
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Rio dan Zumarnis menyebar, menyisir satu per satu bus jurusan Semarang dan Jogja. Bantuan datang dari Erick, Dilan, dan Intan. Mereka harus menemukan Isnaeni dan Fennita. Intan sampai harus izin dari tempat kerjanya untuk menemukan sahabatnya. Dilan menyuruhnya untuk mencoba menghubungi Fennita, tapi ponsel Fennita tidak aktif.
Satu per satu bus antar kota antar provinsi (AKAP) mereka sisir. Berharap bisa menemukan Isnaeni dan Fennita. Hati Ericko benar-benar gundah, bagaimana tidak? Dia sudah setuju untuk menjauhi Fennita, tapi kenapa malah sampai pergi?
Dia hendak memasuki sebuah bus yang akan berangkat, tapi ditahan oleh kondekturnya. Alasannya adalah karena bus akan berangkat. Membuat Ericko semakin frustasi. Bus itu melaju meninggalkan terminal. Membuat hati Isnaeni sedikit lega.
Ericko dan kawannya gagal menemukan Isnaeni dan Fennita. Mereka memutuskan untuk kembali. Rio dan Dilan menepuk bahu sahabatnya. Tampak dari mata Erick, bahwa dia tidak baik-baik saja. Erick kembali menelan kekecewaan, dan berharap bahwa ini adalah mimpi.
***
Perjalanan menuju kota Jogja dimulai. Tidak ada aktivitas yang berarti di dalam bus. Fennita menggunakan waktu itu untuk istirahat. Isnaeni juga ikut tertidur di dalam bus. Isnaeni terbangun saat bus memasuki kota Jogja dan sebentar lagi akan sampai di terminal. Dia membangunkan Fennita untuk segera berkemas.
Kaki Fennita melangkah turun dari bus. Isnaeni langsung menarik tangan anaknya untuk menuju bus jurusan Magelang. Mereka akan melanjutkan perjalanan lagi untuk sampai di desa tujuan mereka. Penumpang yang sudah hampir penuh, membuat bus itu langsung berangkat. Fennita agak mual menaiki bus kecil itu, karena bau penumpang bercampur menjadi satu.
"Kenapa, Fen?" tanya Isnaeni.
Fennita mencoba menahan mualnya, "Mual, Mah!"
Isnaeni mencari kresek untuk berjaga-jaga agar anaknya tidak muntah di dalam bus. Fennita menerimanya dan mencoba memejamkan matanya lagi. Sungguh, perjalanannya kali ini adalah pengalaman pertama baginya. Menaiki bus kecil seperti ini.
"Maaf, papah dan Mamah selalu menghadirkan derita untukmu, Fen. Semoga kelak hidupmu bahagia, Nak. Aamiin," batin Isnaeni.
Tak terasa perjalanan itu membawa mereka menuju sebuah desa yang letaknya dekat dengan gunung Sumbing. Windusari, sebuah desa yang letaknya berbatasan langsung dengan Temanggung. Mereka menaiki ojek untuk sampai di Windusari. Fennita tersenyum sambil menghirup dalam-dalam udara sejuk khas pegunungan.
Mereka berhenti di sebuah rumah. Fennita tidak tahu itu rumah siapa. Namun, mereka sudah disambut oleh dua orang wanita tua. Isnaeni langsung menyalami keduanya. Mbah Jum dan Mbah Am, adalah orang yang dihubungi oleh Isnaeni sebelum memutuskan pergi dari Jakarta. Mereka menyuruh Isnaeni untuk pulang, karena Windusari juga merupakan rumahnya.
Isnaeni lahir di Sukabumi, dan besar di Sukabumi. Ayah dan ibunya adalah orang asli desa Windusari. Mereka merantau ke Sukabumi, menjalankan bisnis meubel dan sukses. Membuat mereka jarang pulang kampung. Hanya sekedar kirim uang untuk saudara yang ekonominya kurang mampu.
"Alhamdulillah, Is. Iseh iling awakmu karo wong Windusari?" ucap salah satu dari wanita tua itu.
(Alhamdulillah, Is. Masih ingat dirimu dengan orang Windusari?)
"Nggih tasih to, Budhe Jum, Budhe Am. Pripun kabare? Sehat, to?" jawab Isnaeni.
__ADS_1
(Ya masih to, Budhe Jum, Budhe Am. Gimana kabarnya? Sehat, kan?)
"Alhamdulillah sehat, iki anakmu? Fennita?" tanya wanita tua yang satunya lagi.
(Alhamdulillah sehat, ini anakmu?)
"Nggih, niki Fennita. Fen, ini Mbah Jum, dan Mbah Am. Kakaknya kakekmu."
Fennita langsung menyalami keduanya. Dia tidak paham dengan obrolan mereka, karena Fennita sama sekali tidak diajarkan bahasa Jawa. Yang dia tahu adalah nggih yang artinya iya. Mereka masuk ke dalam rumah. Menjelaskan masalah yang sedang dihadapi oleh keluarganya.
