dipasangi alat penyadap dan kamera ccvt super mini oleh Komandan Bambang. Ericko ingin sekali memeriksa seluruh ruangan itu. Tapi sayangnya, perutnya benar-benar minta diisi.
Akhirnya dia segera berganti kaos hitam dan celana jeans warna biru terang. Menyisir rambutnya agar terlihat segar dan rapi. Lalu memakai sedikit parfum agar wangi. Tidak lupa mengambil jaket berwarna hijau lumut yang tergantung di belakang pintu kamarnya.
Dia berjalan menuju kamar Rio dan mengetuknya. David enggan keluar, jadi hanya terdengar sahutan saja dari dalam kamar.
"Aku mau keluar cari makan. Kalau mau kabur, silahkan. Palingan kamu jadi bulan-bulanan anak buah Alex dan Zamroni." Ericko tidak menunggu jawaban dari David.
Dia langsung keluar dari basecamp dan menuju mobilnya yang terparkir di tepi jalan raya. Suasana sudah sangat gelap. Dia mencari tempat makan yang sepi, tapi tidak kunjung menemukannya. Semua tempat penuh dan ramai, membuatnya semakin kelaparan dan masih harus bersabar.
Dia menepikan mobilnya pada warung makan lesehan. Menyediakan menu khas Lamongan, seperti ayam, bebek, tempe, tahu, petai, dan terong goreng. Pengunjung terhitung ramai, sampai tempat untuk dudukpun sepertinya tidak ada. Saat sedang memesan makanan, matanya menangkap sosok Dilan dan Intan yang sedang makan sambil tertawa.
"Dasar buaya! Disini dia rupanya!" Erick berjalan mendekati arah duduk Dilan dan Intan tanpa melihat sekitar.
"Enak ya pacaran dimari! Lo kebangetan banget sih Lan, temen lagi sakit juga teganya nggak ninggalin makanan!" cecar Ericko pada Dilan.
Yang dimarahi hanya tertawa senang. Fennita yang berada di sebelah Intan langsung ingat pesan bibinya. Dia langsung menyalakan mode kalem agar Erick terpesona melihatnya.
"Santai dong, ah! Lo nyusulin kesini karena tahu Fennita sama kami?" tanya Dilan.
Membuat Ericko langsung menoleh pada gadis di sebelah Intan. Gadis yang mengenakan kaos lengan panjang model rajutan berwarna hitam, dipadukan dengan dandanan yang natural dan rambut yang diikat ala-ala amburadul.
Membuat dia seketika langsung diam, "Dah lah, gue balik ke mobil. Nggak ada tempat duduk juga disini," kata Ericko malu karena berteriak di keramaian seperti sedang di hutan saja.
Kenapa dia mesti malu? Malu sama siapa sih sebenarnya? Fennita? Atau pengunjung lain?
Dilan dan Intan membiarkan Ericko pergi, Fennita cepat-cepat menyelesaikan makannya. Dia meninggalkan Intan dan Dilan mencari keberadaan mobil Ericko.
Saat yang tepat, Ericko sedang menerima pesanan makanannya. Dia langsung masuk ke mobil dan duduk di samping Ericko.
"Kalau kelaparan kenapa nggak minta tolong buat nganterin makanan, sih? Kamu itu baru sakit, lho." Fennita membantu menata makanan itu di atas dashbor mobil.
"Minta tolong siapa? Dilan aja udah hilang waktu aku bangun tidur."
Fenni menyentil dahi Erick, membuat Erick langsung melotot ke arahnya. "Kenapa nggak minta tolong aku? Ya ..., meskipun kita hanya pura-pura kan nggak ada salahnya minta tolong anterin makanan."
"Aku nggak mau merepotkan kamu. Udah, nggak usah dibahas. Aku beneran laper nih!"
Fennita tersenyum, "Ya udah, makan dulu."
Dia membiarkan Ericko menyantap makanannya. Dia menyalakan musik di mobil Erick dan sedikit menaikkan volumenya. Lagu yang terputar adalah milik Armada, dengan judul mabuk cinta.
Fennita bersedekap di depan dada sambil memandang lurus ke depan. Meresapi setiap kata yang membentuk sebuah bait dari lagu itu. Erick tersenyum meskipun samar-samar. Entah kenapa lagu itu yang bisa muncul di mobilnya. Dia sudah lama tidak menyalakan musik di dalam mobilnya.
Dia membuat tidurku tak nyenyak,
__ADS_1
Dia membuat makan pun tak enak,
Kuterpikat pada kehangatan,
Yang selalu dia berikan.
