
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Setelah memastikan Erick pergi, mereka masuk ke dalam warung dan berpura-pura memesan menu yang ada. Intan yang bertugas untuk memesan makanan itu, dan yang lain langsung mencari tempat duduk. Mereka memilih yang berada di pojokan. Pemilik warung mengucapkan selamat datang dan mempersilahkan duduk tanpa melihat ke arah pelanggannya.
"Saya pesan mieso setan level tiga ya mbak, lima porsi. Minumnya es teh semua," ucap Intan berdiri di samping pemilik warung yang sibuk meracik mie ayam.
Fennita langsung menoleh mendengar suara yang didengarnya. Dia sangat kenal suara itu. Betapa terkejutnya dia mendapati sosok yang selalu ada ketika dia membutuhkannya. Dia memeluk Intan dengan cepat. Menganakkan air mata di masing-masing netra mereka.
"Intan! Ini beneran, lo? Gue nggak mimpi, kan? Gue kangen banget, sumpah!" ucap Fenni sembari memeluk erat sahabatnya itu.
"Iya ini Intan, sahabat lo, Fen. Lo kenapa menghilang? Lo nggak mikirin gue? Ha?" Intan melepas pelukan itu dan mengomel.
Fennita menghapus air matanya. Mengedarkan pandangan matanya. Naomi berjalan menghampirinya. Dilan dan Rio melambai penuh senyuman ke arahnya. Naomi juga memeluk sepupunya itu. Suasana haru sangat mendominasi keadaan disana.
"Duduk dulu, gue selesaikan pesanan orang dulu. Tadi berapa?" tanya Fenni lagi.
"Lima, level tiga semua, mieso," terang Intan.
Fennita mengernyitkan dahinya. Kenapa pesannya lima? Bukankah mereka hanya berempat? Apakah mungkin ada Ericko? Lalu dimana pria dingin itu sekarang? Jantungnya mulai berdegup tak beraturan. Dia mulai memikirkan kemungkinan yang ada. Jika hari ini adalah takdirnya bertemu Ericko lagi, langkah apa yang harus ia ambil ke depannya?
"Li-lima? Kan ..., cuma berempat? Yang satu ..., siapa?" tanya Fennita penasaran.
Intan dan Naomi saling lirik dan tersenyum penuh arti. Langkah kedua akan mereka jalankan. Mereka akan mempertemukan dua orang itu dengan cara yang natural. Biar mereka saling menyadari kehadiran satu sama lain. Intan menjawab itu karena Naomi ingin dua porsi. Membuat Fenni hanya ber-oh ria.
Intan ingin membantu, tapi dia juga tidak bisa. Tidak tahu caranya meracik mie ayam atau memotong es batu. Fennita menyuruhnya untuk duduk saja. Dia bisa melakukannya sendirian.
Ericko berhasil menemukan mushola di desa itu. Dia langsung mengambil wudhu dan melaksanakan salat dzuhur. Berdzikir sebentar dan hendak menuju warung mie ayam yang katanya viral itu. Dia sendiri tidak tahu kebenarannya. Dia memakai jam tangannya, lalu mulai memakai sepatunya.
Seorang wanita paruh baya duduk di sampingnya dan menyapa. Dia menjawab salam itu dan mendongak. Terkejut? Pasti! Orang yang kemarin ingin ia temui, kini ada di sampingnya. Dengan wajah sumringah ia menyalami wanita itu.
"Apa kabar, Rick?" tanya Isnaeni lembut. Ya, wanita yang bertemu dengan Erick adalah Isnaeni.
__ADS_1
"Alhamdulillah baik, Te. Tante sendiri bagaimana kabarnya? Kenapa pergi dari Jakarta, Te? Fennita mana? Erick minta maaf kalau bikin Tante kecewa. Apa memang tidak ada kesempatan untuk Erick bersanding dengan Fennita? Lalu, kenapa Tante kemarin tidak ada di acara Intan? Apa Tante memang menghindari pertemuan dengan Erick?" cecar Erick memberondong pertanyaan untuk Isnaeni.