Mbah Am mencoba membesarkan hati keponakan dan cucunya itu, "Jenenge wong urip yo ngunu iku, Is. Wes ora perlu digetuni. Kowe yo wes tak anggep anakku dewe. Wes uripo ning kene, wong bapakmu biyen ki sering bantu kene. Ora perlu kuatir ono sing gething. Jalaran urip ora usah dipikir. Mengko mesthi ono dalane. Mung kudu sabar, ora usah kakehan gresah."
(Namanya orang hidup ya gitu, Is. Sudah tidak perlu disesali. Kamu ya sudah tak anggap anakku sendiri. Sudah hiduplah disini, dulu bapakmu sering membantu kami. Tidak perlu khawatir ada yang membenci. Jalanan hidup tidak usah dipikir. Nanti pasti ada jalannya. Hanya perlu sabar, tidak usah kebanyakan mengeluh.)
"Nggih, Dhe," jawab Isnaeni. (Ya, Dhe,)
Fennita tidak mengerti apapun. Dia hanya diam.
"Fen, kowe dokter kan, Nduk?" tanya Mbah Jum. (Fen, kamu dokter kan, Nak?)
"Ha?" tanya Fennita menoleh ke mamahnya.
"I-iya, Mbah. Memangnya kenapa?" jawab Fennita
"Nanti ikut praktik sama Mbak Qory," terang Mbah Jum.
"Lhah, Mbah Jum bisa bahasa Indonesia?" tanya Fennita terkejut. Ternyata neneknya itu bisa bahasa Indonesia.
"Hayo bisa!" jawab Mbah Jum dan Mbah Am. Fennita tertawa. Kenapa tidak dari saja bicara dengan bahasa Indonesia? Agar dirinya juga ikut mengerti isi percakapan itu.
Seorang perempuan berusia sekitar tiga puluhan datang. Dia menggandeng seorang anak laki-laki berusia empat tahun. Lalu menyalami semuanya.
"Ini Bulek Is, Mbah?" tanyanya. Mbah Jum dan Mbah Am mengangguk. "Dan ini Fennita?"
Fennita mengangguk, "Saya Fennita," ucap Fennita menyodorkan tangannya.
__ADS_1
"Aku Qory, Mbak sepupumu. Ini anakku, lha anakmu mana?" tanya Qory.
Qory adalah cucu pertama Mbah Jum. Ibunya sudah lama meninggal saat dia kecil. Bapaknya sudah menikah lagi dengan orang lain. Sedari kecil Qory tinggal bersama Mbah Jum. Sebenarnya Qory punya satu adik, tapi dibawa oleh bapaknya karena dulu Mbah Jum tidak mampu jika harus merawat dua anak. Dari kakek Fennita lah Qory disekolahkan hingga menjadi dokter. Sedangkan Mbah Am tidak punya anak karena dia memilih tidak menikah.
"Oh, Mbak Qory. Aku belum punya anak, Mbak. Nikah saja belum, he-he-he," jawab Fennita.
"Ealah ..., aku kira! Kapan ikut aku praktik? Besok, ya?"
Fennita menceritakan tentang karirnya sebagai dokter yang nol besar. Dia tidak memiliki apapun dalam bidang itu. Qory hanya tersenyum mendengarnya.
"Berarti mulai sekarang harus belajar!" jawab Qory.
"STR ku dalam proses perpanjangan, Mbak. Gimana?" tanya Fennita lagi.
Qory mengangguk, "Nggak papa, nanti lihat Mbak dulu. Kalau ada tindakan jahit luka, rawat luka, bisa kan, Fen?"
"Bisa. Aku boleh melakukan itu semua, Mbak?"
Qory kembali mengangguk. Dia ingin Fennita memang belajar terlebih dahulu. Agar nantinya bisa membantu dirinya. Karena dia akan mendaftar PPDS, jadi dia perlu dokter pengganti. Sambil menunggu STR Fennita yang masih dalam proses perpanjangan.
Qory mengajak Fennita ke tempat praktiknya. Menunjukkan semua peralatan, obat-obatan, dan ruangan yang ada. Tujuannya adalah agar besok Fennita sudah tahu gambaran tempat praktiknya.
Sedangkan Isnaeni sedang berdiskusi dengan kedua budhenya. Mereka sedang membahas usaha yang cocok digeluti oleh Isnaeni. Akhirnya mereka memilih untuk membuka warung mie ayam dan bakso. Sesuao dengan kemampuan Isnaeni dalam bidang kuliner.
Hal itu membuat Isnaeni dan Fennita sejenak melupakan masalah di Jakarta. Mereka ingin kehidupan baru, yang lebih bisa menerima mereka apa adanya dan dalam keadaan apapun. Mbah Jum dan Mbah Am beranggapan bahwa suami Isnaeni yang melakukan, jadi tidak ada hubungannya dengan Isnaeni. Mereka malah menunjukkan sikap ikut prihatin atas kejadian itu.
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip