
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Naomi menikmati su su putih hangat yang dibuatkan oleh Rio. Menikmati udara malam yang berhempus menerpa wajah dan kulit mereka.
"Lo kenapa sih, Rick? Kayaknya canggung banget mau ngajak ngobrol Fenni?" tanya Naomi.
Erick hanya tersenyum kecut. Dia juga tidak tahu kenapa bisa begitu. "Gue juga bingung, Nom. Gue udah coba ngajakin dia ngobrol ngalor ngidul nggak jelas juga dia jawabannya kayak males gitu. Apa ..., rasa cinta dia ke gue udah memudar ya, Nom, Yo?"
Naomi mengernyitkan dahinya. Bagaimana tidak? Dia bisa melihat sendiri mata sepupunya masih memancarkan rasa sayang dan cinta terhadap Ericko. "Kayaknya tebakan lo salah deh, Rick! Orang gue lihat Fenni tuh masih cinta sama lo, kok!"
"Masa sih, Nom? Tapi, kenapa dia selalu seperti orang nggak nyaman kalau gue ajak ngobrol?" tanya Erick.
Rio memutar otaknya agar bisa menemukan suatu cara untuk membuktikan pasangan kita sayang atau tidak. "Mau ngetes dia masih sayang apa nggak? Gue punya caranya!" bisik Rio.
Ericko menoleh, Rio mengeluarkan rokok dari sakunya. "Dia tahu kali Yo kalau gue bukan perokok! Dapet dari mana lo barang ini?"
"Dikasih pendaki yang dari Jakarta tadi. Pura-pura aja, kalau dia marah berarti dia masih sayang sama lo!"
Rio menjelaskan konsep rencananya. Erick harus membuat Fennita marah. Karena menurut Rio, wanita yang marah itu menandakan bahwa dia peduli dan perhatian. Erick tertawa sumbang dengan pemikiran Rio. Tapi dia ingin mencobanya, reaksi apa yang akan ditunjukkan oleh Fennita.
"Gue buktiin konsep pemikiran lo. Kapan nih gue lakuinnya? Sekarang? Gue masuk tendanya?"
Naomi dan Rio mencubit lengannya. Itu bukan ingin membuktikan teori, tapi memang curi-curi kesempatan dan memancing emosi.
"Lakukan kalau ada orangnya lah, Rick! Besok kan bisa. Woh, mantep tuh! Pagi-pagi ye kan? Ada drama depan gue. Ditemani secangkir teh hangat, cocok!" ucap Naomi.
"Beb, bobok yuk! Abang kan juga butuh kehangatan!" ucap Rio.
Erick melemparkan botol kosong pada Rio. Lalu mereka tertawa bersama. Tinggal Erick seorang diri di depan api unggun itu. Dia merenung sendirian. Memikirkan jalan hubungan cintanya dengan Fennita. Rumit!
Padahal restu dari orang tua Fennita telah ia kantongi. Tapi kenapa sekarang komunikasinya seperti berbeda arah? Apakah dia harus mandi kembang dulu agar sial tidak mendatangi kisah asmaranya? Entahlah! Dia benar-benar dipusingkan oleh hal itu.
__ADS_1
Tiba-tiba saja tenda Fennita terbuka. Wanita itu keluar dari tenda. Erick melihatnya sekilas lalu kembali menatap api unggun. Fennita melihat hanya Erick seorang yang ada di depan api unggun itu. Ericko membiarkannya agar datang sendiri, mendekat padanya.
Fennita awalnya ingin menutup lagi tenda itu. Tapi hatinya mengatakan hal lain. Hati lembut itu ingin bersua dengan pasangannya. Akhirnya dia memilih untuk keluar dari tenda. Dia duduk di sisi kanan Ericko, masih memberi jarak untuk keduanya.
"Nggak bisa tidur?" tanya Ericko tenang dan langsung mengeluarkan rokok dari tempatnya. Ia mencoba menyalakan rokok itu.
Fennita yang sedari awal tahu kalau Ericko tidak merokok, merasa heran. "Sejak kapan kamu merokok?" tanya Fenni kesal.
Erick menoleh dan menatap wajah Fennita. Kesal, bersungut-sungut, dan siap meledak dengan amarah sangat tergambar jelas di raut wajah Fenni. Berhasil! Rencana Erick berhasil untuk memancing kemarahannya. Ia menyalakan api dan hendak menyulut rokok itu. Fennita yang tidak mendapat jawaban atas pertanyaannya semakin kesal. Ia langsung mengambil rokok itu dan membuangnya sembarangan.
"Kok dibuang sembarangan? Jangan mengotori alam!" Erick memperingatkan Fennita.
