Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Bukan Sekedar PMS


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Tiga hari telah berlalu, Fennita, Isnaeni, dan Zumarnis kembali tiba di Jakarta. Kepulangan mereka sangat dirahasiakan, hingga Zumarnis meminta bantuan Bambang untuk menyeterilkan bandara. Tiba di Jakarta bukan membuat mereka bernapas lega, karena masalah lain dampak dari kasus Zamroni sudah menunggu mereka.


Naomi beserta papahnya mati-matian mempertahankan nilai saham perusahaan Malik Grup. Namun, usaha mereka sepetinya menemui jalan buntu. Banyak para investor saham yang memilih menarik saham mereka dan keluar dari Malik Grup. Bukan hanya itu saja, kini rumah beserta aset lainnya yang dimiliki oleh orang tua Fennita harus disita oleh Bank sebagai jaminan pelunasan hutang.


Keadaan ini membuat Isnaeni dan Fennita semakin pasrah. Hanya uang di tabungan Isnaeni yang tidak seberapa itulah yang menjadi penyambung hidup mereka. Zumarnis memberikan rumah lamanya yang sederhana kepada Isnaeni, tetapi ditolaknya. Karena Isnaeni tidak ingin semakin menambah beban iparnya. Sudah cukup kelakuan suaminya yang membuat malu nama keluarga. Zumarnis tetap memaksanya, hingga akhirnya Isnaeni mau menerimanya.


"Mah, Fenni boleh minta uang untuk mengurus STR Fenni yang mati nggak, Mah? Biar nanti bisa kerja jadi dokter, bantuin Mamah nyari uang," tanya Fenni sedikit sungkan.


Isnaeni tersenyum lalu memberikan ATM miliknya oada Fennita. "Bawa ATM Mamah, gunakan secukupnya. Fen, besok Mamah mau menjenguk papah, kamu mau ikut?"


"Semoga Fenni bisa ikut Mah," jawab Fennita.


Fenni pergi ke kantor Ikatan Dokter Indonesia yang ada di Jakarta. Membawa persyaratan yang disebutkan untuk memperpanjang surat tanda registrasi (STR) kedokterannya. Butuh waktu sekitar enam bulan untuk perpanjangan itu, tapi Fennita sudah mendapatkan surat keterangan bahwa STR-nya sedang dalam proses perpanjangan. Saat akan pulang, dia menyempatkan mampir ke rumahnya yang kini disita.


Respon masyarakat di sekitarnya sangat tidak bersahabat. Hingga ada yang melemparinya dengan botol kaca. Saat botol itu melayang di udara, ada punggung seorang pria yang menjadi tamengnya. Ericko, entah dia dari mana, tapi dia kini berdiri di depan Fennita.


"Pergi atau saya panggil polisi?" ancam Ericko.


Warga menjadi takut dan akhirnya pergi. Tinggal mereka berdua. Yang saling menatap dalam, ingin mengucapkan kata rindu namun terbelenggu oleh alasan klise. "Kamu ..., nggak papa, Mas?"


Ericko hanya diam, mengamati setiap inchi wajah Fennita. Terlihat ada perbedaan yang mencolok. Fennita menjadi kurus, tidak seperti terakhir mereka bertemu. "Aku ..., pamit pulang dulu, Assalamualaikum." Fennita melewati tubuh pria yang mematung itu.


Tangan Ericko mencekalnya, "Aku lapar, temani aku makan sebagai ucapan terima kasihmu karena aku sudah menolongmu."


"Ha? Aku nggak minta kamu nolongin aku lhoh ...,"


Ericko menggandeng tangannya dengan paksa hingga masuk ke mobil yang dibawa Fennita. Mungkin itu mobil Naomi, karena sekarang Fennita benar-benar tidak memiliki apa-apa.


"Kamu kenapa sekarang suka maksa, sih? Ih, lepasin, Mas! Sakit!"


Ericko menyuruhnya masuk. Membuat Fennita kesal dengan sikap Ericko. Mobil melaju menuju kawasan yang sangat asing bagi Fennita. Dia membawa Fennita menuju basecampnya. Tidak ada obrolan apapun selama di dalam mobil.


"Ih, aku bisa laporin kamu ke polisi, lhoh!" ancam Fennita.


"Laporin aja, nanti aku juga laporin kamu ke polisi karena sudah mencuri hatiku!"


"Ha?"


Desiran hebat merajai hati keduanya. Ucapan Erick yang ceplas ceplos membuat mereka kembali didera rasa cinta itu. Erick kembali menggamit tangan Fennita untuk masuk ke basecamp. Aneh, adalah kesan pertama yang ditunjukkan oleh Fennita. Itu hanya gudang kosong. Setelah masuk ke dalam, tatapan Fennita menjadi takjub.

__ADS_1


Erick melepaskan tangan Fennita dan menyuruhnya duduk di ruang makan. Fennita hanya menuruti keinginan Erick tanpa membantah. Sedangkan Erick mulai mengeluarkan bahan makanan yang masih mentah untuk segera diolah. Ada kerang hijau dan kepiting yang ukurannya sedang. Dia akan memasaknya menjadi kepiting dan kerang saus padang.


