Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Apa Kalian Intel?


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Fennita berlari meninggalkan kafe x dan menghentikan sebuah taksi. Ericko yang terlambat mengejarnya merasa kesal dan menendang sebuah kaleng dengan sangat keras hingga kaleng itu terpental jauh. Dia kembali ke kafe x dan membuat perhitungan dengan Dion. Tidak habis pikir, kenapa Dion bisa mendapatkan semua informasi tentang dirinya.


Adu mulut terjadi diantara Ericko dan Dion Sanjaya. Ericko bersumpah akan mengungkap siapa sebenarnya papah Dion. Dia bersumpah akan membuat Alex bagaikan hidup di neraka. Dan dia juga bersumpah bahwa dia tidak akan membiarkan Dion mendapatkan hati Fennita.


Sampai kapanpun! Selama napasnya masih berhembus, maka dia akan selalu memisahkan Fennita dengan Dion jika pria itu masih berani mengganggu Fennita. Posesif sekali Anda, Pak!


Ericko pergi meninggalkan kafe x. Dia melajukan mobilnya menuju rumah Fennita. Dia teringat akan teka-teki kebocoran datanya. Dia meminta Dilan untuk mencari tahu siapa yang membocorkan datanya. Komandan Bambang terlalu lama memberinya informasi sehingga dia harus meminta bantuan Dilan.


Dia mengemudikan mobil dengan ugal-ugalan. Berkejaran dengan waktu agar Fennita tidak masuk ke rumah terlebih dahulu. Tapi dia keliru, Fennita tidak pulang ke rumah. Dan dia seakan lupa untuk melacak lokasi Fennita.


"****! Kenapa nggak gue lacak dulu lokasinya? Bodoh!" umpat Erick terhadap dirinya sendiri.


Dia segera menepikan mobilnya dan melacak keberadaan Fennita. Dia harus memutar arah lagi. Fennita berada di jalan yang menuju arah rumah Rio. Dengan cekatan dia menghubungi Rio lewat earphone bluetoothnya.


"Yo, kalo Fenni kesana tolong tahan dia supaya nggak pergi! Please! Gue jelasin nanti pas gue tiba. Hmm. Oke, makasih!"


Dia melepaskan earphone itu dan memukul setirnya karena kesal. "Dion sialan! Awas aja lo nanti! Gue obrak abrik hidup lo! Tungguin aja tanggal mainnya!"


***


Fennita sudah berada di depan pintu rumah Naomi. Tanpa memencet bel, Naomi sudah langsung membukakan pintu untuknya. Membuatnya tersenyum kecut dan semakin yakin bahwa ucapan Dion memang benar adanya.


"Wow, gesit amat bukain pintunya, Kak! Bang Rio mana?" tanya Fennita mencoba tenang.


Naomi melihat raut wajah Fennita yang sedang mencoba menyembunyikan kesedihannya. "Kamu kenapa?" tanya Naomi.


"Masa Kakak nggak tahu aku kenapa? Bang Rio mana?" tanya Fennita langsung melewati tubuh Naomi, masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan bibinya juga Rio.


"Bang, aku mau tanya, tolong jawab dengan jujur." Fennita langsung mencecari Rio dengan pertanyaan.


Bibinya menyuruh dia untuk duduk terlebih dahulu, tapi Fennita menolaknya. Sepertinya kemarahan sudah mengendalikan diri Fennita.


"Apa Mas Erick seorang intel? Dan kamu juga seorang intel?" tanya Fennita menahan amarahnya.

__ADS_1


Rio tetap bersikap tenang menghadapi Fennita. Dia ingin menjawab, tapi takut jika salah bicara. Bukankah selama ini yang tahu penyamaran Erick adalah Alex, Dion, dan Zamroni? Darimana Fennita tahu? Apakah Erick sendiri yang memberitahunya?


Belum sempat pertanyaan itu dijawab oleh Rio, Ericko muncul dengan langkah tergopoh-gopoh. "Yang," panggil Erick begitu lembut.


Fennita memejamkan matanya dan air mata itu menetes di pipinya yang mulus. "Stop panggil aku dengan sebutan itu, Mas! Apa tidak ada diantara kalian yang ingin memberitahuku? Siapa sebenarnya kalian? Apa kalian intel? Kak Nom, apa benar mereka berdua intel?" cecar Fennita sambil menangis sesenggukan.


Zumarnis dan Naomi tetap diam tak bersuara. Mereka tidak punya hak untuk mengungkap jati diri Rio dan Ericko.


"Ya, aku intel," jawab Ericko singkat dan dengan menatap mata Fennita dalam-dalam.