Kurasa 'ku sedang dimabuk cinta,
Nikmatnya kini 'ku dimabuk cinta,
Dimabuk cinta.
"Sambelnya nggak usah banyak-banyak. Ingat, baru masa pemulihan!" Fennita memperingatkan Ericko.
"Iya, cuma dikit nih, liat!"
"Kamu suka lagunya Armada?" tanya Fenni.
Ericko mengernyitkan dahinya, "Armada itu siapa?" tanyanya terbodoh.
"Ha? Yang nyanyi lagi ini tuh bandnya bernama Armada. Kamu nggak suka dengerin musik?"
"Suka, aku sama Kalena sering dengerin musik!" jawab Erick bersemangat.
Membuat Fennita menjadi lesu. Dia tahu nama Kalena, almarhumah pacar Erick. Dia tahu dari Dilan. Dia langsung malas menyalakan musik. Ada rasa yang membakar hatinya. Ada rasa tidak rela saat Erick masih mengingat nama Kalena.
"Kenapa? Kok lesu?" tanya Erick.
"Nggak papa, aku balik ke Intan dan Dilan dulu."
"Emang mereka masih ada? Mana?"
Fennita turun dari mobil dan mencari ke tempat tadi dia duduk bersama Intan dan Dilan. Ternyata memang benar sudah tidak ada mereka berdua. Dia mencari mobil Intan dan Dilan juga sudah menghilang dari tepi jalan. Dia terlalu meresapi lagu milik Armada hingga tidak tahu kepergian teman-temannya.
Erick menghampirinya, "Ketemu?" tanyanya.
Fenni menggeleng pelan dan sibuk dengan ponselnya karena sedang memesan taksi online.
"Ngapain?" tanya Erick.
"Pesen taksi online," jawab Fennita masih sibuk mengutak-atik ponselnya.
Erick merebut ponselnya dan membatalkan pesanan itu. Fenni hanya bisa menghela napas kesal karena Erick.
"Udah dapat pengemudi malah dibatalin! Apa-apaan sih kamu, Mas?"
"Lhah, kan bisa pulang sama aku, kenapa malah pesen taksi online?"
Fennita berdecak dan memberikan alasannya, "Kamu kan lagi sakit!"
__ADS_1
Ericko memang merasa ada sesuatu yang aneh dari Fennita. Toh saat keluar dari rumah sakit dia yang mengantarkan Fenni pulang, kenapa sekarang beralasan hal yang serupa?
"Kamu itu kenapa? Marah? Sama siapa? Aku? Coba ngomong salahnya aku dimana?"
"Nggak, aku nggak marah. Sini balikin hp aku!" Fenni mencoba merebut ponselnya kembali.
Erick menarik kain kaos di dekat pergelangan tangan Fenni. Lalu menggiringnya ke mobil.
"Masuk," perintah Ericko.
"Nggak mau, aku bisa pulang sendiri."
"Bahaya, udah malem. Ayo aku antar," jawab Ericko membuka pintu mobil itu karena Fenni tak kunjung membukanya.
Dengan kesal Fenni masuk ke mobil. Erick duduk di kursi kemudi dan menyerahkan ponselnya. "Pakai sabuknya, Fen."
Fenni menghela napas kembali dan memakai seatbelt itu.
"Aku ada salah?" tanya Ericko.
Fennita ingin berkata iya. Karena dia telah mengungkit nama Kalena. Tapi, segera dia tersadar, Kalena adalah masa lalu yang sangat indah bagi Erick. Tidak mungkin dengan mudah Erick melupakan sosok yang istimewa baginya. Dia juga sadar bahwa kedekatannya sekarang adalah untuk menggagalkan pertunangannya dengan Dion.
Seharusnya dia berterima kasih pada Ericko. Bukan malah marah karena seseorang yang telah diada. Dia segera memberikan jawaban bagi Ericko dengan menggelengkan kepalanya.
"Terus kenapa nolak dianterin pulang?"
"Aku nggak mau merepotkan," jawab Fennita singkat.
"Oke, aku anggap jawaban kamu jujur. Tapi sebenarnya, kamu sedang berbohong. Iya, kan?"
"Ck! Udah deh, kalau masih mau bahas ini menepi! Biar aku pulang naik taksi atau ojek aja!"
Ericko langsung diam memilih mengalah daripada harus melihat Fennita pulang naik taksi.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
Mbak Fenni lagi sensitip! Khusus hari ini double up! Yang satu nanti siang atau malam lah! Pantengim yeah! Jangan lupa sajen buat othor biar tambah semangat nulisnyaaaa. Komen juga biar othor nggak stuck ide.
__ADS_1