
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Erick tersenyum dalam hati, instingnya memang patut diacungi jempol empat. Dia berpura-pura tidak mengerti maksud ucapan Zamroni. Dia sok menjadi lugu dan bodoh.
Zamroni tidak mungkin mengatakan hal itu dalam ruangan terbuka. Bisa kacau jika ada yang tahu. Dia menyuruh Erick untuk datang ke perusahaannya untuk membicarakan tugas yang akan segera diberikannya pada calon mantunya itu.
Tapi, Zamroni juga ragu. Bagaimana jika Erick tidak mau?
Tidak! Tidak! Tidak! Erick harus mau melakukan tugas darinya. Karena dia memang tidak suka dengan yang namanya penolakan. Erick mengangguk dan segera menghampiri Fennita. Mengambil barang-barang yang ada di mobil Fennita.
"Yang, eh Fen maksudnya, kamu pulang sendiri nggak papa, kan? Papah kamu nyuruh aku ke kantornya." Ericko mengambil barang bawaannya dan berpamitan pada Fennita.
"Memang ada apa?"
"Nggak tahu, katanya penting dan genting. Nggak papa, kan? Atau mau nemenin aku ke kantor?"
Fennita menggeleng, "Aku pulang saja, Mas."
"Ya sudah, hati-hati pulangnya. Nggak usah mampir-mampir ya? Nanti kalau sudah sampai kabari Mas, ya?"
"Emang harus ngasih kabar? Wait, kita lagi pura-pura apa beneran, nih? Aku suka bingung!" kata Fennita mengoreksi perintah Ericko.
"Pura-pura, tapi kan nggak ada salahnya ngasih tahu. Ya ..., ya ..., ya biar ada riwayat chat gitu diantara kita. Jadi nanti kalau papah atau mamahmu meriksa hp mu kan ada buktinya."
Klise sekali alasan yang Ericko berikan. Bilang saja kamu memang ingin tahu tentang Fennita, Rick! Susah sekali kata itu terucap dari bibirmu. Ericko tidak mau memperpanjang lagi obrolan itu. Dia sudah ditunggu oleh calon mertuanya.
"Assalamualaikum," kata Ericko berpamitan dan menutup pintu mobil Fennita.
"Waalaikum salam."
Ada satu barang yang tertinggal! Kacang mete dalam toples yang diberikan oleh Isnaeni untuk Ericko masih tertinggal. Fennita dengan cepat menyusulkan barang itu. Ericko sudah sampai di mobil Zamroni. Hendak naik, tapi suara Fennita kembali mencegah langkahnya.
"Mas!" Fennita sedikit tergopoh-gopoh sambil membawa toples itu.
"Apa, Yang?"
"Mete dari mamah ketinggalan." Fennita memberikan toples itu.
"Oh iya, makasih ya, Sayang. Mas kira masih kangen!" Ericko mengatakannya dengan sedikit keras agar Zamroni yang telah berada di dalam mobil mendengarnya.
__ADS_1
Fennita hanya mengulum senyumnya. "Pulang, Fen!" perintah Zamroni dari dalam mobil.
"Iya, Pah!"
Fennita segera kembali ke mobilnya. Akhirnya mereka berpisah sesuai tujuan mereka masing-masing.
Zamroni dan Ericko sudah sampai di perusahaan Malik Grup. Perusahaan yang pernah Kalena naungi demi mencari uang untuk keluarganya. Perusahaan yang menjadi saksi peningkatan karir Kalena semasa hidupnya. Juga perusahaan yang menyimpan banyak dusta untuk memuaskan penguasanya.
Ericko langsung diajak oleh Zamroni menuju ruangannya. Melewati meja sekretaris yang dulu Kalena gunakan untuk bekerja. Membayangkan Kalena duduk disana sambil melambai ke arahnya.
Zamroni menatapnya bingung, karena sedari tadi Ericko menatap sekretarisnya. "Kamu suka sama sekretaris saya?"
Ericko segera sadar dari lamunannya, "Oh, nggak Om, ibu saya dulu pernah kerja jadi sekretaris. Dan waktu kecil saya sering diajak ke kantornya. Jadi, tiap lihat meja sekretaris selalu teringat ibu."
Ericko memberikan penuturan yang masuk akal agar tidak menimbulkan kecurigaan di benak Zamroni. Zamroni menyuruh Ericko untuk duduk. Lalu dia melepas jasnya.
"Ada satu hal yang harus kamu lakukan untuk saya, dan saya tidak mau Alex menang dalam hal ini."