Fennita menepuk punggung yang tadi menjadi tameng untuknya. "Aw!" pekik Erick.


"Lepas kaosmu!" perintah Fenni.


"Jangan ca*bul! Sana duduk! Aku mau masak dulu!"


Fennita tertawa mendengar kata ca*bul. Takut sekali pria ini jika dinodai olehnya. Tenang saja, Rick! Fennita sudah tidak agresif seperti dulu. "Aku mau melihat lukamu,"


"Nanti! Aku lapar butuh makan, bukan butuh obat!"


"Galak amat, sih! Lagi PMS, Pak?"


"Bukan sekedar PMS, tapi LPMSTNB!"


Fennita mengernyitkan keningnya bingung. "LPMSTNB?"


"Iya! Tau kepanjangannya? Lagi pengen meluk sayangku tapi nggak bisa!"


Jujur sekali ucapan yang keluar dari mulut Ericko. Membuat pipi Fennita dijalari semburat merah muda. Dia tidak mau lagi meneruskan komunikasi itu. Dia harus mulai terbiasa jaga jarak terhadap Ericko. Dia memilih membiarkan Ericko memasak, dan dia menonton tv.


Menumis bumbu halus, memberinya sedikit air lalu memasukkan bahan makanan tadi. Menunggu hingga matang, menambahkam saos padang, dan siap dihidangkan. Nasi juga telah matang. Kini dia membuat es su*su coklat sebagai pelengkap makan siang mereka.


"Fen ..., ayo makan." Ericko mengisi piringnya dengan nasi.


Fennita mengangguk dan berjalan menuju ruang makan. Dia mencuci tangannya terlebih dahulu. Lalu mengisi piringnya dengan nasi sedikit. Erick yang melihat hal itu langsung menambahkan nasi ke piring Fennita tanpa konfirmasi terlebih dahulu.


"Ih! Banyak banget!"


"Ck! Lihat badanmu, kurusan. Aku nggak suka lihatnya," jawab Ericko sambil manyun.


Fennita mengambil posisi duduk di sebelah Erick. Mereka menikmati makanan mereka masing-masing. Ericko memberikan daging kepiting yang berhasil dikupasnya ke piring Fennita. Membuat Fennita tersanjung akan perhatian itu.


"Bagaimana aku bisa menghilang jika kamu saja selalu muncul disaat aku butuh kamu?" batinnya dalam hati.


"Mamah gimana?" tanya Ericko.


"Baik, kamu sendiri?"


"Masih mencintaimu."

__ADS_1


Fennita terbatuk-batuk mendengarnya. Enteng sekali ucapannya barusan. Ini hati bukan kaleng kosong. Dasar Ericko! Suka sekali dia membuat Fennita terbawa perasaan lagi.


Fennita tidak menanggapi obrolan itu lagi. Dia hanya menikmati masakan Erick yang tidak kalah dengan masakan mamahnya. Fennita seperti mengkhianati kepercayaan mamahnya karena bertemu kembali dengan Erick. Secepat kilat dia menghabiskan nasi di piring itu.


Makan siang usai, Fennita terburu-buru langsung pamit. Ericko selalu mengulur waktu agar bisa bersama Fennita.


"Sini ku obati punggungmu." Fennita hampir saja terlupa akan hal itu.


"Punggungku nggak papa. Nanti biar ku kompres sendiri. Ayo kita lanjutkan pembicaraan kita," elak Ericko.


"Hmm? Pembicaraan yang mana?"


"Yang kamu pengen kita sama-sama menjauh. Tolong, nggak usah aneh-aneh."


Fennita menghela napasnya, ternyata sulit juga menyadarkan orang yang sudah bucin. Kamu sih, Fen!


"Kamu kenapa malah jadi keras kepala sih, Mas? Ini demi kebaikan kita bersama. Aku nggak mau nantinya terluka lagi karena penolakan."


"Kamu juga keras kepala, coba sekarang ngomong sama aku, kamu masih cinta dan sayang nggak sama aku?" tanya Ericko menatap bola mata indah itu.


Fennita tidak dapat menjawabnya dengan kata. Namun, air mata sudah mampu mewakili isi hatinya. "Kita coba dulu, nanti kalau Alex sudah berhasil diringkus. Kita bertemu ibu, kamu berjuang untuk mendapatkan restu ibu. Dan aku juga berjuang mendapatkan maaf dan restu orang tuamu. Bisa, kan?"


Fennita mengambil tisu dan menghapus air matanya. Dia mengedikkan bahunya. Tidak berani menjawab bisa karena sudah terlanjur berjanji dengan mamahnya.


Ericko mendapatkan panggilan dari kantornya. Membuat obrolan itu harus berakhir paksa. Keuntungan bagi Fennita untuk bisa lolos dari Erick. Mereka berpisah dengan menyisakan jawaban yang ambigu.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip


Grup Chat sudah ada ya gaes, yang mau gabung silahkan

__ADS_1


__ADS_2