Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Settingan Rasa Beneran


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Ericko memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Dia melepas seatbeltnya dan menoleh ke arah Fennita yang sedari tadi masih tidak mau bicara dengannya. Dia bersedekap dan memperhatikan wajah Fennita dari samping. Dia tersenyum sendiri seperti orang gila. Gila karena cinta, mungkin!


"Yang," panggilnya lembut.


Fennita menoleh karena refleks. Bodohnya dia, kenapa harus menoleh? Pasti sebentar lagi Ericko akan besar kepala karena menang atas pertempuran ego itu.


"Cie yang luluh karena dipanggil sayang, berarti nanti kalau kamu marah gampang mah cara bujuknya. Tinggal panggil sayang aja, ha-ha-ha." Ericko tertawa lepas, membuat hati Fennita berdesir-desir tidak karuan adanya.


"Seblaknya pedes nggak, Yang?" tanya Ericko yang hendak turun memesan seblak langganannya. Fennita kembali diam.


"Ih, dia malah diam lagi. Disitu selain seblak ada burger, cilok, corndog, rokupang, mau milih makanan apa? Hmm? Jangan diam aja dong, Mas lebih suka kamu yang ceriwis!"


Fennita menoleh cepat pada Ericko, memicingkan matanya. "Kamu tuh super duper nyebelin tahu nggak sih, Mas? Tinggal jawab cemburu apa nggak susah banget! Nyebelin!" Fennita meraih tangan Ericko dan menggigitnya karena gemas.


Ericko mengaduh kesakitan, gigi taring Fennita sangat tajam hingga menimbulkan nyeri di pergelangan tangannya. "Lepasin, Fen! Sakit, aw-aw-aw!"


Fennita menggelengkan kepalanya, mau tidak mau Ericko harus menjawab pertanyaan Fennita. "Iya aku jawab, lepasin dulu, sakit!"


Fennita melepaskan gigitannya. Erick melihat pergelangan tangannya yang memerah karena bekas gigitan gigi Fenni. Dia menghela napasnya dan menatap Fennita. Membuat jantung Fennita ingin segera lepas dari otot penyangganya.


"Mau makan apa dulu?" tawar Ericko.


"Ih! Kan! Ngeselin emang!" Fennita bersedekap dan memalingkan wajahnya dari pandangan Ericko.


"Mas juga pengennya cemburu, Yang. Eh salah lagi manggilnya. He-he-he. Tapi, cemburu itu kan diperuntukkan bagi mereka yang memang memiliki hubungan. Kamu tahu sendiri kan, Mas nggak mau pacaran? Jadi, kalau kamu tanya Mas cemburu apa nggak, jawabannya Mas nggak punya hak untuk hal itu, sayang. Paham?" jelas Ericko kepada Fennita.


Fennita tetap diam, dia bingung untuk menyimpulkan jawaban Ericko. Jadi sebenarnya dia cemburu atau tidak?


"Eh, kok aku jadi kebiasaan manggil sayang? Kalau gini sih, namanya settingan rasa beneran! Gimana nih? Takut anak orang makin baper! Tapi kok aku suka lihat dia baper!" imbuh Ericko menggoda Fennita.


"Ck! Dasar buaya!" jawab Fennita.


"Ha-ha-ha, makan dulu deh, nanti beneran aku jawab cemburu atau nggak. Sumpah! Kali ini aku beneran!"


"Nggak percaya! Capek kamu bohongin terus!"


"Ya udah kalau nggak percaya! Mau pesan apa Permaisuriku?" tanya Ericko dengan sebutan baru untuknya.


Deg!

__ADS_1


Sumpah! Ericko benar-benar berhasil membuat desiran di hatinya semakin kuat. Permaisuri? Kata lain dari istri bukan? Erick tidak salah mengatakannya, bukan?


Fennita terlalu lama merespon ucapan Erick, hingga Erick turun dan meninggalkannya yang sedang terbang melayang. Fennita tersenyum gemas karena terlalu senang. Dia melihat Erick sedang memesan seblak sambil menelpon seseorang. Entah siapa yang ditelpon, Fennita tidak terlalu peduli dengan itu.


Dia masih terngiang-ngiang panggilan Ericko padanya. Melebihi panggilan sayang, permaisuriku. Makna yang sangat dalam pada panggilan itu.


Fennita hanya diam menunggunya di dalam mobil. Setelah menunggu sekitar tiga puluh menit, Erick kembali dengan membawa kresek putih. Dia masuk ke mobil dan memberikannya pada Fennita.


"Kamu nggak doyan seblak? Kok nggak ngomong?" tanya Ericko.


Fennita tahu siapa yang ditelpon Ericko, kemungkinan besar adalah Intan. Karena Intan tahu segala hal tentangnya.


"Kamu tadi telpon Intan?" tanya Fennita mengambil burger dari kresek itu.


Ericko menggelengkan kepalanya sambil membuka styrofoam box yang berisi seblak level lima itu. "Telpon Dilan, dia lagi sama Intan. Kalau Mas telpon Intan, takut ada yang cemburu!"


