Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Masuk Rumah Sakit


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Acara makan siang mereka telah usai. Ericko sudah mendengarkan semua tentang Fennita dan keluarganya. Begitu pula sebaliknya. Waktu menunjukkan pukul satu siang. Terik matahari sangat terasa membakar kulit saat mereka keluar dari area restoran. Bahkan di dalam mobil pun terasa sangat panas. Mereka sepakat untuk pulang karena karena malas untuk bepergian ke mall yang menjamur di Jakarta.


Ericko mengantarkan pulang Fennita ke rumahnya. Tapi, Fennita sebenarnya masih ingin bersama Erick. Karena pesan bibinya, dia harus merelakan kesempatan untuk berdua dengan Erick. Berbeda halnya dengan Erick, entah kenapa rasa canggung dan gugup itu menyerangnya. Dia perhatian sekali dengan Fenni, hingga membukakan pintu mobil untuk Fenni.


Bukankah itu hal yang istimewa?


Jelas istimewa! Terutama untuk Fennita.


Apakah ini bagian dari taktik Erick?


Entahlah! Hanya Ericko sendiri yang tahu akan hal itu. Ericko juga segera masuk dan duduk di kursi kemudi. Dia merasakan hal yang semakin aneh di tubuhnya. Dia mencoba menyembunyikannya dari Fennita. Dia mulai melajukan mobil ke jalan raya, bergabung dengan mobil lainnya dan saling menyapa dengan kemacetan.


Sekarang lambungnya bergejolak, ingin mengeluarkan sesuatu yang telah dimakannya. Seperti orang yang masuk angin, sekarang Ericko benar-benar ingin muntah. Dia menahan sebisanya karena tidak enak dengan Fennita. Keringat dingin tiba-tiba berdesakan keluar dari pori-pori kulitnya. Jalanan dalam keadaan macet, sehingga tidak memungkinkan dirinya untuk turun dari mobil.


Dia sudah tidak kuat lagi, dia meminta bantuan dari Fennita untuk mengambilkan plastik di dashbor mobilnya.


"Fen, tolong ambilkan plastik hitam disitu," pinta Ericko yang sudah berwajah pucat pasi.


Fennita yang saat itu sedang bermain ponsel langsung menatapnya. Melihat wajah pucat pasi Ericko dengan keringat yang sudah banyak.


"Kamu kenapa, Mas?" tanya Fennita.


"Ha? Nggak papa, kok!"


Fenni tidak yakin dan tidak percaya dengan ucapan Erick. Jelas-jelas dia melihat wajah Erick pucat pasi. Keringat dingin berlomba keluar dari wajah dan tangan Erick. Dia dokter, dia pernah mengenyam sekolah yang notabene ilmunya untuk mengobati orang sakit. Jadi dia tahu bagaimana respon tubuh ketika menghadapi penyakit yang masuk.


"Ih, bohong! Kamu kenapa?" paksa Fenni sambil mencari plastik yang dimaksud. Ericko sudah tidak tahan lagi. Dia segera melepas seatbeltnya dan keluar dengan tergesa-gesa.


Erick langsung memuntahkan isi perutnya. Fenni langsung bergeser ke kursi kemudi dan melajukan mobil karena suara klakson mobil belakang mengganggunya. Dia menepikan mobil ke indimirit dan segera menghampiri Erick. Membantu memijit tengkuknya dengan sepenuh tenaganya.


Tubuh Erick menjadi lemas karena berhasil mengeluarkan semua isi perutnya. Erick duduk bersandar pada sebuah pohon besar. Fenni menghapus keringat dan bibir Ericko dengan tisu. Membuat ada seperti aliran listrik hangat di hati Ericko.


"Makasih," ucapnya sambil terengah-engah.


"Kamu kenapa? Sakit?"


Erick mengangguk, "Ayo aku antar pulang," kata Ericko.

__ADS_1


"Biar aku yang nyetirin, bisa jalan sendiri? Apa mau aku bantu?" jawab Fenni.


"Nggak usah, kesenengan kamu kalo memapah aku jalan!"


Fenni tertawa mendengarnya. "Ya sudah kalau begitu! Ditolongin malah mikirnya jelek."


"Emang kuat mapah aku? Gih coba kalau bisa bantu!" tantang Erick.


Fenni mencoba menarik tangan Erick. Bukannya terangkat malah dirinya yang terhuyung hingga jatuh ke atas badan Erick. Mata mereka saling bersitatap dengan jarak minimal. Dada mereka tiba-tiba dipenuhi gelenyar rasa yang sungguh membuat mereka mabuk kepayang. Mengaduk-aduk perasaan mereka.


Erick segera sadar dari keadaan itu, "Tuh kan, aku bilang juga apa? Sok kuat sih!"


Fenni segera bangkit dan merapikan dressnya. Erick berusaha bangkit dengan sisa tenaganya. Dia berjalan dengan pelan karena memang badannya lemas sekali. Fennita menjaganya dari belakang, takut jika Ericko jatuh pingsan.


Tuh, Rick! Lihat perhatian yang ditunjukkan sama Fenni. Coba beri kesempatan untuk dia masuk dalam hatimu. Dia sudah mengetuknya berkali-kali!


Erick hendak duduk di kursi kemudi tapi dicegah oleh Fenni. "Kamu duduk di samping kiri saja, Mas. Biar aku yang menyetir."


Ericko menuruti perintah Fennita tanpa ingin membantahnya. Fennita mencari jalan lain untuk menghindari kemacetan. Dia harus membawa Ericko segera ke rumah sakit.


"Kita mau kemana, Fen? Ini bukan arah jalan rumahmu." Ericko begitu lirih mengatakannya.


"Kamu demam, Mas. Kamu kayak orang kecapekan dan dehidrasi tahu nggak, sih?"


Ericko tertawa kecil, "Sok tahu kamu! Emang kamu pernah ngobatin orang sakit? Bukannya kamu dokter jadi-jadian?" canda Ericko.


Fennita sedikit kesal dan sakit hati karena ucapan Ericko. Dia memang tidak bekerja setelah lulus kuliah kedokteran, tapi bukan berarti dia tidak tahu apa-apa tentang ciri-ciri suatu penyakit. Dia hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Ericko.


Mereka telah sampai di rumah sakit, Ericko langsung dimasukkan ke ruang IGD. Dilakukan pemeriksaan oleh dokter umum dan dilakukan beberapa pemeriksaan laborat. Fennita mendaftarkan Ericko, dan meminta pelayanan kamar VIP. Bukan apa-apa, itu agar Ericko bisa beristirahat dan segera pulih.


Dia segera memberitahu Rio tentang keadaan Ericko.


Me : Bang, Mas Erick masuk rumah sakit!


Bang Rio : Kenapa?


Me : Nggak tahu, tadi di jalan muntah, badannya panas


Bang Rio : Oh, ya sudah. Tolong jagain dia ya? Aku lagi senam bersama

__ADS_1


Me : Senam?


Bang Rio : Anak kecil belum boleh tahu! Pokoknya jagain dia dulu!


Fennita mengangkat bahunya tidak mengerti maksud Rio. Erick segera dipindahkan ke ruang perawatan. Dokter menjelaskan bahwa Erick hanya mengalami kelelahan dan ada peradangan di tenggorokannya. Membuat badannya panas dan perutnya juga kembung.


Erick terpejam di atas bed pasien dengan begitu tenangnya. Membuat Fennita tersenyum melihat hal itu. Mencuri beberapa foto wajah Erick yang memang begitu menawan baginya.


Fennita menjadi mengantuk. Dia memilih tidur di kursi samping bed Erick. Memberanikan diri memegang tangan yang besar dan lebar milik Erick. Matanya juga mengantuk karena perutnya sudah kenyang. Dan akhirnya dia tertidur.


Entah berapa lama Erick tertidur, sekarang badannya sudah agak mendingan. Dia melihat Fennita tidur sambil memegangi tangannya. Entah apa yang membuatnya tersenyum, tapi sudut bibirnya terangkat melihat Fenni tertidur dengan cantiknya.


Refleks tangannya mengelus-elus punggung tangan Fennita. Membuat Fennita terbangun dan gelagapan saat tahu Erick sudah bangun dan dia masih setia memegangi tangannya.


"Maaf," ucapnya sembari melepaskan tangan Erick.


"Hmm ..., it's okay. Apa kata dokter?"


"Kamu kelelahan dan ada peradangan," jawab Fenni singkat.


"Itu yang bilang dokter rumah sakit, kan?"


Fennita mengernyitkan dahinya. Apa maksud ucapan Erick? Oh, dia baru ingat kalau Erick menganggapnya dokter jadi-jadian. Membuat hatinya kesal kembali.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip


Pemenang give away, sudah kah kalian menerima hadiahnya?

__ADS_1


__ADS_2