
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
"Menjadi tunangan Fennita Malik?" tanya Ericko dengan tatapan bingung pada komandannya.
Komandan Bambang mengangguk dengan senyum lebar. Giginya yang kuning akibat selalu menghisap rokok itupun dia nampakkan dengan ikhlas. Dia berjalan mendekati Ericko dan merangkulnya.
"Anak buahku yang paling ganteng, paling manis, paling cakep, paling buaeek, paling semuanya lah! Hihihi. Kamu itu tidak perlu kaget begitu, misi enak lho ini. Tapi jangan sampe kebablasan ***-***. Hahaha," kata Komandan Bambang senang.
Ericko berdecak, "Kenapa aku, Ndan!"
"Posisi push up!" perintah Komandan Bambang. Ericko dengan malas langsung mengambil posisi push up.
Kesalahan yang baru saja Ericko buat adalah hampir menolak perintah. Kedua, terlalu banyak pertanyaan, padahal dia cuma tanya 'kenapa aku?'. Ericko tidak mau banyak bicara lagi, takut salah dan hukumannya semakin bertambah.
Dalam dunia kemiliteran begitulah mereka diajarkan. Perintah adalah sesuatu yang mutlak adanya. Tidak ada kata penolakan dalam pemberian perintah itu. Jika membantah, siap-siap saja dengan hukumannya.
Itulah yang sedang Ericko alami sekarang. Menyesal dia tadi menolak ajakan Rio untuk segera tidur. Menyesal dia harus membukakan pintu untuk wanita berambut pink itu. Menyesal dia menerima menu yang ada di balik tutup makanan berbahan steinless itu.
Penyesalan datang belakangan, bukan? Percuma saja dia menyesal, toh dia tetap akan menerima dan melaksanakan perintah itu. Pun dengan hukumannya karena protes. Dia menunggu perintah selanjutnya dari Komandan Bambang. Tapi tidak ada kata untuk melanjutkan gerakan push up.
Komandan Bambang mondar mandir di depannya, "Kenapa harus kamu? Karena kamu adalah sang eksekutor! Hihihi. Hmm ... gimana, ya?"
Komandan Bambang duduk bersila di samping badannya. Lalu mulai mengutarakan maksud hatinya.
"Aku kasih satu petunjuk dan tidak akan aku ulangi, misi ini akan membawamu pada jawaban atas kasus kematian Kalena. Sisanya terserah padamu, Rick!"
Ericko melirik komandannya itu dalam-dalam. Membuat Komandan Bambang menyeringai dan cengengesan.
"Maksud aku adalah, kalau nanti kamu beneran cinta ya lanjutin sampe nikah dong, ah! Gitu doang masa harus di kode juga sih? Kamu itu pandai memecahkan kode, tapi kenapa untuk memecahkan kode dari wanita kamu tidak pernah paham?"
Ericko semakin tidak mengerti kemana arah juntrungan pembicaraannya dengan Komandan Bambang. Membuat Komandan Bambang menghela napas berat.
"Fennita itu tergila-gila sama kamu, Ericko Juanda! Kau masih waras, kan? Masih suka wanita, kan?"
"Siap, masih!"
"Nah! Kalau masih, kau lakukan misi ini dengan tuntas."
__ADS_1
"Siap!"
"Dah, istirahatlah. Aku akan mengamankan kunci gembok kita. Dia dalam bahaya. Bye!"
Ericko mencerna ucapan komandannya barusan. Kunci gembok? Siapa? Dalam bahaya? Apa ini sebenarnya?
Belum sempat Ericko bertanya, komandannya sudah hilang tanpa suara. Dia mencari-cari komandannya, tapi tidak menemukannya. Dia mengangkat bahu pertanda tidak tahu. Kembali teringat akan misinya itu.
Menjadi tunangan Fennita Malik? Wanita yang selalu dihindarinya dari awal bertemu karena dia agak risih dengan wanita yang agresif. Ericko lebih memilih wanita yang cuek dan dingin seperti Kalena. Menurutnya, ada tantangan tersendiri dalam menaklukannya.
Dia menghela napasnya, meyakinkan diri sendiri bahwa dia akan berhasil dalam misi kali ini. Namun perasaan ragu kembali menderanya, dia tidak yakin mampu menyelesaikan misi ini tanpa jejak apapun. Karena baru kali ini misinya tentang bermain perasaan.
Bagaimana kalau dia menyukai Fennita?
Bagaimana kalau dia membuat Fennita terluka?
