Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Tolong Jauhi ...,


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Isnaeni menangis dengan memeluk kakak iparnya. Masih belum bisa menerima kenyataan yang ada. Saat dia bertanya dimana suami dan anaknya, hatinya kembali pilu. Hari ini, kenyataan memukul dan menamparnya dengan sangat keras. Hingga ia terpelanting jauh dan mengalami luka di hatinya.


Dia merasa ini adalah salahnya. Tidak bisa menjadi istri yang solehah. Tidak bisa mengingatkan kemana suaminya harus melangkah. Dia terlalu tidak peduli dengan kehidupan suaminya. Dia terlalu egois untuk dirinya sendiri.


"Teh ..., aku mau ketemu Fennita. Dia pasti ..., hiks ..., dia pasti butuh aku sekarang," ucap Isnaeni terbata-bata.


Zumarnis menenangkannya. Memberikan air putih untuknya agar lebih bisa mengendalikan emosinya. "Fennita baik-baik saja, dia lagi sama Erick, Is."


"Erick ada disini? Alhamdulillah Ya Allah, terima kasih sudah menghadirkan pria yang baik untuk anak hamba," panjatnya dengan tangan menengadah ke atas.


Ericko semakin tidak enak hati mendengar Isnaeni menyebutnya sebagai pria baik. Dia merasa dirinya tidak sebaik itu. Malah menurutnya, dia yang membuat kekacauan untuk keluarganya. Membuatnya jatuh pingsan dan terbaring di rumah sakit, membuat hati anaknya terluka, dan membuat viral Zamroni.


Itu semua karena dendamnya atas kematian Kalena. Dia ingin balik badan, tapi sudah tertangkap basah oleh Isnaeni. "Rick ...,"


Ericko kembali menoleh. Zumarnis tahu dirinya harus kemana. Meninggalkan keduanya untuk bisa saling memaafkan dan menerima kenyataan yang ada. Dia mengambil tas dan ponselnya, lalu tersenyum sembari menepuk pundak Erick.


"Tante temani Fennita dulu," ucap Zumarnis. Ericko mengangguk.


Berjalan perlahan menuju bed Isnaeni. Duduk dan menggenggam tangannya.


"Tante, Erick minta maaf atas semuanya. Erick minta maaf, Tante. Hiks ..., Erick minta maaf membuat kalian semua mengalami hal ini. Hiks ..., Erick minta maaf melukai hati kalian." Erick mengatakan hal itu dengan menangis.


Isnaeni menjadi bingung dengan sikap Erick. Mengapa dia perlu minta maaf? Memang apa kesalahannya?


"Kamu kenapa, Rick?" tanya Isnaeni.


Ericko menghapus air matanya. Lalu menjelaskan semuanya dari awal. Isnaeni yang masih syok, semakin lemas mendengar kenyataan yang disampaikan Erick. Lidahnya kelu, tidak bisa mengucapkan apapun.


Isnaeni menyuruhnya untuk menunggunya di luar. Dia ingin menenangkan dirinya sendiri. Membuat Erick tidak dapat membantah apapun. Dia harus siap dengan konsekuensi yang akan didapatnya.


Erick keluar dari kamar Isnaeni. Duduk di lantai dengan mencengkeram rambutnya sendiri. Rio datang membawakan makanan untuknya. Dia tahu bahwa sahabatnya itu benar-benar sedang terluka. Dia duduk menemaninya tanpa berucap satu patah katapun.


Hingga dua jam berlalu, Erick masih duduk lemas di lantai. Dokter maupun perawat yang berlalu lalang untuk mengecek kondisi Isnaeni sama sekali tidak ia hiraukan. Hingga ada salah satu perawat yang memanggil namanya.

__ADS_1


"Iya, Sus. Kenapa?" tanyanya.


"Anda dipanggil bu Isnaeni, Pak."


Erick segera bangkit. Berjalan dengan semangat masuk ke kamar Isnaeni. Melihat Isnaeni tersenyum padanya, membuat hatinya dijalari semangat.


"Duduk sini, Rick."


Ericko menuruti perintah Isnaeni, "Tante minta maaf atas nama om Zam. Tolong maafkan om Zam yang tega membunuh Lena. Tante bisa mengerti kenapa kamu melakukan hal itu. Selain karena dendam, tugas kamu adalah pahlawan yang menegakkan kebajikan. Tante paham akan hal itu."


Isnaeni meminta Erick untuk membantunya duduk. Sekali lagi, Erick menuruti keinginan Isnaeni.


"Tapi, tolong jauhi ..., anak Tante. Tolong kamu jauhi Fennita, Rick."


Ericko menggeleng dengan cepat. Dia tidak bisa menuruti permintaan Isnaeni yang satu ini. Dia belum mendapatkan maaf dari Fennita. Dia ingin menjelaskan semuanya pada Fennita dengan hati dan pikiran yang tenang.


"Rick, tolong ikuti kemauan, Tante. Ini demi kebaikan kalian berdua."


"Kebaikan dari sisi mana, Tan?" tanya Ericko menggebu-gebu.


Ericko hendak membantah permintaan Isnaeni. Sungguh, dia tidak akan sanggup melaksanakan permintaan itu. Dia sudah terlanjur jatuh cinta pada titik terdalam di hati Fennita. Ericko ingin mengutarakan permintaannya, tapi tidak jadi karena kehadiran Fennita.


Fennita datang dengan Zumarnis yang mendorong kursi roda. Membuat suasana kembali haru akibat ibu dan anak itu. Ericko mundur, pamit pergi kepada Zumarnis. Tapi, dia tidak akan mundur untuk memperjuangkan Fennita.


Isnaeni meminta kepada Zumarnis untuk bisa meninggalkan mereka berdua. Ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh anak dan ibu itu. Bersifat pribadi, jadi hanya boleh diperdengarkan bagi yang bersangkutan.


"Kamu nggak papa, Sayang?" tanya Isnaeni sembari menciumi pipi anaknya.


Fennita mengangguk, "Fenni baik-baik saja, Mah. Mamah udah enakan, badannya?"


"Sudah, kita sama-sama sedang sedih, Nak. Kita harus kuat, ya? Fen, Mamah ingin bicara tentang Ericko."


Fennita terhenyak sejenak. Tidak tahu apa yang akan diungkapkan mamahnya. Takut, cemas, dan kalut, menjadi satu berkecamuk di hati Fennita.


"Mamah sudah mendengar semuanya, Fen. Dalam hal ini, papah bersalah. Kamu tidak perlu marah kepada Ericko. Maafkanlah dia. Tapi, ada permintaan dari Mamah yang harus kamu turuti. Tolong, jauhi Ericko. Kamu tidak pantas bersanding dengannya, Nak. Bukan maksud Mamah untuk membuat hatimu terluka, tapi ketahuilah, bahwa kenyataannya sekarang papah adalah seorang pembunuh. Apakah nanti orang tua Erick akan menerimamu jika tahu semua ini?"

__ADS_1


Fennita tersenyum mendengarnya. "Cuma itu, Mah?"


Isnaeni malah mengernyitkan keningnya, bingung dengan ekspresi anaknya. Fennita tidak menampakkan kesedihan sama sekali di wajahnya. Malah jawaban seperti sudah mengikhlaskan yang dia dengar.


"Mamah tenang aja, Fenni sama Mas Erick juga selama ini cuma pura-pura. Gimana akting Fenni? Mengagumkan, bukan? Sampai Mamah mengira kalau memang kami benar pacaran. Ha-ha-ha."


"Kamu sedang tidak bohong kan, Fen?"


"Tidak, Mah. Fenni sama Mas Erick minta maaf selama ini membohongi Mamah. Setelah ini hubungan kami juga berakhir kok, Mah. Lagian, rencana perjodohan dengan Dion sudah batal."


"Tapi kenapa mata Erick tergambar kelas ada cinta untukmu? Dan mata kamu?"


"Nggak! Fenni biasa aja sama Mas Erick! Dianya aja yang baper! Biar saja, Mah. Nanti juga pupus sendiri! Yang penting Mamah sehat dulu, Fenni sayang sama Mamah."


Isnaeni memeluk anaknya yang masih duduk di kursi roda. Susah sekali berpelukan dalam posisi seperti itu. Tapi dia lega, tidak sesulit yang dibayangkannya. Anaknya dengan mudah mengikuti keinginannya.


"Mah, terus langkah selanjutnya Mamah dan papah gimana? Apa kalian akan ..., bercerai?" tanya Fennita was-was.


Isnaeni tersenyum sambil menerawang jauh. Dia juga masih bingung bagaimana langkah selanjutnya yang akan dia tempuh bersama suaminya. Sudah dua puluh tahun lebih, hampir tiga puluh tahun dia hidup berbagi suka dan duka dengan Zamroni. Saling mengenal sisi lain diri mereka masing-masing. Apakah masalah ini akan membuat mereka berpisah begitu saja? Entahlah, sekarang yang dia perlu lakukan adalah memulihkan kondisinya.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip


Hari ini othor sibuk! Kejar-kejaran sama waktu. Pagi eperibadeh ...,

__ADS_1


__ADS_2