Ia mengeluarkan satu batang lagi dan bersiap menyulutnya lagi. Fennita berdecak semakin sebal, kali ini ia langsung menyahut rokok itu dan membuangnya ke sembarang arah lagi. Ericko mengeluarkan sebatang rokok lagi, dan kali ini Fennita benar-benar marah. Dia berdiri dan mengambil rokok yang ada di tangan Ericko. Bukan hanya sebatang, melainkan satu pack.
Dia langsung membuangnya ke dalam api unggun. Mencari-cari rokok yang tadi dia buang sembarangan. Mata Ericko hanya mengikuti langkah Fennita. Dia tersenyum senang mendapati perlakuan seperti itu. Suka sekali Erick membuat Fennita uring-uringan.
Setelah memastikan semua rokok terbakar, dia duduk dengan kesal di samping Erick. Tiba-tiba saja air matanya menetes di pipi. Ericko yang sedari tadi menatapnya langsung menghapus air mata itu. Mereka saling diam dan berpandangan. Sekali lagi, pandangan Erick mampu mengintimidasi Fennita.
Cairan bening itu lolos lagi jatuh ke pipi. Ericko menghapusnya lagi. Kini mata Erick juga berkaca-kaca.
Fennita melihat mata Erick sudah menganakkan air mata. Mereka sama-sama menangis tanpa suara.
Erick menghapus air matanya. Lalu menghapus air mata Fennita. Dia tersenyum melihat netra milik Fennita masih memancarkan rasa cinta untuknya. Dia kembali mengulangi pertanyaannya.
"Apa kabar? Kenapa nangis? Hmm? Kan Mas pernah bilang, Mas nggak suka lihat kamu nangis," terang Erick penuh perhatian.
Fennita menghela napasnya. Dia menunduk dan mengangguk. "Aku baik, kamu sendiri?"
"Aku sedang memberitahu rindu untuk berkenalan dengan pemilik hatiku. Apa kamu bahagia menjalani kehidupan tanpa aku?" tanya Erick lagi.
Kali ini Fenni menggeleng. Dia mengutarakan semua perasaannya. Dia memang baik-baik saja dari fisiknya, tapi tidak dengan hatinya. Selalu disiksa oleh rindu yang selalu memaksa ingin bertemu.
__ADS_1
Erick meraih ponselnya dan mencari sebuah lagu yang sering ia dengarkan untuk pengantar tidurnya. Still Love You, yang dipopulerkan oleh Yoo Hwe Seung feat Lee Hong Gi. Mengeraskan speaker ponsel dan meletakkannya di tanah. Fennita kembali menangis mendengar lagu itu, makna yang sangat dalam tersirat disana.
Erick meraih tangannya. Menempelkannya di dadanya. "Sama, Mas juga disiksa rindu. Kenapa dari tadi kamu selalu menghindari, Mas? Kenapa selalu uring-uringan kalau ngobrol sama, Mas? Hmm? "
"Aku gak tahu harus bersikap seperti apa. Aku juga takut membuat mamah terluka. Makanya aku jaga jarak sama kamu."
"Memang mamah nggak bilang kalau beliau udah kasih lampu hijau?"
Fennita menghapus air matanya, dia tidak tahu perihal lampu hijau yang diberikan mamahnya. Pantas saja sejak kedatangan Erick dan rombongan, mamahnya selalu menyuruh dia untuk menemani Erick. Ericko tersenyum dan merapikan anak rambut Fennita. Sekarang jadi Fennita yang panas dingin karena sentuhan dari Erick. Kali ini semua anggota tubuh Erick berhasil mengintimidasi dirinya.
"Mamah udah kasih lampu hijau buat kita. Buktinya kamu dikasih izin untuk naik gunung sama Mas, kan? Kemarin ..., Mas juga dapat setoples mete goreng dari mamah," terang Ericko.
"Kok bisa? Kamu ..., nggak lagi bercanda, kan?" Fennita masih tidak percaya.
"Iya, Sayang. Mamah udah ngasih lampu hijau. Papah juga sudah kasih restu ke Mas. Jadi, sekarang tinggal jawaban dari kamu. Fennita Malik, maaf jika kemarin Mas memberimu lara dan air mata. Tapi sekarang ...." Ericko menjeda ucapannya.
Hati Fennita benar-benar dibuat kalang kabut oleh Erick. Tatapan mata yang sangat dalam dan mendamba. Sentuhan lembut namun haus akan belaian. Semua itu tergambar jelas dalam gerak-gerik tubuh Erick.
Baru kali ini, Fennita melihat Erick benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya. Erick yang biasanya enggan untuk bersentuhan, kini sudah lepas kendali berani membelai rambut dan memegang tangannya. Detak jantung Fennita benar-benar menjadi kacau melihat senyuman itu. Dia mencoba terlihat tidak gugup di depan Erick.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip
Othor up 2 bab hari ini. Makin greget nggal sama pasangan ini? 🤭🤭