
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Rio sudah masuk ke dalam ruang A41. Ternyata itu adalah ruang kontrol cctv. Dia menggosokkan kedua telapak tangannya siap beraksi mengungkap siapa orang yang berhasil membocorkan data diri Ericko. Dia mencari rekaman mulai dari tanggal hari itu mundur hari ke belakang.
Harus bersabar karena tidak mudah mengungkap siapa pelakunya. Saat Rio akan menyerah, disitu keajaiban datang menolongnya. Dia memutar kembali rekaman itu, lalu menampilkan seseorang yang sama mengitari gedung A sampai tiga kali. Rio tercengang bukan main setelah mengetahui orangnya.
Masih ingat dengan satpam yang diberikan uang oleh Rio? Dialah pelaku yang membocorkan data anggota BIN. Jika dinalar, dia hanya seorang satpam tapi mampu untuk mencuri data. Bukankah ada yang janggal?
Tapi, dia adalah pemilik akses keluar masuk gedung itu dengan alasan pemeriksaan keamanan. Selesai! Rio segera mengirimkan rekaman itu ke Zumarnis. Dia mendapatkan WA dari Dilan, yang mengatakan bahwa Komandan Bambang menyuruh mereka berkumpul di kantornya.
Rio segera bergegas menuju kantor Komandan Bambang. Ternyata disana sudah ada Dilan, Intan, Ericko, dan Komandan Bambang.
"Gue yakin bukan David orang yang membocorkan data lo. Dia cuma belajar ngaji sama sholat di basecamp. Yakin, gue!" terang Dilan pada Ericko.
"Bukan David! Tapi orang yang ada di lingkungan kita!" sahut Rio.
Membuat Komandan Bambang mengernyit. Rio memberikan ponselnya pada Komandan Bambang, reaksinya sama seperti Rio pertama kali melihatnya. Tidak menyangka dan tidak menduga bahwa satpam itulah pelakunya. Padahal dia juga sudah mencarinya, tapi tidak menemukan siapa pelakunya.
"Aneh, kemarin aku nyari kok nggak ada. Pas kamu nyari kok ada? Apa waktu itu aku tidur sampai terlewat yang bagian ini, ya? Kamu sudah memberikannya pada Zumarnis?"
Anak buah Komandan Bambang memutar mata malas. Seperti itulah komandan mereka, selalu menyepelekan hal genting.
Rio mengangguk, "Oke, biarkan hal itu diurus olehnya. Aku harus mendisiplinkan kalian!" ucap Komandan Bambang.
"Rick, posisi plank!" Erick langsung menuruti perintah komandannya.
"Tahu salahmu?"
"Siap! Karena tidak patuh terhadap perintah dan malah keluar bersama Fennita!" jawab Ericko lantang.
"Cerdas! Apa kamu sudah bucin sama Fennita sampai bisa lepas kendali seperti itu?"
"Siap! Sepertinya iya!"
Rio, Dilan, dan Intan tertawa mendengarnya. Bagaimana tidak? Siapa yang dulu keukeuh bilang tidak akan jatuh cinta sama Fennita? Dasar mulut Erick! Persis seperti buaya darat! Buaya! Mana buaya? Tidak bisa dipercaya.
"Malam ini kalian berempat harus berangkat ke Balikpapan, karena Zamroni sudah masuk perangkap Alex. Tapi itu baru analisisku. Aku dan Zumarnis akan menyusul esoknya, karena harus membereskan masalah akibat ulah bucinnya! Tetap laksanakan rencana yang telah kita susun. Erick akan masuk sebagai David, dan Intan akan menjadi sekretarisnya. Putar rekaman ini untuk menyudutkan Zamroni." Komandan Bambang memberikan rekaman itu pada Ericko.
Lalu mereka bertiga diusir dari ruangan Komandan Bambang. Tinggal Ericko yang masih dalam posisi plank dan Komandan Bambang.
"Duduk, Rick," perintah Komandan.
Ericko segera duduk, berhadapan dengan Komandan Bambang. "Huft ..., gimana rasanya melihat Fennita terluka?"
"Sakit," jawab Erick tegas.
"Padahal, aku dan Mar sudah berencana akan menutup rapat-rapat identitasmu. Dan saat misi selesai, kau tidak harus mengungkapkannya pada Fennita. Eh, udah ketahuan lebih dulu. Ya sudah, mau bagaimana lagi?"
Erick diam tidak dapat menjawab ucapan komandannya. "Urus masalah hatimu setelah misi berakhir. Untuk sementara, jauhi Fennita dulu. Dion akan semakin menyebarkan informasimu jika kau terus mendekati Fennita."
__ADS_1
"Siap!"
"Pulanglah dan bersiap. Fokus untuk esok hari."
"Siap, Ndan!"
Ericko segera keluar menyusul rekan-rekannya. Disana Rio sedang berbicara dengan satpam itu lagi.
"Pak, amanah itu berat pikulannya. Tapi, berkat sikap amanah, kita akan mendapatkan nilai tertinggi dari sudut pandang orang lain," ucap Rio begitu saja tanpa basa-basi sebelumnya.
Satpam itu terhenyak mendengarkan ucapan Rio, seakan Rio tahu kesalahannya.
"Ma-maksud Pak Rio apa?"
"Oh, nggak, nggak ada maksud apa-apa pak. Cuma mau ngasih tahu aja bahwa kita yang disini itu sudah disumpah janji untuk amanah menjaga rahasia. Dan janji itu bukan sekedar janji belaka, karena Al-Qur'an ada di atas kepala kita kala itu. Benar kan, Pak?"
Ericko menengahi pembicaraan itu, "Yo, buruan balik, yuk! Gue laper pengen makan."
Erick merasa ada yang aneh saat satpam itu memandangnya. Seperti tatapan seseorang yang menyimpan dendam lama. Penuh kebencian dan amarah. Tapi, Erick bertemu dengannya baru dua kali. Apakah Erick pernah bermasalah sebelumnya? Dia tidak mau memikirkan hal ini dulu. Kepala dan hatinya sudah cukup kacau malam ini.
"Oke." Mereka bergegas kembali ke mobil masing-masing.
Ericko telah sampai di basecamp. Dia berjalan tanpa semangat menuju sofa. David yang melihatnya heran dengan sikap Ericko.
"Lo, kenapa?"
Ericko memeluk bantal sofa itu, "Identitas gue berhasil diungkap, Dion. Dan sekarang ..., Fennita tahu. Dia marah ke gue."
Ericko tersenyum mendengarnya, David sudah banyak kemajuan.
"Kalau nggak ada jalan keluarnya?" tanya Ericko.
"Berarti lo yang harus jalan-jalan. Ha-ha-ha."
Mereka berdua tertawa lepas dengan candaan ringan itu.
"Gue udah pasrah sama rencana Allah, kalau nanti gue mati, tolong sampaikan maaf gue ke orang tua gue. Dan tolong jaga mereka seperti lo jaga orang tua lo, Rick! Bisa?" sambung David.
Ericko menatap mata David yang berkaca-kaca saat mengatakannya. Sungguh tulus rasa sayang itukepada kedua orang tuanya. Ericko mengangguk. David tersenyum.
"Terima kasih, Rick!"
"Sama-sama."
"Dua hari lagi, adalah hari terakhir gue disini. Komandan minta, saat nanti interpol mengungkap jaringan Red Fox, gue menyerahkan diri."
Ericko mengangguk, "Pesen gue, tetep istiqomah dalam belajar agama."
"Yes! Selamat berjuang mengungkap kebusukan Alex, mendapatkan restu dari Zamroni, dan maaf dari Fennita."
__ADS_1
"Makasih, gue ke kamar dulu." Ericko berjalan meninggalkan David.
Dia menarik kursi dan melihat layar ponselnya. Memutar kembali foto kolase Fennita. Jujur, dia merindukan tawa itu. Mengharapkan kehadirannya di hari-harinya.
Dia memejamkan matanya sebentar dan membukanya kembali. Mengingat perintah Komandan Bambang yang menyuruh mereka terbang ke Balikpapan malam ini juga.
***
Isnaeni membersihkan ruang kerja suaminya, dan tidak sengaja menyenggol vas bunga yang ada di meja sudut. Membuat benda keramik itu pecah berkeping-keping. Isnaeni menyesali perbuatannya.
Kalau saat ini ada Zamroni, pasti lelaki tua itu sudah mengomelinya habis-habisan. Fennita yang mendengar ada suara pecah langsung beranjak mendekati sumber suara.
"Kenapa, Mah?" tanya Fennita.
"Awas, Nak! Ada pecahan vas bunga. Hati-hati, sayang," ucap Isnaeni yang mulai memunguti pecahan vas itu dan memasukkannya ke tempat sampah.
Fennita membantu mamahnya memungut sati per satu pecahan itu. Memastikan tidak ada yang tertinggal, karena dapat membahayakan kaki. Dia melihat sesuatu yang aneh. Dia mengambil benda itu dan menyembunyikannya.
Setelah selesai, dia kembali ke kamar. Duduk di tepi ranjang dan melihat benda itu lagi.
"Ini apa, ya? Coba searching, ah!"
Fennita berselancar di dunia maya. Mencari informasi tentang alat itu. Tidak ada yang sama persis, hanya mirip. Dan keterangan yang didapatnya adalah cctv mini.
Dia menghela napasnya, kalau benar itu cctv pasti ada benda lain. Akhirnya dia kembali ke ruang kerja papahnya. Mencari benda itu di semua area. Bukan menemukan yang sama seperti cctv, ini beda lagi.
Fennita kembali mencari informasi dari gogling. Alat itu adalah penyadap suara. Dia kembali menyimpannya, berniat akan mengembalikan pada pemilik sebenarnya. Tapi, apakah Fennita tahu?
Fennita duduk di kursi belajarnya. Dia melihat dua benda itu. Lalu teringat akan kedatangan Ericko ke rumahnya.
"Jadi ini milikmu?" tanyanya sendiri.
"Aku masih belum percaya kalau papah melakukan hal sejahat itu sama orang lain. Aku tahu papah itu kasar, selalu mengekang aku, tapi, apa mungkin sampai membunuh orang?"
Dia terdiam sesaat, "Apa om Alex ada hubungannya dengan semua ini?"
"Akh ..., kepalaku pusing!"
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip
Semangat pagi every badeh, selamat weekend.