Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Ruang A41


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Malam itu Zamroni bertolak ke Balikpapan. Dia tidak ingin menunda keberangkatannya. Takut jika nanti Alex akan berubah pikiran dan membatalkan rencana itu. Hingga tiket yang sudah dipersiapkan untuk besok ditukar dengan malam ini.


Dia ingat bahwa putrinya hari itu berulang tahun, tapi dia lupa memberinya hadiah. Sudah lama sekali Zamroni tidak memberikan Fennita sebuah hadiah di hari istimewanya. Dan sekarang juga masih sama, dia lupa untuk membelikan sesuatu yang istimewa. Dia berpikir, nanti saja beli di Balikpapan.


"Mah, Papah ada urusan ke Balikpapan dua hari. Hari ini ulang tahun Fennita, kan?" kata Zamroni sembari mengancingkan lengan kemejanya.


Isnaeni menepuk jidatnya sendiri. Bisa-bisanya dia sampai melupakan hari istimewa putrinya. "Astaghfirullah Pah, Mamah lupa!" Isnaeni memberikan dasi itu kepada suaminya.


"Kamu gimana, sih? Ya sudah, nanti tolong ucapkan selamat ulang tahun dari Papah."


"Iya, Pah. Dia pasti senang sekali dapat ucapan dari Papahnya. Semoga tahun ini, adalah tahun kebahagiaan Fennita. Bertemu dengan Ericko adalah suatu keberuntungan yang istimewa, Pah. Fennita bisa memancarkan lagi aura kebahagiaannya."


Zamroni hanya tersenyum menanggapi hal itu. Tapi, jika mengingat lenyapnya Ericko beberapa hari terakhir ini malah membuatbya menjadi kesal. Dia tidak mau ambil pusing untuk urusan ini. Dia sudah bertekad akan mengusut identitas Ericko setelah acara Rwd Fox selesai.


Zamroni telah siap, dia segera bergegas ke bandara diantarkan oleh supirnya. Isnaeni hanya mengantarkannya sampai depan pintu rumah mereka. Saat mobil Zamroni keluar dari kompleks perumahan elit itu, Intan yang mengantarkan Fennita pulang ke rumah tidak sengaja melihat mobil itu.


Dia mengernyitkan dahinya seakan bertanya, mau kemana malam-malam begini? Fennita dan Intan telah sampai di rumah yang sekarang penuh penjagaan ketat dari bodyguard.


"Udah, nggak usah nangis. Bang Erick bakalan menjelaskan ke lo kenapa dia sampai bohong." Intan mencoba membesarkan hati Fennita yang sedang kalut oleh kesedihan.


Fennita menatap ke depan dengan pandangan kosong. Dia melepas seatbeltnya dan turun dengan langkah gontai. Intan menghela napasnya seakan ikut merasakan kesedihan sahabatnya. Dia juga ikut turun menemani Fennita.


Intan memencet bel rumah Fennita. Sedangkan yang punya rumah menyandarkan kepalanya ke pintu. Isnaeni membukakan pintu dan mengernyitkan dahi melihat keadaan Fennita.


"Kamu kenapa, sayang?" tanya Isnaeni.


"Papah mana, Mah?" balas Fennita dengan pertanyaan lagi.


"Papah baru saja berangkat ke Balikpapan. Ada apa?"

__ADS_1


Jawaban dari Isnaeni membuat hati Fennita kembali didera rasa curiga. Benarkah semuanya? Jujur, Fennita saat ini ingin segera bertemu dengan papahnya, ingin bertanya secara langsung kabar yang baru saja mengiris hatinya. Meskipun dia selalu bertengkar dengan papahnya, tapi dia juga masih memiliki rasa sayang. Layaknya seorang anak mencintai dan menyayangi orang tuanya.


Intan menyela pembicaraan itu, dia harus segera memberikan informasi atas kepergian Zamroni ke Balikpapan.


"Tante maaf menyela, Intan lupa jemput papah di kantor. He-he-he. Intan pulang dulu, Tan, Fen." Intan langsung menyalami tangan Isnaeni.


Fennita menatap Isnaeni dengan sedih, membuat Isnaeni ikut merasakan aura kesedihan yang menyelimuti putrinya itu seperti sebelumnya.


"Kita juga harus ikut ke Balikpapan, Mah. Ada sesuatu yang harus segera kita tanyakan ke papah," terang Fennita lagi.


