
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Sesuai jadwal yang telah ditentukan, Zamroni dan David menjalani sidang tentang penjualan senjata ilegal. Seperti kasus sebelumnya, mereka tidak menggunakan jasa pengacara untuk membela mereka. Mereka sudah sepenuhnya mengaku bersalah dan siap menerima hukuman atas perbuatan mereka. Selain itu, uang mereka juga sudah terkuras habis. Jadi tidak ada biaya lagi untuk membayar jasa pengacara.
Alex dipanggil sebagai saksi atas keterkaitan kartu anggota Red Fox. Nama yang tertera adalah Alex S. Jaya. Data keanggotaan Red Fox tidak dapat menunjukkan bahwa itu adalah Alex Sanjaya, karena data yang mereka gunakan adalah nama samaran semua. Kecuali David yang memang menggunakan nama aslinya.
"Izin bertanya kepada terdakwa, Pak hakim. Apakah Alex S Jaya adalah Alex Sanjaya?" tanya jaksa penuntut umum kepada Zamroni.
Zamroni menjawabnya dengan jujur. Karena memang kartu yang digunakannya adalah milik Alex. Dia juga menceritakan kronologi bisa mendapatkan kartu anggota milik Alex. Dia juga ditanya mengapa tidak menggunakan kartu anggota sendiri?
"Itu karena saya belum memenuhi syarat yang ditentukan oleh Red Fox," jawab Zamroni tetap tenang.
Kemudian Alex didudukkan sebagai saksi. Diberikan pertanyaan oleh jaksa penuntut umum sama seperti Zamroni. Tetapi jawaban mereka berbeda. Alex mengatakan bahwa dia tidak tahu menahu soal Red Fox. Tetapi jaksa menganggap ada yang janggal.
"Kalau anda tidak tahu tentang Red Fox, kenapa anda bisa mengingatkan saudara Zamroni seperti keterangan anda? Mengapa anda sangat yakin bahwa Red Fox itu membawa pengaruh buruk? Padahal tadi terdakwa mengatakan bahwa dia tidak menceritakannya pada anda," tanya jaksa penuntut umum.
Alex seperti sedang dilucuti, dia ceroboh mengatakan sok perhatian dengan mengingatkan Zamroni. Tapi bukan Alex namanya jika tidak bisa meloloskan dirinya dari jerat hukum. Dengan mudahnya dia menjawab, karena Zamroni bercerita padanya tentang anggota Red Fox.
Ganti David yang dicecari pertanyaan oleh jaksa. Dia menjawabnya seperti jawaban Zamroni. Membuat Alex masih diincar oleh jaksa tersebut. Dia masih saja berkelit dan bilang bahwa mereka berdua telah bersekongkol di dalam tahanan untuk menjatuhkannya. Sidang ditunda tiga minggu ke depan dengan menghadirkan Alex sebagai saksi kembali.
Zamroni berpapasan dengan Alex saat akan kembali ke tahanan. Alex membisikkan sesuatu ke telinga Zamroni. "Bicaralah yang bagus, agar kehidupan anak dan istrimu tetap berjalan mulus."
Zamroni hampir tersulut emosi, karena David mengingatkannya dia tidak jadi membalas perkataan Alex.
__ADS_1
"Hai, senior! Persiapkan dirimu untuk menyusul kami di dalam bui. Oh ya, mana kasur dan bantal yang kamu janjikan untuk kami? Atau kamu sudah tidak mampu beli? Bangkrut karena bisnis penjualan organmu hancur? Ditambah sekarang Red Fox sudah bubar?" ejek David yang mempu membakar telinga Alex.
Alex tidak mampu membalasnya. Hanya saja wajahnya memerah menahan amarah. Semua yang dikatakan oleh David memang benar adanya. Ekonominya sedang tidak stabil, proyek yang ditangani oleh Dion kebanyakan gagal karena anaknya itu tidak bisa menyelesaikan masalah yang ada di lapangan.
Dion malah menghambur-hamburkan uangnya dan bermain dengan wanita dan pindah club tiap malam. Membuatnya semakin jengkel dengan anak semata wayangnya itu. Bagaimana tidak? Saat ini dia butuh biaya banyak untuk pencalonannya, seharusnya Dion membantu berhemat, bukan malah menghabiskan dana yang ada. Salah siapa? Salah Alex sendiri, karena seperti itulah cara dia mendidik Dion.