Isnaeni malah tertawa mendengar kejujuran yang keluar dari mulut Erick. "Satu-satu tanyanya, Tante bingung. Tante baik, Fenni juga baik. Kami ingin mencari kedamaian. Urusan jodoh Tante pasrahkan sama Allah. Neneknya Fenni jatuh di kamar mandi, membuat Tante khawatir. Makanya Tante pulang mendadak. Tante tidak menghindari pertemuan denganmu, Rick. Dan sekarang, kita ketemu kan?"
Ericko tersenyum mendengar jawaban Isnaeni. Benar dugaannya bahwa di Windusari tidak hanya ada mieso setan. Sahabatnya itu memang perlu dijitak. Bisa-bisanya berita penting itu disembunyikan darinya. Isnaeni mengajaknya untuk pulang bersama. Mereka berjalan beriringan menyurusi jalan.
Isnaeni menceritakan semua hal tentang Fennita. Membuatnya tersenyum bahagia mendengarnya. Setidaknya dia tahu bahwa wanita agresif itu baik-baik saja. Mereka telah sampai di warung mie ayam itu. Membuat Erick tahu alasan dia dipaksa untuk ikut ke Windusari.
"Tante, terima kasih kacang metenya," ucap Erick di depan warung.
"Sama-sama. Sudah kamu makan?" tanya Isnaeni.
Erick menggeleng, dia menjelaskan alasannya kenapa belum memakan kacang mete itu. Dia ingin memastikan terlebih dahulu tentang maksud pemberian kacang mete itu.
"Apa itu artinya Tante merestui Erick dan Fenni?" tanya Erick penasaran.
Isnaeni tersenyum dan mengangguk, "Sana temui dia. Yang ingin kamu temui." Isnaeni mengusap bahunya dan tersenyum penuh arti. Lalu dia meninggalkan Erick untuk melayani pembeli.
Fennita duduk membelakangi pintu masuk warung. Dia bercengkrama dengan sepupu dan sahabatnya. Rasa penasarannya sangat tinggi, hingga ia menanyakan sesuatu pada mereka.
"Kak Nom, itu dua porsi banyak, lho! Emang bisa habis?" tanya Fenni.
Naomi mengangguk, "Nanti kalau nggak habis ada yang siap menampungnya, kok!"
"Siapa?" tanya Fenni lagi.
"Suamiku lah, Fen! Memang kamu pikir siapa lagi?" jawab Naomi.
Fennita memutar bola matanya malas. Tidak mendapatkan jawaban yang diinginkannya. "Bang Rio, dia apa kabarnya?"
"Dia? Dia siapa?" tanya Rio.
__ADS_1
"Ish ..., ya itu! Si pria freezer! Mas Erick!" jawab Fenni sewot.
Erick mendengar pertanyaan itu dengan jelas. Ternyata dia masih diharapkan oleh wanita agresif itu. "Selalu merindukanmu!"
Deg!
Jantung Fenni rasanya sudah berhenti berdetak. Suara itu! Suara pria dingin yang mampu mengusik ketenangan hatinya. Suara yang selalu ingin dia dengar setiap hari. Dia berdiri dan menoleh. Memastikan bahwa telinganya masih normal dan dia tidak sedang berhalusinasi.
Dan itu adalah orang yang ia tanyakan. Erick berhadapan dengannya. Netra mereka saling bertemu. Bibir mereka terkunci. Tubuh mereka membeku. Tidak ada yang bersuara lagi. Tiba-tiba saja air mata Fenni jatuh. Dia segera menghapusnya.
Hati mereka sama-sama bergemuruh hebat. Ingin memeluk, tapi belum halal. Ingin menanyakan sesuatu tapi mulut mereka kelu. Naomi sampai terbatuk-batuk mendengar jawaban Ericko. Baru kali ini dia mendengar Ericko bisa menggombal.
"Hai ..., hai, Mas! Si-silahkan, duduk! Aku bantu mamah dulu. Banyak yang beli. Kamu ..., mau mie ayam? Atau bakso?" tanya Fenni gugup. Dia harus segera berjalan menjauh sebelum kakinya lemas.
"Nom, itu jatahku apa emang kamu pesen dua?" tanya Erick tidak yakin Naomi bisa makan banyak.
"Pesen lagi aja, Rick! Enak ternyata, aku mau nambah!" jawab Naomi.
"Samakan kayak mereka aja," kata Erick pada Fennita.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip