Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Jangan Jatuh Cinta Sama Aku!


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Erick mengalah dan memilih diam, sepertinya mood Fennita sedang tidak baik. Dia mencoba mengingat apa yang dia katakan sebelum Fenni mencari Dilan dan Intan. Mereka sedang membahas lagu, oh tidak! Erick baru sadar jika tadi dia mengungkit masa lalunya.


Hmm, begitulah manusia. Seorang pria ataupun wanita tidak akan suka dan tidak akan senang jika orang terkasih mereka membahas masa lalunya. Sebentar, orang terkasih? Bukannya Erick dan Fenni hanya dalam kepura-puraan? Ah! Dia paham! Fenni memang sedari awal sudah melibatkan perasaan yang sesungguhnya dalam rencana itu. Tidak salah jika dia merasa cemburu.


Hal itu membuat Erick semakin takut jika nanti misinya terbongkar oleh Fenni. Akan seperti apa rasa kecewa Fenni terhadapnya? Dia harus bisa menyelesaikan misi ini sebelum perasaan Fenni tumbuh lebih besar terhadapnya.


"Kita mau diem-diem aja, nih? Kan kita lagi latihan jadi pasangan sebelum ketemu papah kamu, Fen," ucap Erick mencari alasan agar Fenni mau bicara padanya.


"Lagi males ngomong, capek," jawab Fenni datar.


"Lagi males ngomong sama aku atau sama semuanya?"


Fenni diam tidak menjawab, Erick mencoba mencari bahan pembicaraan lain. Ah! Dia baru sadar tentang penampilan Fenni. Baju mereka warnanya sama. Rok jeans span yang dipakai Fenni juga warnanya sama dengan celana jeans Erick. Tapi yang membuat Erick kagum adalah Fenni memakai pakaian yang agak tertutup.


Leher Fenni tertutup oleh kerah baju rajut berwarna hitam dengan lengan panjang itu. Ternyata Fenni benar-benar mengikuti ucapannya. Erick mencoba memuji penampilannya, tapi Fennita tetap bungkam. Dia menghela napasnya berat, dia ingin mengakhiri misinya saat ini juga. Karena takut Fenni benar-benar hancur karena dirinya.


"Alhamdulillah sampai rumah," ucap Erick.


Fenni langsung melepas seatbeltnya dan hendak keluar dari mobil. Erick mencegahnya, dia tidak ingin tidur dalam keadaan sedang memikirkan sesuatu. Membuatnya tidak nyaman.


"Kamu kenapa, sih? Kalau aku ada salah, aku minta maaf sama kamu." Ericko menarik kaos bagian lengan Fenni.


Fenni yang hendak turun menjadi semakin sebal karena mobil Erick masih terkunci otomatis. "Bukain pintunya," pinta Fenni datar dan pelan.


"Aku nggak bisa tidur kalau caranya begini, ngomong dulu. Selesaikan dulu masalah ini."


"Emang kita punya masalah?" tanya Fenni.


Erick melepaskan tangannya dari Fenni, dia menghembuskan napas kasar mulai kehilangan kesabaran pada Fenni.


"Kamu cemburu, kan? Ngapain cemburu? Ingat! Kita itu cuma pura-pura! Satu hal lagi, jangan jatuh cinta sama aku! Jangan jatuh cinta sama aku kalau kamu nggak ingin hatimu hancur!"

__ADS_1


Duar!! Emosi Erick akhirnya meledak di hadapan Fenni. Dia sudah tidak tahan lagi dengan sikap Fenni. Berbeda dengan Kalena yang jika mereka sedang ada masalah, pasti mereka membicarakannya dengan kepala dingin. Hingga masalah itu mendapatkan jalan keluar terbaiknya.


Berbanding terbalik dengan Fenni, yang justru semakin menghindari masalah yang ada. Ya, itulah kebiasaan Fenni jika sedang menghadapi masalah. Selalu menghindari masalah yang ada tanpa ingin mencari jalan keluar terbaik. Kabur-kaburan adalah salah satu contohnya.


Wanita adalah sosok yang dianugerahi kelembutan hati. Jadi, jika ada yang membentak pasti itu akan menjadi keretakan hatinya. Mata Fenni sudah hampir menumpahkan cairan bening itu. Dengan suara bergetar dia meminta Erick untuk membuka kunci pintu mobil.


"Tolong, buka pintu mobilnya, hiks ...," pinta Fenni mencoba tidak menangis.


Erick merasa bersalah membuat anak gadis orang menangis. Dia hendak meminta maaf kepada Fenni, tapi tangan Fenni dengan cekatan memencet tombol kunci di sisi kanan pintu mobil. Membuat pintu mobil bisa terbuka dan Fenni segera meninggalkan Erick.