Ericko mengernyitkan dahinya. Hal apa yang harus dilakukannya? Kenapa Alex tidak boleh menang? Memangnya mereka sekarang sedang bersaing? Pertanyaan kembali memenuhi otak Erick.
Zamroni menuturkan bahwa satu bulan lagi ada pertemuan tertutup antar pembeli senjata ilegal. Pertemuan itu akan melelang beberapa jenis senjata yang terbaru. Zamroni ingin memilikinya karena dia tahu bahwa Alex sedang bermain curang di belakangnya. Zamroni mendapatkan kabar bahwa Alex akan ikut sendirian dalam pelelangan senjata itu.
Ericko yang mendengarkan perintah itu menunjukkan rasa semangatnya. Otaknya sedang encer, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Saat dia menerima tugas itu, maka dia juga bisa meringkus jaringan penjual senjata ilegal.
"Siap, Om!" katanya semangat.
Membuat Zamroni tersenyum senang. Ternyata Erick memang bisa diandalkan! Dia menelpon seseorang untuk datang ke ruangannya. Zamroni melihat toples berisi kacang mete yang sedari tadi dibawa Erick.
Dia bertanya karena penasaran, "Itu dari siapa?"
"Oh, dari mamah Isnaeni, Om!"
Zamroni mengernyitkan lagi keningnya. Istrinya memberi seorang anak muda kacang mete? Isnaeni bukan tipe orang yang akan memberikan sesuatu jika dia tidak dekat dengan orang itu. Nah ini, Ericko sudah mendapatkan setoples kacang mete. Itu artinya Erick memang sudah dekat dengan anak dan istrinya.
Seorang pria datang membawa sebuah undangan yang dicetak dari e-mail Alex. Entah bagaimana orang itu bisa mendapatkannya, tapi kini Zamroni juga memiliki undangan itu. Zamroni memberikannya pada Ericko. Dia membaca undangan itu. Ada syarat yang harus dipenuhi agar bisa masuk ke forum pelelangan senjata ilegal itu. Erick membaca syarat yang ada, setelah dia memahaminya dia mengangguk.
"Syarat yang ada, semua sudah Om miliki, bukan?" tanya Ericko.
Zamroni menggeleng, "Aku tidak punya kartu anggota forum itu. Karena kartu itu dibawa oleh Alex. Aku belum resmi menjadi anggota Red Fox."
__ADS_1
"Dimana Alex menyimpannya?"
"Di brankas kantor miliknya. Aku tahu itu, karena memang aku melihat sendiri dia memasukkannya ke dalam sana."
Ericko mengangguk, "Oke, Erick akan coba duplikat kartu itu seperti aslinya."
Zamroni tersenyum senang mendengarnya. Benar kata Zumarnis, Erick memang selalu bisa diandalkan. Dia tidak mau tahu bagaimana cara Ericko mendapatkan kartu itu, yang dia mau adalah berhasil mendapatkan senjata ilegal itu untuk dijualnya kembali.
Alex mungkin akan mengkhianatinya, karena jika ada berita besar seperti itu mereka akan mendiskusikannya. Berbeda dengan saat ini, Alex terkesan menyembunyikan undangan dari forum tersebut.
Ericko segera berpamitan pulang. Dia butuh berdiskusi untuk menentukan langkah selanjutnya. Dia mengirim pesan pada Komandan Bambang, Rio, dan juga Dilan untuk segera berkumpul di basecamp. Dia juga harus bisa memikirkan cara mendapatkan kartu identitas asli milik Alex.
Misi baru dimulai!
Ericko telah sampai di basecamp. Dia melihat David sedang belajar membaca Al-qur'an di ruang tamu. Dia tersenyum dan duduk di sebelahnya. David menghentikan belajarnya, dia menatap Ericko dalam-dalam.
"Sebuah forum ilegal akan diadakan di Indonesia. Tepatnya di hotel x. Jika kamu berhasil masuk, maka seluruh jaringan Red Fox akan tertangkap!"
Red fox merupakan jaringan yang diincar oleh semua interpol di belahan dunia. Jaringan yang melakukan aksi jual beli senjata secara ilegal. Dimana David dan Alex ikut menjadi anggota kelompok itu.
"Dari siapa kamu tahu itu?" tanya Erick.
David mengeluarkan sebuah kartu yang mirip dengan kartu ATM. Dia memberikannya kepada Ericko.
"Aku juga bagian dari mereka," kata David.
Ericko tersenyum senang sembari menjentikkan jarinya. Rencananya untuk menduplikat kartu identitas milik Alex batal.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip