Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Yes!


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Fennita sudah pasrah karena belum bisa mengetahui keberadaan papahnya. Dia sampai menelpon satu per satu hotel yang ada di Balikpapan. Entah dimana papahnya berada. Hingga dia kelelahan dan memilih untuk melanjutkan besok.


Isnaeni sudah terlelap lebih dulu. Matanya memang tidak bisa diajak begadang. Fennita melihat mamahnya dengan tatapan sendu. Lalu dia tersenyum penuh ketulusan.


"Kita pasti dapat jawabannya, Mah. Meskipun itu menyakitkan. Lebih baik mengetahuinya saat ini, daripada kita harus terus hidup dalam pusaran dusta. Fenni sayang sama Mamah, juga sama papah."


Cairan bening itu lolos tidak tertahan dari netranya. Menandakan bahwa dirinya sedang butuh untuk didengarkan. Dirinya sedang butuh untuk ditemani. Tapi, dia memilih untuk menyendiri menyimpan luka yang sudah terlanjur tergores oleh kenyataan.


Dia meletakkan ponselnya di nakas samping ranjang. Memadamkan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur. Saat akan memejamkan mata, ponselnya kembali berbunyi. Dia segera menyahutnya, berharap itu adalah pesan dari papahnya. Tapi dia keliru, bukan kabar yang ingin didengarnya, seorang yang masih bernaung di hatinya yang telah mengirimkannya pesan.


Dia mengubah setelan ponselnya terlebih dahulu. Jika biasanya tanda terbaca adalah centang biru, kini dia mengubahnya hanya menjadi centang dua. Yang artinya terkirim, tapi belum terbaca. Pesan dari Ericko mampu membuat air matanya tumpah lagi. Pesan yang syarat akan keinginan hati, dan ingin segera dituruti.


Mas Erick : Assalamualaikum, apa kabar Fen? Mas harap kamu baik-baik saja. Tolong maafkan kesalahan, Mas.


Dia membiarkan pesan itu. Jujur, dia tidak tahu harus bersikap bagaimana kepada Erick. Di satu sisi, Erick telah membohongi dirinya karena menyamar menjadi anak IT. Di sisi lain, Erick akan mengungkapkan kebenaran yang sangat membawa perubahan besar terhadap papahnya. Beberapa pesan masuk lagi ke ponselnya. Membuatnya mengambil tisu untuk menghapus air matanya.


Mas Erick : Yank


Mas Erick : Mas


Mas Erick : Kangen sama kamu. Masmu, Erick.


Fennita berlari dengan masih membawa ponselnya ke kamar mandi. Hatinya seperti tercabik-cabik oleh kata rindu. Bagaimana tidak? Mereka tidak bisa bertemu untuk saat ini sebelum semuanya menjadi jelas. Sakit tapi tidak berdarah, mungkin adalah ungkapan yang pas untuk Fennita.


"Bukan cuma kamu yang kangen, aku juga, Mas. Tapi kenapa orang itu harus kamu? Kenapa bukan orang lain? Aku juga sama seperti wanita lainnya, tidak suka dengan kepura-puraan dan kebohongan."


Fennita mencoba mengendalikan emosinya. Dia membasuh wajahnya dengan air agar tidak terlihat seperti orang yang baru saja menangis. Dia kembali ke ranjangnya. Lalu memejamkan mata, membiarkan buliran bening itu jatuh di atas bantal.


Isnaeni terbangun tengah malam, mencoba mengecek kembali ponselnya. Memencet nomor suaminya, dan terhubung. Isnaeni tersenyum senang karena sudah bisa tersambung meskipu. tengah malam. Kini, ia berharap semoga saja panggilannya terhubung.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Pah. Ya Allah, Alhamdulillah, Papah kenapa dari kemarin tidak bisa dihubungi?" tanyanya dengan nada penuh kecemasan.


"Aku sibuk, ada apa?" tanya Zamroni di ujung telepon itu.


"Mamah dan Fennita ada di Balikpapan, Fennita memaksa ingin bertemu dengan Papah. Papah di hotel mana? Biar besok kami sambangi."


Zamroni menyebutkan nama hotel tempatnya menginap. Dia menyuruh istrinya untuk datang siang hari setelah urusannya selesai. Dia juga mengatakan kepada istrinya untuk memesan sebuah kue ulang tahun sederhana, agar bisa merayakan ulang tahun Fennita meskipun terlambat.


Isnaeni tersenyum bahagia mendengarkan permintaan suaminya. Ternyata, suaminya begitu perhatian dengan anak mereka. Hingga hal sekecil itu juga terlintas di pikiran suaminya yang sangat sibuk.


