Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Hipotermia


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Isnaeni memberi izin bagi Fennita untuk naik ke Gunung Sumbing. Ia berpesan kepada semuanya agar hati-hati dalam bertindak maupun berucap. Menghormati dan menghargai alam. Fennita mengambil beberapa keperluannya. Dan yang lain menunggu di mobil.


Perjalanan dimulai kembali. Dilan menyetir menggantikan Rio. Erick duduk di belakang bersama Fennita. Sedangkan Rio duduk di tengah bersama Naomi. Jadilah mereka bulan-bulanan kawanan itu.


"Kemarin pas ilang nyariin! Sekarang ketemu cuma dianggurin!" ucap Rio menyindir Ericko.


"Pantun yang bagus, Sayang! Kemarin sih aku denger ada yang mau ngajak nikah kalau udah ketemu, lhah ini kok mlempem!" sahut Naomi.


Dilan dan Intan hanya tertawa dari kursi depan mendengar sindiran keras itu. Yang disindir hanya bersedekap dan diam. Fennita mencoba bersikap natural, tapi tetap tidak bisa. Semburat merah muda itu selalu muncul di pipinya tanpa permisi. Dilan menanyakan rute kepada Ericko.


"Ikutin maps aja! Nanti juga sampai!" jawab Erick sewot.


"Nggak mampir dulu ke Banyuurip, nih? Siapa tahu ada yang pengen dikenalin, kan?" sahut Rio.


Ericko menjambak rambut Rio yang ikal itu dengan keras. Membuat Fennita tertawa kecil. Sepertinya Ericko akan kenyang dengan olok-olokan itu. Duduk berdua berdampingan seperti itu dengan Fennita membuat Erick merasa nyaman. Tapi rasa canggung benar-benar membelenggu keduanya. Erick harus punya waktu untuk bicara berdua dengan Fennita. Padahal tadi dia sudah bisa tertawa dan membohongi Fennita. Kini dia menjadi kaku lagi.


Perjalanan memakan waktu satu jam. Dan kini mereka telah sampai di Cepit, Bagusan, Parakan, Kabupaten Temanggung. Rio memakaikan carrier bag kepada istrinya. Begitu juga Dilan, memakaikan carrier bag pada Intan. Fenni mengambil carrier bag yang telah disiapkan untuknya dan mencoba memakainya.


Agak berat karena isinya bermacam-macam barang yang diperlukan untuk naik gunung. Ada sleeping bag, tenda, jas hujan, pakaian ganti, air, makanan, dan tali. Ericko menemui ketua RT setempat dan mendaftarkan kelompok mereka di basecamp Cepit. Basecamp Cepit bisa dibilang tidak ada, karena jalur ini biasanya digunakan oleh peziarah. Ia meminta satu per satu KTP anggota yang akan naik. Pak RT berpesan pada mereka agar hati-hati saat melewati pos pemantauan, karena konon tempat itu dijaga oleh siluman harimau. Entah itu benar atau tidak, wallahu alam bis shofaw.


Mereka berkumpul, kali ini yang akan memimpin jalan adalah Dilan. Di belakangnya akan disusul Intan, Naomi, Rio, Fennita, dan Erick. Dilan memimpin do'a bersama dan menjelaskan rute yang akan mereka lewati. Ketua RT mengingatkan tentang salat ashar, dan mereka semua belum melaksanakannya, jadi mereka memutuskan untuk naik setelah salat.


Pendakian dimulai, Dilan memperhatikan rute yang dilaluinya. Untuk sampai ke pos pemantauan waktu yang akan mereka tempuh sekitar dua jam. Sesekali dia menanyakan anggotanya apakah masih kuat atau tidak.


"Capek, nggak?" tanya Erick.


Rio yang bisa mendengar pertanyaan Erick kembali menggodanya. "Lo tanya sama gue, Beb?" tanya Rio.


"Ck! Diem deh, Yo! Gue lagi ngomong sama Fennita!" jawab Erick sewot.


"Ha? Kenapa?" tanya Fenni bingung.


"Dahlah gue diem!" sahut Rio.

__ADS_1


"Kamu capek, nggak?" tanya Erick pada Fennita.


Fennita menggeleng. "Mau minum?" tanya Erick lagi.


"Minumku masih kok, Mas. Makasih," balas Fenni.


Erick menghela napasnya. Obrolannya terlalu kaku, tidak bisa sesantai dulu. Akhirnya dia bungkam kembali. Tidak terasa mereka telah sampai di pos pemantauan. Bertemu dengan beberapa pendaki yang turun. Langit sudah gelap membuat mereka istirahat dan sholat terlebih dahulu di pos itu.


Seusai maghrib mereka kembali melanjutkan pendakian. Waktu tempuh jalur yang akan mereka lewati kali ini sekitar satu jam. Mereka mulai memasuki hutan cemara. Baru setengah jam berjalan, Fennita merasakan tubuhnya tidak enak. Tiba-tiba mual dan mencoba muntah. Tidak ada yang keluar dari mulutnya. Dia tidak kuat lagi untuk berjalan. Dia berjongkok dan menggigil.


Erick yang berada di belakangnya langsung tahu ada yang tidak beres. Dia berteriak agar Dilan dan yang lain berbalik. Fennita mengalami hipotermia atau kedinginan ekstrem.


