Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Dari Misi Turun ke Hati


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Ericko POV


Ehem ..., ehem ..., tes satu, dua, tiga, dicoba! Weh, micnya baru.


Assalamu'alaikum mak, piye kabare? Baik, kan? He-he-he. Semoga semuanya baik, ya! Oh ya, Mamas mau ngundang kalian semua nih! Ngundang kemana? Yo mesthi ke acara lamaranku dan dek Fenni to yo!


Yang di Temanggung, Magelang, Wonosobo, Semarang, Jogja, Demak, Pati, Batang, Pekalongan, Brebes, Lamongan, Nganjuk, Malang, Jember, Surabaya, Ciamis, Sukabumi, Ciberon dan seluruh penjuru Indonesia, ayo-ayo mari kumpul di Banyuurip. Yang ada di rumah tolong dibawa. Kalau di rumah punya kulkas ya tolong dibawa. Yang punya tipi nganggur juga tolong dibawa. Yang punya lemari pakaian lima juga tolong dibawa. Atau yang punya tabungan emas logam mulia bolehlah disumbangin buat Mamas dan dek Fenni. Wkwkwk


Buat apa to, Mas? Hayo buat nyumbang Mamas to yo .... Buat seserahan ke keluarga dek Fenni. Mamas nggak bisa balas apapun. Biar nanti Allah aja yang balas yo? Aamiin. Ha-ha-ha. Jadi gini, Mamas di episode ini mau ngundang mak-mak onlen semua datang ke acara lamaran Mamas.


Dandan yang cantek ya, mak! Tapi jangan melebihi paras ayunya dek Fenni. Nanti kalau salah pilih kan Mamas malu! Mamas tunggu setelah ashar kumpul di balaidesa Banyuurip. Nanti Mamas kenalin sama pak lur deh. Ha-ha-ha. Tapi awas, jangan ketahuan bu lur. 😜


Nanti rencananya, Mamas mau berangkat naik mobil. Mak-mak udah tak siapkan armada, tenang aja! Numpak truck oleng gak papa ya mak? Sekali-kali! Pengalaman sekali seumur hidup, kan lumayan nanti bisa cerita ke anak cucu! Kenapa nggak pakai mobil alus? Biar pak Prabowo yang jawab, karena Mamas nggak punya uang! 😂😂


Canda, Mak! Kalau pakai mobil alus muatnya dikit. Kalau pakai truck oleng kan muat banyak! Lebih hemat! Oh ya, pakai kebaya yang bagus ya, mak?


Nah, itu dia layang ulem dari Mamas. Mamas harap semuanya bisa ikut. Nanti tak undang lagi waktu resepsi.


Jangan lupa! Catet jam nya! Catet tempatnya! Mamas tunggu lhoh! Mak Othor monggo dilanjut!


***


Author POV

__ADS_1


Ericko dan rombongannya sudah siap setelah ashar. Semua tampak sibuk dengan tugasnya masing-masing. Ada yang masih ribut dengan make upnya yang belum jadi, ada yang salah paham dengan tugas yang diberikan, macam ragamnya jika sudah ada acara penting seperti itu.


Seserahan yang sudah dihias dengan indah dimasukkan satu per satu ke dalam mobil yang dikemudikan Dilan. Naomi, Rio, Intan, Komandan Bambang, Zumarnis dan suaminya menyambut Erick dan keluarga di Windusari. Zul bertugas mengemudikan truck oleng yang akan dimuati oleh beberapa tetangga dan mak-mak onlen.


Waktu untuk berangkat mundur setengah jam dari jadwal yang ditentukan. Biasa, jam mereka pada molor. Maklumkan saja, mungkin ada yang masih bekerja atau ada urusan lain. Setelah tamu undangan diabsen satu per satu, mereka berangkat ke Windusari.


Suasana riuh ramai dan bahagia tergambar jelas di semua barisan armada yang disewa pangeran Banyuurip itu. Perjalanan memakan waktu hampir empat puluh lima menit. Lima belas menit lebih lambat dari waktu perkiraan. Itu karena terjadi kemacetan di jalan.


Rombongan keluarga Erick disambut salawat rahmatan lil 'alamin dengan tabuhan rebana. Kalian tahu siapa vokalnya? Pasti kalian tidak menyangka, Komandan Bambang dengan suara merdunya melantunkan lagu bahasa arab itu dengan fasih. Erick benar-benar tidak menduga komandannya memang multi talenta. Semua bidang dibabat habis olehnya.


"Fenni mana, Mah?" tanya Erick saat menyalami Isnaeni. Suaranya masih bisa didengar oleh Khotijah, hingga dia mencubit perut anaknya itu.


"Mbok yo sabar to, Rick! Ben pak lurah dadi wakil besan disik! Arahmu kok langsung ketemu Fenni!" balas Khotijah sambil bergumam. Isnaeni tertawa dengan tingkah calon mantunya yang tidak sabaran itu. (Lha ya sabar dong, Rick! Biar pak lurah jadi wakil besan dulu! Keinginanmu kok langsung ketemu Fenni!)


"Kan kedah sat set las les ngoten lho, Bu." Erick menjelaskan maksud pertanyaannya. (Kan harus cepat gitu lho, Bu.)


Gantian papah Naomi menjadi wakil besan untuk keluarga Fennita. Dia merasa tersanjung bisa bertemu dengan keluarga Erick. Dia juga bahagia karena yang datang melamar keponakannya adalah lelaki yang baik. Baik dalam segi agama dan juga sikapnya.


Saatnya Fenni dipanggil untuk keluar menemui keluarga Erick dan menjawab apa yang menjadi maksud tujuan Erick. Dengan balutan kebaya warna kuning yang senada dengan batik Erick, dia menyalami Khotijah. Mata Erick berbinar-binar menyaksikan kecantikan Fennita yang luar biasa.


Erick diberikan waktu untuk mengutarakan maksud hatinya pada Fennita dihadapan semua orang. "Ehm ..., Bismillahirrahmanirrahim, hai Dek ..., ehe-he-he. Duh, grogi nih! Mmm ..., Dek, Yang, tuh kan! Yang, Mamas datang kesini membawa keluarga besar Banyuurip dan mak-mak onlen Dari Misi Turun ke Hati, tujuannya seperti yang disampaikan oleh pak lurah. Mas ingin meminangmu, menjadikanmu sebagai istri soleha, menjadikanmu seorang bunda dari anak kita nantinya. Ayo, Yang, kita bangun keluarga yang penuh berkah dari Allah. Cerita cinta kita itu berawal dari misi yang mana Mas bawa hingga turun ke hati."


Ericko menghela napasnya sebentar. Dia benar-benar panas dingin mengutarakan maksud hatinya di depan banyak orang.


"Allah mempertemukan kita bukan tanpa sebab. Pertemuan kita sudah ada di lauhul mahfuz. Hingga nantinya kamu yang melatih sabarku, atau aku yang melatihmu bersabar. Kamu yang mengajariku atau aku yang mengajarimu tentang banyak hal. Dek, Yang ..., aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tidak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Fennita Malik, maukah kamu menjadi istriku? Menyempurnakan separuh ibadahku? Menjadi tulang rusukku? Dan menjadi bidadari surga untukku?"

__ADS_1


Ericko mengatakannya dengan mata yang sudah berembun. Embun itu siap jatuh hanya dengan satu kedipan mata saja. Fennita menggenggam tangan Isnaeni dengan erat. Dia tersenyum haru mendengar permintaan Erick. Memang bukan yang pertama kali diucapkan oleh Erick. Meskipun begitu, tidak kurang rasa bahagianya mendengar permintaan itu.


Pembawa acara memberikan mic kepada Fenni. Dia berdiri berhadapan dengan Erick tujuh langkah di depannya. Mereka sama-sama tersenyum malu. "Ehm ..., Bismillah, pertama Fenni ucapkan sugeng rawuh untuk semuanya. Terima kasih sudah berkenan ke rumah Fenni, sudah mengawal Mas Erick sampai Windusari. Mas ..., aku tidak sesempurna Aisyah ataupun Khadijah, tapi Insya Allah, aku akan belajar untuk meneladani sifat mereka. Tolong bimbing Adek untuk selalu dekat dengan Allah. Adek juga ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tidak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. Kulo tampi pinangan panjenengan, Mas! Ayo cepat dibawa ke KUA!"


Semuanya terharu sekaligus tertawa mendengar jawaban Fennita. Sepertinya sikap agresifnya sudah mulai bersemi kembali. Khotijah memeluk anaknya sebentar sebelum memasangkan cincin di jari Fennita. Mengucapkannya selamat. Khotijah mengecup kening Fennita lama.


"Matur nuwun, Nduk. Ibu merestui kalian." Khotijah menghapus air matanya yang menetes. Fennita mencium tangannya dan memeluknya.


"Matur nuwun Ibu purun nampi Fenni," bisik Fenni.


Isnaeni juga memasangkan cincin di jemari Erick. Dia menepuk pundak Erick. "Mamah serahkan tanggung jawab menjaga dan mendidik Fennita sama kamu, Rick. Tolong bawa anak Mamah menuju bahtera bahagia."


"Nggih, Mah. Insya Allah."


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


Hari ini satu aja ya, othor lagi sakit. semalam tiba-tiba menggigil hidung mampet. 🤧🤧


__ADS_2