***
Isnaeni dan Fennita masih berjuang untuk membangkitkan ekonomi mereka. Pada saat pembukaan warung, hanya sedikit pembeli yang datang. Mereka berpikir mungkin belum banyak yang tahu. Hari terus berganti, tapi pembeli yang datang semakin berkurang. Membuat mereka bertanya-tanya, apakah rasanya tidak sesuai harapan? Atau harganya terlalu mahal? Untuk bakso dan mie ayam, Isnaeni membandrol tujuh ribu rupiah per mangkuk. Beda lagi jika mie ayam bakso, dia membandrol harga sepuluh ribu rupiah per mangkuk. Bukankah itu adalah harga standar? Entahlah, ini yang sedang mereka selesaikan.
Isnaeni menepati janjinya untuk menghubungi Zamroni setiap dua minggu sekali lewat telepon rumah tahanan. Dia meminjam telepon yang ada di tempat praktik Qory yang terhubung dengan wifi, karena jika menggunakan ponsel maka biayanya akan membengkak. Hanya sekitar lima sampai sepuluh menit dia berkabar dengan suaminya, mengingat pinjam telepon.
Dia menceritakan kesehariannya di Windusari. Membuat Zamroni merasa sedih akan kehidupan keluarganya saat ini.
Terdengar suara berat dari ujung telepon, seperti menahan tangis, "Rasa pasti tidak diragukan lagi, karena masakanmu enak, Mah. Apakah disana ada saingan? Maksud Papah ada yang jualan bakso dan mie ayam juga?"
"Mmm ..., ada sih, Pah. Tapi agak jauh, apa kemahalan, ya?"
"Berapa kamu jual satu porsinya?" tanya Zamroni lagi.
Isnaeni menjelaskan tarif yang dipasangnya untuk seporsi makanan yang dia jual. Menurut Zamroni itu sudah standar. Zamroni mengajari istrinya tentang strategi marketing. Terkait promosi dan inovasi yang ada. Karena saat Isnaeni bercerita, dia tidak menggambarkan bagaimana inovasi dari produk jualannya dan promosi yang dilakukan.
"Zaman sekarang yang lagi hits itu yang super pedas, mie level contohnya, Mah. Coba kamu buat produkmu seperti itu. Di desa juga warganya pengen ada yang seperti itu kali. Suruh Fennita membuat selebaran, buat promosi misal makan mie ayam bakso level lima sampai habis dapat free es teh dua gelas gitu. Coba dulu saran Papah, nanti kita evaluasi lagi." Zamroni menjelaskan detail kekurangan yang ada.
__ADS_1
"Oh, gitu ya, Pah? Ya sudah nanti Mamah coba. Terima kasih sarannya, Pah. Jaga kesehatan Papah disana, nanti akhir bulan Mamah kesana," ucap Isnaeni.
"Kalian baik-baik disana. Tengokin Papah nanti tiap tiga bulan saja, Mah. Hemat uang yang kalian miliki, maaf Papah membuat kalian susah." Zamroni terdengar seperti sesenggukan.
Isnaeni tersenyum getir mendengar suara suaminya mengucapkan kalimat maaf. Sekarang bukan saatnya mereka menyerah, tapi sebaliknya. Mereka harus bangkit dan bertahan dengan keadaan yang ada.
Isnaeni juga menceritakan aktivitas putri mereka saat ini. Membuat Zamroni tersenyum senang mendengarnya. Ada hikmah dibalik peristiwa ini. Terutama dari segi keagamaan, mereka semakin dekat dengan Sang Pencipta. Dari segi ekonomi, mereka dipaksa untuk banting tulang. Dari segi keahlian, ada yang ilmunya bisa bermanfaat untuk sesama. Dan dari segi kekeluargaan, ikatan mereka semakin membaik dan kuat.
Zamroni mensyukuri kejadian yang ada, toh mau menyesal juga sudah terjadi. Menerima dengan ikhlas dan menikmati adalah jalan terbaik untuk semuanya. Isnaeni harus mengakhiri panggilan itu, takut jika abonemen milik Qory jebol.
Setelah menghubungi suaminya, Isnaeni pulang dan memberitahukannya pada Fennita. Membuat mereka bereksperimen soal rasa terlebih dahulu. Fennita sebagai komentator rasa karena dia yang sering berekplorasi soal makanan yang ada di Jakarta.
"Mah, nanti bikin ceker setan juga. Nanti namanya biar lebih menarik jangan mie ayam dan bakso bu Is. Ganti!" ucap Fennita semangat.
Isnaeni mengernyit, "Mau diganti nama apa?"
"MieSo Setan! Mie ayam dan bakso setan, lebih menggaet warga untuk datang. Apalagi sini banyak anak mudanya, Mah! Insya Allah laris!" ucapnya sambil menyeringai lebar.
"Aamiin, bantu Mamah ya, Fen. Kata Papah, kamu suruh membuat selebaran!"
"Siap, Bu Bos!"
Mereka tertawa bersama. Satu permasalahan terlewati.
__ADS_1