Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Honeymoon


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Seminggu setelah acara resepsi, Ericko dan Fennita bertolak ke Bandung. Tidak enak jika mengingkari janji dengan orang tua Kalena. Mereka juga setelah itu akan berangkat ke Bali. Rio sudah berangkat ke Inggris menggunakan hadiahnya. Dilan menggunakan masa cutinya untuk honeymoon ke Brunei.


Fennita diperkenalkan oleh Ericko kepada Kalena. Mereka duduk di samping makam Kalena dan berdo'a. Ericko sangat khusyuk saat memimpin do'a, hingga membuat air mata Fennita menetes mendengarkan lantunan do'a itu.


"Len, maaf ya aku baru sempat menjengukmu lagi." Ericko memegang batu nisan itu seakan menganggap itu Kalena.


"Oh iya, kenalkan ini istri aku, Fennita Malik. Kamu pasti tahu, kan?" lanjut Ericko.


"Iya, dia anak pak Zamroni Malik, mantan bos kamu. Alhamdulillah Len, kasusmu bisa selesai dengan damai dan adil. Tolong maafkan mertuaku ya, Len?"


Fennita menaburkan bunga dan air mawar yang tersisa. Tersenyum dan berbicara pada nisan itu.


"Mbak Lena, aku mau mengucapkan maaf ..., karena papah, kamu harus kehilangan nyawa. Dan ..., terima kasih untukmu dan keluarga karena bisa mengikhlaskan kejadian itu."


Ericko mengelus punggungnya. Mereka mengakhiri percakapan dan menuju rumah Kalena. Ericko tersenyum meninggalkan makam itu. Di rumah Kalena, Ericko dan Fennita bukan disambut layaknya tamu, melainkan anak yang baru pulang dari perantauan.


Beberapa makanan khas Bandung disajikan untuk menjamu mereka. Suasana hangat juga dihadirkan disana. Fennita merasa sangat bersyukur bisa mengenal orang tua Kalena. Mereka sudah menganggap Ericko dan Fennita sebagai anak kandung mereka sendiri. Saat berpamitan pulang, mereka dibawakan banyak sekali makanan. Membuat Fennita dan Ericko tidak enak hati.


***


Jakarta.


Fennita dan Ericko baru tiba di rumah mereka. Tukang kebun Zumarnis memang top markotop. Rumah mereka bersih kinclong karena setiap hari dibersihkan oleh mang Asep. Membuat Fennita sedikit lega karena tidak harus capek membersihkan rumah.


"Yang, siapin koper untuk besok. Kita akan pergi ke Bali. Mas kan dapat hadiah dari Presiden kemarin." Ericko memeluk istrinya yang sedang merapikan baju.


"Tahu gitu nggak usah dibongkar kopernya, Mas." Fennita kembali menata pakaian yang baru saja dia keluarkan dari koper.


Ericko mengurangi baju milik Fennita dan menambahkan baju dinasnya. Dia sendiri yang memilihkan baju dinas istrinya itu. Menghitung sesuai jumlah hari dalam seminggu.


"Senin pakai merah, selasa pakai hijau emerald, rabu pakai hitam, kamis pakai ungu, jum'at pakai putih, sabtu pakai maroon, minggu polosan."


Fennita tertawa mendengar suaminya mengabsen satu per satu baju dinas miliknya. Honeymoon yang sesungguhnya ya, Fen? Setelah membantu istrinya menyusun baju, Ericko langsung membawanya ke ranjang. Menghujaninya dengan ciuman di bibir yang sangat lama. Mengeksplorasi bagian favoritnya, yaitu sesuatu yang menonjol dari si kembar. Melahapnya bagaikan bayi haus tidak diberikan minum.


Kembali menyatukan dua barang penting yang bisa menghasilkan keturunan. Memainkan durasi dan tempo dengan sangat apik. Membuat lenguhan dan ******* lolos begitu saja. Fennita sudah tidak malu-malu lagi menahan suaranya. Dia selalu menimkati permainan yang diberikan suaminya, berusaha mengikuti ritme permainan Ericko yang akan lebih cepat ketika sudah ingin keluar.


"Aaahh ..., Mas ..., enak ...," ucapnya tanpa malu.


Ericko tertawa mendengar lenguhan istrinya. Tapi dia suka, Fennita selalu mengutarakan apa yang dia rasa dengan jujur. Tidak ada kata jaim sedikitpun. Dasar wanita yang agresif.


Tubuh mereka sudah membunyikan alarm harus segera melakukan pelepasan. Ericko kembali membawa istrinya menuju puncak kenikmatan untuk kesekian kalinya. Memberikan sensasi melenakkan yang tidak akan pernah dilupakan oleh Fennita. Terukir sempurna dalam ingatan istrinya dan akan menjadi candu untuk keduanya.

__ADS_1


"Aah ...." Keduanya sama-sama melenguh keras karena berhasil mengeluarkan sesuatu yang kental di dalam sana.


Selalu puas dan minta tambah adalah yang mereka lakukan. Dua orang yang dipersatukan oleh rasa cinta, perjuangan, dan pengorbanan. Mereka sama-sama tertidur dengan berpelukan.