"Iya, besok Mamah minta tolong pihak hotel untuk mencari kue ulang tahun. Terima kasih ya, Pah. Karena Papah, sudah sangat perhatian kepada Fennita."


"Sama-sama. Istirahatlah dan temui Papah besok siang. I love you, Is."


Isnaeni tersenyum malu di balik telepon itu. Sudah lama sekali suaminya tidak mengatakan kata-kata romantis itu. Dan malam ini, ia bagaikan dibawa ke nirwana yang dipenuhi oleh samudra cinta.


"Love you too, Pah. Assalamualaikum," pamit Isnaeni hendak mengakhiri telepon itu.


***


Ericko dan Intan sudah siap dengan misi mereka kali ini. Breafing singkat dilaksanakan untuk kelancaran tugas. Semua harapan mereka pikulkan pada dua orang yang akan masuk dan mengikuti forum Red Fox. Dilan mengulangi instruksinya tentang cara penggunaan alat yang telah dirancangnya.


Dia menemukan sebuah cara, yaitu membuat alat yang bisa membuat benda elektronik yang ada di dekat alat tersebut mati secara tiba-tiba. Namun, ada juga keterbatasan yang dimiliki alat itu. Seperti radius yang dimilikinya hanya sejauh satu meter, dan bisa membuat mati selama tiga menit.


Intan yang akan mengoperasikan alat itu sedikit gugup. Dia harus bisa memperkirakan bahwa hanya tablet Om Zam yang bisa berfungsi. Dia juga belum tahu gambaran tempat duduk nantinya seperti apa. Dia hanya berharap semoga semuanya lancar.


Waktu dibukanya forum tiba, Ericko berjalan bersama Intan. Dilan dan Rio berada di titik saklar listrik hotel itu. Menghubungkan beberapa kabel dengan komputernya. Mengirim rekaman ke channel Mbak Nahwa seperti permintaan Ericko.


Anggota interpol lainnya melumpuhkan sebagian penjaga hotel dan menyamar sebagai satpam. Zumarnis mencari keberadaan ipar dan keponakannya dengan bantuan Bambang.


MC membuka acara dengan beberapa sambutan dari punggawa Red Fox. Setelah itu masuk ke acara inti, yaitu pelelangan senjata. Dilan memberi komando bagi Mbak Nahwa untuk segera melakukan live streeming. Ya, acara pelelangan itu disiarkan langsung di channel Mbak Nahwa. Agar semuanya tahu tentang adanya forum yang merugikan negara.

__ADS_1


Zamroni mengincar satu alat, dan saat alat itu mulai dilelang, Intan menjalankan aksinya. Zamroni terkejut melihat kehadiran Intan disana. Tapi, dia tidak mau ambil pusing. Dia tetap fokus demi mendapatkan barang incarannya.


Hampir saja Intan gagal karena ditegur oleh panitia dan dipersilahkan duduk. Hanya beberapa tablet yang bisa bersaing dengan Zamroni. Ericko membiarkan hal itu, tujuannya memang ingin benar-benar menghancurkan Zamroni, jadi kalau bangkrut ya bukan salah dia. Tapi salah Zamroni sendiri yang serakah.


"Yes!" teriak Zamroni senang. Senjata terakhir yang diincarnya berhasil didapatkan olehnya.


Ada seorang panitia yang membisikkan sesuatu pada MC, sehingga membuat sebagian punggawa Red Fox ingin segera keluar dari sana. Tapi terlambat, interpol berhasil mengepung mereka.


"Put your hands up!" Teriak para anggota interpol itu dengan menodongkan senjata. Sebagian lainnya langsung dengan cekatan memborgol semua orang yang hadir di forum itu.


"Kalian tidak akan bisa kabur kemana-mana! Wajah kalian sudah tersebar ke seluruh belahan negara!" ucap Komandan Bambanh dalam bahasa Inggris.


Zamroni ketakutan, asistennya tidak ada di sampingnya. Rekaman suara Zamroni yang menyuruh David untuk membunuh Kalena menggaung di ruangan itu. Membuat yang tidak paham bahasanya mengernyit bingung.


Erick berdiri di depan Zamroni, melepaskan wajah latex yang dipakainya. "Erick?" tanya Zamroni terkejut.


"Yes! Kenapa, Om? Bukannya Om sudah tahu kalau Erick adalah intel? Kenapa masih berani datang kesini? Terjebak oleh ucapan sahabat Om sendiri? Ini adalah balasan kematian Kalena! Semua statiun tv yang terhubung dengan channel Mbak Nahwa menayangkannya!"


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


__ADS_2