Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Dion


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Alex tertawa senang di atas penderitaan Zamroni. Dia tega menjebak sahabatnya sendiri untuk mendapatkan tujuannya. Tujuannya adalah menyingkirkan orang yang akan mengungguli kekayaannya. Apakah dia masih layak dan pantas untuk disebut sebagai seorang sahabat?


Dia tidak pantas disebut sebagai sahabat. Malah lebih pantas diberikan gelar sebagai sampah masyarakat. Tukang adu domba demi mendapatkan keinginannya. Hidupnya memang sudah dirajai oleh ketamakan akan harta dan tahta.


Dion masuk ke ruangan papahnya, bingung dengan isi wawancara eksklusif tadi. Bagaimana tidak? Alex terkesan memang menjatuhkan Zamroni di mata masyarakat. Bukan malah memberi pembelaan sebagaimana mestinya yang dilakukan oleh seorang sahabat.


"Pah, kok Papah nggak belain om Zam?" tanya Dion duduk di sofa berwarna hitam itu.


Alex tersenyum kejam mendengar pertanyaan anaknya. "Dia tidak pantas untuk dibela. Biarkan saja dia membusuk di penjara. Aku tidak akan membantu apapun. Berhentilah mengejar cinta Fennita! Cari wanita lain," perintah Alex.


Pastinya hal itu mendapatkan penolakan dari Dion. Dia teramat sangat ingin cinta Fennita. Sudah terlanjur cinta mati terhadap wanita itu. Terobsesi memiliki cintanya.


Hal itu membuat Alex marah. Dia marah karena permintaannya dibantah, meskipun itu oleh anaknya sendiri. Ini bisa saja merusak rencana yang telah disusunnya untuk menyingkirkan Zamroni. Bukan hal mudah untuk menyusun rencana ini, dia sangat berhati-hati dalam bertindak. Dan ketika kesempatan untuk menyingkirkan itu datang, maka dia tidak akan menyia-nyiakannya.


"Papah tidak suka dibantah, Dion! Kamu bisa memilih wanita yang lebih dari Fennita! Mengerti?"


"Pah, Dion nggak mau sama yang lain. Dion maunya sama Fenni."


"Kau ingin dicoret dari ahli waris?" ancam Alex kepada anaknya sendiri.


Ancaman itu berhasil membuat Dion bungkam. Dia tidak mau kehilangan harta warisan. Dia bahkan menganggap hidupnya tidak akan berlangsung lama jika tidak ada harta papahnya. Begitulah Dion, dia bagaikan anak manja yang tidak bisa apa-apa.


Namun, dia juga tidak bisa untuk melepaskan Fennita. Wanita yang telah membuatnya gila itu hampir didapatkannya sekarang, tapi papahnya malah menyuruhnya untuk menjauhi Fennita. Dia harus memilih yang mana? Dia tidak bisa memilih. Jika dua-duanya bisa diraih, mengapa tidak? Tapi sepertinya hal itu mustahil untuk didapatnya.


Baiklah, dia akan menuruti keinginan papahnya saja. Daripada harus menjadi gembel? Dia tidak mau menjadi gelandangan yang tidak memiliki apa-apa. Jika nanti semua sudah berpindah tangan padanya, dia akan memperjuangkan Fennita.


"Pah, kartu yang dibawa om Zam punya Papah, bukan?" tanya Dion yang masih belum tahu kebohongan Alex.

__ADS_1


Alex menggeleng cepat sebelum Dion curiga kepadanya. Ya, anaknya itu tidak tahu menahu soal penjualan senjata ilegal maupun organ. Dion hanya tahu bahwa Alex sering bermain curang dalam memenangkan proyek dengan cara membagikan sejumlah uang pada mereka yang bersangkutan.


"Lalu om Zam bisa kayak gitu tahu darimana ya, Pah? Kasihan om Zam. Ternyata dia tidak lebih baik dari Papah."


"Papah nggak tahu, yang sekarang Papah incar adalah kursi Presiden. Papah punya tugas untukmu, atur makan malam bersama ketua KPU. Papah ingin berhasil menduduki kursi orang nomor satu itu," perintah Alex.


Dion mengangguk paham. Dia langsung beranjak pergi dari ruangan papahnya. Memesan tempat untuk rencana nanti malam. Lalu mencari buah tangan untuk ketua KPU itu. Setelah semuanya didapat, dia meluncur menemui ketua KPU.


Ternyata tidak sulit untuk mengajak ketua KPU untuk bekerja sama. Nyatanya, undangan makan malam dari papahnya langsung diterimanya. Buah tangan yang dibawa oleh Dion juga langsung diterima sendiri olehnya.


Dion telah menyelesaikan tugasnya. Tinggal eksekusinya nanti malam. Dia pamit undur diri dari kembali ke kantornya. Dia lupa belum memberikan perhatian pada wanita pujaannya. Pria macam apa dia? Katanya cinta, tapi perhatian saja tidak pernah dia tunjukkan!


Dion juga memberi laporan pada papahnya bahwa tugasnya telah selesai. Dengan begitu mudah dan cepat. Membuat Alex sedikit takut, karena menurut berita yang didengarnya, ketua KPU adalah orang yang tidak suka dengan gratifikasi.


Dion mencoba menyingkirkan pikiran buruk papahnya. Dia beralasan, mungkin saja sekarang ketua KPU itu sudah berubah pendiriannya. Dan Alex setuju dengan hal itu. Dia tidak ingin ambil pusing untuk hal sepele seperti ini, jadi dia menganggap ucapan Dion ada benarnya.


***


Komandan Bambang mendapatkan telepon dari kawan lamanya. Yang memberitahukan bahwa dugaannya benar. Menanyakan langkah selanjutnya yang harus dilakukan. Siapa yang menghubungi Komandan Bambang?


Ketua KPU, Yustiyono, lebih akrab dipanggil Bang Yus. Dia adalah teman lama Komandan Bambang. Bang Yus terkenal sebagai pribadi yang tegas dan disiplin. Tidak mengenal korupsi, kolusi, dan nepotisme. Sangat memegang prinsip hidup bersih dari segala aspek, untuk menjaga kesehatan raga, hati, dan pikiran.


"Ya Yus, gimana?" tanya Komandan Bambang.


Entah apa yang dikatakan Bang Yus, tapi Komandan Bambang tersenyum mendengarnya. Tebakan Ericko tepat sasaran. Jadi Alex memang menggunakan Zamroni sebagai kambing hitam dalam hal ini.


"Jangan terlalu kentara dalam menerima gratifikasinya, Yus. Coba kau tarik ulur dulu. Kadang gampang, kadang susah. Aku dan Erick akan menyusun langkah selanjutnya. Tapi, biarkan kami menyelesaikan kasus Zamroni terlebih dahulu."


"Baiklah, aku tahu. Semoga kita bisa mengungkap kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh kaum yang tidak bisa terjamah oleh hukum. Dengan apa? Dengan pengakuan mereka sendiri nantinya. Simpan rekaman itu baik-baik!"

__ADS_1


"Iya! Kau ini cerewet sekali seperti Mar. Dia sedang bersama iparnya, kasihan keluarga Zamroni, mereka sangat syok atas kejadian ini. Baiklah, nanti kita bicarakan lagi jika aku sudah menyusun rencana selanjutnya. Hati-hatilah kau bermain peran, Yus. Jangan sampai ketahuan sebelum aku mengungkapnya. Oke terima kasih atas bantuanmu." Komandan Bambang menutup telepon itu.


Dia bertanya pada Dilan apakah pesawat yang akan membawa mereka sudah siap?


"Pah, boleh Intan jenguk Fenni sama tante Is dulu?"


"Boleh, tapi apa mereka tidak akan curiga?" tanya Komandan Bambang.


"Intan memutuskan untuk memberitahukan Fennita siapa diri Intan sebenarnya."


Komandan Bambang mengangguk, "Lan, antarkan Intan ke rumah sakit."


"Siap, Ndan!"


Intan langsung merangkul lengan Dilan. Bergelayut manja seperti anak kecil. Membuat Komandan Bambang berteriak agar mereka menjaga jarak. "Kenapa dia tidak sepertk Ericko? Yang bisa menjaga batasan. Hadeh ..., mau gimana lagi. Wong memang Intan bukan jodohnya Ericko, kok! Si Erick kan sudah jadi budak cintanya Fennita. Hmm ..., kalau nggak ada kejadian ini, bisa dipastikan mereka naik pelaminan. Nasib cintamu kok yo selalu apes, Rick? Kemarin ditinggal mati, sekarang terhalang restu. Hadeh ..., pusing eyke!"


Komandan Bambang memukul mulutnya. Kenapa logat itu keluar dengan sendirinya. "Alamak! Kenapa bisa logat bences ku keluar? Akika pusiang ..., cus balik Jakardah!"


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


Yang satu nanti malam ya gaes. Mau nhinem dolooo. Sugeng enjang, lur


__ADS_2