Ericko terbangun saat siang mendengar kumandan adzan. Dia mandi terlebih dahulu. Lalu membangunkan istrinya. Setelahnya salat berjama'ah. Fennita membuka aplikasi ojek online untuk memesan makanan.


"Aku semenjak nikah kok suka sekali makan. Berat aku naik pasti, nih!" cerocos Fenni sambil memeluk suaminya.


"Bagus dong! Itu artinya kamu cocok sama Mamas. Nggak usah diet-dietan. Mas nggak suka!"


Fennita langsung memberikan hormat pada suaminya. "Siap, Ndan! 86!" Ericko tertawa dan menarik istrinya kembali ke pelukannya.


"Kita berangkat ke Bali kapan?" tanya Fenni.


"Nanti sore jam empat." Ericko melepaskan pelukan itu dan berbaring di pangkuan istrinya.


"Bantal ternyaman." Fennita membelai rambut suaminya dan mencium keningnya.


Ojek online datang membawa pesanan Fennita. Mereka makan siang dengan tertawa karena menonton acara komedi.


***


Bali.


Mereka akan menginap di Ayana Resort and Spa. Setelah check in dan melaksanakan salat, mereka menikmati pemandangan pantai dari kamar mereka. Sungguh pemandangan yang sangat indah. Fenni mulai beranjak berganti baju dinas saat malam mulai semakin pekat. Kali ini dia yang akan menggoda suaminya. Dia menuntun suaminya ke atas ranjang. Mulai menggerayangi tubuh Ericko dengan nakalnya. Ericko hanya bisa pasrah di posisi bawah. Menikmati setiap sentuhan yang mendarat di tubuhnya.


Tubuhnya ditindih oleh istrinya yang kelihatan sangat menggoda dalam balutan bahan silk berwarna putih tulang itu. Mereka mulai menyalakan api gairah mereka. Ericko membalik tubuh istrinya ketika akan pelepasan. Dia tidak mau kalah dari istrinya.


Sekali lagi, mereka terkulai lemas di atas ranjang. Puas dan menikmati ibadah yang memang diwajibkan itu.


Pagi hari, mereka berjalan-jalan ke pantai Jimbaran. Suasana masih agak sepi. Hanya ada beberapa pengunjung dengan pakaian minim bahan yang sudah berada di sana.


"Itu pada nggak dingin apa ya?" komentar Ericko.


"Jagalah pandanganmu wahai lelaki, sebelum matamu dicolok oleh istrimu!" sahut Fennita sewot.


Ericko tertawa dan merangkul istrinya. Mereka menyusuri jalan pantai itu dan berhenti ketika melihat sosok yang mereka kenal. Dunia sangat lebar, kenapa harus bertemu dengan mereka lagi disini? Naomi dan Rio, bukankah mereka di Inggris?


"Lo ngapain disini?" tanya Erick.


"Lhah, liburan lah!" jawab Rio.


"Ya maksud gue bukannya lo di Inggris?" tanya Erick lagi.

__ADS_1


Sementara para istri mereka sudah berjalan beriringan meninggalkan dua pria di belakang mereka. Saat beberapa langkah berjalan, mereka bertemu dengan Intan dan Dilan. Reunian di Bali. Satu honeymoon, semua honeymoon.


"Yaelah, kalian lagi!" kata Dilan.


"Eh, mau tahu cerita seru nggak?" tanya Rio memulai bahan ghibahan.


"Apa?" tanya Ericko dan Dilan kompak.


"Jadi, tadi malam, gue tuh denger suara laki-laki dari kamar sebelah gue. Mendesah gitu! Kuat lagi, malah kayak teriak! Kira-kira istrinya kayak apa ya? Pengen tahu gue!" Rio mulai bercerita.


"Emang lo nginep dimana?" tanya Erick.


Dilan yang berdecak. Kenapa otak sahabatnya bisa selamban itu? Mereka mendapatkan hadiah dari Presiden. Otomatis waktu dan tempat akan disamakan. Makanya mereka bertemu di Bali. Pastilah tempat menginap pun sama.


"Ayana lah! Gimana sih?" sewot Dilan dan Rio.


"Kamar nomor?" tanya Ericko penasaran.


"Gue nomor xx8," jawab Dilan.


"Guee nomor xx7, nah sebelah gue xx9." Rio menatap penuh curiga pada Erick.


Erick memalingkan wajahnya. "Lo nomor berapa, Rick?"


Ericko enggan menjawabnya. Dia memalingkan wajahnya yang merah karena sudah seperti kepiting rebus. Dilan dan Rio menatapnya mendesak meminta jawaban.


"Xx9," jawab Ericko singkat. Dua pria itu langsung meledakkan tawanya. Pengantin baru ini bisa mengalahkan kedua temannya yang menikah terlebih dulu. Sepertinya istri mereka perlu belajar dari Fenni biar mereka bisa mendesah seperti itu.


Matahari pagi mulai menampakkan keindahannya. Mereka berenam berfoto ria. Menjadikan honeymoon itu sebagai liburan terindah mereka.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


Rick, next chapter pamitan Rick. Mak Othor mau nyari wangsit di Sindoro.


__ADS_2