Isnaeni semakin bingung, "Memang tidak bisa menunggu papahmu pulang?"


Fennita menggeleng, dia belum mampu untuk mengutarakan alasan itu. Fenni takut jika mamahnya sampai syok dan sakit. Lebih baik mereka tanya langsung kepada yang bersangkutan. Meskipun Fennita sudah mendengar sendiri bukti yang didapatkan bibinya, tapi dia masih ingin papahnya yang jujur.


"Ya sudah, malam ini kalau masih ada tiket kita berangkat. Coba kamu cari,"


Fennita langsung mencari ponselnya, lalu membuka sebuah aplikasi yang diperuntukkan untuk mencari serta memesan tiket perjalanan. Mulai dari tiket bus, tiket kereta, tiket pesawat, hingga booking hotel.


Dengan terpaksa dia memesan tiket untuk esok hari. Isnaeni masih merasa Fennita menyembunyikan sesuatu dari dia. Tapi, dia tidak enak hati mendesak putrinya, yang sepertinya butuh waktu untuk menyendiri.


"Mah, besok kita berangkat dari sini jam sepuluh pagi. Yang malam ini habis semua. Mamah tolong bawa baju untuk satu hari saja. Fenni ke kamar dulu ya, Mah?"


Isnaeni mengangguk, Fennita berjalan masuk ke dalam rumah. "Fen, selamat ulang tahun ya, Nak! Maaf papah dan Mamah lupa kasih kado," ucap Isnaeni merentangkan tangannya.


Fennita menoleh dan langsung berhambur ke pelukan mamahnya. Rasanya dia masih seperti Fennita kecil yang selalu haus pelukan. Dia menangis karena terharu bercampur rasa sakit.


"Makasih, Mah. Hiks ..., hu-hu-hu." Fennita menangis di pelukan orang yang paling mencintai dan menyayanginya.


***


Rio menjalankan tugas dari mertuanya, Zumarnis. Dia memarkirkan mobilnya dengan mulus. Lalu bergegas menuju ruang yang dimaksud oleh Zumarnis. Dia menggumam pelan nomor ruangan yang disebutkan oleh mertuanya. Berjalan menyusuri gedung A sendirian dalam keadaan sepi.

__ADS_1


Dia menyusuri satu per satu sambil melihat nomor ruangan yang tertera di pintu. Namun, dia mulai merasakan keanehan, setelah nomor 39 ruangan itu langsung lompat ke nomor 42. Ada dua ruangan yang hilang disana. Dimana nomor empat puluh dan 41 seperti yang disebutkan Zumarnis?


Rio jarang menginjakkan kaki ke gedung A, karena memang gedung itu adalah tempat menyimpan semua arsip rahasia. Itulah sebabnya Rio merasa ada kejanggalan setelah tahu nomor yang terpampang.


"Kok hilang, ya? Duh! Mana rekamannya diminta cepat lagi! Telpon mamah aja kali, ya? Eh, tapi ..., nanti kena semprot kagak? Ah, masa bodoh! Telpon aja lah!"


Akhirnya Rio menghubungi mertuanya untuk meminta bantuan. Bukannya mendapatkan jawaban, dia malah terkena omelan pedas. Zumarnis menyuruh Rio untuk duduk dan memikirkan dimana ruangan itu berada.


Rio kembali menelusuri gedung itu, beranggapan bahwa mungkin dia salah lihat atau terlewat. Tapi, sudah tiga kali dia mengitari gedung itu, tetap saja matanya tidak menemukan nomor 41. Lalu dia kembali ke awal, duduk di depan ruangan yang tertulis angka empat. Dan ruangan itu adalah ruangan yang dia jumpai setelah lobi.


"****! Angka empat adalah kode ruangan. Dan satu adalah urutan! Rio ..., kenapa baru sadar kamu? Hadeh!"


Akhirnya Rio berhasil menemukan ruangan itu. Dia berdiri di depan ruang satu. Melihat ada alat finger print untuk akses masuk.


"Oke, aku jarang kesini. Otomatis aku nggak punya rekaman sidik jari disini. Dan jika aku kesini, hanya diarahkan untuk menuju ruang meeting. Hmm ..., gimana ya?"


Rio menjentikkan jarinya setelah mendapatkan cara untuk bisa masuk ke ruangan itu. Dia mengambil solasi di tas selempangnya. Lalu menempelkan pada alat finger print itu. Setelahnya dia membalik solasi itu dan melakukan finger print.


Berhasil!


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2