Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Blue Code


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


"Kemana sih, mereka?" gerutunya pada diri sendiri karena kawanannya tak bisa dihubungi.


Dilan mulai gusar, jeritan gadis tadi sudah tidak tersengar lagi. Semakin membuat Dilan pecah fokus. Berpikir terlalu jauh tentang keadaan gadis yang tadi menjerit. Dilan mencoba menghubungi kawanannya kembali. Namun, sayang usahanya tak membuahkan hasil.


Dilan mencoba menenangkan diri terlebih dahulu. Memejamkan mata sambil bersiul untuk mengusir kegundahan hatinya. Ada nyawa yang dipertaruhkan di dalam ruangan sana. Tapi, dia belum bisa berbuat apa-apa.


"Rika, gadis tadi beneran dioperasi?" tanyanya konyol.


Rika mengangguk. Tangannya bersidekap dan menyandarkan tubuhnya ke tembok. Membayangkan nasibnya juga akan sama seperti gadis itu. Hanya waktunya saja yang tidak bisa dia prediksi.


Dilan mulai fokus. Dia mulai menghitung cctv yang terpasang di setiap sudut ruangan. Dilan mulai menunjukkan taringnya. Dia tahu apa yang harus dilakukannya sembari menunggu kabar dari kawanannya.


Dia membuka sepatu bagian kanan. Mencari sesuatu dalam sol sepatu itu. Dapat! Dia mendapatkan apa yang telah disusunnya. Sebuah flashdisk sangat kecil. Flashdisk itu berisi program virus untuk melumpuhkan segala perangkat lunak yang terjaring menjadi satu. Keahlian yang sangat berperan besar dalam sebuah misi.


Dilan hanya butuh satu cctv yang aktif agar virus itu langsung menyebar. Menyebabkan semuanya mati total dan membuat para penjaga kelimpungan. Dengan begitu, akan memberinya celah untuk membebaskan para tawanan itu dan mencari jalan keluar untuk mereka.


Dilan mencoba kembali menghubungi kawanannya. Berharap panggilannya ini akan diangkat oleh salah satu dari mereka. Tersambung! Ericko menjawab panggilannya dari ujung.


"Kemana saja, sih?" gerutunya tak sabar.


Ericko terkikik dari ujung sana, "Kenapa? Sudah mulai dieksekusi ya? Tunggu, mereka baru melakukan pembiusan. Belum sampai terjadi pembedahan. Gue lagi mengelilingi bangunan gedung tua itu. Gue barusan nemu harta karun!"


"Busyet ini, bocah! Temen lo disini nunggu giliran mati, nih! Lo malah mikirin duniawai. Rio kemana?"


"Ha-ha-ha, Rio ketemu sama Kapolres. Menjemput anak asuh! Dengerin gue baik-baik, Lan!" ucap Ericko sangat serius.


Dilan mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan oleh Ericko. Tentang letak bangunan gudang tua itu. Bahwa di belakang bagian gedung itu ada area persawahan. Samping kanan dan kiri adalah area untuk menumpuk barang rongsokan hingga menjadi gunungan.


Terdapat pintu tepat berada di sisi belakang bangunan. Langsung mengarah ke area persawahan. Terdapat saluran irigasi air yang cukup deras. Kemungkinan gemericik air yang Dilan dengar adalah dari area itu.


Ericko juga memberitahu jumlah cctv yang terpasang di sudut luar bangunan itu. Jumlah penjaga yang selalu siap siaga di seluruh penjuru mata angin. Ericko terpaksa harus menggunakan teknik penyamaran katak agar tak mudah ketahuan oleh semuanya.


Dilan mengangguk-anggukkan kepalanya sendiri. Tanda paham dan dapat membayangkan pengarahan dari Ericko. Tugasnya sekarang adalah memblokir semua cctv untuk beberapa saat. Tujuannya adalah untuk membuat penjaga yang disana sedikit kalang kabut. Dengan begitu pasukan penyelamatan dapat bergerak bebas untuk menaklukkan pelaku dan menyelamatkan semua sandera.


"Gue butuh bantuan lo buat meng-hacker sistem keamanan cctv mereka. Lo cuma tinggal mastikan aja, itu sistem gue langsung ngena ke semua penjuru atau hanya sebagian. Karena gue udah sempat menebar virus cinta mati di salah satu cctv," terangnya pada Ericko.

__ADS_1


Ericko mengangguk meski Dilan tak melihatnya. Akhirnya Dilan dan Ericko mengakhiri komunikasi tersebut.


*****


Rio sedang bertemu dengan Kapolres Doni untuk membahas rencana penangkapan yang akan segera dilakukan. Agak sedikit alot saat Rio meminta sejumlah obat bius untuk melancarkan aksinya. Selain itu, Kapolres Doni juga meminta Rio dan kawanannya menunggu hingga ada serah terima organ dari penyedia hingga ke tangan pertama. Membuat Rio tersenyum kecut menanggapi permintaan itu.


Jika dia menyetujui usulan Kapolres Doni, itu artinya akan mengorbankan nayawa tak berdosa untuk mencapai tujuannya. Padahal prinsip kerja Rio dan kawanannya adalah bergerak cepat agar semua bisa selamat. Namun Rio mencerna kembali tujuan yang diungkapkan oleh Kapolres Doni.