Erick mencoba mengejar Fenni, tapi terlambat. Pintu samping rumah Fenni sudah tertutup kembali. Dia mengacak-acak rambutnya menyesal karena tidak bisa menahan emosinya. Sungguh sangat menyesal! Ada panggilan masuk di ponselnya. Dia segera melihatnya, tertera tulisan Komandan Bambang memanggil.


"Pasti kena hukuman, nih! Huft ..., mata-mata komandan banyak banget sih? Masa iya dia tahu masalah sekecil ini?" keluh Erick.


Dia segera mengangkat panggilan itu. Baru saja memberikan salam, dia langsung menjauhkan ponsel dari telinganya. Dia memutar bola matanya jengah dengan suara teriakan komandannya.


"Sebenarnya Anda itu sedang dimana sih, Ndan? Atau jangan-jangan mobil saya dipasang penyadap, nih!" Erick langsung berjalan menuju mobilnya dan mencari-cari alat penyadap dan cctv mini itu. Dan ternyata benar, alat itu berada di jok mobil belakang. Tepat di tengah-tengah tempat duduk itu.


Dia langsung menuju ruangan Komandan Bambang begitu sampai di kantor orang yang selalu menjaga rahasia itu. Dengan langkah cepat dia sudah berada di dalam ruangan yang ternyata Zumarnis berada di sana. Erick langsung menyerahkan alat penyadap dan cctv mini itu ke Komandan.


"Saya lebih baik mundur dari misi daripada harus dimata-matai seperti ini." Erick hendak berbalik tapi dicegah oleh ucapan dua orang seniornya itu.


"Yakin mau mundur dari misi? Kematian Kalena? Kamu nggak kasihan sama orang tua Kalena?" ucap Zumarnis.


Langkah Erick langsung menjadi kaku mengingat orang tua Kalena, karena bahkan sampai saat ini mereka tidak tahu tentang kematian anaknya. Dia menghela napasnya dan menghadapi dua orang itu. Mereka tetap ingin pada rencana awal, yaitu mendekati Zamroni secara diam-diam.


"Minta maaf ke Fenni, besok jam dua belas kita ketemu di restoran x. Pulang lah, sepertinya kamu lelah. Maaf karena kami menyadap pembicaraanmu. Itu karena jika terjadi apa-apa pada kalian, kami akan mudah membantu." Zumarnis menepuk bahu Erick.


Erick memberi hormat dan berlalu meninggalkan ruangan komandannya. Dia mencoba menghubungi Fennita tapi selalu diabaikan.


"Gini rasanya diabaikan? Nggak enak banget sih! Ayo dong Fen, angkat teleponnya!" geramnya pelan di dalam mobil yang sedang melaju itu.


Sudah lima kali dia menghubungi Fenni, tapi tetap saja diabaikan. Akhirnya dia menyerah, dia melemparkan ponselnya ke atas dashbor. Merasa kesal pada semuanya. Kenapa bisa dia berkata seperti itu. Sepertinya dia perlu yoga untuk menenangkan diri. Atau perlu self healing agar pikirannya benar-benar bisa tenang seperti dulu. Akhir-akhir ini memang perasaannya selalu tidak menentu.

__ADS_1


"Dah lah! Nunggu besok aja minta maafnya. Cewek emang nggak bisa ditebak! Mending gue dikasih soal sandi rumput terus suruh mecahin isi sandi itu, ketimbang minta maaf ke cewek! Gue bilang gitu juga biar nantinya kamu nggak terluka, Fen. Huft ...."


Erick telah sampai di basecamp, dia langsung menuju kamarnya tanpa menyapa Dilan yang sedang tertawa sambil memegangi ponsel di telinganya. Dia langsung merebahkan dirinya sambil miring ke kanan. Mencoba mencari notifikasi di ponselnya tapi tidak ada.


Dia ingat belum sholat Isya', akhirnya dia segera mengambil wudhu dan melaksanakan 4 rakaat itu. Selesai berdo'a, dia kembali melihat ponselnya. Nihil. Tidak ada pemberitahuan pesan masuk atau panggilan masuk.


Dia membuka WA miliknya, mengetik pesan untuk seseorang.


Sedang mengetik ...


Bingung apa yang harus diketiknya. Menyusun kata demi kata untuk menjadi sebuah kalimat. Namun, bukannya dikirim malah dihapusnya lagi.


Sedang mengetik ...


Me : Maaf.


Satu kata yang akhirnya dia ketik di pesan itu.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip


Lunas ya hutang othor?

__ADS_1


__ADS_2