"Lalu, apakah Kalena yang dimaksud Dion adalah Mbak Lena mantan sekretaris papah?"


"Ya,"


"Punya alasan apa kamu sampai menuduh papahku seorang pembunuh? Memangnya Mbak Lena matinya seperti apa? Ha? Digorok? Diodel-odel tubuhnya? Digantung? Atau apa?"


Pertanyaan yang menusuk relung hati Ericko tercuat dari mulut Fennita. Tidak sepantasnya Fennita mengatakan tentang kematian Kalena dengan kalimat kasar seperti itu.


"Cukup, Fen! Jangan menjelek-jelekkan kematian Kalena! Dia wanita terhormat! Dia, dibunuh oleh papahmu! Ya! Aku mendekatimu karena misi untuk mengungkap kejahatan papahmu! Kalena tahu rencana jahat papahmu! Dia licik!"


Zumarnis mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Memutarkan rekaman yang dulu pernah Erick dengar. Rio dan Naomi menganga mendengarkan rekaman itu. Satu pertanyaan di kepala mereka, kenapa Zumarnis bisa memilikinya?


"Bibi yang memasang penyadap ini di kantor, Bibi mencurigai papahmu terlibat kasus penjualan organ. Target sebenarnya adalah Alex, tapi papahmu ada kaitannya dengan hal ini. Bibi yang menyuruh Ericko melaksanakan misi ini, berharap kamu tidak mengetahuinya sampai akhir. Tapi, ternyata kamu mengetahuinya lebih cepat. Maafkan Bibi, Fen."


"Apa Bibi juga sama seperti dia?"


Zumarnis mengangguk mantap. "Mantan," terangnya kemudian.


Fennita langsung mengangguk paham, berarti disini dirinya yang terlalu bodoh hingga tidak tahu apapun. Jujur, sekarang hatinya berdenyut menahan nyeri. Dia langsung balik badan dan berlari keluar rumah Naomi. Ericko mencoba mengejarnya, tapi ditahan oleh Zumarnis.


"Biarkan dia mengatasi emosinya terlebih dahulu."


Ericko hanya bisa menahan kesal. Raut wajahnya benar-benar khawatir akan keadaan Fennita. Dia menghubungi Dilan kembali.


"Tolong bilangin ke Intan, suruh dia menemani Fennita, Lan. Dia ..., dia ..., akh ..., dia sedang dalam keadaan yang hancur."

__ADS_1


Ericko pergi begitu saja meninggalkan rumah Naomi. Rio dan Naomi memicingkan mata siap menginterogasi Zumarnis.


"Bukan waktunya anak-anakku, nanti Mamah jelaskan. Atasi keadaan yang kacau dulu. Rio, datang ke kantor. Cari rekaman cctv ruang A41, laporkan ke Mamah cctv itu. Mamah tunggu. Berani-beraninya ada yang mengusik agen hantu kami. Siapakah itu?"


Rio mengangguk dan segera bergegas. Sementara Naomi diberikan tugas oleh mamahnya untuk mencari keberadaan Fenni. Dan Zumarnis sendiri akan mendatangi rumah adiknya itu.


Fennita berhenti menyusuri jalanan, dia duduk dengan menenteng high heelsnya. Dia berjongkok memeluk tubuhnya sendiri dan menangis di bawah temaramnya lampu jalanan.


Ericko yang sedari tadi ikut berjalan membuntutinya dari jauh juga ikut hancur melihat wanita itu menangis. Bukan maksud hatinya untuk membuatnya hancur, bukan keinginannya melihat wanita yang saat ini merajai hatinya menangis.


"Ya Allah, kuatkanlah hatinya seperti sebelumnya," pinta Ericko lirih.


Seorang wanita berdiri di depan Fennita. Intan sedang berdiri sembari bersedekap menatap nasib yang dialami sahabatnya.


"Bangun! Lo bukan wanita lemah! Fennita yang gue kenal nggak pernah nunjukin kelemahannya sama dunia! Bangun!" kata Intan tegas.


Fennita mendongak, tangisnya semakin pecah dan keras melihat sahabatnya ada di depannya. Intan menarik tangannya untuk segera bangkit. Lalu mereka berpelukan.


"Jangan nangis, Fen. Ada gue! Intan! Sahabat yang selalu ada saat lo butuh," ungkap Intan menenangkan Fennita dengan menatap Ericko yang berada jauh di belakang.


Ericko sedikit lega karena Fennita sekarang bersama orang yang tepat. Orang yang memahami perasaannya. Intan lah orang yang dibutuhkan oleh Fennita sekarang.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


__ADS_2