"Kamu kenapa, Fen? Kamu kedinginan? Yang, jawab!" bentak Erick mulai panik. Baru kali ini dia panik dalam kondisi darurat. Biasanya dia akan tetap tenang meski badai menyerang.


Fennita hanya mengangguk. Jarak yang merenggang antara Fennita dan teman-temannya membuat dia makin kedinginan. Erick melepas jaketnya dan memakaikannya pada Fennita. Memeluknya dan menyuruh semuanya melakukan hal yang sama pada Fennita. Tidak ada pertolongan lagi dari pendaki lain, mengingat jalur yang mereka pilih tidak ramai digunakan oleh para pendaki.


"Bertahan ya, Yang! Masih dingin? Ha?" tanya Erick panik dan tidak sadar memanggil Fenni dengan sebutan 'yang' sedari tadi. Fenni hanya diam tidak bisa menjawab pertanyaan Erick. Dilan bertanya apakah ada yang membawa coklat? Intan mencoba mencari makanan miliknya. Ternyata masih ada. Intan menyuapkan Fenni coklat itu, berharap ada kalori yang bisa membuatnya menghangat.


Naomi juga mencari coklat yang ada di tasnya dan tas Fennita. Fennita kesulitan untuk mengunyah. Rahangnya terasa beku dan kaku. Erick memaksanya untuk langsung menelan coklat itu. Berkat pertolongan yang didapat Fennita, kini tubuhnya kembali hangat. Fennita berniat mengembalikan jaket Ericko, tapi ditolak oleh yang punya. Erick menyuruhnya untuk melapisi jaketnya.


"Kamu, gimana?" tanya Fenni.


"It's okay. Masih dingin?" tanya Erick.


Fennita menggeleng. "Ajakin ngobrol, Rick!" perintah Rio.


"Iya bawel!" jawab Erick.


Erick menggenggam tangan Fennita. Tapi segera ditepis oleh Fennita. Dia masih menjaga batasan yang ada. Erick sedikit kecewa, tapi mencoba untuk memahami. Naomi menceritakan kesehariannya kepada Fennita, agar Fennita lebih banyak bicara. Fennita memasukkan tangannya ke dalam saku jaket Erick, menyentuh suatu benda berbentuk kotak. Dia ingin mengambilnya, tapi tidak jadi. Erick mengajaknya ngobrol kembali.


"Kamu masih sendiri?" tanya Erick mencoba mensejajarkan langkahnya.


Napas Fennita masih terengah-engah setiap berjalan. Erick menyuruh Rio meninggalkan mereka berdua. Carrier bag Fennita dibawa oleh Erick. Ya, dia membawa di depan dan belakang. Fennita menjadi tidak enak hati.


"Berat nggak, Mas?" tanya Fenni memastikan keadaan Ericko.

__ADS_1


Erick menggeleng, "Lebih berat nahan kangen pengen ketemu sama kamu."


Fennita tersipu malu mendengar ucapan Erick. Bisa-bisanya dia menggombal saat dia sakit dan lemah seperti itu. Erick mengulangi pertanyaannya. Berharap ada jawaban untuk kegelisahan hatinya.


"Kamu masih sendiri?" tanya Erick lagi.


Fennita tahu apa yang diharapkan Erick, "Nggak ...."


"Ha? Terus sekarang sama siapa?" tanya Erick terkejut mendapat jawaban Fenni.


"Lha ini kan lagi sama kamu, sama Intan, Naomi, Bang Rio, sama Dilan. Huft ..., Mas, istirahat lagi nggak papa, kan? Capek." Fennita mengatur napasnya agar tidak tersengal-sengal.


"Jawabnya yang benar to, Fen. Maksud Mas, kamu sudah punya gandengan?" tanya Erick lagi.


Fennita hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Erick. Dia berjalan kembali. Baru sepuluh langkah, dia ingin istirahat lagi. Ericko menuruti kemauannya. Begitu seterusnya hingga jarak yang terjadi antara dia dan Rio jauh.


Dia melihat Rio dan rombongan di depan sudah tidak terlihat lagi. Membuatnya memaksakan fisik Fennita mampu melewati jalur pendakian itu. Dia memberikan tips bagi Fennita saat ikut mendaki. Minum sedikit saja untuk membasahi kerongkongan, karena jika terlalu banyak malah akan membuat kita lemas.


Jika Fennita meminta berhenti untuk mengatur napas, tangan Erick akan langsung menarik jaket yang dipakai Fenni. Mereka tidak bisa berlama-lama dan semakin jauh dari rombongan. Keadaan yang gelap gulita memaksanya untuk tetap bersama rombongan. Pendakian yang harusnya hanya memakan waktu satu jam, menjadi molor hingga dua jam.


Tak terasa mereka sudah sampai di pos satu. Disana mereka bertemu pendaki dari Jakarta. Mereka mendirikan tenda. Fenni memilih tidur saat tendanya sudah jadi. Yang lain memasak mie untuk makan malam. Dilan sudah sangat mengantuk, jadi dia memutuskan untuk masuk ke tenda terlebih dulu bersama Intan.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


__ADS_2