Atau bagaimana jika dia yang terluka karena mempermainkan perasaan?
Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi isi kepala Ericko. Membuat kepalanya langsung berdenyut. Dia mengambil guling yang dipeluk Dilan. Memilih merebahkan diri di sofa dengan posisi telentang dan tangan kanannya menyilang menutupi mata.
Dia berharap semoga terpejam, agar pertanyaan tersebut tidak menggelayutinya. Dia mendesah kesal, bukannya bisa tertidur seperti teman-temannya, pikirannya malah semakin mencuatkan pertanyaan baru.
Tidak mungkin Komandan Bambang sendiri kan?
Lalu siapa?
Apakah dia harus berpura-pura melamar Fennita dengan cara yang sangat romantis dan berkesan?
Ericko memukul-mukul kepalanya sendiri. Jika ada saklar untuk mematikan otak, pasti akan dia lakukan sekarang. Namun sayang, tidak ada saklar seperti itu.
"Ya Allah ... buatlah hamba tertidur .... Jangan memikirkan misi terus, Rick! Masih banyak teka-teki yang belum kamu ketahui! Susun rencana dengan matang dulu. Sekarang ... tidurkan dirimu dulu, sayangi diri sendiri. Karena Ibu jauh, Kalena udah nggak ada. Siapa yang mau menyayangi kamu?"
Ericko meracau tidak jelas pada dirinya sendiri. Lalu mengubah posisinya pada posisi tengkurap. Memejamkan mata berharap rasa kantuk menyerangnya.
***
Komandan Bambang sudah jauh meninggalkan hotel. Kembali menuju Jakarta untuk bertemu dengan seseorang. Perasaannya riang gembira sambil menyetir dan mendendangkan lagu anak gembala.
__ADS_1
"Aku adalah anak gembala, selalu riang serta gembira. Karena aku senang bekerja tak pernah malas ataupun lengah ...." dendangnya dengan senyum lebar.
"Hihihi, kalau begini dari dulu nggak usah sekolah aja! Toh aku tetap jadi anak gembala." Matanya melirik ke arah ponselnya.
Ada panggilan masuk dari agen M. Dia segera menjawabnya dan menyambungkan dengan earphone bluetooth yang baru saja dia pasang di telinganya.
"Ya, aku masih di perjalanan. Tunggu saja. Sepuluh menit sampai. Ei, aku itu merindukanmu, enak saja kau membatalkan janji kita. Sekalian reuni lah! Kau sudah melaksanakan tugasmu?"
Komandan Bambang mendengarkan lawan bicaranya itu dengan seksama. Sesekali mengangguk paham dan sesekali tertawa keras menanggapi panggilan itu.
"Baguslah, aku juga sudah memberitahukan hantu ganteng itu. Kalau memang dugaanku benar, maka semua akan terungkap jelas."
"Ck! Ayo ketemuan ...." rengek Komandan Bambang manja.
"Bilang aja! Bilang kalau kau mau selingkuh sama Daniel Craig!"
"Aku kan mirip Daniel Craig ..., enak saja aku kayak Tukul! Daniel Craig versi Indonesia lho ini."
Terdengar suara tawa yang menggelegar dari ujung telepon. "Ya sudah, kita ketemuan lain waktu saja. Aku sedang dalam penyelamatan mantan agen kita. Ya ..., kau tau dia. David. Serigala malam kesayanganku ternyata masih hidup seperti dugaanku. Dia menjadi pembelot untuk negara kita," ucapnya sedih.
Dia sedang berbicara dengan teman lamanya. Salah satu agen BIN angkatan pertama yang memilih mengundurkan diri saat karirnya sedang melambung. Dulu, mereka sering satu tim. Komandan Bambang terpaksa meminta bantuannya kembali karena ini menyangkut kasus besar.
Kasus yang hampir tiga tahun dia selidiki tapi tidak pernah kunjung selesai karena banyak anak buahnya yang terbunuh ataupun menjadi pembelot untuknya. Dan sekarang dia sedang menuju rumah tahanan di kota x. Bukan tanpa alasan dia mau menyelamatkan David. Salah satu mata-matanya memberitahunya bahwa David akan dihabisi.
Membuat dia harus bertindak cepat untuk mengamankan kunci pengungkap kasus itu. Dia tidak ingin lagi kehilangan kesempatan untuk mengungkap kebenaran yang ada.
.
.
.
Like
Komen
Vote
__ADS_1
Tip