Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Ku Butuh Dokter Cinta


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Ericko dan kawan-kawannya berangkat menuju Balikpapan menggunakan pesawat khusus. Ericko lebih banyak diam, keadaannya persis seperti misi mereka saat pulang dari Singapura. Pikirannya sama kacaunya seperti kemarin. Namun, dengan orang yang berbeda. Jika dulu Ericko sedih karena kehilangan Kalena, sekarang dirinya sedih karena kehilangan Fennita.


Dilan melemparkan coklat kepadanya, menyuruh untuk makan coklat itu agar moodnya membaik.


"Udah, sih! Jangan sedih mulu," ucap seseorang yang kini lengannya dipeluk gadis seusia Fennita. Ya, siapa lagi jika bukan pasangan bucin abad ini?


Dilan dan Intan duduk berdampingan. Intan memeluk lengan Dilan seperti takut kehilangan. Membuat mata Ericko jengah melihat pemandangan tersebut. Dia membuka coklat itu dan mulai mengunyahnya.


"Tan, Fenni gimana kabarnya?" tanya Ericko sambil menghabiskan coklat pemberian Dilan.


"Sedih pastinya, tapi tenang aja. Dia pasti bisa menghadapi ini, kok!" jawab Intan.


"Yo, ada korban bucin baru nih! Luka di hatinya menganga lebar. Butuh dijahit kayaknya!" seru Dilan mencoba bergurau.


Rio tertawa mendengarnya, "Gue siapkan alat, Lan. Lo pegangin dia!"


"Gue nggak butuh dokter macam lo pada! Gue butuhnya dokter cinta!" sahut Ericko dengan lantang.


"Ku butuh dokter cinta!" sahut Dilan dan Rio bersamaan.


Lantas membuat semuanya menggodanya. Dia tersenyum karena godaan itu. Andai saja Fennita tahu seberapa besar cintanya saat ini, pasti kemarahannya akan cepat hilang. Andai dia bisa jujur lebih awal, pasti kejadiannya tidak akan serumit ini.


Mereka telah mendarat di bandara kota Balikpapan. Langsung meluncur menuju hotel untuk mengistirahatkan diri. Intan di kamar yang terpisah dari mereka. Dilan ingin masuk ke kamar Intan, tapi Ericko dan Rio sudah menarik kerah kaosnya dengan keras hingga dia tercekik. Intan hanya tertawa melihat tingkah tiga orang pria itu.


"Maafin kami ya, Fen. Ini demi kebaikan semuanya. Biar om Zam juga bisa kembali ke jalan yang benar. Gue yakin, Bang Erick pasti bisa mendapatkan hati lo lagi." Intan masuk ke kamarnya dan merebahkan diri.


Sedangkan para pria itu menyusun strategi dan keluar untuk menyambangi hotel yang akan menjadi tempat terselenggaranya forum tersebut. Mereka harus tahu terlebih dahulu jalur kelistrikan, jalur pintu darurat dan sebagainya untuk kelancaran aksi mereka esok.


Seperti biasa, Dilan akan melakukan tugasnya pertama kali. Mematikan saklar listrik agar bisa mengacaukan sistem perekaman cctv.


"Lan, tolong besok tayangkan di channel yutub Mbak Nahwa, aku ingin ini menjadi viral atas kematian Kalena," ucap Erick dengan nada bicara dingin dan penuh dendam.


Rio dan Dilan saling pandang, "Lo yakin, Rick? Gimana dengan Fennita nantinya?" tanya Rio.


"Fennita sudah terlanjur mengetahui semuanya, dia harus bisa berlapang dada menerima ini. Kematian Kalena harus dibayar dengan harga dirinya yang sudah setinggi langit! Aku tidak akan membiarkan Zamroni merasakan hidup tenang."

__ADS_1


Dilan hanya bisa menerima pesan Ericko tanpa ingin berkomentar apapun. Rio mendengarkan isi percakapan itu. Ternyata Erick memotong percakapan itu. Hanya suara Zamroni yang terdengar disana. Bahkan nama Alex Sanjaya yang ada pada percakapan itu tidak terdengar sama sekali.


Ericko sudah mengubah percakapan itu. Tapi, kenapa? Bukankah malah lebih bagus dan meringankan beban kerja mereka jika nama Alex Sanjaya terbawa dalam rekaman itu? Rio menatap sahabatnya itu penuh kebisuan, meminta penjelasan tanpa harus bertanya.


"Kita tangkap para tikus nakal itu satu per satu, Yo. Alex pasti menjebak Zamroni untuk datang ke acara ini karena dia sudah tahu bahwa aku adalah intel dan mengincarnya. Dan kalau dugaanku benar, maka Alex nantinya yang akan maju dalam PilPres menggantikan sahabatnya. Paham?" jelas Ericko.


Dilan dan Rio paham kemana arah pembicaraan Ericko. Jadi dia memang sengaja untuk menjebak Alex, ingin tahu rencana selanjutnya setelah Zamroni tertangkap.


***


Zumarnis dan Bambang bertemu di kantor Interpol. Satpam yang tadi berpapasan dengan Rio, dipanggil masuk ke ruangan Bambang. Bisa-bisanya kantor yang menjaga rahasia itu mengalami kebocoran data.


Satpam itu menjadi takut. Dia mengingat betul saat melakukan aksinya itu, dia sudah mematikan semua cctv agar dirinya tidak terekam. Tapi, kenapa dia masih dipanggil oleh Komandan Bambang?


Zumarnis mempersilahkannya duduk. Bambang menyalakan layar monitor di ruangannya. Menayangkan rekaman satpam itu sedang mencuri data profil dan foto-foto Ericko saat akan diseleksi menjadi anggota BIN.


Wajahnya kaget bukan kepalang, melihat rekaman cctv itu. Bagaimana bisa? Kok masih terekam? Bukannya kemarin sudah mati semua? Itulah beberapa pertanyaan yang mencuat dari otak satpam itu.


"Kenapa? Kaget?" tanya dua orang itu, Zumarnis dan Bambang bersama-sama.


"Jawab kami dengan jujur kalau kau masih cinta sama kerjaanmu ini!" lanjut Bambang sudah melotot.


Zumarnis dan Bambang ingin sekali memukul orang itu. Enak sekali dia meminta maaf atas apa yang telah dilakukannya. Rencana mereka hampir gagal karena ulah orang itu!


"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Zumarnis.


"Saya tidak tahu namanya, tetapi saya mendapatkan transferan dari nomor rekening ini, Bu."


"Bagaimana kamu bisa mendapatkan foto agen kami saat masih menjadi anggota Koppasus?"


"Sa-saya anu ...,"


"Jawab cepat kalau kau masih sayang sama lehermu!"


"Saya meminta fotonya dari teman saya yang bekerja di Koppasus. Tapi, tolong! Jangan libatkan teman saya. Dia hanya tahu itu untuk kepentingan kantor. Dia tidak terlibat lebih jauh untuk hal ini," terang satpam itu.


"Bagaimana kau tahu agen kami mantan anggota Koppasus?"

__ADS_1


"Saya mengirimkan foto itu di grup satpam dan menyuruh teman saya untuk memberikan informasi. Dan ternyata memang teman saya tahu bahwa dia mantan anggota Koppasus."


"Oke, berarti temanmu juga terlibat dalam hal ini."


"Tolong jangan libatkan ...,"


"Siapa nama temanmu?"


Zumarnis mencecarinya dengan banyak pertanyaan. Satu pertanyaan belum dijawab, muncul pertanyaan lagi. Baru saja selesai menjawab pertanyaan, muncul pertanyaan lain. Itulah metode yang digunakan Zumarnis dalam menginterogasi seseorang. Pertanyaan mendadak dan cepat, akan menghasilkan kejujuran dalam menjawabnya.


Entah teori tersebut benar atau tidak, yang pasti dia sudah mengantongi jawaban dari satpam itu. Dia dan Bambang juga akan mengusut secara tuntas, apakah satpam itu diancam oleh seseorang? Atau hanya dijanjikan diberikan uang?


"Mana nomornya? Biar saya catat," ungkap Zumarnis.


Satpam itu mengeluarkan ponselnya. Menunjukkan nomor rekening yang memberikannya uang sebagai upah kerja kerasnya.


"Secara kode etik, kau telah merugikan kami. Aku nggak tahu nasib kau gimana. Berani berbuat, maka berani menanggung resikonya. Kasusmu sudah masuk ke kepala divisi kedisiplinan. Terima kasih karena sudah jujur kepada kami. Silahkan keluar," ucap Bambang mempersilahkan satpam itu keluar dari ruangannya.


Zumarnis mulai menggunakan aplikasi pelacak nomor rekening untuk mengetahui siapa pemiliknya.


"Apa kamu tidak mencari cctv itu?" tanya Zumarnis.


"Kucari! Tapi karena aku ngantuk, makanya aku tidak melihatnya. Ha-ha-ha. Dahlah! Penting mantumu terbukti cerdas!"


"Dasar! Bisa-bisanya santai begitu!"


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


Lunas ya? Lunas!


__ADS_2