"Jika ingin menuntaskan apa yang sudah terjadi, maka kita harus mengikuti mereka hingga terjadi serah terima organ," tutur Kapolres Doni membeberkan alasannya pada Rio.


Rio mengernyitkan keningnya, "Lalu nasib korban, Ndan?"


"Kita pasti bisa menyelamatkannya!" tegas Kapolres Doni. Semakin membuat Rio tertawa dalam hati.


Bagaimana bisa menyelamatkan korban kalau yang akan diselamatkan sudah mati? Entahlah, Rio semakin bingung dengan cara pikir Kapolres Doni.


Rio meminta sejumlah obat bius yang sudah dimintanya kemarin. Kapolres hanya memberikannya sebagian dari jumlah yang Rio minta. Semakin membuat Rio kesal akan hal itu. Entah mengapa dirinya seperti sedang dipermainkan oleh Kapolres Doni.


Rio memutuskan untuk kembali ke markas dan menyusun rencana baru. Rio tidak bisa mengandalkan Kapolres Doni dan tidak terlalu percaya padanya. Dia merasa ada yang janggal. Rio tak terlalu memikirkannya, dia harus fokus dengan rencana misinya saat ini karena nyawa Dilan masih dipertaruhkan disana.


Rio pulang berbekal rasa kecewa dan curiga. Dalam perjalanan, dia mencoba menghubungi Komandan Bambang untuk meminta pertimbangan. Namun, Komandan Bambang tak dapat dihubungi.


***


Dengan piawai dia langsung memanjat dinding, bak Spiderman yang memiliki keahlian khusus. Berkomunikasi dengan Dilan untuk segera mengaktifkan program virus cinta matinya. Ericko memastikan bahwa program tersebut benar-benar bekerja untuk melumpuhkan cctv yang ada. Belum sampai program itu terinstal, dirinya sudah ketahuan oleh penjaga disana.


"Ow-ow ... Gue ketahuan Lan, oke, it's show time! Bye, kawan!" Ericko turun dari dinding mengangkat tangannya karena dia sudah lebih dulu ditodong senjata.


Ericko digiring untuk masuk melalui pintu belakang. Saat kesempatannya muncul, Ericko langsung balik menyerang dengan tangan kosong. Menendang perut penjaga itu tanpa menoleh ke belakang.


"Jurus bangau bengek!" ucapnya dengan lantang mengundang perhatian penjaga lain. "Alah, lupa gue kalau disini banyak orang, maaf membuat keributan. Pamit, Bang!" lanjutnya lagi.


Dia harus bertarung dengan empat orang sekaligus yang menghadangnya. Mengeluarkan seni kemampuan beladiri tingkat dewanya.


"Jurus bangau keracunan ciu ... cia ...." Ericko berlagak seperti orang mabuk. Membuat penjaga semakin tertantang dan memanggilkan kawanan mereka yang lain.


"Emang cari mati, gue. Duh, makin banyak lagi. Mana tadi sarapannya cuma roti!" gerutunya yang melihat pasukan penjaga itu semakin banyak.

__ADS_1


Mustahil dia akan menang melawan mereka. Dan memang dia kalah, akhirnya dia digiring masuk ke ruangan yang sama seperti Dilan. Senjatanya dilucuti. Dia dihajar habis tapi tak mau mengaku dan tak mau buka mulut.


"Biarin dilihat Bang Jack dulu aja, kita tunggu perintah selanjutnya." Kawanan itu meninnggalkan Ericko yang babak belur di samping ruang Dilan.


Dilan meringis melihat keadaan sahabatnya. "Kenapa bisa ketahuan sih, Rick? Bukannya lo itu dijuluki setan hutan?"


Ericko dengan sisa tenaganya terkikik mendengar pertanyaan menggelikan dari Dilan. "Tahu ah, sejak ketemu sama Fennita penyamaran gue selalu ketahuan! Kayaknya gue perlu balik ke Koppasus untuk belajar jurus ninja lagi deh, Lan."


"Lah, bawa-bawa Fennita lagi. Kangen lo sama dia?"


Ericko sudah sangat loyo. Dia memilih untuk tidur dan tak meladeni Dilan. Memulihkan tenaganya dengan tidur akan lebih berguna jika nanti dia dihadapkan kenyataan dipertemukan dengan Bang Jack.


Dilan semakin gusar, satu rencana dari mereka sudah gagal. Dan bisa dipastikan Ericko akan dihabisi oleh kawanan ini.


***


Rio mencari keberadaan Ericko di sekitaran bangunan gudang tua itu. Namun nihil tak ada hasil, dia mencoba menghubungi ponsel Ericko. Tepat! Diangkat! Rio diam tak bersuara. Begitupun dengan di ujung telepon, mereka sama-sama diam. Rio mulai curiga dengan keadaan saat ini.


Dilan yang tidak memberikan kabar ataupun kode padanya. Ericko yang lenyap dari tempat persembunyiannya dengan ponsel yang masih aktif, ini sungguh membuatnya bingung. Dengan segenap kemantapan hati, dia menyebutkan satu kata.


"Blue code?" tanyanya.


"Halo!"


.


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2