"Dih! Pedenya! Aku biasa aja! Nggak cemburu!"


"Emang tadi Mas bilang kamu yang cemburu?"


Lagi-lagi Fennita terjebak oleh ucapan Ericko. Dia memilih diam dan mulai menikmati burgernya. Burger yang isinya hanya roti, beef, selada, dan acar. Tanpa mayonaise ataupun saos karena Fennita tidak menyukai keduanya.


Mereka menikmati masing-masing makanan yang mereka pegang. Tanpa suara dan hanya suara motor dan mobil dari luar yang menjadi backsound mereka. Hingga Fennita telah menghabiskan burgernya.


"Nggak! Suka benar bikin aku gendut!"


Fennita mengambil tisu dan memberikannya pada Ericko. "Ha-ha-ha. Ya nggak papa dong gendut. Makasih tisunya, udah kenyang, sekarang waktunya pulang. Pulang ke rumah Rio atau masih mau kencan?"


Fennita yang sedang minum seketika langsung terbatuk. Sumpah! Omongan Erick daritadi tidak bisa ditebak. Mulai dari panggilan sayang yang sekarang menjadi kebiasaan, panggilan baru berupa kata permaisuri, dan terakhir yang baru saja diucapkannya adalah kencan.


"Pelan-pelan dong minumnya, grogi ya?"


Fennita sudah tidak tahan lagi untuk tidak bertanya, "Kita sedang pura-pura apa beneran?"


"Beneran," jawab Ericko singkat.


"Ha? Maksudnya?"


Ericko melajukan mobilnya kembali. Menuju arah rumah Naomi dan Rio.


"Mas," panggil Fennita.

__ADS_1


"Apa, sayang?"


"Jawab ih! Kamu pengen lihat aku cepet tua gara-gara sering ngambek ke kamu, ya?" tanya Fennita dengan nada memaksa.


"Ya makanya nggak usah ngambek melulu, oke. Mas jawab pertanyaan kamu, mulai ..., dari kata cemburu. Dengerin baik-baik ya." Ericko berdahem sebentar untuk melanjutkan kalimatnya.


"Iya Mas cemburu, cemburu banget! Nggak suka lihat kamu dideketin sama pria lain. Nggak tahu sejak kapan perasaan cinta itu tumbuh, tapi sekarang, Mas beneran sayang sama kamu. Ini kesempatan Mas buat ngajak kamu kencan. Setelah pekerjaan Mas selesai, Mas janji melamar kamu. Karena dari awal kan Mas sudah bilang tidak mau pacaran, ketemu, sreg, ya ayo nikah! Kamunya udah siap?" tanya Ericko.


Fennita menjadi tergagap karena pertanyaan mendadak itu. Menurutnya, ini adalah cara mengungkapkan cinta paling gentleman yang pernah dia alami. Memang tidak ada kesan romantismenya dalam pernyataan Erick, tapi keseriusan yang ditunjukkan membuatnya tersenyum bahagia.


Sungguh, dia bersyukur dengan rencana bibinya ini. Settingan rasa beneran dalam memerankannya, membuatnya mendapatkan hadiah. Hadiah yang selama ini dia idam-idamkan. Hati Ericko benar-benar telah jatuh cinta padanya.


"Pekerjaan apa, sih?" tanya Fennita penasaran.


Ericko baru sadar jika dia hampir saja mengatakan misi terselubungnya. Dia harus bisa berkelit untuk sementara waktu. Dia ingin menuntaskan satu per satu agar nantinya tidak ada kepura-puraan dalam hubungannya bersama Fennita.


"Ya ada kerjaan pokoknya. Kamu nggak bakalan ngerti, deh! Siapkan saja hati kamu. Nanti kalau Mas sudah selesai, Mas kabarin kamu untuk datang meminangmu. Jadi, tolong perbaiki semua yang ada di diri kamu. Shalat wajib dan sunnah, puasa sunnah, ngaji, penampilan, dan sikap kamu. Mas kan pengen dapat istri solehah. Kalaupun belum bisa, minimal shalat, puasa, dan ngaji jangan bolong ya, sayang?" pinta Ericko.


Fennita tersenyum mendengarnya. Permintaan yang berisi sindiran untuk dirinya. Tapi dia sudah bertekad, dia ingin menjadi wanita yang diinginkan Ericko.


"Lurusin niatnya, berubah demi diri kamu sendiri. Dekatkan diri sama Allah. Nanti Mas bakalan mendekat sendiri sama kamu. Tanpa kamu tebar pesona sama Mas, hati ini bakalan datang sendiri menemui pasangannya," ucap Ericko seakan tahu bahwa niat Fennita tidak tertuju pada dirinya sendiri.


"Nggih, Sayang ...."


"Adem ..., coba lagi!" pinta Ericko bersemengat.


Fennita mengulangi ucapannya lagi. Membuat Ericko memintanya untuk mengucapkan lagi dan lagi.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


Yihaaa... Mas Erick udah mengungkapkan rasa cintanya! Kok othor ikut baper ya! Piye kiiii?? 😅😜


__ADS_2